![ALAS ROBAN [ END ]](https://asset.asean.biz.id/alas-roban---end--.webp)
Sementara Bima mengkhawatirkan temannya, Azam malah mengajak Ayu ke rumah untuk memperkenalkannya kepada seluruh anggota keluarganya. Ayu datang dengan wujud manusia yang cantik tapi tetap saja, hanya Azam seorang yang dapat melihatnya, membuat semuanya bingung keheranan.
"Apa maksud kamu nak?" tanya ibunya.
"Maksud Azam? Azam sedang memperkenalkan pacar Azam pada bapak dan ibuk. Kenapa bingung begitu sih?"
"Nak, kamu baik-baik saja kan? kamu sakit?" tanya ibunya.
"Azam sehat buk, aneh sekali sikap ibuk."
"Nak.."
"Ayu, duduk dulu! maaf ya! ini baru pertama kali aku bawa cewek ke rumah, orang tuaku masih bingung."
"Jangan bercanda kamu Zam!" ucap bapaknya dengan nada yang sedikit meninggi.
Azam terdiam seketika.
"Jangan keterlaluan kalau bercanda! pacar kamu mana? kamu itu cuma sendirian."
...Deg......
"Loh.."
"Jangan ngelantur kamu! setahu bapak, pacarmu itu namanya Tantri, bukan Ayu."
"Pak.."
Azam panik sembari menatap ke arah Ayu. Khawatir kalau gadis itu akan marah padanya namun ternyata, Ayu tersenyum manis ke arah Azam.
"Soal Tantri sudah selesai, Azam pasti akan menjelaskan tapi sekarang, Azam serius bersama dengan Ayu."
"Sebenarnya kamu ini bicara apa? Ayu siapa? gila kamu ya?" tanya bapaknya.
Azam terdiam, batinnya mulai merasa heran. Sejenak, ia kembali teringat perihal ucapan Bima kepadanya. Segala macam peringatan yang telah Bima lontarkan padanya.
"Sudah-sudah, tidur sana!" pinta bapaknya seraya melenggang masuk ke kamar.
"Nak, kamu kenapa sih? kamu sengaja bercanda kan? jangan membuat ibuk khawatir!"
Azam tergagap sembari menganggukkan kepala.
"Yasudah, jangan diulangi! bercanda juga ada batasnya. Untuk sesaat, ibuk hampir percaya loh kalau kamu membawa gadis yang tidak terlihat ke rumah. Ekspresimu benar-benar meyakinkan dan terus terang saja, ibuk takut.
"Maaf buk!"
__ADS_1
Ibunya mengangguk lalu melangkah ke dapur. Sedangkan Azam, kembali menatap pujaan hatinya yang masih duduk manis di sofa panjang ruang tamu. Azam memperhatikan gadis itu dengan seksama seiring bermunculannya banyak pertanyaan dalam otaknya. Sempat muncul rasa ragu namun, Ayu kembali bisa menguasai Azam. Dia berujar bahwa orang tua Azam sengaja bersikap demikian sebab terpengaruh oleh ucapan Bima. Celakanya, Azam percaya. Bima memang telah begitu keras berusaha untuk memisahkan dirinya dengan Ayu.
"Kita jalani saja pelan-pelan!" pinta Ayu.
Sekali lagi, Azam terbuai dan semakin terikat dalam jeratan Ayu.
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya, Azam berpamitan untuk kembali bekerja ke Jakarta. Tanpa memberi kabar kepada Bima yang akhirnya membuat Bima kelimpungan ketika ditanyai oleh orang tua Azam. Sebenarnya, ia tak ingin perseteruan mereka diketahui siapa pun tapi karena sikap Azam yang membuat semuanya terbongkar.
"Bim, kok kamu belum berangkat? apa gak bareng sama Azam?" tanya ibu Azam yang lewat di depan rumah Bima.
...Deg.....
"Azam sudah berangkat ya?"
"Loh, kok kamu tidak tahu? ada apa dengan kalian? kalian bertengkar?"
"Duh si Azam keterlaluan! aku harus jawab apa?" benak Bima.
"Oh enggak kok, ini Bima saja yang telat baca Whatsappnya."
"Bima ada apa? jangan bohong ya! kemarin, Azam juga bersikap aneh. Terus terang saja, apa kamu mengenal Ayu?"
...Deg.....
"Astaghfirulloh jadi benar, Ayu itu siapa Bim? semalam, Azam membawa Ayu ke rumah tapi gak ada yang bisa melihat wujudnya."
"Ya Alloh gimana ini?" gumam Bima.
"Tante, saya.."
"Jujur saja Bima!" desak ibu Azam.
"Begini saja, Bima ke rumah tante ya! supaya bisa menjelaskan langsung kepada om juga."
"Iya boleh."
Bima menghela napas panjang.
...🍂🍂🍂...
Di rumah Azam, Bima menjelaskan seluruh runtut masalah yang terjadi. Serta dugaan Rayyan tentang sosok Ayu yang ternyata adalah Jin dari Alas Roban. Kedua orang tua Azam seraya memasang raut khawatir. Mereka mempercayai Bima sebab telah melihat dengan mata kepala sendiri perihal keanehan sikap Azam.
"Kenapa kamu tidak cerita sejak awal Bima?"
__ADS_1
"Maaf tante! Bima serba salah. Bima takut kalau cerita sejak awal malah di anggap fitnah. Selama ini, Bima terus berusaha menyadarkan Azam tapi Azam terus menolah hingga inilah akibatnya, Bima dan Azam berseteru. Azam mengira kalau Bima ingin merebut Ayu."
"Om paham dengan yang kamu risaukan. Begini juga belum terlambat, masih bisa mencari jalan keluar untuk menyadarkan Azam," timpal ayah Azam.
"Bima akan kembali ke Jakarta hari ini juga. Nanti, Bima kabari, apakah Azam sudah sampai di kossan atau belum!"
"Iya Bim, tolong ya!"
"Iya tante."
...🍂🍂🍂...
Bima lekas bergegas dan kemudian berangkat ke jakarta juga. Ibunya berpesan agar Bima berhati-hati sebab, masalah Azam sudah kian runyam. Azam telah terjerat semakin dalam. Ibunya khawatir jika Bima turut diincar juga. Berulang kali ibunya meminta agar Bima berhenti memberikan bantuan sekali pun hanya mengajak Azam berbincang. Hal yang sangat wajar dilakukan seorang ibu tapi Bima tak bisa melepaskan Azam begitu saja. Pertemanan yang sedemikian lamanya, membuat hatinya tak mampu mengabaikan.
Begitu sampai di kossan, Bima mengetuk pintu kamar Azam yang masih terkunci rapat. Sayangnya, masih belum ada jawaban dari dalam. Alhasil, Bima mengirimkan beberapa pesan singkat hingga menghubunginya. Entah enggan merespon atau ada alasan lain, panggilan dan pesan singkat yang Bima kirimkan belum mendapat balasan.
"Kamu di mana sih Zam?"
Karena tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya, Bima memutuskan untuk meletakkan barang-barangnya dulu di kamar lalu beranjak untuk mandi sebelum kemudian, kembali mencoba menghubungi Azam lagi.
"Apa yang harus aku katakan ke orang tuamu kalau kamu gak ada kabar?"
Hingga malam menjelang, belum terlihat tanda-tanda kedatangan Azam sementara orang tua Azam, telah tiga kali menghubungi Bima. Karena bingung, Bima memilih untuk tidak menjawab panggilan itu. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Bima yang mana ternyata, itu adalah pesan dari Azam yang berisikan emoticon tidur. Bima senang karena Azam mau membalas namun hatinya masih gusar.
[ Keluar dulu lah, ayo makan! ]
Pesan singkat Bima kali ini, kembali tidak mendapat jawaban.
"Azam benar-benar marah besar," gumam Bima.
[ Kamu sampai Jakarta jam berapa? ]
Bima membuang napas kasar sembari beranjak dari kamar untuk mengintip Azam di kamarnya. Ternyata, Azam benar-benar ada di dalam. Dia terlihat sedang tidur di ranjang. Melihat hal tersebut, barulah Bima merasa tenang. Setelah itu, ia hubungi orang tua Azam guna mengabarkan bahwa ia telah sampai di kossan, begitu pun dengan putra mereka. Bima berujar bahwa Azam kelelahan sehingga memilih untuk langsung beristirahat. Bima juga meminta agar orang tua Azam tidak perlu khawatir. Di sini, Bima akan terus memberi mereka kabar sembari orang tuanya mencari jalan untuk menyadarkan Azam.
"Terima kasih ya Bim!"
"Iya tante sama-sama."
"Tante tutup dulu teleponnya, assalamualaikum."
"Wassalamualaikum."
...🍂 Bersambung... 🍂...
🍂 Tolong Bantu Like di Semua BAB ya.. Dari Awal sampai Akhir (ALAS ROBAN ini dan PUSKESMAS DI TENGAH HUTAN) , Sedang ikut Lomba - Terima Kasih 🍂
__ADS_1