ALAS ROBAN [ END ]

ALAS ROBAN [ END ]
DIMENSI LAIN


__ADS_3

Di tempat lain, Azam terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya ia terbangun di dimensi lain, bukan lagi di alam manusia. Dia berada di sisi lain dalam kawasan Alas Roban. Azam memandang ke sekeliling ruangan sembari coba mengingat. Ia teringat bahwa semalam, ia tidur di dalam kamar kosnya dan tidak bisa mengingat apa pun perihal bagaimana ia bisa sampai di rumah yang terlihat asing baginya. Tak lama kemudian, Ayu masuk ke kamar seraya menyapa Azam.


"Sudah bangun? mari sarapan! aku membawakanmu makanan," ajak Ayu sembari meletakkan baki berisi makanan di atas meja kamar.


"Ayu, di mana ini? kenapa kamu juga ada di sini?" tanya Azam kebingungan.


"Ini rumahku, semalam kamu bilang, ingin menginap."


"Hemm, benarkah? seingatku, aku tidur di kossan."


"Kamu lupa, sudahlah, ayo makan dulu!"


"Sebentar!"


Azam bangkit lalu berjalan ke luar kamar. Ayu mengikutinya dari belakang. Di dalam rumah itu terdapat banyak sekali orang yang mana menurut Ayu, mereka adalah pelayan di rumah itu. Azam bingung karena Ayu memiliki banyak sekali pelayan.


"Ayahku adalah Lurah di desa ini. Bisa dibilang, kami adalah keluarga yang paling kaya di sini. Wajar jika kami memiliki banyak pelayan."


"Lalu, di mana orang tuamu?"


"Ada, nanti juga akan menemuimu."


Azam kembali memperhatikan sekitar saat dirinya terhenyak sebab menyadari adanya sebuah keanehan. Para pelayan yang berlalu lalang terlihat dingin, wajahnya tak menunjukkan ekspresi dan diam, tak ada satu pun yang saling berbincang. Sekedar berbisik atau cekikikan juga tidak ada.


"Keadaan ini terasa familier," gumam Azam.


Tentu saja, hal ini sama persis seperti para penumpang bis setan yang ia naiki bersama Bima.


...Deg.....


"Jangan-jangan.."


Azam membulat, ia telah menyadari bahwa dirinya dibawa Ayu ke dimensinya. Semua hal aneh yang selama ini Bima peringati, kembali terbayang di ingatan. Tatapan aneh dari orang-orang yang menganggapnya gila menjadi masuk akal. Hari ini, dia benar-benar yakin kalau Ayu bukanlah manusia. Bukan hanya dia tapi semua pelayan yang ada di rumah itu juga sama.


"Astaghfirulloh! bagaimana ini?" benak Azam.


"Ayo makan!" ajak Ayu sekali lagi.


Azam mengangguk lalu berjalan kembali, masuk ke dalam kamar. Ayu bersiap menyuapi Azam saat laki-laki itu menahan tangan Ayu.


"Ada apa?" tanya Ayu dengan lembut.


"Kamu siapa?"


Mendengar pertanyaan Azam, Ayu lantas mengulas senyum.


"Kamu kenapa? aku Ayu."


"Siapa kamu? kenapa membawaku ke sini? aku tahu kamu Ayu dan aku juga tahu, kamu adalah Jin penunggu Alas Roban. Apa tujuanmu?"


Ayu kembali tersenyum seraya meletakkan piring dan sendok ke meja.


"Kamu percaya dengan apa yang diucapkan Bima?"

__ADS_1


"Ingin mengelak tapi fakta telah berbicara."


"Lalu, apa perasaanmu padaku hanyalah sesuatu yang semu?"


"Ini.. aku.."


"Kamu benar-benar mencintaiku."


"Tapi jika kita berbeda alam, tentu hal ini tidak bisa diteruskan."


"Benarkah? aku takut kalau kamu akan menyesali ucapanmu."


"Apa maksudmu?"


"Saling mencintai, sudah semestinya bersatu."


"Tapi aku dan kamu, tidak bisa melakukan hal itu."


"Maka, orang lain juga tidak boleh."


"Apa maksudmu?"


"Apa maumu Azam?"


"Kembalikan aku ke alamku! kita berbeda, sebesar apa pun rasa cintaku, tidak bisa dipersatukan, maaf!"


"Jika hal itu terjadi, kamu melukai hatiku. Artinya, seumur hidup, aku akan membuatmu sulit mendapatkan pasangan. Apa kamu siap hidup melajang selamanya?"


Azam terdiam.


"Apa salahnya menikah denganku? kamu mencintaiku, tidak ada paksaan dalam hubungan ini."


"Bukankah menikahimu sama dengan harus tinggal di sini denganmu?"


"Benar."


"Artinya, lama kelamaan, aku akan benar-benar mati kan?"


"Hemm.. jangan membahas hal semacam itu! kita diskusikan lagi nanti, tapi kalau kamu tidak makan sekarang maka, hal itu benar-benar akan terjadi. Tubuhmu butuh makanan agar tetap hidup."


"Benar juga," gumam Azam.


"Ayo buka mulut!"


Azam membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari Ayu.


...🍂🍂🍂...


Di kantor, Bima bercerita kepada pak Anhar kalau dia telah memberitahu orang tua Azam dan mereka mempercayai ucapan Bima.


"Sekarang, orang tua Azam sedang membuat laporan di kantor polisi sebab hingga pagi ini, Azam masih belum bisa dihubungi," ujar Bima.


"Lalu, apa orang tuanya berencana untuk mencari sendiri ke Alas Roban?"

__ADS_1


"Sepertinya iya. Mereka pikir, jika meminta polisi untuk ikut mencari ke sana, takutnya akan sulit. Apalagi tentang hal mistis seperti ini, tentu tak akan mudah dipercayai. Jadi, mereka memutuskan untuk turun tangan sendiri sembari tetap membuat laporan di kantor polisi."


"Bagus itu, kapan rencana mereka berangkat?"


"Secepatnya pak dan.."


"Dan apa?"


"Ayah dan ibunya Azam mengajak saya ke sana karena saya yang tahu lokasi tempat Azam kencing sembarangan dan mengambil mawar di Alas Roban."


"Oh iya Bim boleh, kapan? saya pasti izinkan."


"Hari ini pak."


"Baik, bilang saja kamu ada tugas luar dari saya. Saya kasih surat tugas agar hak cutimu tidak dipotong."


"Iya pak terima kasih banyak."


"Semoga cepat ketemu ya Bim! saya tidak bisa ikut mencari."


"Tidak apa-apa pak. Bapak sudah cukup membantu. Tolong doakan saja dari sini!"


"Pasti, ya sudah, kamu hati-hati!"


"Iya pak."


Bima pamit, berjalan keluar dari ruangan pak Anhar seraya kembali ke meja kerjanya. Merapikan barang-barang sebelum kemudian menelpon orang tua Azam guna mendiskusikan tentang pencarian anak mereka.


...🍂🍂🍂...


Di alam ghaib, Azam yang semula meminta untuk dikembalikan ke alam manusia, kini terlihat tenang dan bahagia. Senyum tersungging di bibirnya. Terdengar juga tawa bahagia dari keduanya. Azam seolah lupa tentang perbedaan di antara mereka. Keinginan kembali ke alam manusia pun telah sirna. Azam dan Ayu tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Bahkan, Azam sama sekali tidak membantah ketika Ayu mengatakan bahwa pernikahan mereka sedang dipersiapkan.


...🍂🍂🍂...


Bima telah kembali ke kossan dan sedang menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa untuk mencari Azam. Saat itulah ponselnya berdering. Sedikit ragu awalnya namun akhirnya, Bima menerima panggilan itu.


"Hallo Tantri!" sapa Bima.


"Hallo Bim!"


"Iya, kamu apa kabar?"


"Baik, kamu gimana? Azam gimana?"


"Aku baik tapi maaf ya Tan! nanti disambung lagi telponnya, aku lagi buru-buru sekarang."


"Tunggu!"


"Kenapa?"


"Apa Azam menghilang?"


...Deg.....

__ADS_1


"Kok kamu tahu?" tanya Bima seraya menghentikan semua aktivitasnya.


...🍂 Bersambung... 🍂...


__ADS_2