![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Keesokan harinya, hal yang tak diharapkan malah terjadi. Azam linglung tanpa sebab. Terkadang dia merespon tapi lebih banyak diam. Menyebutkan nama orang tuanya pun, Azam tidak bisa. Selain itu, responnya juga melambat. Sering melamun serta sesekali berteriak histeris. Alhasil, dokter harus memberikan obat penenang untuknya. Keadaan Azam membuat semua orang kian khawatir.
"Sabar buk! kita lihat beberapa hari lagi, kalau masih begini, kita bawa Azam pulang dan kita carikan orang pintar!" ucap Ayah Azam kepada istrinya.
"Iya pak."
...🍂🍂🍂...
Tidur nyenyak Azam harus terganggu kala ia merasakan ada sebuah tangan lembut yg mengusap lengannya secara perlahan hingga ke pipi. Azam mengernyit seraya membuka matanya perlahan. Seketika ia membulat, mendapati sosok Ayu yang tengah mengusap pipinya. Hendak berteriak namun suaranya seolah tertahan. Mulutnya hanya bisa menganga tanpa suara. Sementara Ayu, mengulas senyum termanisnya.
"Sayang, pernikahan kita sudah siap. Tinggal menunggu kamu sebagai mempelai prianya," ucap Ayu sembari mendekatkan bibirnya di telinga Azam.
Azam hanya bisa menelan ludahnya tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.
"Kenapa ini? apa aku rep-rep an?" benak Azam.
(ketindihan - istilah dalam bahasa jawa).
"Kamu bingung ya? tenang, aku sudah tidak berminat. Kamu telah mencampakkanku maka, hanya ada hukuman yang akan menantimu."
Ayu kembali membelai Azam sebelum kemudian, ia mengucapkan sampai jumpa, Azam terbangun setelahnya.
"Hanya mimpi," gumamnya.
Hal baik yang terjadi adalah, kesadaran Azam telah kembali. Dia dapat merespon dan diajak berkomunikasi dengan baik. Saat itulah, Azam meminta agar dibawa pulang saja. Dia menceritakan bahwa sosok Ayu mendatanginya di dalam mimpi. Azam juga menceritakan semua hal yang Ayu katakan. Mendengar hal itu, pihak keluarga sepakat untuk membawa Azam pulang. Pengobatan medis tidak akan berarti jika sakit yang Azam derita tidak wajar.
"Kamu yakin Zam?" tanya Bima saat mereka bersiap untuk kembali ke rumah.
"Yakin Bim, tenang saja! pasti ada orang pintar yang bisa menyembuhkanku."
"Hemm, iya."
...🍂🍂🍂...
Sesampainya di rumah, Azam meminta Bima untuk pulang. Agar Bima bisa beristirahat dengan nyaman. Azam meyakinkan bahwa kondisinya tidaklah seburuk yang terlihat. Azam juga mengatakan bahwa sebentar lagi, ia pasti bisa disembuhkan. Bima memandang sahabatnya sesaat sebelum kemudian mengangguk menyetujui.
"Kabarin ya kalau ada apa-apa!" pinta Bima.
"Iya Bim."
"Ya sudah, aku pulang dulu!"
"Iya."
Langkah kaki Bima terasa berat namun, jika dia tidak menuruti permintaan Azam, Bima khawatir kalau Azam akan terus mendesaknya yang mana akhirnya membuat tubuhnya kian lemah. Alhasil, Bima berpamitan kepada kedua orang tua Azam lalu melangkah pulang ke rumahnya yang lekas disambut banyak tanya dari ibunya.
__ADS_1
"Gimana kondisi Azam nak?"
"Hemm..."
"Kenapa?"
"Masih sama buk."
"Loh, kok sudah dibawa pulang kalau masih belum sembuh?"
"Ini.. khawatirnya bukan masalah medis yang sedang Azam alami."
"Duh! tentang jin perempuan itu lagi?"
"Sepertinya begitu buk."
"Bim.."
"Bima tahu apa yang ibuk khawatirkan. tenang saja! Bim bisa jaga diri."
Ibunya hanya bisa diam sembari menahan rasa khawatir di benaknya sendiri. Sementara itu, Bima lekas melenggang masuk ke dalam kamar. Bima kembali teringat saat-saat menyenangkannya bersama Azam. Bercanda dan tertawa bersama yang mana sekarang, seulas senyum saja, sangat jarang ia lihat di wajah Azam. Bima mendesah lalu menghela napas panjang.
"Tolong Azam ya Alloh!"
...🍂🍂🍂...
"Mau balik kamu Bim?"
"Iya."
"Ya elah, pamitan gitu aja pakai pasang muka sedih."
"Zam.."
"Aku baik, udah sana berangkat!"
"Kamu yang kuat ya bro! yakin bisa sembuh! bisa have fun lagi kayak dulu."
"Iya-iya tenang aja!"
Bima menghela napas panjang, berbincang sebentar lalu beranjak pulang untuk mempersiapkan semua barang bawaan yang akan dibawa kembali ke Jakarta.
...🍂🍂🍂...
Hampir sampai di Jakarta, Bima mendapatkan kabar kalau Azam telah meninggal. Bagai tersambar petir di siang hari, Bima linglung sesaat. Bingung harus berbuat apa. Beberapa menit kemudian, ia putuskan untuk menghubungi adiknya, Laras untuk memperjelas berita duka yang ia terima.
__ADS_1
"Dek, Azam.. apa benar?" tanya Bima dengan bibir bergetar.
"Benar mas, sekarang sedang ramai di kampung untuk mempersiapkan pemakaman mas Azam."
...Deg.....
Rasa nyeri yang hebat bercokol dalam dada.
"Ko-k bi-sa?"
"Katanya sih, tetangga dengar kalau mas Azam berteriak histeris sebelum meninggal. Dia memanggil-manggil nama Ayu dan meminta tolong agar tidak dibawa."
Tangan Bima tiba-tiba lemas hingga ponsel terjatuh dari genggamannya. Bima menangis sesenggukan. Ia sama sekali tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang tengah memandangnya. Kehilangan seorang sahabat tak ubahnya seperti, kehilangan belahan jiwa. Butuh waktu yang lama untuk dapat mengendalikan emosinya. Sesampainya di terminal, Bima lekas menghubungi Tantri dan mengabarkan tentang kematian Azam. Tantri yang tak percaya turut menangis terisak-isak.
"Kenapa sih? kenapa Azam? apa sebesar itu kesalahannya? kenapa?"
...🍂🍂🍂...
Di tempat lain, deru tangis tak henti-hentinya terdengar. Semua tetangga dan sanak saudara sibuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari kain kafan, bunga ronce hingga batu nisan. Keranda dan tong penyimpanan air pun telah disiapkan untuk memandikan jenazah Azam, kala seseorang berteriak kalau Azam masih bernapas dan tubuhnya kembali hangat.
Suasana menjadi riuh seketika. Setelah memastikan bahwa Azam benar-benar masih bernapas, orang tuanya segera bergegas membawa Azam ke rumah sakit. Dokter pun memastikan bahwa Azam baru saja mengalami mati suri dan sekarang, kondisinya baik-baik saja. Kedua orang tuanya merasa sangat lega, ucapan syukur tak henti-hentinya mereka ucapkan.
Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, Azam kembali dibawa pulang ke rumah. Para tetangga dan sanak saudara memanjatkan syukur karena Azam tidak jadi meninggal. Segala macam perlengkapan jenazah dikembalikan pada tempatnya kecuali kain kafan dan batu nisan yang terlanjur dibeli. Laras bergegas menghubungi kakaknya untuk mengabarkan kabar baik ini. Bima yang tengah bergelut dengan kesedihannya pun menjadi riang kembali.
"Alhamdulillah ya Alloh! kabarin mas terus ya tentang perkembangan Azam!"
"Iya mas."
Sayangnya, kabar baik ini masih menyisakan kekhawatiran di benak orang tua Azam. Hal ini dikarenakan, perubahan sikap Azam yang dinilai aneh oleh orang tuanya. Azam yang semula lemah, kini terlihat bugar. Senyumnya tersungging lebar kecuali ucapannya yang mulai meracau tak karuan.
"Azam sudah sehat kan buk?"
"Iya nak alhamdulillah kamu sudah sehat."
"Jangan sedih lagi kalian (ibu dan ayahnya)! Azam mau pamit."
...Deg.....
"Pamit apa? mau ke mana?" cecar ibunya.
"Mau.. mau balik ke Jakarta lah, mau kerja."
Meski Azam berkata seperti itu namun, firasat seorang ibu menangkap hal buruk lain yang tengah bersiap mendatangi mereka.
...🍂 Bersambung... 🍂...
__ADS_1