![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
"Kapan Azam mulai mengenal Ayu?" tanya ibu Bima.
"Baru beberapa hari ini kok buk."
"Tidak ada yang kebetulan nak. Jika benar seperti yang kamu katakan, ibu khawatir kalau Azam sedang diincar. Rasanya tidak masuk akal jika hanya usil mengerjai Azam sebab, sosok Ayu terus mendatangi Azam dan semakin hari semakin dalam interaksi di antara mereka."
"Tapi kenapa? apa yang membuat sosok Ayu itu mengincar Azam?"
"Mungkin, Azam melakukan sesuatu yang mengganggu sosok itu."
Bima terdiam coba mengingat tentang apa yang mungkin Azam lakukan. Sayangnya, Bima tidak bisa menemukan apa pun. Semua terlihat wajar. Selain gangguan ghaib selama perjalanan mudik mereka, tidak ada hal lain yang mencurigakan.
"Ibu jadi takut nak karena kamu juga bisa melihat sosok itu. Ibu khawatir kalau dia juga .."
"Jangan berpikir macam-macam buk! tidak ada yang mengincar Bima. Justru sebaliknya, Bima bingung sekarang. Apa yang seharusnya Bima lakukan kepada Azam?"
"Sulit nak karena hal ini, tidak bisa dibuktikan dengan kasat mata. Terlebih, Azam terus saja mengelak dan membela sosok itu. Jika diteruskan, bisa-bisa persahabatan kalian yang hancur."
"Bima juga berpikir seperti itu buk. Hemm... bagaimana kalau Bima ceritakan pada orang tua Azam saja?"
"Husst ngawur kamu! bukti apa yang kamu punya dan bagaimana caramu untuk membuktikannya? alih-alih menolong malah kamu, bisa jadi tertuduh yang dengan sengaja memfitnah anak mereka."
"Lalu, Bima harus bagaimana?"
"Ibu juga bingung, masalah ghaib begini, rumit."
Bima menghela napas panjang. Sejujurnya, batinnya meronta, Bima tidak bisa membiarkan temannya lebih lama di sana. Ia ingin sekali menyadarkan Azam yang entah kenapa menjadi incaran mereka.
"Doakan saja nak agar Azam lekas sadar, bersikap biasa seperti biasanya sembari pelan-pelan membujuknya atau kalau bisa, lebih baik jangan masuk terlalu dalam lagi! ibu tahu kalau kalian ini berteman baik sejak kecil tapi, ibu tidak ingin kamu terseret dalam pusaran masalah yang bisa jadi menimbulkan masalah besar nantinya.
Melihat wajah ibunya yang begitu khawatir, Bima lantas menenangkan dengan berkata kalau dia, tidak akan ikut campur lebih dalam lagi. Ibunya mengangguk lega mendengar jawaban Bima.
...🍂🍂🍂...
Dalam kebimbangan, Bima putuskan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisikan permohonan maaf kepada Azam. Bima mengakui kesalahannya saat membuat keributan di rumah Ayu. Gayung bersambut, Azam membalas pesan dan memaafkan Bima. Sementara Bima, lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang sebelum kemudian meletakkan ponselnya di nakas seraya mencoba untuk memejamkan mata.
Pada keesokan harinya, rasa penasaran menghampiri Bima. Alhasil, ia putuskan untuk mencoba menengok kembali rumah Ayu yang terletak di lahan pak Hasan. Bima pikir, hari masih terang, tidak ada yang perlu ditakutkan. Sayangnya, Bima malah dibuat terkejut bukan kepalang kala mendapati kediaman Ayu hilang hanya dalam waktu semalam. Bima termangu cukup lama sembari mengingat, apa dia melewatkan sesuatu ataukah lokasi rumahnya yang salah?
"Ini tanahnya pak Hasan kan? semalam, rumah Ayu di sini kan?" tanya Bima pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dahinya berkerut, alisnya pun nyaris menyatu. Bima terlihat berpikir keras sebelum kemudian, ia merasa yakin bahwa rumah Ayu memang benar, berada di sana semalam.
"Celaka! benar-benar celaka! Ayu sungguh bukan manusia. Azam.. ya Alloh Azam.."
Bulu kuduknya meremang seketika dan Bima pun berbalik, berjalan kembali ke rumah. Di rumah, banyak saudara jauhnya yang datang membuat rasa takutnya teralihkan.
...🍂🍂🍂...
Pada malam harinya, Bima bermimpi bertemu dengan Ayu yang saat itu tengah mengenakan baju berwarna kuning. Terlihat cantik dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai bebas. Ayu mengulas segaris senyum di bibirnya sembari menatap lurus ke arah Bima berada. Sementara Bima, hanya berdiri diam tanpa memberikan respon apa-apa. Setelah beberapa saat bertahan dalam posisi tersebut, akhirnya Ayu buka suara.
"Aku tahu kalau kamu pasti telah mengetahuinya," ucap Ayu membuka perbincangan.
Bima masih diam.
"Seperti yang kamu pikirkan, aku memang bukanlah manusia tapi, apa yang bisa kamu lakukan?"
"Jauhi Azam!"
Mendengar ucapan Bima, Ayu kembali tersenyum hingga menampakkan sedikit baris giginya yang tersusun rapi.
"Apa alasanmu mengganggu temanku?"
"Bima, tujuanku datang adalah untuk memperingatimu. Aku tahu, kamu tidak akan berani beradu mulut denganku jika kita berhadapan secara langsung maka, di sinilah aku, menemuimu."
"Bima, jangan terlalu ikut campur! cukup! kamu pikir, kamu selamat karena apa? itu karena belas kasihan dariku. Sejauh ini, aku masih membiarkanmu. Apa tidak cukup kebaikanku?"
"Omong kosong!"
Bentakan Bima membuat Ayu membulat, menahan amarah seraya merubah rupa cantiknya menjadi buruk rupa, yang tak ayal membuat Bima ketakutan hingga terbangun dari mimpinya. Napasnya tersengal tak beraturan. Bima bangun dengan rasa takut yang hebat.
"Kamu kenapa Bim? mimpi buruk?" tanya saudaranya, Rayyan, yang hari itu menginap di rumahnya.
Bima menggelengkan kepala, belum mampu untuk bercerita.
"Mau minum?"
"Iya."
"Nih, minum dulu pelan-pelan!" ucap Rayyan sembari mengulurkan minuman.
__ADS_1
Bima meraihnya seraya menganggukkan kepala.
"Minum!"
Sekali lagi Bima mengangguk.
..."Glek.. glek.. glek.."...
Bima minum perlahan.
"Terima kasih!" ucap Bima kemudian.
Rayyan menggerakkan dagunya sedikit isyarat mengiyakan lalu kembali beringsut tidur di ranjang. Awalnya, Bima ragu hendak bercerita atau tidak namun kemudian, ia merasa terganggu sebab mimpinya terus saja terbayang hingga membuat Bima, tidak bisa istirahat dengan tenang. Hal ini jugalah yang akhirnya memancing rasa penasaran Rayyan untuk kemudian menanyainya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Bim? semenjak bangun dari mimpi tadi, kamu gelisah."
"Aku..."
"Cerita saja! berbagi beban bisa membuatmu merasa lebih ringan."
"Itu ..."
"Ohya, aku jadi ingat sesuatu. Tadi, saat kamu balik dari luar, aku lihat ada perempuan yang jalan mengikutimu."
...Deg.....
"Siapa?"
"Itu dia, siapa? dia nunduk terus, pas mau aku tanyain ke kamu eh dia noleh dan terlihatlah wajahnya yang hancur. Sebagian kulit di wajahnya mengelupas. Penuh borok dan masih ada darah segar di sana. Rambutnya segini nih, sepinggang. Dari situ aku yakin kalau kamu sedang diikutin makhluk halus."
"Apa dia masih di sini sekarang?"
"Udah enggak kok, setelah menunjukkan wajahnya yang buruk rupa, dia menghilang. Sempat kaget sih, mau cerita ke kamu tapi lagi banyak saudara tadi. Lama-lama jadi lupa."
"Yan, perempuan yang kamu lihat itu, yang muncul di mimpiku barusan."
"Hah? kok bisa? ada kaitan apa kamu sama dia? atau jangan-jangan, dia suka ke kamu."
"Aku tidak tahu apa kaitannya denganku tapi kalau suka ke aku, sepertinya tidak. Berdasarkan apa yang ia katakan, kurasa dia membenciku. Kabar buruknya, dia mengincar temanku."
__ADS_1
Rayyan mempertegas pandangannya.
...🍂 Bersambung... 🍂...