![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Detak jantung seolah terdengar seiring sunyi yang kian mencekam. Semua diam, tak ada suara atau pun pergerakan. Ayah Azam hanya bisa menatap beragam makanan di hadapannya tanpa berani mencicipinya. Tak lama kemudian, muncullah sosok perempuan yang tengah dicari yakni Ayu, jin yang telah menyembunyikan Azam.
"Pak tua, apa maumu?" tanya sosok itu sembari meluruskan pandangannya pada mbah Woto yang masih duduk dengan tenang.
"Kamu tahu apa yang kami mau," jawab mbah Woto kemudian.
Ayu mengulas senyum seraya duduk di sisi yang berlawanan.
"Serahkan anakmu dan terimalah tawaranku!"
Kali ini, Ayu mengalihkan pandangannya ke ayah Azam.
"Anakku bukanlah barang yang bisa ditukarkan," jawab Ayah Azam dengan tegas.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Ayu seraya mengayunkan dagunya, isyarat meminta pelayan untuk membawakan sebuah peti ke hadapan mereka.
Berkilau, peti itu berisi perhiasan emas. Mulai dari anting, kalung hingga cincin. Bahkan, emas batangan pun, juga ada.
"Jangan tergoda!" ucap mbah Woto memperingati.
"Aku tidak menginginkan semua itu. Kembalikan saja anakku!" tegas ayah Azam.
"Anakmu bersalah dan harus dihukum."
"Kamu memang mengincarnya, siapa kamu hingga berani melakukan hal ini kepada anakku?"
"Lancang!"
Mbah Woto lekas menengahi.
"Maafkan Azam atas kebodohannya! Kalian berdua berbeda alam. Tidak akan bisa untuk bersama. Layaknya manusia yang menikah dengan manusia. Jin pun juga sama, jin menikah dengan sesamanya."
"Itu urusanku, tidak perlu kamu untuk mengaturnya."
"Kami akan tetap membawanya," ucap mbah Woto.
"Satu tahun, biarkan dia di sini selama satu tahun untuk menerima hukuman! setelah itu, akan kukembalikan dia pada keluarganya."
"Tidak bisa! satu tahun di sini, berapa tahun di alam manusia?"
"Dasar manusia tidak tahu terima kasih!"
"Iblis betina!" umpat ayah Azam yang lekas memancing amarah Ayu dan para jin yang lainnya.
__ADS_1
Mbah Woto bertindak cepat, beliau lekas membaca doa yang tak dapat terdengar jelas. Para Jin mulai merintih kesakitan, termasuk juga dengan Ayu.
"Tutup mata!" pinta mbah Woto pada ayah Azam.
"Baik."
Mbah Woto kembali merapalkan doa-doa dan tak lama setelahnya, mereka berdua kembali ke alam manusia. Belum selesai, mbah Woto terlihat duduk bersila dan masih khusuk dengan doa-doa yang ia ucapkan. Sekitar lima belas menit kemudian, beliau membuka matanya seraya mengedarkan pandang ke sekeliling lalu berseru dengan lantang:
"Di sana, itu Azam!"
Semua mata mengarah ke arah yang ditunjuk oleh mbah Woto. Benar saja, Azam tengah tergantung di cabang pohon tempat ia kencing sembarangan. Ayah Azam dan Bima saling membantu untuk menurunkan tubuh Azam. Sementara ibu Azam terus menangis, antara sedih melihat keadaan anaknya sekaligus bahagia sebab anaknya telah berhasil ditemukan. Andai itu akhir dari semuanya. Sayangnya, hal ini baru permulaan. Sebuah bisikan terdengar di telinga Bima, yang mana Bima tahu betul, suara siapakah itu.
"Azam masih harus dihukum. Kalian merebutnya dariku maka, tak akan kubiarkan Azam, hidup dengan tenang."
...Deg.....
Bima membulat dalam diam.
...🍂🍂🍂...
Sepanjang perjalanan pulang, Azam hanya tergeletak lemah. Sesekali membuka mata lalu kembali terlelap lagi seolah matanya, tak bisa dibuka lama-lama. Sementara Bima masih bergulat dengan kegusaran batinnya. Ketika ada kesempatan, ia bertanya kepada mbah Woto perihal bisikan yang ia dengar. Ternyata, mbah Woto juga mendengar hal yang sama.
"Lalu bagaimana mbah?" tanya Nisa dengan suara sepelan yang ia bisa.
"Lihat nanti! yang terpenting, Azam sudah keluar dari alam ghaib. Untuk selanjutnya, kita lakukan pelan-pelan!"
...🍂🍂🍂...
Sesampainya di Jepara, Azam lekas dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan guna mengembalikan stamina tubuhnya. Tentu orang tua Azam tidak mengatakan yang sebenarnya. Mereka hanya bilang kalau anaknya mendadak merasa tidak enak badan lalu perlahan menjadi kian lemas. Infus dipasang sembari dilakukan pemeriksaan yang lebih lengkap.
"Terima kasih banyak ya Bim! saya antarkan kamu pulang!" ucap ayah Azam.
"Yang menemani Azam siapa?"
"Sementara biar ibunya di sini dulu. Kamu dan mbah Woto akan saya antar pulang, sekalian menyiapkan pakaian dan keperluan Azam yang lain selama dirawat di Rumah sakit."
"Emm.. iya."
...🍂🍂🍂...
Tiga hari lamanya Azam dirawat dan hari ini, dokter telah mengizinkan Azam untuk pulang. Bima telah menunggu di teras saat Azam beserta kedua orang tuanya sampai di rumah. Azam mengulas senyum melihat sahabatnya berdiri di teras rumahnya. Bersiap memapah, membantu Azam untuk berjalan.
"Makasih Bim!" ucap Azam, nyaris berbisik.
__ADS_1
Meski telah diizinkan untuk pulang namun kondisi tubuhnya masih sangat lemah.
"Masih perlu rawat jalan dan kontrol berkala," celetuk ibu Azam saat melihat Bima yang keheranan.
"Oh iya," jawab Bima.
"Kamu gak balik ke Jakarta Bim?" tanya Azam.
"Besok aku balik, setelah melihat kamu pulang ke rumah, baru bisa lega."
"Aku baik, maaf tidak mendengarkan peringatanmu!"
"Yang lalu biarlah berlalu. Kamu hanya perlu fokus dengan kesehatanmu. Semangat sembuh, pulih, gesit seperti dulu."
"Iya," jawab Azam seraya mengulas senyum tipis.
...🍂🍂🍂...
"Sebenarnya, aku penasaran dengan apa yang kamu alami di sana," celetuk Bima.
"Lain hari saja kamu ceritakan saat kondisimu sudah sehat," ucap Bima lagi.
"Aku baik Bim, aku sehat, hanya sedikit lemas saja."
"Iya, istirahat saja lagi, aku pulang dulu!"
"Katanya penasaran, duduk dulu gih! dalang Azam akan memulai kisahnya."
Bima tersenyum.
"Sudah bisa bercanda kamu?"
Azam turut tersenyum.
"Sebenarnya, saat aku ngopi sama kamu di kossan, aku sudah merasakan keanehan. Saat Ayu membawaku masuk ke alamnya, aku benar-benar telah sadar. Aku tahu betul kalau dia, bukanlah manusia. Kenapa? aku juga tidak tahu kenapa tapi, setiap hal yang pernah kamu katakan, menjadi masuk akal di sana. Bahkan, Ayu juga sudah mengakui semuanya tapi anehnya, beberapa saat setelahnya, semua fakta kuabaikan. Segala perbedaan tidak menjadi halangan untuk bersama. Terlihat wajar, entah apa yang terjadi padaku saat itu. Persiapan pernikahan pun dilakukan, aku, sama sekali tidak menolak."
"Pada akhirnya, kalian belum sampai menikah kan?"
Azam menggelengkan kepalanya.
"Belum."
"Alhamdulillah!"
__ADS_1
Bima merasa lega, begitu pun dengan kedua orang tuanya. Azam melanjutkan cerita panjangnya. Sebuah cerita yang mungkin akan diragukan oleh beberapa orang. Meski demikian, hal ini sungguh terjadi. Begini adanya dan benar dialami Azam. Azam sendiri merasa senang sebab, telah kembali ke rumah dengan selamat. Sementara Ayu, tengah bersiap, merencanakan balas dendam yang mana menurutnya, itu hukuman untuk Azam.
...🍂 Bersambung... 🍂...