Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia

Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia
Side Story : Maid 2


__ADS_3

Aki’s POV


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku segera keluar menuju gerbang, tempat dimana Karin menunggu. Sebagai teman masa kecil, sudah seperti kewajiban bagi kita untuk berangkat dan pulang bersama. Apalagi karena rumah kita cukup dekat, jadi sudah wajar jika arah tujuan kita sama.


Untungnya kami berdua sama-sama tidak mengikuti kegiatan apa pun di sekolah. Baik OSIS maupun aktivitas klub. Jadi kami hanya langsung pulang sekolah setelah bel berbunyi.


Bukannya tidak mau, ini hanya karena kami tidak punya banyak waktu setelah pulang sekolah. Kami punya dunia kami masing-masing yang harus diurus. Karin harus menjaga rumah dan adik-adiknya ketika kedua orang tuanya sedang pergi bekerja. Sementara aku, setelah pulang sekolah juga harus mengurus rumah. Bersih-bersih, belanja, dan membuat makan malam. Ditambah mulai saat ini aku juga punya pekerjaan paruh waktu setiap pulang sekolah. Jadi sangat sibuk. Untung saja aktivitas klub tidak diwajibkan disini.


Aku tidak punya saudara, jadi semua harus aku urus sendirian. Tapi tak masalah, jika ayah saja bisa bekerja keras dari matahari terbit hingga terbenam, aku pun seharusnya bisa juga.


“Karin-chan, maaf menunggu.”


“Kalau begitu, ayo pulang.”


“Un..”


Setelah bertemu Karin di gerbang, kami melangkah pulang berdampingan sambil mengobrol banyak hal.


Disela-sela obrolan itu, saat sudah mendekati rumah kami. Aku membuat pernyataan.


“Oh, ya, Karin-chan. Aku sudah mendapat pekerjaan mulai hari ini.”


“Eh....?” Karin membuat wajah yang bingung dan bertanya-tanya.


“Yah, banyak hal yang terjadi sih. Aku bingung mau mulai dari mana. Singkatnya..........”


Aku mulai menjelaskan mengenai diriku yang akhirnya mendapat pekerjaan, dimulai dari pertemuanku dengan Alicia-san yang berakhir aku ditawari kerja untuknya. Tapi aku belum memberitahu lokasinya. Aku hanya merasa keanehan jika memberitahunya.


“Jadi begitukah? Rasanya seperti takdir memberi anda kebetulan, bukan?”


“Yah, aku juga tak menyangka ada kebetulan seperti ini. Apalagi ini menimpa diriku. Aku sangat bersyukur.”


“Yah, aku juga senang untukmu. Jadi bagaimana, apakah kau akan langsung pergi setelah pulang sekolah? Aku jadi merasa sedih, kalau kita tak bisa pulang bersama-sama seperti biasa.”


“Ah, tidak. Karena arah jalannya sama dengan jalan kita pulang. Kita selalu bisa pulang bersama seperti ini kok.”


“Benarkah? Lega mendengarnya.”


“Kalau begitu, aku mau langsung pergi ke tempat kerja. Dah, Karin-chan.”


Di persimpangan antara rumah kami, tempat biasanya kami berpisah. Aku berjalan lurus, sementara Karin berbelok menuju rumahnya. Setelah mengucapkan salam perpisahan, tanpa masuk ke rumahku, aku langsung pergi menuju tempat yang menakuti diriku sejak kecil.


Benar, rumah Alicia, majikanku yang baru. Mulai saat ini, setelah pulang sekolah, aku akan bekerja di sana sebagai pelayan. Aku belum tahu detail kerjanya. Hanya katanya asal aku bisa memasak aku jadi disuruh bekerja untuknya. Jadi kemungkinan besar, bidang kerjaku adalah memasak.


Sebelumnya, aku juga sudah mendiskusikan pekerjaanku, baik dengan Alicia maupun ayah. Dengan Alicia, kami membuat kontrak kerjaku menyesuaikan jam sekolah. Jadi ketika hari-hari sekolah, aku hanya akan bekerja mulai dari pulang sekolah sampai matahari tenggelam. Sedangkan di hari libur, aku hanya bekerja dari pagi sampai siang saja sehingga waktu sore bebas.


Dan ayah juga sudah menyetujuinya ketika aku berhasil menjelaskan dan meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Dia sangat khawatir ketika aku menjelaskan akan bekerja di rumah hantu itu. Tempat yang sangat aku takuti sejak kecil. Tapi itu dulu, lagi pula sekarang ada orang yang meninggalinya. Dia baik dan cantik. Jadi setelah aku menjelaskan dengan benar dan meyakinkan, ayah dengan pasrah menyetujuinya.


Dan sepertinya jam pulang kerjaku dengan ayah akan disamakan, jadi ayah bisa lega karena kita bisa pulang bersama. Lagipula rumah Alicia dan sawah tempat kerja ayah sejalan dengan jalan menuju rumah.


“Permisi.”


Aku mengucapkan salam ketika aku sudah sampai di depan pintu rumahnya.


“Masuk”

__ADS_1


Pintu rumah terbuka dan apa yang menunggu di dalamnya adalah apa yang benar-benar membuatku terkejut. Sekali lagi aku mendapat kesan betapa misteriusnya rumah ini dan penghuninya.


Aku tidak menyangka, rumah yang sebelumnya berantakan dan terkesan horor, menjadi begitu rapi dan bersih. Saat memikirkannya kembali, aku juga heran bagaimana Alicia bisa menghilangkan ular besar sebelumnya begitu cepat. Sungguh, banyak hal yang masih tidak kuketahui tentangnya.


“Ada apa. Jangan hanya berdiri saja di pintu. Ayo, masuklah.”


“Ah. Ya.”


Setidaknya satu hal yang pasti, dia orang yang baik. Mungkin.


“Aku baru saja mulai menata rumah kemarin sore. Jadi masih banyak yang belum terisi.”


“Kemarin? Bukankah terlalu cepat.”


Aneh jika dilihat, rentang perubahan rumah ini terlalu jauh untuk seorang gadis yang mungkin seumurannya. Yang tadinya sangat berantakan, banyak sarang laba-laba, dan rapuh menjadi seperti baru direnovasi. Aku saja untuk bersih-bersih rumah yang hanya menyapu, mengepel, memasak, dan lain-lain saja butuh 4 jam setidaknya. Dia yang memiliki pekerjaan jauh lebih banyak ditangannya bisa diselesaikan dalam semalam. Seperti membersihkan perabotan kasar, yang beberapa memiliki berat yang tidak mungkin bisa diangkat dengan tubuh kecilnya. Selain itu, jika berhasil dipindah, kemana dia memindahkannya. Bahkan di luar tidak ada.


Dan lebih penting, darimana dia mendapat semua perabotan ini. Di sekitar sini tidak ada yang menjual hal seperti itu. Hanya ada di kota dan untuk mencapainya perlu menumpang kereta. Jadi tidak mungkin membawa barang-barang besar hanya dengan kereta. Akan wajar jika itu pesan antar, masalahnya untuk menuju rumah ini juga sulit. Di dalam hutan dan jalan yang tak terawat. Sangat sulit untuk memasukinya.


Apakah dia bekerja semalaman?


Mungkin juga dia punya pekerja pribadi.


Ah, percuma saja memikirkannya. Mari kembali ke bisnis saja kalau begitu.


“Jadi, Alicia-san, pekerjaan apa saja yang harus kulakukan saat ini, apakah langsung memasak saja untuk makan malam.”


“Hmm, aku memang ingin makan sih. Tapi lebih baik menyusun rumah ini agar lebih nyaman dihuni olehku dan kamu yang akan bekerja disini.”


Jika dilihat lagi memang benar, ruangan ini masih kurang terisi. Karena rumah ini cukup besar dan memiliki dua lantai, seharusnya memakan waktu cukup lama hanya untuk membersihkan.


“Tapi, bukankah ini sudah cukup bagus.”


“Tidak, bukan ruang depan ini. Tapi rencanaku adalah menyusun dapur yang nantinya akan menjadi tempat pekerjaanmu. Bukankah lebih baik menyesuaikannya dengan preferensimu.”


“Memang benar sih. Tapi tidak perlu repot-repot juga tak apa-apa.”


Tapi itu segera diabaikan.


Oleh karena itu, kami pergi ke tempat yang nantinya akan menjadi dapur dan ruang makan.


Meski sudah dibersihkan, masih belum ada peralatan dapur atau peralatan masak. Hanya meja dan kursi kayu.


“Ayo, kita susun sesuai gaya dapur Aki.”


“Susun?”


Aku bertanya-tanya, dimana kita akan mendapatkan semua peralatan itu.


Saat aku memikirkannya, Alicia melangkah menuju suatu ruang dan membukanya.


“Ini semua aku beli kemarin, tapi aku masih tak tahu fung- Maksudku, aku bingung bagaimana peletakannya yang cocok.”


Ruangan tadi sepertinya gudang dia menyimpan banyak barang. Terutama berbagai peralatan memasak ada disana. Dan semuanya adalah barang mahal. Beberapa ada yang belum pernah aku gunakan. Tapi untungnya dia membeli berbagai jenis alat sehingga ada juga yang bisa aku mengerti.


Hanya saja aku bingung, apakah dia terlalu kaya, hingga mau mengoleksi kompor-kompor ini.

__ADS_1


“Maaf, Alicia-san. Beberapa ada yang belum pernah aku gunakan alatnya. Jadi aku hanya akan menggunakan alat yang aku tahu saja. Apakah tidak apa-apa.”


“Tidak apa-apa. Lagi pula aku membeli banyak jenis alat-alat masak.”


“Apakah itu tidak boros uang?”


“Tidak apa-apa. Aku masih punya banyak uang.”


Aku bertanya-tanya, dari keluarga kaya mana dia berasal. Dan lagi apakah dia hanya sendirian disini.


“Alicia-san, boleh aku bertanya padamu?”


“Hm?”


“Apakah Alicia-san tinggal sendirian? Bagaimana dengan keluarga Alicia-san? Mungkinkah Alicia-san sedang merantau?”


“I-itu...”


Dia menjadi terlihat kebingungan untuk menjawab.


Apakah aku menyentuh topik sensitif? Mungkin, itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diberitahu ke orang lain. Aku jadi merasa bersalah.


“Ah, tidak. Tidak apa-apa jika tidak mau menjawab. Maaf.”


“O-oke.”


“Ah, lebih baik ayo segera lakukan penempatan pada alat-alat masak ini. Dan segera buat makan malam.”


Dengan begitu, kami akhirnya mengubah dapur kosong menjadi dapur kelas atas. Setidaknya.


“Alicia-san, apakah tidak ada sayuran?”


“Aku hanya suka daging.”


Ketika aku membuka kulkasnya hanya ada bahan-bahan daging disini. Mungkinkah dia benci sayuran?


Mungkin itu sebabnya pula tubuhnya lebih kecil dariku.


“Alicia-san lebih baik besok-besok beli sayuran juga. Tidak baik untuk kesehatan tahu.”


“Tidak apa-apa aku baik-baik saja meski hanya makan daging.”


“Apanya yang baik-baik saja. Lihat! Tubuh anda bahkan lebih pendek dari tubuhku.”


“Ap-pa....”


Sepertinya dia terguncang setelah aku sindir bahwa dia punya tubuh pendek. Yah, meski itulah yang membuat Alicia imut.


Tapi tetap saja, tak makan sayur sama saja mengkhianati tubuhnya sendiri. Seperti membiarkan tubuhnya dirusak.


“Ja-jangan pikirkan diriku! Aku selalu baik-baik saja, meski pendek sekalipun! Pikirkan saja tentang dirimu sendiri. Jika kau mau dagingnya, tinggal bawa pulang saja nanti. Ayo, sekarang buat makan malam untukku. Menu daging.. Humph.”


Dengan marah dia naik ke lantai dua ke kamarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2