![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Di saat Azam telah putus asa, sosok Ayu mendatanginya. Ayu menenangkan Azam yang masih menangis terisak. Azam mementahkan semua ucapan Ayu. Meski begitu, Ayu tidak marah, malah mengulas senyum di bibirnya.
"Seperti yang telah kukatakan, hanya ada hukuman yang menantimu," ucap Ayu dengan lembut.
"Pergilah!" bentak Azam.
"Ikut denganku, aku janji akan membahagiakanmu!"
"Tidak!"
"Baiklah, kuberi kamu waktu tapi satu yang perlu kamu ingat, apa pun pilihanmu, semua telah berada dalam genggamanku," ucap Ayu sebelum kemudian, menghilang.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Sepanjang hari, Azam hanya berdiam di kamarnya. Mengamati setiap orang yang datang menjenguknya hingga saat Bima muncul. Azam tak lagi bisa menahan tangis seraya berlari menghambur ke sahabatnya. Sayangnya, tubuhnya menembus begitu saja. Sekali lagi ia menyadari bahwa semua bukanlah mimpi. Azam terpuruk hingga ke titik terendah. Terjatuh tanpa bisa menemukan pijakan untuk naik ke permukaan. Tangisnya tak terdengar, wujudnya tak terlihat.
Sementara Bima, memilih keluar ruangan, mencari sudut lorong yang sepi untuk meluapkan segala emosi. Bima menangis, ia sedih sekaligus juga marah. Batinnya belum bisa menerima kenyataan bahwa sahabatnya sungguh tengah terbaring tak sadarkan diri. Bima mengumpat berulang kali hingga puas. Meski ia tahu, hal itu tidaklah berarti. Azam akan tetap terbaring dan mungkin, hanya tinggal menunggu hari.
"Bim.."
"Maaf Bim! maaf karena kebodohanku membuatmu jadi sesedih ini. Kamu sedih, orang tuaku sedih, Tantri pun sedih. Aku juga melukai Tantri, membuat mentalnya sempat terganggu karena dia berusaha bertahan denganku. Aku sangat membenci Ayu tapi tidak bisa berbuat apa pun. Sejujurnya, aku sangat ingin kembali tapi entah kenapa, raga dan sukmaku saling menolak. Tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata betapa takutnya aku. Biasanya, kamu akan menenangkanku tapi sekarang, berbicara denganmu saja, aku tidak bisa. Beberapa detik yang lalu, aku bahkan percaya bahwa ini adalah akhir dari hidupku namun satu detik kemudian, batinku meronta, aku ingin hidup. Ingin kuperbaiki semua kesalahanku dan bertindak lebih hati-hati. Apakah itu masih mungkin? benarkah tidak ada kata terlambat? tapi jika melihat keadaanku saat ini, aku tidak yakin akan bisa kembali. Bima.. maafkan sahabatmu ini! kalau bisa, sampaikan maafku juga kepada kedua orang tuaku dan juga Tantri! aku benar-benar tidak tahu, harus berbuat apa."
Sesaat setelahnya, raga Azam bergetar hebat. Tubuhnya kejang tanpa sebab. Orang tuanya panik seraya lekas memanggil perawat serta dokter untuk memeriksa. Melihat keributan itu, Bima bergegas masuk ke dalam ruangan. Setelah beberapa menit dilakukan tindakan, tubuh Azam kembali tenang. Sayangnya, tubuhnya berhenti kejang sekaligus dengan berhenti bernapas. Tangis pun pecah, ibu azam menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya, ia pingsan.
__ADS_1
"Kami turut berduka cita ya pak! semua prosedur telah kami lakukan, bapak dan ibu yang sabar!" ucap dokter sebelum kemudian meminta perawat untuk menutup tubuh Azam menggunakan selimut.
Ucapan ini sekaligus menegaskan bahwa Azam benar-benar telah meninggal.
"Bawa ke kamar jenazah ya!"
"Iya dok," jawab salah seorang perawat.
Bima terduduk lemas di lantai. Tubuhnya seakan kehilangan tenaga. Untuk sekedar berdiri saja, ia tidak bisa. Bima menangis sesenggukan, tak menyangka bahwa temannya sedari kecil, kini telah tiada. Meninggalkannya seorang diri dengan jutaan kenangan yang terus membayang.
...🍂 Bersambung.. 🍂...
__ADS_1