![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Keesokan paginya, Azam berangkat ke kantor lebih dulu tanpa mengajak Bima. Bima maklum, dia bisa mengerti jika Azam masih marah kepadanya. Sayangnya, sikap Azam kian terasa dingin padanya. Jangankan menyapa, menoleh ke arahnya pun seolah enggan. Tidak hanya itu, Bima juga sempat melihat, betapa acuhnya Azam saat bertemu kekasihnya, Tantri. Saat itu, Tantri mengalah, tak ingin menimbulkan keributan di tempat mereka bekerja. Bima pun memilih diam sembari berpikir, jawaban apa yang sebaiknya ia berikan jikalau Tantri menanyainya nanti. Tentu saja karena Bima dan Azam berteman baik sehingga Bima menjadi sasaran tembak setiap terjadi perubahan sikap pada diri Azam.
Pada hari pertama masuk kerja, perusahaan mereka mengadakan acara Halal Bi Halal. Semua orang terlihat sumringah bahagia. Hanya ada satu orang yang terlihat biasa saja yakni Azam. Tegur sapa dari rekan kerja, hanya dijawab sekedarnya. Entah karena sedang malas atau ada beban pikiran. Bima berusaha mendekat sembari mulai mengajaknya berbincang.
"Zam, sampai jam berapa kemarin? sorry ya! kamu masih marah? gila, aku ngomong gini udah kayak pacarmu saja. Sorry bro!"
Azam menatap Bima lekat-lekat sebelum kemudian menjawab:
"Sedalam apa kamu suka ke Ayu?"
...Deg.....
"Sumpah Zam! aku gak ada perasaan sama Ayu."
"Kamu mempengaruhi orang tuaku?"
"Enggak, kamu salah paham."
"Bim, kita bakalan tetap bisa berteman kalau kamu berhenti ikut campur."
Bima menghela napas.
"Oke, aku gak akan ikut campur."
Azam kembali menatap Bima lalu mengangguk seraya menjabat tangan Bima.
"Aku sudah menganggap kamu seperti saudaraku sendiri Bim. Aku gak pengen, pertemanan kita hancur hanya karena masalah ini."
"Iya aku tahu, aku juga sama."
Bima hanya bisa bergumam di dalam hatinya. Lisannya tak mampu lagi berucap, khawatir jika Azam akan kembali murka.
...🍂🍂🍂...
Pada jam makan siang, Tantri mengajak Azam untuk makan di luar. Bima hanya bisa menatap diam ke arah keduanya. Bagaimana pun, Bima telah dapat menebak, apa yang akan terjadi di sana. Benar saja, ketika mereka kembali ke kantor. Wajah Tantri terlihat sembab sementara Azam, tetap tenang dan terkesan dingin layaknya bongkahan es di samudra atlantik. Tak lama kemudian, Tantri mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Bima.
__ADS_1
[ Azam mutusin aku. ]
Bima memandangi ponselnya cukup lama karena bingung hendak menjawab apa. Akhirnya, ia menepuk pelan pundak Azam seraya bertanya ke padanya.
"Aku harus jawab apa?" tanya Bima sembari menunjukkan pesan singkat yang Tantri kirimkan.
"Terserah kamu," jawab Azam dengan tenangnya.
"Zam, katamu, kamu tidak akan berat sebelah antara Tantri dan Ayu."
"Aku tahu, itu salahku tapi, hatiku sudah mati rasa terhadap Tantri."
"Kalian sudah pacaran lama sekali loh Zam. Jangan mengambil keputusan yang gegabah!"
"Perjalanan jodoh seseorang, siapa yang tahu? anggap saja kalau aku dan Tantri memang tidak ditakdirkan untuk bersama!"
"Lalu, apa kamu cerita juga ke Tantri soal Ayu?"
"Masalah itu, tidaklah penting. Cepat atau lambat, dia pasti akan tahu."
Mendengar jawaban Azam, Bima lantas beringsut mundur, kembali memperbaiki posisi duduknya seperti semula. Rasanya, percuma saja berbicara dengan Azam. Ia telah dibutakan oleh cinta yang mana sialnya, itu Jin, bukan manusia. Bima menggelengkan kepalanya coba menghalau pikiran-pikiran buruk yang muncul tentang hubungan Azam dan Ayu. Hubungan antara manusia dengan Jin. Hubungan yang seharusnya tidak boleh dilakukan.
Tantri kembali mengirimkan pesan singkat kedua kepada Bima.
[ Tan, masalah itu, hanya Azam yang bisa menjawab. Aku orang luar yang tidak pantas untuk ikut campur. Maaf ya Tan! aku gak bisa bantu apa-apa! ]
Dengan berat hati, Bima menjawab demikian.
"Ya Alloh, kasihan sekali si Tantri," gumam Bima di dalam hati.
...🍂🍂🍂...
Hari itu pun berlalu seiring air mata Tantri yang terus berderu. Betapa pun ia coba untuk tegar, kenangan bersama Azam tetap terbayang. Kisah tiga tahun lamanya, tentu masih sangat membekas. Hantaman keras yang ia terima sungguh tidak ia duga. Tentu saja karena selama ini, hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan, mereka telah menyusun rencana untuk menikah. Beberapa kali berdiskusi tentang MUA Pengantin serta dekorasi yang diinginkan tapi kini, semua menghilang. Hanya berpisah beberapa hari saja dapat membuat Azam berpaling pada hati yang lain. Lebih buruk kala Tantri melihat tatapan mata Azam yang tak sedikit pun memancarkan cinta. Seolah Tantri, tidak pernah memiliki tempat di hatinya. Ia terpukul seorang diri di kamar hingga lelah menitikan air mata dan kemudian tidur, memeluk rasa sedihnya.
Dalam tidurnya, seorang gadis cantik mendatanginya. ialah Ayu yang dengan mantap memperkenalkan diri sebagai calon istri Azam. Tantri membulat, ia marah seraya lekas melontarkan beragam makian. Ayu tak membalas, tak bergeming sedikit pun hingga Tantri merasa puas. Barulah kemudian, Tantri mulai bertanya tentang siapa kah gadis di depannya dan sejak kapan, gadis itu menjalin kasih dengan Azam. Ayu tersenyum sebelum mulai memberikan jawaban dan tak dapat Tantri pungkiri, Ayu sungguh terlihat anggun ketika tersenyum.
__ADS_1
"Namaku Ayu, aku dan Azam mulai menjalin hubungan ketika dia pulang ke Jepara dan dalam waktu dekat, kami akan melangsungkan pernikahan. Aku menyukainya dan tidak akan melepaskannya. Sebaiknya, kamu menjauh dan jangan ikut campur lebih jauh!"
"Tidak akan aku biarkan kalian bahagia!"
"Benarkah? apa kamu tidak takut berurusan denganku?"
Belum sempat Tantri menjawab, ia sudah terbangun. Meski itu hanyalah mimpi namun, nyerinya terasa nyata. Sakitnya kehilangan dan mengetahui fakta perselingkuhan pasangan, sungguh menghancurkan hatinya. Entah kenapa, Tantri begitu mempercayai mimpiinya itu dan membulatkan niat untuk mengintrogasi Bima, pada keesokan harinya.
...🍂🍂🍂...
"Aku.."
Bima gelagapan mendapati pertanyaan tepat sasaran yang Tantri ajukan.
"Siapa Ayu? kamu pasti tahu. Azam sungguh menyelingkuhiku?"
"Kamu, dari mana kamu tahu tentang Ayu?"
"Jadi bena, Azam berencana menikahi gadis itu dalam waktu dekat?"
"Menikah? kapan?"
"Jangan bersandiwara lagi Bim! kalian benar-benar telah bersekongkol untuk membohongiku."
"Enggak Tan, enggak."
"Kalau begitu jelaskan! aku mau dengar cerita yang sebenarnya."
Pada akhirnya, Bima tidak bisa lagi menghindar. Dia meminta Tantri untuk mendengarkan ceritanya hingga selesai agar tidak lagi salah padam terhadapnya. Tantri setuju dan Bima pun mulai bercerita. Tantri sungguh tak menyangka bahwa kesalahan Azam di Alas Roban yang menjadi penyebabnya. Terlebih, bunga yang ia petik, sudah tak ada bekasnya. Kini, keduanya bingung harus berbuat apa. Tantri merasa lega sebab, perubahan sikap Azam bukan murni dari dirinya melainkan karena dikendalikan oleh jin yang mengaku bernama Ayu.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bima.
"Sementara ini belum tahu tapi, aku akan berusaha mencari orang pintar untuk menyadarkan Azam."
"Iya, orang tua Azam juga sedang berusaha."
__ADS_1
...🍂 Bersambung... 🍂...
😊 Mohon Bantuan LIKE nya untuk semua BAB di Novel ALAS ROBAN dan PUSKESMAS DI TENGAH HUTAN ya kak.. 😊 Terima Kasih 😘