![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Setelah mengetahui kebenarannya, Tantri bersikap lebih tenang jika berhadapan dengan Azam. Dia berusaha membuat Azam nyaman seperti sebelumnya. Setidaknya, jika jarak pemisah di antara mereka telah tersingkirkan, Tantri akan lebih mudah mendekati Azam sembari berusaha menyadarkannya kembali. Ternyata, tindakan Tantri mengundang amarah Ayu yang akhirnya kembali datang ke dalam mimpinya. Kali ini, tanpa berbasa-basi, Ayu mendatangi Tantri lalu menunjukkan wajah buruk rupanya hingga membuat Tantri berteriak histeris sebelum kemudian, terbangun dari mimpi buruknya.
Tantri terengah-engah, tubuhnya terasa lemas. Dia tak menyangka kalau sosok Ayu sungguh ingin menjauhkannya dari Azam. Tantri meraih gelas di nakas lalu menenggak air putih di dalamnya. Baru saja deru napasnya kembali normal, sosok Ayu muncul di hadapan Tantri tepat, membuat gadis itu beringsut mundur sembari menutup wajahnya menggunakan selimut. Tak sampai di situ, Ayu terus melancarkan gangguan dengan tetap berdiri melayang di sana. Menunggu Tantri dengan sabar, membuka selimutnya.
"Aaaaaaaa!"
Tantri berteriak kala mendapati sosok Ayu masih melayang di sana. Melihat Tantri ketakutan membuat Ayu tertawa puas seraya melontarkan ancaman.
"Jangan memaksaku untuk berbuat yang lebih parah dari pada ini! pergi! tinggalkan Azam!" kecam Ayu.
Tantri menganggukkan kepala seiring kembali terdengarnya suara tawa. Beberapa saat kemudian, barulah sosok Ayu menghilang. Lega, mungkin itu yang kini, Tantri rasakan. Sayangnya, hal ini tak berlangsung lama sebab, sosok Ayu masih sering mengganggu Tantri hingga membuat kejiwaan Tantri terganggu. Bahkan, orang tuanya khusus datang dari Surabaya untuk menjemput putrinya pulang. Tentu saja, mereka merasakan segala keanehan dari putrinya hingga memutuskan untuk datang dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Tantri yang telah nyaris gila.
Kabar terbaru yang Bima terima, psikis Tantri berangsur pulih ketika berada di Surabaya dan tinggal jauh dari Azam. Hal ini sekaligus menjadi peringatan keras baginya agar tidak ikut campur perihal masalah Ayu dan Azam. Meski begitu, ia tidak tega melihat temannya yang kian hari kian terlihat seperti mayat hidup. Sikap Azam sungguh jauh berbeda dari kepribadiannya yang biasanya. Terlalu anti sosial, dingin dan sesekali terlihat tengah berbicara seorang diri. Satu dua orang rekan kerja mereka mulai bergunjing dibelakang Azam namun Bima, berusaha membela temannya. Bima pun menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah salah tapi ia, tak memiliki pilihan yang lain.
Beberapa orang pintar yang disewa orang tua Azam, belum ada yang bisa menyadarkannya. Bima sendiri takut untuk bertindak sebab Ayu, menekannya sedemikian rupa agar Bima tak melakukan apa-apa. Alhasil, di tengah rasa putus asanya, Bima menghubungi saudaranya, Rayyan. Bagaikan orang yang telah putus cinta, batinnya sungguh terluka melihat temannya yang kini berada dalam belenggu jin yang mengaku bernama Ayu itu . Bima sungguh tak mengerti. Menurutnya, hukuman yang Azam terima tidaklah setimpal dengan kesalahannya. Bima bingung, kenapa Ayu terkesan enggan melepaskannya? apa sungguh kesalahan yang Azam buat sangat fatal? betapa pun ia pikirkan, Bima tetap menganggap bahwa itu tidaklah sepadan.
"Masalahnya sudah tidak sesederhana itu Bim," jawab Rayyan di ujung panggilan.
"Maksud kamu apa?"
"Sepertinya, ini bukan lagi masalah hukuman tapi.."
"Tapi apa?"
"Haiiisss, begini.. ini menurutku saja ya. Melihat apa yang terjadi pada Azam, sepertinya sosok Ayu ini benar-benar menyukainya dan jika hal ini benar maka, dia tidak akan melepaskan Azam dengan mudah. Dia akan terus menjeratnya hingga akhir."
...Deg.....
"Maksud kamu, Azam akan selalu begini? Sekarang saja, sudah mulai dianggap gila apalagi kalau berlangsung lebih lama dari ini."
__ADS_1
"Bim.."
"Hmmm?"
"Maksudku lebih dari ini."
"Apa?"
"Jika benar seperti yang aku duga maka, tidak menutup kemungkinan kalau Ayu akan menarik Azam masuk ke dalam dimensinya?"
...Deg......
Bima membulat seketika, bagai tersambar petir mendengar ucapan Rayyan.
"Gak mungkin, gak bisa, mereka berbeda dunia."
"Gila, ini adalah hal paling gila yang pernah aku dengar."
"Cari orang pintar Bim, sebelum terlambat!"
"Bagaimana? di mana? sosok Ayu itu terus mengawasiku. Aku tidak bisa bergerak sedikit pun dan satu lagi, pacar Azam emm.. mantan pacarnya sudah pernah dibuat gila oleh Ayu."
"Gila?"
"Iya, dia berusaha keras menyadarkan Azam yang akhirnya membuat Ayu menerornya hingga menjadi gila."
"Sekarang bagaimana keadaannya? di mana dia? dirawat di Rumah Sakit Jiwa kah?"
"Enggak. Sepertinya, Ayu hanya ingin pacarnya itu menyerah sehingga saat pacarnya dibawa pulang ke Surabaya, kondisinya pulih perlahan. Tentu saja, dia tidak akan berani mendekati Azam lagi. Orang tuanya pun pasti melarang."
__ADS_1
"Benar juga, apa kamu tidak mau memilih jalan seperti yang diambil gadis itu?"
"Maksud kamu apa? baru saja kamu memintaku untuk mencari orang pintar, kenapa sekarang memintaku untuk menyerah?"
"Kamu sudah tahu jawabannya Bim. Lihat apa yang terjadi pada pacar Azam! lalu lihat keluargamu! singkirkan egomu dan menyerah saja. Sebesar apa jasa Azam ke kamu sampai kamu mau mempertaruhkan semuanya padanya? sesedih apa ayah dan ibumu nanti kalau kamu...?"
"Iya-iya aku mengerti. Aku tidak akan gegabah. Akan kupertimbangkan dengan matang sebelum bertindak."
Rayyan menghela napas lega.
"Aku hanya bisa memperingatimu Bim. Jangan sampai salah langkah!"
"Iya aku tahu."
...🍂🍂🍂...
Di tempat kerja, sikap Azam kian mengkhawatirkan. Seperti saat berada di Jepara, beberapa kali ia terlihat tengah makan sendirian di kantin namun seolah tengah bercengkerama dengan seseorang. Bima tahu betul kalau Azam sedang bersama Ayu namun rekan kerja yang lain, menganggap Azam mulai tidak waras, sama seperti Tantri. Bahkan, ada yang berpikir lebih jauh, ia pikir apa yang kini dialami Azam adalah guna-guna kiriman Tantri karena sakit hati telah diputuskan secara sepihak.
Suatu ketika, manager personalia di tempat mereka bekerja menghampiri Azam. Berusaha mengajaknya berbicara dan menanyakan tentang apa yang ia lakukan? kenapa dia berbicara sendirian dan memperkenankan Azam untuk bercerita sebebas-bebasnya andai ada beban berat yang sedang ia rasakan. Sialnya, bukannya mendapat sambutan hangat, manager personalia itu malah terpental secara tiba-tiba dari kursinya. Semua mata tertuju kepadanya. Sementara Manager Personalia itu hanya bisa menatap keheranan. Dia merasa kalau tubuhnya diempaskan oleh sesuatu yang sangat kuat namun ia, tidak dapat melihatnya.
"Kamu.. kamu punya peliharaan jin ya Zam?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja membuat para karyawan menelan ludah. Bagaimana pun, banyak pasang mata yang melihat.
"Tidak, bapak saja yang duduknya tidak benar. Jangan menyalahkan saja atau membuat spekulasi yang bukan-bukan!" jawab Azam.
Kejadian ini berakhir setelahnya namun kisahnya berlanjut ke segala penjuru perusahaan. Tak sedikit pula para karyawan yang mulai menjaga jarak dengan Azam.
...🍂 Bersambung... 🍂...
__ADS_1