ALAS ROBAN [ END ]

ALAS ROBAN [ END ]
SELAMAT TINGGAL [ END ]


__ADS_3

Di rumah, para tetangga dan sanak saudara telah mempersiapkan semua yang diperlukan. Ketika jenazah Azam sampai di rumah, segera dimandikan lalu disolati. Entah berapa kali, ibu Azam pingsan. Tentu bukan perkara mudah menerima kenyataan bahwa putra yang amat disayanginya telah meninggal. Bima hanya bisa mengusap air matanya sendiri melihat kesedihan ibu Azam.


"Zam.. aku masih tidak percaya kalau kamu..."


Bima tak sanggup melanjutkan perkataannya. Air matanya kembali tumpah. Bima tetap berada di sana, mengantar teman yang telah dianggapnya sebagai saudara hingga ke peristirahatan terakhirnya.


"La illa ha illalloh! La illa ha illalloh!"


Bacaan tahlil terdengar di sepanjang jalan hingga sampai di area pemakaman. Isak tangis masih mengiringi hingga saat di mana jenazah Azam dimasukkan ke dalam liang lahat. Jenazah Azam telah sampai di peristirahatan terakhirnya seiring tanah yang mengubur raganya. Usai dipanjatkannya doa bersama, satu persatu warga, kembali pulang. Begitu pun dengan kedua orang tua Azam dan juga Bima.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Bima termenung cukup lama, berdiam di kamarnya. Enggan makan dan sama sekali tak menjawab ketika ibu dan adiknya mengajaknya berbicara. Otaknya dipenuhi oleh kenangan bersama Azam. Kematian adalah sesuatu yang pasti dialami setiap manusia tapi Bima tak menyangka jika hal ini akan begitu cepat terjadi.


"Zam.. aku sangat kehilangan. Mungkin, ini lebih dari patah hati. Di mana kamu? di surga? aku harap begitu. Aku akan semakin terluka jika apa yang dikatakan Ayu, benar. Aku sungguh berharap, kamu sudah bebas dan tidak lagi berada dalam belenggunya."


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Dua hari telah berlalu dan kini, Bima tengah mengemas pakaian untuk dibawa kembali ke Jakarta, esok hari. Bagaimana pun, statusnya masih seorang pegawai yang tidak bisa izin terus menerus. Tak lama, terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya yang mana, itu adalah ibunya.


"Berangkat jam berapa besok?" tanya ibunya seraya duduk di tepian ranjang.


"Belum tahu buk, pokoknya pagi."


"Nanti malam ikut tahlil?"


"Ikut. Setelah ini, Bima mau ke makam Azam juga."


"Sudah hampir sore loh Bim."


"Tidak apa-apa, Bima gak lama kok."


"Buruan berangkat kalau begitu!"


"Iya, tinggal beberapa baju lagi yang harus Bima masukin."

__ADS_1


"Ya sudah, cepat beberesnya!"


"Iya."


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Bima menggeber motor bebeknya menuju pemakaman umum yang berada di ujung kampung. Ia ucapkan salam seraya masuk ke dalam. Berjalan perlahan menuju ke makam Azam. Bima menabur bunga sebelum kemudian memanjatkan doa.


"Zam, besok aku balik ke Jakarta. Kamu benar-benar telah tiada ya? rasanya masih sulit untukku percaya. Di sini (menunjuk ke dadanya) ada ruang rumpang yang tak akan pernah sama lagi. Itu tempatmu yang tidak akan bisa tergantikan dengan siapa pun juga. Semenjak kecil, kita bersama. Berteman, bersahabat hingga dekat seperti saudara. Sekarang, aku sendirian, membiasakan diri dengan rutinitas yang belum pernah kubayangkan akan kujalani."


Perlahan, air mata menetes membasahi pipi Bima. Bima kembali membaca alfatihah sebelum mengakhiri ziarahnya. Sialnya, baru saja beranjak, Bima sudah dikejutkan oleh sosok Azam yang telah berada di belakangnya tepat. Bima terjingkat seraya beringsut mundur, sedikit menjauh.


"A-zam, itu sung-guh kamu?" tanya Bima terbata.


Azam hanya diam, tatapannya kosong, hanya berdiri tanpa merespon.


"Zam.. astaghfirulloh! apa ini halusinasi?"


Ketika Bima mulai ragu dengan apa yang ia lihat, sosok Ayu muncul di samping Azam yang lekas membuat Bima kembali mundur. Ayu hanya tersenyum namun auranya sangat menakutkan. Bulu kuduk Bima berdiri seketika. Ia memilih mundur dan terus mundur lalu berlari, keluar area pemakaman. Sementara itu, sosok Azam dan Ayu terus mengikuti Bima, seolah tak ingin melepaskannya. Bima berlari tunggang langgang hingga menabrak seseorang.


"Ada apa mas? saya kuncen di makam ini."


"Oh.."


Bima celingukan memandang ke sekeliling guna memastikan bahwa Azam dan Ayu, sudah tidak mengejarnya.


"Mau minum dulu mas?"


"Enggak pak, terima kasih!"


"Ada apa sebenarnya?"


"Itu, saya habis melihat penampakan pak."


"Penampakan? hantu maksudnya?"

__ADS_1


"Iya pak."


"Saya tidak pernah lihat."


"Masak sih pak?"


"Memangnya seperti apa penampakan yang mas lihat? menyeramkan?"


"Iya pak, sangat menyeramkan."


"Apa semenyeramkan ini?" tanya si bapak seraya memutar kepalanya ke belakang sampai ke depan lagi lalu melepaskan kepalanya sendiri di depan mata Bima.


Bima terkejut hingga pingsan. Sosok Azam sendiri masih ada di sana namun ia, hanya bisa diam. Ayu menggenggam lengan Azam lalu mengajaknya berjalan masuk ke dalam area pemakaman. Sedangkan sosok jin yang menyerupai juru kuncen makam juga menghilang seiring beberapa warga yang datang untuk menolong Bima.


Beberapa menit kemudian, Bima terbangun. Perlahan ia teringat tentang apa yang telah terjadi di pemakaman. Bima juga mengerti bahwa Azam masih di sana, terjerat dalam belenggu Ayu. Bima terdiam, merenung dan putus asa sebab, tak ada lagi yang bisa ia perbuat.


"Maaf Zam! semua sudah terlambat. Andai waktu bisa diputar," ucap Bima di dalam hati.


...πŸ‚ TAMAT πŸ‚...


πŸ‚ Terima kasih untuk seluruh pembaca setia yang selalu mendukung penulis hingga detik ini. Sekian dulu untuk novel kelima. Nantikan terus novel penulis yang selanjutnya. πŸ‚


πŸ‚ Bagi yang belum, baca juga novel pertama , kedua, ketiga dan keempat penulis juga ya yang masing-masing judulnya adalah:


* KONTRAKAN BERHANTU *


* KOSSAN BERHANTU *


* PUSKESMAS DI TENGAH HUTAN *


dan


* TELUH *


🌷Terima kasih semua, salam manis dari penulis 😘🌷

__ADS_1


__ADS_2