ALAS ROBAN [ END ]

ALAS ROBAN [ END ]
BAB 17


__ADS_3

Keesokan harinya, Bima lekas menengok kamar Azam seraya mengetuk pintu kamarnya. Sayangnya, kamar itu masih kosong yang mana artinya, Azam sama sekali belum pulang. Bima merasa benar-benar khawatir dan mulai mempertimbangkan untuk mengirimkan kabar kepada kedua orang tua Azam. Berulang kali ponsel ia ambil lalu kembali ia letakkan. Bima bimbang, apakah harus memberikan kabar sekarang atau menunggu Azam sebentar lagi.


"Bagaimana ini?"


Setelah dipertimbangkan, Bima memutuskan untuk menunggu hingga tengah hari. Bima masih berharap, Azam akan datang.


...🍂🍂🍂...


Di kantor, meja Azam masih kosong. Bima mencoba bertanya ke atasan mereka, barangkali, Azam telah meminta izin. Sayangnya, belum sampai berucap, Bima malah di tanya duluan oleh pak Anhar mengenai ketidakhadiran Azam kemarin dan sekarang.


"Apa dia tidak izin ke bapak?" tanya Bima.


"Kalau izin, saya tidak perlu bertanya ke kamu."


"Sebenarnya, saya juga mau menanyakan hal yang sama."


"Loh, seingat saya, kalian tinggal di satu kossan yang sama kan?"


"Benar pak tapi.."


"Ada apa? katakan yang sebenarnya Bima! Azam masih anak buah saya."


"Itu, Azam..."


"Azam kenapa?"


"Azam tidak pulang ke kossan semenjak kemarin. Nomernya pun tidak bisa saya hubungi."


"Ke mana dia? apa Azam bersikap aneh sebelumnya? Ohya, teman-teman staf yang lain beberapa kali membicarakan Azam. Saya sempat mendengar kalau Azam mengalami gangguan jiwa. Sering berbicara dan tertawa sendirian. Apa kamu tahu tentang hal itu?"


"Sebenarnya..."


"Jangan takut Bim, ceritakan pelan-pelan!"


Pada akhirnya, Bima menceritakan semuanya kepada pak Anhar. Semua hal tentang Ayu dan Alas Roban hingga sikap Azam yang menjadi aneh belakangan. Pak Anhar mendengarkan sembari sesekali mengerutkan dahi. Beliau menghela napas panjang usai Bima selesai bercerita.


"Celaka ini namanya," ucap pak Anhar kemudian.


"Saya bimbang pak, harus bagaimana."

__ADS_1


"Pertama-tama, kabari keluarga Azam! bagaimana pun, masalah ini telah melebar. Semakin cepat ditemukan, akan semakin baik. Setelah itu, Azam harus segera disembuhkan. Entah dirukyah atau diapakan, pokoknya harus bertindak cepat."


"Iya pak."


"Pulang kerja nanti, kamu ikut saya! saya punya kenalan orang pintar. Siapa tahu bisa melacak keberadaan Azam."


"Iya pak."


"Sekarang, kamu kembali bekerja dan untuk sementara, jangan bercerita apa pun ke teman-teman! menghindari kehebohan yang tidak diperlukan."


"Baik pak."


Pak Anhar mengangguk pelan lalu, Bima pamit kembali ke meja kerjanya. Seperti yang telah pak Anhar perintahkan, Bima tidak membuka cerita yang sebenarnya kepada rekan kerjanya yang lain. Ia berdalih bahwa Azam memang izin untuk mengurus keperluan pribadinya di kampung halaman.


...🍂🍂🍂...


Ketika jam makan siang tiba, tak ada pilihan lagi selain menghubungi orang tua Azam dan mengabarkan perihal hilangnya anak mereka. Hal yang Bima khawatirkan pun terjadi. Ibunya menangis di ujung panggilan sementara ayah Azam mencerca Bima dengan banyak pertanyaan. Setelah perbincangan yang panjang, diputuskan untuk menunggu lagi hingga malam tiba, barulah orang tuanya membuat laporan kehilangan orang di kepolisian.


"Iya pak, begitu saja," jawab Bima sepakat.


"Tolong kabari kami terus ya Bim!"


"Iya pak," jawab Bima.


"Baik pak, assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Bima terduduk lemas di kursinya sembari menatap kosong ke ponsel di tangannya.


...🍂🍂🍂...


"Kamu sudah memberitahu orang tua Azam?" tanya pak Anhar.


"Sudah pak, tadi siang."


"Hemm.. yasudah, kita naik mobil saya saja! nanti, saya antarkan kamu ke sini lagi."


"Baik pak."

__ADS_1


Bima dan pak Anhar pun bergegas berangkat menuju ke rumah orang pintar yang baru Bima ketahui namanya adalah mbah Sunar. Tempat tinggal mbah Sunar lumayan jauh dari kantor mereka. Kurang lebih membutuhkan satu jam perjalanan. Rumahnya terlihat biasa saja. Bahkan, berada dalam sebuah komplek perumahan. Pak Anhar mengucapkan salam, diikuti oleh Bima yang berdiri di sampingnya. Tak lama kemudian, seorang laki-laki usia enam puluh tahunan menjawab salam mereka serta membukakan pintu untuk keduanya.


"Silahkan masuk!" ucapnya sembari membuka pintu rumah lebar-lebar.


Setelah berbasa-basi sesaat, pak Anhar mengutarakan maksud kedatangannya bersama Bima. Mbah Sunar manggut-manggut lalu meminta izin sebentar untuk masuk ke dalam kamar.


"Baik mbah silahkan!" ucap pak Anhar.


"Kita tunggu Bim!" pinta pak Anhar kepada Bima.


"Iya pak."


Sekitar lima belas menit kemudian, mbah Sunar kembali menemui pak Anhar dan Bima. Beliau telah mendapatkan jawaban mengenai keberadaan Azam. Mula-mula, ia mengatakan kalau Bima harusnya sudah bisa menebak perihal keberadaan temannya. Setelah itu, barulah mbah Sunar menjelaskan kalau sekarang, Azam sedang berada di dalam kawasan Alas Roban. Lebih tepatnya, sedang bersama keluarga besar Ayu. Bima membulat tak menyangka jika jin itu akan berbuat sejauh itu.


"Cari saja di sana! ucap mbah Sunar.


"Baik mbah."


Setelah mendapatkan jawaban perihal keberadaan Azam, pak Anhar dan Bima pamit untuk pulang. Di dalam mobil, keduanya berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya. Bima mengatakan bahwa ia akan menceritakan semuanya kepada orang tua Azam lebih dulu dan menyerahkan semua keputusan kepada mereka.


"Begitu juga bagus, semoga saja mereka mempercayai apa yang kamu katakan!"


"Iya pak."


...🍂🍂🍂...


Sesampainya di rumah, Bima lekas menghubungi orang tua Azam untuk menceritakan tentang apa yang mbah Sunar katakan. Orang tua Azam percaya namun, mereka akan tetap melakukan laporan di kepolisian pada keesokan harinya. Segala macam usaha patut untuk dicoba. Demikianlah hasil kesepakatan mereka, Bima menutup sambungan teleponnya lalu meletakkan ponselnya di nakas. Bima menghela napas perlahan seraya memejamkan matanya.


Entah terbawa suasana hati atau bagaimana, malam ini, Bima memimpikan Azam. Ia melihat Azam tengah berdiri seorang diri di tengah hutan nan lebat. Bima menghampirinya seraya mengajaknya pulang bersama. Azam menatap Bima lekat-lekat namun bibirnya tetap bungkam. Tak mau menyerah, Bima terus membujuk Azam agar mau ikut dengannya namun Azam, sama sekali tidak bergerak.


"Kenapa Zam?" tanya Bima pelan.


"To-long!" pinta Azam terbata.


"Ayo! ayo kita pergi sekarang!"


Azam menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba muncul sepasang tangan yang sangat besar, menarik tubuh Azam masuk ke dalam hutan nan gelap. Bima berteriak seraya mengejar Azam namun tetap saja tertinggal.


"Zam! Azam! Azam!"

__ADS_1


Bima terjingkat, terbangun dari mimpi buruknya.


...🍂 Bersambung... 🍂...


__ADS_2