![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Setelah memastikan keadaan Azam membaik, Bima kembali ke Jakarta pada keesokan harinya. Ia menceritakan detail kejadian selama proses pencarian Azam kepada pak Anhar. Pak Anhar turut lega dan bersyukur sebab Azam berhasil ditemukan.
"Tapi pak.." sela Bima.
"Tapi kenapa?"
"Saya mendengar bisikan kalau Ayu tidak akan membiarkan Azam, hidup dengan tenang."
"Kayu yakin dengar kata-kata itu?"
"Yakin pak. Meski pun tidak melihat wujudnya tapi suaranya itu, terdengar jelas sekali di telinga saya. Seperti sedang ada di samping saya tepat."
"Hemm... ini.. kita lihat dulu saja apa yang akan terjadi!"
"Saya mengkhawatirkan hal ini pak."
"Pasti khawatir, jika benar maka.. hemm.. sudahlah, jangan menduga-duga dulu!"
"Iya," jawab Bima seraya menganggukkan kepala.
...🍂🍂🍂...
Saat jam istirahat, Tantri menghubungi Bima untuk menanyakan perihal kabar Azam.
"Alhamdulillah, sejak awal, aku sudah yakin kalau sikap dingin dan tega Azam padaku tidaklah murni dari hatinya," jawab Tantri di ujung panggilan.
"Apa kamu berencana untuk menghubungi Azam lagi?"
"Sepertinya iya, aku masih sayang banget sama dia."
"Bagaimana dengan orang tuamu? apa mereka setuju? bukankah mereka sudah memintamu untuk menjauhi Azam?"
"Itu dulu saat Azam masih berada dalam pengaruh jin itu. Saat ini pasti lain, aku akan menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuaku."
"Baiklah, semoga semuanya berakhir baik termasuk juga hubunganmu!"
"Iya Bim aamiin, terima kasih banyak ya!"
"Tidak perlu sungkan, Azam sahabatku, sudah seperti saudara bagiku."
"Iya."
...🍂🍂🍂...
Seperti yang telah Tantri katakan, Tantri benar-benar menghubungi Azam. Kata-kata pertama yang Azam katakan adalah permintaan maaf. Tantri menitikan air mata tanpa bisa ditahan.
__ADS_1
"Sudah, semua sudah berlalu. Kita bisa melanjutkan hubungan kita yang sebelumnya tertunda," ucap Tantri.
"Apa kamu masih mau menerimaku setelah kusakiti sedemikian dalam?"
"Tentu saja mau, aku tahu kalau apa yang kamu lakukan sebelumnya, tidak murni dari hatimu."
"Tapi orang tuamu?"
"Kita yakinkan mereka pelan-pelan!"
"Terima kasih sayang!" ucap Azam senang.
Suasana haru pun tercipta. Tantri dan Azam kembali bersama.
...🍂🍂🍂...
Beberapa hari kemudian, Bima mendapatkan kabar kalau Azam masih sakit. Kondisi tubuh yang seharusnya kian membaik malah kian memburuk. Azam merasa bahwa tubuhnya begitu lemas dan sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Bahkan, hanya dalam hitungan hari, bobot tubuhnya menyusut dengan cepat. Kabar terbaru yang Bima terima adalah, Azam tak lagi bisa bangun dari ranjang. Semua aktivitasnya membutuhkan bantuan. Makan, minum hingga membersihkan diri pun sama. Mendengar hal ini, membuat Bima kembali teringat pada ancaman Ayu sebelumnya. Alhasil, Bima memutuskan untuk pergi menjenguk Azam seusai gajian.
"Azam belum sembuh Bim?" tanya pak Anhar saat menghampiri Bima yang tengah merokok di bawah pohon mangga.
"Belum pak, kabarnya kian parah."
"Bawa ke rumah sakit saja!"
"Iya, nanti akan saya sampaikan ke orang tuanya tapi, saya khawatir kalau sakitnya Azam, ada hubungannya dengan bisikan yang saya dengar di Alas Roban."
"Iya pak."
...🍂🍂🍂...
Suatu pagi, Bima yang tengah sarapan membaca sebuah pesan masuk di ponselnya yang lekas memunculkan raut sedih di wajahnya.
[ Mas Azam mulai linglung. ]
Demikianlah pesan singkat yang ia terima dari adiknya, Laras. Berita perihal sakitnya Azam pun telah tersebar ke seluruh penjuru desa. Semua warga telah mengetahuinya. Wajar jika sekarang, Azam menjadi sorotan. Bima hanya bisa menghela napas panjang sembari berdoa agar Azam mendapatkan keajaiban.
...🍂🍂🍂...
Usai mendapat gaji, Bima bergegas kembali. Sengaja ia mengambil cuti agar lebih lama menemani Azam. Sepanjang perjalanan, segala macam pikiran buruk memenuhi otaknya. Bima tidak bisa menghalau kekhawatiran di hatinya. Meski dia berharap, Azam tidak seburuk yang adiknya katakan namun fakta membenarkannya. Tubuh Azam kurus kering, tulang pipi dan rahang menonjol dengan jelas. Tubuhnya terlihat sangat lemah begitu pun dengan suaranya yang pelan.
"Kok kamu cuti lagi Bim?" tanya Azam.
"Kangen sama kamu," jawab Bima mencandai Azam yang berhasil memunculkan simpul senyum di bibirnya.
"Aku temani ke rumah sakit ya!"
__ADS_1
"Iya."
Bima mengangguk ke arah kedua orang tua Azam, isyarat meminta agar mereka menyiapkan seluruh keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit nanti.
...🍂🍂🍂...
Sesampainya di rumah sakit, Azam lekas diminta untuk melakukan rawat inap sembari dilakukan pemeriksaan yang lengkap.
"Percuma Bim."
"Apa yang percuma?"
"Ini.. semua pemeriksaan ini tidak ada gunanya."
"Jangan pesimis! dokter tahu apa yang harus dilakukan. Ingat ayah dan ibumu, ingat aku juga dan.. Tantri.."
"Oh iya, tentang Tantri, tolong kamu bilang padanya untuk mencari laki-laki lain saja! aku sakit dan mungkin waktuku..."
"Huussstt! istirahat saja ya! kuta tunggu hasil lab keluar!"
"Boleh sebat gak sih?"
"Gila! gak boleh."
Bima dan Azam pun tertawa.
...🍂🍂🍂...
Hasil lab menunjukkan bahwa kondisi Azam baik-baik saja. Alhasil, dokter meminta Azam untuk tetap tinggal dalam beberapa hari ke depan untuk diobservasi lebih dalam sebelum nantinya akan diperbolehkan untuk pulang.
"Seharusnya, beberapa hari lagi, Azam akan membaik," ucap dokter sebelum meninggalkan ruangan.
"Sabar Zam! bentar lagi bisa ngopi sama sebat lagi."
Azam tertawa kecil mendengar ucapan Bima.
...🍂🍂🍂...
Ketika Bima tertidur di rumah sakit, ia kembali bermimpi bertemu Ayu. Saat itu, dia hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa. Ayu terlihat duduk di sebuah kursi kayu panjang, berjajar dengan Azam. Azam diam dengan tatapan mata kosongnya. Sementara di ruangan itu, ada banyak sekali orang. Bahkan, ada bunyi gamelan serta beberapa penari cantik yang tengah menggelar pertunjukan. Semua terlihat senang, kecuali Azam. Sesaat kemudian, Bima terbangun dari mimpinya.
"Mimpi buruk apa lagi ini? apa tidak cukup sudah membuat Azam hingga begini?"
Bima lantas bangkit, melihat keadaan temannya lalu beranjak ke musholla untuk solat dan memanjatkan doa. Usai berdoa, Bima seolah melihat sosok Ayu barang sekelebat. Entah keberanian dari mana, Bima malah mengejarnya. Dalam benaknya, Bima hanya ingin meminta agar Ayu melepaskan temannya. Sayangnya, semakin dikejar, semakin cepat sosok itu berjalan. Langkah Bima baru berhenti saat sosok yang ia kejar mengambang lalu melayang jauh dan menghilang di kegelapan.
...Deg.....
__ADS_1
Rasa takut mulai datang seiring tubuh yang gemetar.
...🍂 Bersambung... 🍂...