![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Suatu malam, Bima mendatangi kamar kos Azam. Menawarkan segelas kopi padanya sembari mengajaknya untuk merokok bersama di teras. Bima telah siap menerima tolakan saat temannya malah memberikan respon sebaliknya. Azam mengangguk seraya menyambar segelas kopi yang Bima tawarkan. Bima tersenyum lega lalu mengikuti langkah temannya.
"Bim.." panggil Azam membuka perbincangan.
"Hem?"
"Apa aku gila?"
"Hah?"
"Apa menurutmu aku ini gila?"
"Hemm.. em," gumam Bima sembari memperbaiki posisi duduknya.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" tanya Bima kemudian.
Azam menyulut rokoknya lalu menghisapnya.
"Sesekali, aku memikirkan ucapan orang-orang, termasuk juga ucapanmu."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Kalian semua mengatakan hal serupa. Kalian juga menganggapku sakit jiwa. Jika semua berpendapat sama, bukankah benar, ada yang salah denganku?"
"Menurutmu, apa yang salah?"
"Aku, Ayu.."
Bima merasa sangat senang sebab temannya sadar dengan sendirinya. Meski begitu, ia tetap menjaga sikap, berhati-hati dalam bertindak agar tidak terkesan memaksa Azam.
"Begini Zam, apa yang kami semua katakan adalah apa yang kami lihat. Jika awalnya kamu membantah ucapanku, sekarang kamu mulai merasakan kejanggalan itu. Ayu, dia bukan manusia. Seperti yang pernah kusampaikan padamu, dia itu Jin dari Alas Roban."
Azam menatap Bima lekat-lekat.
"Apa yang dia mau dariku? kenapa tidak menakutiku saja?"
"Khawatirnya, Ayu menyukaimu dan enggan melepaskanmu."
Azam membulat tajam, bibirnya terkunci, tak mampu berkata apa-apa.
"Zam, masih belum terlambat. Kita memang belum menemukan orang pintar yang bisa membantu kita tapi setidaknya, kamu sudah menyadari hal ini. Perbanyak ibadah dan berdoa! Alloh pasti menjaga kita."
"Sudah sejauh ini, apa Alloh masih peduli?"
"Jangan bicara begitu! pasti, Alloh pasti peduli."
"Bim, kamu tahu yang kurasakan? dadaku ini hanya dipenuhi cinta kepada Ayu. Meski aku tahu dia siapa tapi perasaan suka, tidak bisa kukendalikan."
Kini, ganti Bima yang terdiam.
"Kuatkan niatmu Zam! anggap saja kalian tidak berjodoh dan mau tidak mau, harus berpisah. Kamu harus kuat! perlahan, rasa itu juga akan menghilang."
"Entah nyata atau sedang dalam kendali Ayu. Hatiku sungguh menyukainya, benar-benar perasaan yang tulus untuknya."
__ADS_1
"Ini sulit tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan bukan?"
Azam menatap Bima sesaat lalu menganggukkan kepalanya.
"Tentang Tantri, bagaimana kabarnya? aku telah menyakiti Tantri begitu dalam."
"Tantri hampir gila karena dihantui Ayu, kamu tahu?"
"Beberapa hari ini, aku telah memikirkan hal itu dan menarik kesimpulan yang sama denganmu."
"Tidak apa-apa, Tantri sudah baik-baik saja. Kamu juga pelan-pelan, kita semua pasti bisa terlepas dari genggaman Ayu."
"Kamu mungkin bisa, kalau aku.."
"Zam, jangan bicara seperti itu!"
Azam terkekeh.
"Iya-iya, terima kasih Bim! Terima kasih karena kamu tetap berada di sampingku, tetap mendukungku dan berusaha membantuku!"
"Haiiss, kita ini kan teman, kita sahabat dan kita adalah saudara. Tidak perlu mengucapkan terima kasih begitu!"
"Selagi masih sempat, aku ucapkan."
...Deg.....
"Kamu.."
Azam kembali terkekekeh.
Bima tersenyum seraya meraih rokok yang Azam ulurkan.
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya, Bima tengah memakai sepatu saat melihat pintu kamar Azam yang masih tertutup rapat. Saat yang lainnya sibuk dengan persiapan bekerja, kamar Azam terlihat tenang tanpa ada suara. Bima mengetuk pintu kamar Azam sembari memanggil nama temannya namun, tak ada sahutan. Alhasil, Bima berjinjit dan sedikit bergantung di ventilasi udara untuk mengintip ke dalam.
"Kosong.." gumam Bima sembari melompat turun.
Bima lantas bergegas berangkat karena yakin kalau Azam telah berangkat duluan. Ternyata, kursi Azam masih kosong juga di kantor. Bahkan, hingga jam makan siang tiba, batang hidungnya masih belum terlihat. Bima yang mulai khawatir, mengirimkan pesan berulang. Sayangnya, hingga jam pulang tiba, masih belum mendapat jawaban. Selepas maghrib tepat, nomer Azam sudah tidak aktif. Tidak dapat dihubungi dan tidak bisa dikirimi pesan.
Sementara di kossan, keadaannya masih sama. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Azam.
"Ke mana anak ini? Kenapa gak bisa dihubungi sih? semoga gak terjadi apa-apa."
Bima tidak bisa tenang sebab, hingga lewat jam sembilan malam, Azam masih belum kembali juga. Dengan rasa khawatir yang kian mengular, Bima beranjak pergi untuk mencarinya. Beberapa warung kopi langganan telah Bima datangi namun, keberadaan Azam masih belum ia temukan. Bima lantas menghubungi teman-temannya guna menanyakan keberadaan Azam yang mana hasilnya masih nihil, tak seorang pun dari mereka yang mengetahuinya. Dalam kebimbangan itu, Bima memilih untuk memarkirkan motornya di sebuah parkiran mini market lalu menghubungi Rayyan, saudaranya.
"Ada apa?" tanya Rayyan di ujung panggilan.
"Di mana Azam?"
"Hah? kamu mengigau ya? kenapa tanya Azam ke aku? teman Azam itu kan, kamu. Kalian juga satu kossan di Jakarta."
"Iya, aku tahu."
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rayyan lirih saat ia menyadari telah terjadi sesuatu terhadap Azam.
"Hilang, Azam tidak ada di mana pun."
"Segede itu bisa hilang?"
"Sikapnya terlihat aneh semenjak semalam."
"Bukannya memang setiap hari aneh?"
"Dia sudah sadar kalau Ayu bukan manusia."
"Hah? berita bagus kalau begitu."
"Bagus tapi, celakanya adalah, Azam sudah benar-benar jatuh cinta kepada Ayu."
"Hah?"
"Azam sendiri tidak tahu, perasaan itu murni cinta atau semacam guna-guna tapi, ia sungguh merasakan rasa sayang yang tulus."
"Wah semakin rumit Bim."
"Ada satu hal lagi yang jika kupikirkan kembali membuatku merasa takut."
"Apa itu?"
"Azam, dia mengucapkan terima kasih. Katanya, selagi masih sempat, ia ucapkan. Seolah, dia mau pergi jauh."
...Deg.....
"A-pa, a-pa menurutmu, Azam memilih pergi bersama Ayu?" tanya Azam terbata.
Bima terdiam.
"Bim.. kamu baik-baik saja kan?"
"Jangan sampai Yan! konyol sekali kalau Azam sampai membuat keputusan seperti itu."
Rayyan menghela napas panjang.
"Gini deh, jangan berpikir macam-macam dulu! tunggu sampai besok, kalau Azam belum balik juga, kabarin orang tuanya di Jepara!"
"Iya, rencanaku juga begitu."
"Sabar ya Bim!"
"Iya, yaudah aku tutup dulu!"
"Iya."
Bima mematikan ponselnya lalu kembali menggeber motornya, menyusuri jalanan aspal menuju kosan. Sepanjang perjalanan, Bima terus berdoa agar Azam lekas pulang. Bima benar-benar khawatir jika ada hal buruk yang menimpa Azam. Sayangnya, Azam masih belum pulang juga.
"Ya Alloh Zam, kamu di mana?"
__ADS_1
...🍂 Bersambung... 🍂...