![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Hari berikutnya, Azam bersikap normal seperti orang sehat pada umumnya. Sudah bisa makan banyak serta bercengkerama dengan kedua orang tuanya. Sungguh seperti tidak pernah sakit sama sekali. Satu sisi, hal ini melegakan. Di sisi lain, muncul firasat yang tidak enak tanpa sebab. Azam juga menelpon Bima dan mencandai sahabatnya seperti hari-hari yang lalu. Azam juga mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan, dia akan segera menyusul Bima ke Jakarta. Bima bersorak senang sebab temannya benar-benar telah sembuh sekarang.
"Udah jangan nangis! cengeng ih," ledek Azam melalu sambungan teleponnya.
"Gila kamu ya? sedih banget tahu lihat kamu terkulai kayak kemarin."
"Iya-iya, yang penting kan sekarang, aku sudah sehat."
"Jangan macam-macam lagi Zam, jaga sikap!"
"Beres, jangan ngomong yang sedih-sedihlah! kayak ini hari terakhirku saja."
"Tuh kan, baru juga dibilang, udah ngomong sembarangan."
"Ya elah Bim, iya-iya maaf!"
"Eh ya, telepon Tantri gih! dia khawatir banget sama kamu. Nangis kejer pas denger kabar kamu meninggal."
__ADS_1
"Hemm.. oke, aku telepon dia setelah ini."
"Yaudah, aku lanjut kerja lagi."
"Iya."
"Okelah, aku tunggu di Jakarta!"
"Siap."
"Aku tutup ya?"
"Iya."
Bima menutup sambungan telepon mereka dengan bibir tersungging. Bima teramat senang mendapati temannya baik-baik saja. Dengan antusias, Bima menceritakan semuanya kepada pak Anhar yang juga turut mengucapkan syukur.
"Akhirnya ya Bim, setelah liku-liku panjang, Azam sembuh juga," ucap pak Anhar.
__ADS_1
"Iya pak alhamdulillah," jawab Bima.
...๐๐๐...
Seperti yang sudah-sudah, kabar baik tidak bertahan lama sebab, Azam tiba-tiba pingsan dan kemudian dinyatakan koma ketika sampai di Rumah Sakit. Tangis pilu tak dapat dibendung. Ibunya telah menyadari, ada sesuatu yang salah dan kini, terjawab sudah. Ia sangat murka karena jin bernama Ayu, mempermainkan nyawa anaknya. Tak kalah kagetnya, Bima terdiam cukup lama kala adiknya, Laras kembali mengirimkan kabar yang tidak ingin dia dengar.
"Sebenarnya, ini ada apa?" gumam Bima yang seolah sulit mencerna keadaan.
Azam sendiri telah terbangun, duduk dan kemudian berdiri. Seketika itu juga, matanya membulat terkejut. Betapa tidak, ia dapat melihat tubuhnya sendiri tergeletak di atas ranjang rumah sakit. Antara percaya dan tidak, Azam merasa bahwa ruhnya telah keluar dari raganya. Kedua orang tuanya menangis, demikian pula dirinya. Sesaat kemudian, dia mulai memikirkan kemungkinan yang lain.
"Tidak mungkin, ini pasti mimpi. Benar, ini pasti mimpi. Jika demikian maka, tidak lama lagi, aku pasti siuman," ucapnya pada diri sendiri.
Azam terdiam cukup lama melihat fenomena mimpi yang sama sekali belum pernah ia alami. Setidaknya, hingga saat itu, ia masih berpikir bahwa apa yang ia alami, hanyalah mimpi. Azam lantas berpikir jika dia hanya berdiam diri, akan semakin lama terbangunnya nanti. Alhasil ia mencoba untuk masuk ke dalam raganya. Sayangnya, usahanya itu, menemui kegagalan. Berulang kali ia mencoba tapi tetap tidak bisa. Setiap kali hendak masuk, seolah sukmanya tergelincir ke kanan dan ke kiri sehingga tidak bisa masuk ke dalam raganya. Atau raganya yang menolak sukmanya, entah mana yang benar. Yang jelas, Azam gagal. Setelah beberapa kali mencoba, Azam mulai ketakutan dan berpikir kalau ini bukanlah mimpi.
"Aku kenapa? Kenapa sukmaku tidak bisa kembali? apa yang telah terjadi?"
Tanpa sadar, air mata kembali berlinang. Azam benar-benar merasa ketakutan.
__ADS_1
"Mimpi apa ini ya Alloh? jangan begini! apa aku.. apa aku sungguh sudah mati?"
...๐Bersambung... ๐...