![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Beberapa hari berlalu dan kini, tibalah hari kemenangan untuk seluruh umat muslim setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan lamanya. Suasana kampung dimeriahkan dengan gema takbir dan petasan yang sengaja disulut agar suasana kian semarak. Bima dan Azam pun turut meramaikan. Tawa riang terdengar, raut bahagia tersungging di wajah. Dalam deret rumah-rumah berusia tua sudah mulai ramai, musabab kedatangan saudara atau pun anak-anak yang selama ini beradu nasib di perantauan. Tiba-tiba, ponsel Bima berdering. Bima meraihnya seraya membaca sebuah nama yang muncul di layar.
"Tantri.."
[ Hallo. ]
[ Hallo Bim, Azam lagi sama kamu gak? ]
[ Enggak Tan, memangnya dia gak ngabarin kamu? ]
[ Beberapa hari ini, Azam aneh. ]
[ Aneh gimana? ]
[ Suka ngilang tanpa ngasih kabar dan saat balas chatku, gak langsung ngasih penjelasan yang akhirnya memicu pertengkaran kecil di antara kami. ]
[ Oh, aku juga kurang tahu sih Tan. Mungkin saja, dia sedang asik ngobrol sama saudara-saudaranya. Ini kan malam takbiran, wajar sih, jangan mikir macam-macam! ]
[ Benar juga. Oh iya Bim, mohon maaf lahir dan batin ya! ]
[ Iya Tan sama-sama, maafin aku juga ya! ]
[ Iya. Oke deh, aku tutup dulu ya! ]
[ Iya. ]
[ Makasih ya Bim! ]
[ Iya. ]
...Klik.....
Tantri menutup sambungan teleponnya seiring rasa bersalah yang melintas sesaat dalam benak Bima. Bima menduga bahwa keanehan sikap Azam, ada kaitannya dengan Puspa Ayu. Bima merasa bersalah sebab, telah dengan sengaja tidak memberitahu Tantri.
"Maaf ya Tan! bingung aku. Satu sisi, Azam sahabatku, satu sisi lagi, kasihan ke kamu," gumam Bima seraya menghela napas panjang.
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya, usai solat ied, semua orang saling mengunjungi tetangga kiri kanan serta sanak saudara mereka. Begitu pun dengan Bima dan Azam yang akhirnya bertemu sebab mereka, memang bertetangga. Saat itulah, Bima mengatakan bahwa semalam, Tantri menelpon dirinya, menanyakan perihal keberadaan Azam. Azam hanya tersenyum seraya menjawab kalau dia sedang bersama Puspa Ayu semalam. Bima ingin menasihati Azam namun suasana lebaran membuat ia mengurungkan niatnya.
"Nanti saja lah, lagi ramai orang juga," benak Bima.
Setelah itu, mereka berpisah karena harus melanjutkan bersilahturahmi dengan keluarga masing-masing.
...🍂🍂🍂...
Malam hari berikutnya, tanpa sengaja Bima bertemu dengan Azam di sebuah rumah makan. Ternyata, Azam sedang makan bersama dengan Ayu. Bima menghampiri mereka seraya menyapa keduanya.
"Nempel muluk kamu Zam sama Ayu," ledek Bima.
__ADS_1
Ayu tersipu.
"Tumben cari makan, opor di rumah sudah habis apa?" tanya Azam.
"Ada, akunya aja yang pengen makan di luar. Kebetulan ketemu kalian, aku duduk di sini ya?"
"Aduh Bim! ganggu tahu?"
"Eh, bisa-bisanya kamu ngomong gitu Zam? kita ini kan sudah melewati banyak hal bersama. Sejak kecil loh kita.."
"Karena itu, aku bosen terus-terusan sama kamu."
"Wah-wah-wah.."
Perdebatan Bima dan Azam mengundang tawa kecil dari Ayu yang kemudian melerai keduanya. Mendengar ucapan Ayu, Azam tak berkutik, selain menurutinya. Terlihat jelas bahwa Azam tergila-gila padanya.
...🍂🍂🍂...
Setelah beberapa waktu mereka berbincang barulah Bima menyadari sesuatu. Banyak pasang mata pembeli memandang aneh ke arah mereka. Bima bahkan mengamati dirinya sendiri, mencari tahu, apakah ada yang salah pada dirinya?
"Apa mereka nglihatin Ayu ya? Ayu emang cantik sih tapi kan, gak harus sampai segitunya," ucap Bima di dalam hati.
Usai makan, Bima lekas membayar tagihannya dan kemudian berpamitan untuk pulang lebih dulu.
"Iya Bim," jawab Azam.
"Balik dulu ya Yu!"
"Iya."
"Mas.."
"Iya."
"Temannya gila ya?"
"Hah?"
"Cowok yang duduk sama mas tadi."
Bima lantas melirik ke dalam rumah makan lalu kembali menatap ke orang yang mengajaknya berbicara.
"Kenapa memangnya?" tanya Bima kemudian.
"Dari tadi bicara sendiri. Apa mas gak merasa? saya kira karena dia gangguan jiwa, mas jagain dia di sana. Gak tahunya, mas balik duluan."
"Bicara sendiri gimana?"
"Coba saja mas perhatikan!"
__ADS_1
Bima kembali masuk dan memandang Azam dari kejauhan. Bima sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi. Menurut penglihatannya, Azam tidak bicara sendiri melainkan berdua bersama dengan Ayu.
"Tuh kan mas, dia bicara sendiri. Gerak-geriknya malah lebih aneh lagi, seperti sedang mengusap tangan dan rambut seseorang. Apa dia depresi karena ditinggal nikah kekasihnya?"
"Mas, teman saya sama sekali tidak gila dan dia.. apa.. apa mas tidak melihat siapa pun di samping teman saya itu?"
"Siapa? tidak ada siapa-siapa."
...Deg.....
"Yasudah mas, maaf ya saya bicara sembarangan!" ucap orang tersebut kala melihat wajah Bima yang mulai tidak ramah.
Bima hanya menganggukkan kepalanya.
"Jangan-jangan dia yang gila. Jelas-jelas Azam lagi sama Ayu kok. Hemm.."
Bima berusaha mengabaikan hal itu namun, rasa penasaran terlanjur menyapa dan enggan beranjak sebelum mendapat jawaban.
"Duh! kayaknya aku yang gila nih karena percaya sama orang tadi."
Pada akhirnya, Bima berinisiatif untuk bertanya ke pembeli lain. Apakah ia dapat melihat Ayu ataukah tidak?
"Apa yang bapak lihat? laki-laki itu sedang bersama orang lain atau hanya duduk sendirian?" tanya Azam.
"Kenapa tanya begitu mas?"
Bima nyengir.
"Saya minus pak, tidak bisa melihat dengan jelas dan laki-laki itu saudara saya. Tiba-tiba kabur dari acara keluarga, saya curiga kalau dia sedang jalan sama pacarnya."
"Oh ada-ada saja. Dia sendirian kok mas, saudara mas makan sendiri di sana."
...Deg.....
"Baik pak, terima kasih!"
"Iya."
Bima mulai gemetar namun batinnya masih belum yakin. Alhasil, ia kembali melakukan pengetesan yang sama pada orang lain lagi yang mana hasilnya tetap sama. Orang baru yang ia mintai tolong pun, tidak bisa melihat keberadaan Ayu.
"Astaghfirulloh, yang benar saja? Ini.."
Bima kembali meminta orang lain lagi untuk melihat. Ini sudah ketiga kalinya ia mencoba dan hasilnya masih sama. Tubuh Bima gemetar dengan hebat. Dengan segala keberanian yang ada, Bima memandang Azam dan Ayu sekali lagi. Bima membulat sebab, ia masih bisa melihat Ayu di sana. Sementara orang-orang lainnya tidak bisa melihatnya. Bima menelan ludahnya kasar. Dilema, itu juga yang tengah Bima rasakan. Bima yakin bahwa Ayu bukanlah manusia tapi takut untuk mendekati Azam apalagi menjelaskannya, sebab Ayu masih ada di sana.
"Ya Alloh, Azam Ya Alloh!"
Beberapa saat kemudian, Ayu menoleh ke arah Bima lalu mengulas senyum kepadanya. Bima hanya bisa terdiam membisu sembari lekas membalikkan badannya menuju motor yang ia parkir di parkiran.
"Maaf Zam! aku takut banget. Nanti saja aku jelaskan semuanya padamu.
__ADS_1
...🍂 Bersambung... 🍂...