ALAS ROBAN [ END ]

ALAS ROBAN [ END ]
TABRAKAN MAUT


__ADS_3

Setelah bersusah payah akhirnya, mereka bisa tidur juga. Azam tidur dengan nyenyak sementara Bima memimpikan sesuatu yang buruk. Dalam mimpinya, bis yang ia tumpangi mengalami kecelakaan hebat hingga membuat seluruh penumpang tewas, kecuali dia dan Azam, keduanya selamat. Meski sekedar mimpi, Bima dapat merasakan betapa sakitnya tubuhnya. Bima memeriksa bagian tubuhnya yang terluka hingga akhirnya ia terbangun dari mimpi itu.


Sialnya, apa yang terjadi di dalam mimpi, terjadi juga dalam dunia nyata. Bis yang ia tumpangi, benar-benar mengalami kecelakaan. Bertabrakan dengan sesama bis dari arah yang berlawanan. Guncangan hebat dari tabrakan tersebut membuat semua penumpang terpental dari kursinya. Bis berguling beberapa kali. Tubuh para penumpang menghantam apa pun yang ada di dalam bis. Mulai dari terbentur kursi, besi pegangan hingga tertindih oleh tubuh sesama penumpang. Hal ini membuat Azam dan Bima pingsan.


Beberapa saat kemudian, perlahan mereka tersadar. Keduanya merintih kesakitan seraya memandang sekitar. Bima tercengang mendapati semua orang tergeletak. Dengan seksama, Bima memperhatikan perut salah satu penumpang yang sama sekali tidak bergerak.


"Apa dia.. sudah tidak bernapas?" gumam Bima.


"Bim, kamu masih hidup apa sudah mati?" tanya Azam pelan.


"Dasar, teman sialan!" gerutu Bima.


"Bim, tulangku patah."


"Yang penting, kamu masih selamat."


"Ayo keluar Bim! sepertinya, bisnya mau meledak."


"Husst!"


"Di film-film kayak gitu Bim."


"Udah kayak gini, masih bisa bercanda kamu?"


"Iya-iya maaf!"


Azam dan Bima berusaha bangkit lalu melangkah perlahan, memeriksa satu persatu penumpang, barangkali masih ada yang selamat. Sayangnya, semua telah tewas termasuk juga sopir dan juga kernetnya.


"Innalillahiwainna ilaihi rojiun, musibah besar ini Zam."


"Iya Bim."


"Kita cari bantuan!"


"Iya."


Perlahan bima dan azzam turun dari bis, hendak mencari bantuan tapi saat mereka telah berada diluar, satu persatu penumpang malah bangun membuat keduanya bingung.


"Mereka semua selamat.." ucap Bima di dalam hati.


Sejujurnya, ada rasa lega yang menyeruak di dalam dada. Keduanya pun mengucap hamdalah, bersyukur sebab kecelakaan itu tak merenggut satu nyawa pun.


"Kita periksa Zam!"


"Iya Bim."


Hal mengerikan terjadi setelahnya. Saat Bima dan Azam masuk lagi ke dalam bis untuk memeriksa, wajah para penumpang berubah menjadi hancur. Ada yang matanya keluar dari kelopaknya. Ada yang satu sisi kepalanya penyok parah dan banyak juga penumpang yang anggota tubuhnya tidak lengkap. Azam dan Bima lekas berlari keluar lagi. Mereka yakin bahwa semua penumpang bukanlah manusia termasuk sopir dan kernetnya juga.

__ADS_1


Benar saja, bis yang semula terbalik kini kembali ke posisi semula dan perlahan melaju meninggalkan Bima dan Azam di tengah alas Roban. Keduanya tercengang, sungguh tak menyangka kalau sedari tadi, bis yang mereka tumpangi adalah bis setan. Semua penumpang yang berada di dalam bis, bukanlah manusia. Bima terduduk lemas di atas tanah. Sementara Azam, memegangi lututnya yang gemetar. Keduanya tak lagi bisa berkata-kata.


"Ya Alloh, apa ini? kenapa sampai jadi begini?" benak Bima.


"Sekarang gimana Bim?"


"Bentar Zam, kakiku lemas."


"Sama," jawab Azam seraya meluruskan kakinya dan turut duduk di pinggir jalan.


Malam begitu pekat andai bulan tak bersinar terang malam itu. Setelah kondisi tubuh kembali normal, Bima dan Azam bangkit lalu memberanikan diri untuk berjalan, menyusuri jalanan di kawasan Alas Roban.


"Yakin Bim?"


"Memangnya kamu mau diam di sini semalaman?"


"Benar juga."


"Jalan terus saja sampai bertemu tumpangan nanti!"


"Iya."


Karena tak ada pilihan, mereka memulai langkah demi langkah menyusuri jalanan Alas Roban. Tak dapat dijelaskan betapa rasa takut mendominasi batin keduanya. Pandangan lurus ke depan sembari sesekali menunduk ke bawah. Khawatir jika tiba-tiba ada sesuatu tak diharapkan muncul di hadapan mereka. Kerongkongan serasa tercekat, bibir kering seiring nyeri yang menjalar ke seluruh persendian.


Entah nyata ataukah ilusi, terlihat siluet tubuh seseorang dari kejauhan. Azam dan Bima ragu namun, tak memiliki pilihan selain berjalan mendekat. Dengan segala keberanian yang tersisa, mereka menaruh harap yang besar. Berharap siluet itu, benar manusia. Sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah, memangkas jarak di antara mereka, hingga keduanya berhadapan langsung dengan siluet yang ternyata benar, manusia. Laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan tengah menatap Bima dan Azam.


"Kalian jalan kaki?" tanya laki-laki tadi.


"Ceritanya panjang mas, apa mas bisa menolong kami?" sahut Azam.


"Saya, saya ingin memberi kalian tumpangan tapi seperti yang kalian lihat, saya hanya memakai sepeda motor. Apa bisa berboncengan tiga?"


Bima dan Azam saling berpandangan.


"Begini saja, kami menumpang sampai keluar dari Alas Roban. Setelah itu, kami akan mencegat bis lagi," saran Azam.


"Hemm.. baiklah, ayo naik!"


"Terima kasih mas, nama saya Azam."


"Saya Bima."


"Saya Bayu."


"Terima kasih banyak mas Bayu!"


"Iya sama-sama, jangan sungkan!"

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Di sepanjang perjalanan, mereka sesekali berbincang. Tidak ada keanehan, hanya dinginnya angin yang menusuk tulang hingga akhirnya, Bima menyadari, tidak ada kendaraan lain yang melintas. Ternyata, hal ini telah disadari Azam juga tapi kedua sahabat itu, memilih untuk mengabaikan. Pikir mereka, yang terpenting adalah sampai di kampung halaman. Hal-hal lainnya, dikesampingkan dulu saja.


Setelah lima belas menit berjalan, hal mengerikan kembali terjadi. Mas Bayu yang tadi bertubuh ramping, perlahan tubuhnya membesar dan meninggi hingga membuat Bima dan Azam terjatuh dari boncengan. Ketika mereka tengah memeriksa luka masing-masing, sosok yang tadi mengaku bernama Bayu itu, menatap tajam ke arah keduanya. Sontak mereka berteriak serta lekas berlari terbirit-birit.


..."Tiin..! Tin! Tiiinn..!"...


Sebuah mobil pick up membunyikan klakson beberapa kali sebelum kemudian berhenti lalu mundur kembali guna menghampiri Bima dan Azam yang terlihat kelelahan.


"Ada apa mas, kenapa kalian lari?" tanya seorang lelaki paruh baya yang mengemudikan mobil pick up.


"Bapak manusia?" tanya Bima.


"Lah menurutmu apa? kenapa? kendaraan kalian di mana?"


"Pak, tolong kami!" sahut Azam.


"Apa yang terjadi?"


"Ada hantu dan bis.."


Belum selesai Azam berbicara, lelaki paruh baya itu meminta keduanya untuk lekas naik.


"Terima kasih banyak pak!" jawab Azam seraya naik ke mobil pick up.


"Nih minum!"


Bima menerima botol air mineral yang diulurkan padanya sembari mengucapkan terima kasih.


"Alhamdulillah," ucap Bima usai menenggak beberapa teguk air mineral.


"Kalian ini siapa dan apa yang terjadi?"


"Saya Bima pak dan ini teman saya, Azam. Sebenarnya, kami melewati malam yang sial untuk mudik tahun ini."


"Sial bagaimana?"


"Bis yang kami tumpangi ternyata bis setan."


"Ah yang benar kalian?"


"Sungguh pak, banyak sekali hal mistis yang kami alami. Kami berlarian di jalan ini tadi pun karena diganggu penunggu Alas Roban ini."


Lelaki paruh baya tersebut hanya mengernyit kala mendengar cerita Bima.


...🍂 Bersambung... 🍂...

__ADS_1


__ADS_2