
“Hore!!! Kita berhasil...”
Di tengah-tengah kota tanpa penghuni, tiga gadis imut dengan pakaian penuh warna melakukan pose tos kemenangan dengan riangnya.
“Begitu, begitu, fumu-fumu, jadi begitu, menarik. Sangat menarik.”
Sementara itu, ada satu gadis imut lainnya yang terkucilkan dari ketiga gadis itu. Tapi bukannya sedih, dia malah mengangguk-angguk puas dengan kedua jari memegang dagunya, seolah pertanyaan yang mengganjal sebelumnya telah menjadi sebuah jawaban yang cukup cerdas. Dia dengan ringannya menaikkan sudut bibirnya, menunjukkan seringai penuh arti.
***
Cerita bermula beberapa jam sebelum kejadian.
“Sekarang, bagaimana manusia akan menanggapi monster itu.”
Aku keluar dari Hypermarket dan menuju ke sumber kegelapan yang aku rasakan.
Ini sangat membuatku penasaran. Di zaman damai seperti ini tidak mungkin manusia bisa mencapainya tanpa mengabaikan serangan monster.
Monster seperti yang diketahui adalah keberadaan yang merusak. Jika tidak segera ditangani, apalagi yang tumbuh di sekitar kota, maka ada kemungkinan kota tersebut akan hancur. Mereka lahir dari energi gelap atau negatif manusia, yang kemudian terintegrasi dengan energi sihir hingga membentuk suatu keberadaan yang merusak.
Tapi sekarang manusia tak lagi mengenal sihir. Sihir adalah satu-satunya yang bisa digunakan untuk melawan monster. Tanpa sihir manusia tak bisa melihat monster, manusia hanya akan dibuat bingung dengan fenomena bangunan yang runtuh secara tiba-tiba. Bahkan meski punya sihir dan bisa melihat monster, belum tentu pemilik sihir bisa mengalahkannya. Semua tergantung tingkat penguasaan sihir pengguna dan tingkatan level monster.
Pada zaman dulu, monster diklarifikasikan menjadi empat tingkat, yaitu level rendah, level menengah, level tinggi, dan level raja. Level rendah adalah monster yang hanya bisa membuat kerusakan kecil. Seperti yang ada di rumah tua, yang sebelumnya aku usir. Mereka adalah monster level rendah. Bentuk mereka kecil, seukuran bola-bola bulu. Jadi mereka tak membahayakan. Tetapi kali ini yang muncul tingkat menengah, yang bisa membuat kerusakan bangunan-bangunan sederhana jika tak segera ditangani.
Apalagi jika berada di tingkatan tinggi hingga raja, kerusakan yang diperbuat oleh mereka akan lebih tinggi, yang bisa disebut lagi fenomena tak normal oleh manusia jika ada bangunan yang tiba-tiba hancur, jejak kaki aneh muncul, atau lainnya.
Oleh karena itu tak mungkin manusia bisa menuju zaman keemasan ini hanya dengan mengabaikan mereka. Hanya ada tiga kemungkinan yang pasti.
Pertama, monster yang muncul tidak pernah lagi mencapai tingkat lebih dari menengah. Karena mungkin di zaman perdamaian ini, tingkat kebencian menurun. Jadi sumber energi negatif rendah.
Kedua, di zaman ilmu dan teknologi berkembang pesat, menjadi mungkin jika ada teknologi yang bisa menangkal para monster. Tapi ini juga berarti ada manusia yang menyadari kehadiran monster. Jadi sedikit meragukan.
Yang ketiga, ini yang menurutku paling memungkinkan. Bahwa masih ada pengguna sihir yang diam-diam mengurus para monster. Melawan monster juga bisa dijadikan buah pengalaman yang bagus bagi para penyihir, terlebih di zaman kedamaian ini, di zaman tak ada lagi peperangan.
...
Setelah aku berpindah ke tempat sepi, aku segera terbang tanpa diketahui ke tempat kejadian. Karena aku hanya ingin melihat, aku mendarat di tempat aman. Yang masih memberikan jarak aman bagi manusia sekalipun.
__ADS_1
Aku sebenarnya tak ingin melewan, hanya mengamati. Tapi, jika tak ada respon dari manusia dan monster mulai merusak. Tak ada pilihan lagi selain aku yang mengurusnya.
Tapi hanya di detik-detik terakhir saja. Karena masih kroco, aku bisa dengan mudah menghapusnya bahkan kurang dari sedetik.
Aku duduk di atap bangunan tertinggi, menatap pusaran awan hitam, tempat monster akan lahir. Monster yang lahir selalu ditandai dengan pusaran awan hitam, yang kemudian dari pusaran itu muncul monster dengan bentuk tertentu. Ini disebut proses kelahiran monster.
“Nah, sekarang, apakah ada yang akan datang?”
Pusaran gelap sudah mulai menunjukkan kelahiran monster tingkat menengah, tapi belum ada yang datang. Jika terus seperti ini sampai monster lahir sepenuhnya, tak ada pilihan lain selain aku turun tangan.
“Tak ada kah?”
Hingga monster sudah hampir terlahir sepenuhnya, di saat aku sudah bersiap untuk turun tangan. Aku merasakan sedikit mual. Mual yang aku maksud adalah perasaan aneh yang terjadi tiba-tiba, karena tidak mungkin vampir mual. Jadi jangan salah paham.
“Distorsi ruang? Mungkinkah...”
Sudut bibirku terangkat ketika mengetahui ini, seperti dugaanku. Ada penyihir yang masih eksis untuk mengurus para monster. Aku jadi tak sabar menantikannya.
“Tetapi distorsi ini bukan disebabkan oleh sihir. Memang ada energi sihir yang terkait, tapi ini sedikit berbeda dari distorsi yang biasa digunakan secara alami oleh penyihir tingkat tinggi. Ini semacam... alat? Mungkin distorsi ini disebabkan dari penggunaan alat sihir. Wajar, untuk bisa menggunakan sihir ruang, level penyihir setidaknya harus tinggi atau jika tidak, tidak mungkin baginya untuk memanipulasi ruang.”
Ketika aku bergumam monster sudah terlahir sepenuhnya dan pendistorsian ruang sudah hampir berakhir. Jika terus berlanjut aku tidak bisa melihat bagaimana monster ditangani, karena distorsi ruang ini ditujukan khusus untuk monster untuk dipindahkan ke dimensi lain yang seperti cermin dari dunia nyata, jadi selain monster dan pengguna, makhluk hidup lain tidak bisa memasukinya. Meski tidak mungkin bagi manusia untuk merasakan apalagi melihat distorsi ruang, jadi mereka akan bertindak seperti biasa. Tanpa sadar apa yang sebenarnya terjadi di dekat mereka.
Diam-diam aku memaksa masuk, tapi harus tetap menyembunyikan keberadaan dan hati-hati agar tidak ketahuan. Karena dimensi ini akan menjadi wilayah kekuasaan si pengguna.
Ketika aku melihat monster yang sudah sepenuhnya terlahir, dia berwujud humanoid hitam tak sempurna. Mempunyai dua tangan panjang mirip tentakel dan bentuk tubuhnya juga tak teratur, seperti jelly yang terus bergoyang-goyang.
Dia terlihat seperti manusia lumpur. Sangat menjijikkan.
Tangan panjangnya bersifat elastis sehingga bisa memanjang, memendek, dan bahkan bisa beregenerasi meski terpotong. Ini akan menjadi musuh yang menyebalkan bagi penyihir rata-rata di zaman dulu.
“Itu dia monsternya. Semuanya, bersiap.”
“Hiiihh, apaan itu? Menjijikkan.”
“Sebagai Magical Girl, sudah menjadi kewajiban kita menjaga kedamaian dunia dari para monster jahat. Meskipun bentuknya menjijikkan.”
Ketika aku mengamati monster dari kejauhan, datang tiga gadis muda menghadap monster lumpur.
__ADS_1
Apakah mereka, penyihir manusia? Aku bertanya-tanya.
Bukankah anak terakhir tadi menyebut ‘Magical Girl’, apa itu? Bukan penyihir?
Untuk saat ini mari kita deskripsikan ketiga gadis imut-imut itu. Yang pertama gadis berambut merah muda yang dikuncir dua dengan sepasang pita merah lucu. Dia berpakaian merah muda dengan warna putih sebagai dasarnya.
Yang kedua adalah gadis berambut biru tawar, memakai dress biru cerah berlengan putih panjang, tapi menyisakan warna biru di ujungnya. Bagian bawah roknya juga diberi renda putih sebagai embel-embel. Rambut birunya dibuat bob pendek dengan jepit rambut di atas pelipis kirinya.
Dan yang terakhir memakai dress putih dengan rok hitam dan berdasi hitam. Dia juga memakai stolking hitam sampai menutupi pahanya. Rambut hitam panjangnya sedikit bergelombang dan dibiarkan tergerai, memberikan kesan jenius dan tegas di wajahnya.
Kemudian masing-masing dari mereka juga dilengkapi dengan aksesori gelang emas di tangan kanan dan cincin di jari manis kirinya.
Selain yang berambut hitam, di kaki mereka dipasang stolking putih dengan sepatu menyesuaikan warna pakaian masing-masing. Mereka juga memakai sarung tangan putih dan masing-masing membawa tongkat dengan bentuk aneh yang berbeda-beda. Aku tidak bisa mendeskripsikan lagi bentuknya, yang penting tongkat itu tidak seperti tongkat penyihir zaman dulu yang terbuat dari kayu atau tulang-belulang. Tongkat itu lebih berwarna dan sepertinya terbuat dari bahan selain kayu maupun tulang-belulang.
Untuk disederhanakan, tampilan mereka menonjol dan penuh warna, dan lebih dari semua itu mereka adalah gadis yang imut untuk gadis seumuranku.
Maksudnya dari segi tampilan, bukan dari segi usia sebenarnya.
Aku berasumsi bahwa istilah ‘Magical Girl’ adalah istilah terbaru dari penyihir di zaman ini.
Dan yang lebih penting, aku merasakan darah ras lain yang mengalir di pembuluh darah mereka.
Ras gelap misalnya.
Aku bertanya-tanya, apakah kedua ras, gelap dan terang sudah saling berbagi kasih sehingga melahirkan keturunan campuran?
Karena pada zaman dahulu jelas kedua ras saling berkonflik dan bermusuhan hingga selalu ada perang hampir setiap hari. Apa yang terjadi dengan kedua ras setelah aku tertidur begitu lama.
Aku sedikit penasaran, tapi ini seperti yang diharapkan. Tak ada konflik yang membuatku bosan dan kewalahan lagi.
Tapi itu juga menjawab beberapa pertanyaan mengenai penanganan monster. Dengan darah ras gelap mengalir di tubuhnya, mereka juga mempunyai sifat ras gelap. Yaitu memiliki bakat sihir sejak lahir sehingga dapat merasakan energi sihir dan terutama melihat monster. Dengan bakat itu mereka bisa langsung belajar memanipulasi dan mengkonversi energi sihir ke bentuk lain. Tidak seperti manusia biasa yang harus belajar merasakan energi sihir terlebih dahulu untuk bisa setidaknya menguasai sihir cahaya.
Ini juga yang membuat ras campuran mungkin lebih unggul karena mempunyai dua karakteristik dari ras yang berbeda, gelap dan terang.
Itulah sebabnya keduanya tak lagi memiliki kelemahan yang menjadi ciri khas ras gelap maupun terang. Tapi juga harus berbagi untuk setiap keunggulan masing-masing ras. Jadi bisa dikatakan mereka gadis setengah matang, yang tidak bisa memunculkan potensi penuh dari ras gelap maupun terang.
“SERANGGGG!!!”
__ADS_1
Ups, sementara aku memikirkan berbagai hal, para gadis itu sudah mulai menyerbu monster berlumpur itu.
*****