
POV ???
“Heeee, begitu yaa. Jadi monster itu ditemukan sudah dalam kondisi mati ketika dunia cermin berhasil terbuka? Dan kalian berasumsi bahwa si gadis penyihir itulah yang mengalahkannya?”
“Begitulah menurut laporannya.”
Dalam suatu ruangan gelap, duduk dengan santai seorang wanita akhir 20-an dengan segelas wine di tangan kanannya.
Berdiri dan sedikit menunduk, adalah seorang wanita pelayan yang sopan, datang memberi laporan keadaan.
Di belakang, dalam balik bayangan, dengan mata terpejam, sembari mendengarkan dengan tenang, berdiri diam seorang perempuan awal 20-an.
Tepat setelah pertarungan gadis penyihir Karin dengan monster laba-laba. Seorang pelayan datang mengunjungi ruangan gelap nan senyap ini.
Membungkuk dengan sopan, dia memberikan laporan.
“Itu saja?”
“Untuk saat ini, itu saja laporannya.”
“Begitukah.... Oke, kau boleh kembali sekarang.”
“Terima kasih, Tuan.”
Hening beberapa detik, pelayan itu keluar dan menutup pintu, meninggalkan sisa dua orang di dalam ruangan.
“Kau dengar itu, Asprinda?”
“Tentu saja, Master. Tidak mungkin bagi seorang penyihir pemula bisa mengalahkan monster tingkat tinggi. Lagipula saat itu dunia cermin masih mengisolasi mereka, jika ada yang bisa masuk dengan paksa dan mengalahkan monster laba-laba itu sendiri. Tak salah lagi itu pasti dia.”
“Hahaha. Kau memberikan kesimpulan yang tepat. Bagaimana? Apakah kau ingin menemuinya sekarang? Mulai saat ini aku bisa saja membebastugaskanmu, lho.”
“Terima kasih Master, atas perhatiannya. Saya akan pergi menemuinya.”
“Silakan. Terserah kau saja.”
***
POV Alicia
Setelah melihat pertarungan antara Karin dan Monster laba-laba ini.
Kesanku, yah, bisa dibilang sedikit mengecewakan.
Mau bagaimana lagi, dari awal banyak kesalahan yang diperbuat Karin. Mungkin karena kurangnya pengetahuan atau memang hanya itu yang dia bisa.
Apa yang salah adalah karena Karin selalu menggunakan sihir gelap kepada monster itu.
Aku hanya menduga karena Karin masih pemula seperti kelihatannya, dia mungkin memang baru saja atau sekarang hanya bisa menggunakan sihir gelap, karena yang paling mudah bagi ras gelap dulunya. Tak heran, karena gadis penyihir adalah ras campuran maka kemampuan juga mengikuti bakat ras.
Tapi itu sebabnya, hal ini malah menyebabkan kesalahan fatal ketika melawan monster. Terutama monster tipe perasuk.
Jika menggunakan sihir gelap, bukannya menyakiti, malahan kemungkinan besar itu menguntungkan monsternya.
Unsur-unsur gelap yang dikeluarkan dari sihir gelap itu hanya akan menjadi makanan monster dan menjadi energi tambahan untuknya. Akibatnya kekuatannya meningkat dan jika sudah mencapai titik maksimum dari perkembangan tubuh inangnya. Tubuh tersebut akan beradaptasi dan mengambil menjadi bentuk baru yang sesuai dengan kekuatannya sehingga dia akan berada di tingkatan baru.
Sederhananya adalah evolusi.
Sudah wajar bagi monster untuk berevolusi ketika energi gelap dan sihir mereka mencapai batas maksimum.
Sehingga ketika Karin menembakkan sihir gelap, yang pastinya mengandung unsur kegelapan. Semua itu pada akhirnya akan diserap dan dikonversi menjadi sumber energi gelap yang baru.
Jika saja, Karin menggunakan sihir cahaya, sudah pasti itu akan melemahkan monster laba-laba itu. Sehingga pasti Karin akan menang. Dan hal buruk seperti ini takkan terjadi.
Pada awalnya kedua kekuatan ini setara, jadi jika menggunakan karakteristik laba-laba yang lemah terhadap cahaya, sudah pasti akan menguntungkan pihak Karin.
Tapi itu mungkin karena Karin belum mempelajarinya, dan sebagai gantinya Karin melancarkan banyak serangan kegelapan yang malah menyebabkan monster kekenyangan.
Akibatnya seperti yang dilihat dia berevolusi menjadi monster jenis baru, Arachne.
Monster laba-laba tingkat tinggi yang memiliki setengah wujud manusia dan sisanya adalah tubuh laba-laba yang besar.
__ADS_1
Monster ini terkenal dengan tingkat ancamannya yang sangat membahayakan bagi manusia, terutama bisa menghancurkan suatu kerajaan seorang diri. Sehingga bisa dibilang level ancamannya berada di tingkat S. Tapi dia ini baru saja mengalami evolusi, jadi mungkin jika dibandingkan dengan penyihir rata-rata, tingkatannya saat ini masih di level A.
Meski masih lemah, tapi itu sudah terlalu kuat bagi Karin.
Akibatnya Karin yang kemungkinan sudah sangat kelelahan, bahkan akan mati jika terkena sedikit serangannya saja.
Mau bagaimana lagi, aku harus turun tangan kali ini.
Tapi tetap saja, aku tidak akan menampakkan diri. Dengan kata lain, serangan jarak jauh.
Karena yang menjadi kelemahannya adalah cahaya, aku akan menggunakan sihir atribut cahaya saja agar lebih efisien.
Lebih tepatnya menggunakan pemurnian dari jarak jauh.
Oleh sebab itu aku menggunakan sihir yang kemungkinan belum ada di wilayah manusia saat itu dulu.
Aku hanya menembakkan partikel cahaya pemurnian dengan kecepatan tinggi. Seperti sinar laser yang dipadatkan lalu ditembakkan.
Aku belum menamai sihir ini, jadi untuk sementara sebut saja tembakan pemurnian.
Terlalu sederhana?
Mau bagaimana lagi jika selera penamaan sihirku terlalu jelek. Lagipula aku tidak pernah menamai sihir, aku hanya meminjam hak paten para manusia atau penyihir yang telah mematenkan nama-nama sihir di zaman dulu.
Bagiku, aku tidak tertarik mendapatkan hak paten untuk setiap sihir yang aku kreasikan.
Jadi tinggal buat dan pakai, itu sudah cukup bagiku.
Oke, kembali ke saat ini, aku menempatkan kekuatan minimum dan menembaknya ke monster itu. Tapi tembakkan itu saja sudah cukup untuk meledakkan bagian dari tubuh manusia laba-laba itu.
Dan akibat tumbukkan yang terlalu keras, dampaknya juga meluas. Akibatnya Karin juga terpental karena efek momentum balik yang tiba-tiba.
“Ah, apakah itu saja masih berlebihan?”
Melihat Karin yang terkena dampaknya, dia sekarang terbang, jatuh, dan terguling-guling, hingga akhirnya membentur dinding. Bagi manusia biasa, itu saja sudah bisa membuat korban menjadi daging giling.
Tapi itu jika dalam kondisi biasa, lagipula saat ini Karin dilengkapi dengan pakaian sihir tingkat tinggi yang meningkatkan pertahanan. Jadi pakaian itu bisa meredam kerusakan parah akibat semua benturan itu. Tapi tetap saja, itu tidak bisa mengabaikan kerusakan bagian dalam dan rasa sakit yang ditimbulkannya.
Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa bersalah, aku memberikan sihir penyembuhan padanya.
“Maaf Karin, aku akan segera menyembuhkanmu, tenang saja.”
Beberapa detik kemudian....
“Yups, sudah selesai. Sisanya aku serahkan kepada pihak yang berwenang.”
Aku tak ingin terlalu lama disini.
Jadi aku keluar dari dunia cermin ini dan disambut dengan pagi yang baru saja mendulang.
Beberapa warga terlihat sedang berlari-lari ringan, yang disebut sebagai jogging. Dan ada yang berjalan-jalan sambil membawa anjingnya di jalan dekat sekolah ini.
Karena aku tetap berada di atap, kemunculan tiba-tiba ini tidak akan diketahui oleh manusia manapun saat ini.
“Pulang saja, kah”
Tak menunggu lama lagi, aku akan langsung berteleportasi kembali ke rumahku yang damai.
...
Tapi karena aku ingat jika di ini adalah hari-hari sekolah, Aki tidak akan datang pagi-pagi, berarti tidak ada sarapan untukku saat ini. Seperti biasa aku harus mencari makanan sendiri. Jadi aku membatalkan teleportasi dan memilih terbang saja mencari tempat makan yang ideal.
“Ngomong-ngomong, Aki mengatakan ada cafe di sekitar sekolah juga. Oke, kesana saja.”
Cafe yang aku singgahi rupanya tak jauh dari sekolah. Hanya beberapa puluh meter menjauhi sekolah. Meski arahnya berbalik dengan arah jalan pulang, yang berarti semakin menjauh dari rumah. Hal itu tidak menghentikanku untuk bisa sarapan yang enak. Lagipula aku bisa menggunakan teleportasi kapan saja.
Aku turun dan masuk seperti biasa.
“Selamat datang...”
Seperti kebanyakan tempat lainnya, mereka memiliki pelayan yang akan memberikan ucapan selamat datang setiap pelanggan berkunjung. Mungkin karena masih terlalu pagi, tempatnya masih sedikit sepi. Beberapa meja kosong masih eksis meminta diduduki.
__ADS_1
Aku diarahkan ke tempat duduk dan meminta pesanan.
Melihat ke daftar menu, semua tampak enak, jadi aku bingung mau milih yang mana.
Tidak ada pilihan lain, kalau begitu aku harus menggunakan cara terakhir.
“Bisakah saya meminta sarapan rekomendasi saja dari toko ini?”
“Rekomendasi ya, tentu saja boleh. Percayakan saja pada rekomendasi kami. Kalau begitu silakan tunggu sampai makanan siap dihidangkan.”
Dengan begitu pelayan itu berbalik dan menyampaikan pesanannya.
Tak menunggu lama, makanan yang dihidangkan untuk sarapan segera tiba.
Sandwich ekstra besar dan minuman teh dengan susu, bukan?
Aku tidak tahu apa ini, tapi asalkan enak, akan tetap aku makan. Bahkan karena saking enaknya sampai-sampai aku tak merasa makanan ini sudah habis begitu saja.
Hah, aku mengangguk puas dengan kelezatan ini. Duduk sebentar menunggu makanan habis tercerna dalam perut.
“Terima kasih atas makanannya, ini enak.”
Dengan begitu, aku berdiri dan membayar struk makanan lalu pergi meninggalkan cafe dengan rasa puas.
Aku ingin makan lagi, tapi aku harus menahannya kali ini. Karena tak terasa begitu saja, uang yang aku habiskan dalam tiga bulan ini terlalu banyak, melebihi perkiraan awal. Mungkin kapan-kapan aku harus kembali ke gunung tempat aku tidur dan membuat banyak aksesori lagi. Tapi itu aku pikir nanti saja di akhir-akhir, lagipula masih sisa banyak uangku saat ini. Jadi ayo segera pulang dan tidur siang.
Meskipun ini masih terbilang pagi, sih.
Menuju ke gang sepi, ke tempat sedikit orang yang lewat, aku menuju kegelapan dan melakukan teleportasi ketika tak ada orang lewat lagi.
Karena titik akhir ada di kamarku, aku langsung saja loncat ke ranjang dan berbaring di atas kasur dan bantal yang empuk.
“Fuwah, hari yang membosankan mungkin bisa terobati dengan tidur yang nyenyak. Besok aku pergi ke kota saja, mungkin ada yang menarik disana........”
Dengan rencana ini di kepala, aku pergi tidur layaknya vampir normal, yaitu tidur ketika ada matahari terbit.
......
...
.
TOK TOK TOK
“Permisi, apakah ada orang di dalam?”
Hah?
Aku terbangun karena suara yang menggangguku di luar.
“Siapa yang mengganggu tidur nyamanku malam-malam begini?”
“Tidak, masih siang yah. Karena akhir-akhir ini aku selalu tidur malam, aku jadi terbiasa dan lupa waktu akhir-akhir ini, Fuwahhh...”
Aku memaksakan untuk bangun dengan rasa kantuk yang sedikit tertinggal.
Aku berpikir siapa yang akan repot-repot datang kesini.
Tidak mungkin itu Aki karena semenjak menjadi pelayan pribadiku, Aki jika datang tinggal masuk saja karena sudah memiliki kuncinya, tidak perlu mengetuk pintu segala.
Apakah Aki pulang lebih awal? Lagipula masih siang-siang seperti ini.
Untuk saat ini aku pergi ke depan dan membukakan pintunya terlebih dahulu.
“Siapa.......?”
Aku bertanya dengan mata lelah kepada sosok perempuan cantik yang ada di depanku ini, orang asing yang baru pertama kali mengunjungi rumah ini setelah Aki dan ayahnya, tapi anehnya dia terasa akrab.
Ketika aku masih bingung dengan kehadirannya. Dia dengan responsif meloncat ke arahku dengan penuh kegirangan dan memelukku tiba-tiba.
“ALICIA-SAMAAA........LAMA TAK JUMPAAAA............. AKU,... ASPRINDA SANGAT MERINDUKANMUUUU, LHOOOOO”
__ADS_1
“HEEE.......?”
***