Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia

Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia
Malam dan Kegelapan


__ADS_3

Karena cuaca sedikit berawan, cahaya bulan terang redup menerangi daratan.


Dalam kegelapan malam, sebuah rumah tua yang masih mempertahankan sedikit gaya baratnya berdiri, disinari lembutnya bulan.


Dan yang berada di atap rumah tersebut, suatu keberadaan yang seharusnya telah lenyap, dengan santainya duduk di atas cerobong asap. Menikmati semilirnya angin senyap.


Keberadaan itu bagaikan keindahan yang menghiasi malam.


Mata merahnya yang menyala, bersinar memantulkan cahaya bulan.


Rambut peraknya yang berkilauan menari-nari dalam iringan melodi malam.


Bibir merah mudanya yang kenyal bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Tetapi segera tergantikan ketika dia menyunggingkan senyum manisnya di sudut-sudut bibirnya yang tipis. Hingga akhirnya ribuan getaran suara keluar dari tenggorokannya dan diolah oleh pita suara membentuk nada yang lembut nan menyenangkan ketika dia membukakan mulutnya.


“Sungguh malam yang indah, bukan?” Dan hanya itulah yang dia katakan.


Simpel, sederhana, tapi menakjubkan.


Dan dia ini adalah aku.


Aku sendiri tidak tahu apa yang menakjubkan. Ini hanyalah sebuah kiasan.


Kiasan yang menggambarkan suasana syahdu malam musim panas.


Sebab itu, saat ini aku sedang menikmati malam sejenak, duduk di tepi cerobong asap yang berada di atap.


Sesuai rencana, malam ini aku akan kembali ke perpustakaan sekolah. Melanjutkan mengumpulkan berbagai informasi yang tertinggal.


Oleh karena itu, setelah puas menikmati angin, aku membuat gerbang teleportasi tepat di bawah kakiku.


Membiarkannya menghadap ke arahku dari bawah dan kemudian membentuk suatu pusaran hitam-ungu yang cemerlang.


Tanpa berdiri terlebih dahulu, aku meluncur ke dalam pusaran itu.


Aku masuk dan dengan sekejap ruangan telah berubah menjadi ruangan yang aku kenal sebelumnya. Sebuah perpustakaan yang gelap. Tapi meski gelap pun aku masih bisa melihat dengan baik.


Melangkah kaki ke rak, aku mengambil buku yang sebelumnya belum kuselesaikan. Dan menuju ke suatu meja di dekatnya, menarik kursinya, dan duduk manis dalam ruangan gelap seolah itu bukan masalah.


.........


......


...


“Huammmm,....”


Ini adalah buku kelima yang aku baca. Aku menutupnya dan memperkirakan lima jam telah berlalu. Memperhitungkan waktu keberangkatan, masih ada sekitar dua jam lagi sebelum matahari terbit.


Aku mencukupkan malam ini sampai sini saja. Lagi pula, kelima buku sebelumnya yang aku baca adalah buku yang menurutku paling menarik disini. Sisa lainnya, kebanyakan adalah buku-buku yang sudah aku ketahui isinya dan buku-buku yang tidak terlalu penting isinya.


Membosankan, itulah kesannya.


Jika ditotal dengan sebelumnya, berarti aku sudah membaca enam buku. Dan itu saja sudah memberikan informasi yang cukup untuk otak ini.


Aku bangkit dari kursiku, mengembalikan buku-buku tepat ke posisi semula serta merapikan kursi dan meja, layaknya perpustakaan sebelum aku datang. Tentunya agar tidak menimbulkan jejak sedikit pun ketika pagi dan petugas saat itu tidak menyadari keganjilan apapun.


“Yup, selesai. Lalu buka lubang teleportasi dan-....”


Tepat ketika aku mau membuka gerbang teleportasi. Aku merasakan reaksi sihir.


Meski kecil, tempatnya berada di sekitar sekolah, jadi aku bisa merasakannya.


Oleh karena itulah, aku membatalkan gerbang teleportasi dan memilih memeriksa apa itu.


“Ngomong-ngomong, aku juga belum berkeliling ke seluruh gedung ini, mungkin ada hal menarik yang terlewatkan. Akan sia-sia jika aku datang tanpa pemerikasaan, masalah monster juga akan aku urus nanti, bahaya jika aku biarkan sampai matahari terbit. Tapi sebelum itu, jalan-jalan dulu, ah.”

__ADS_1


Akan berbahaya jika monster berkeliaran di lingkungan sekolah ini. Terutama Aki dan teman-temannya. Meski level rendah, ini rasanya bisa melukai manusia atau setidaknya membuat mereka ketakutan. Sebab itulah aku memutuskan untuk jalan-jalan ke lingkungan sekolah dulu dan membereskan masalah monster di akhir jika tidak ada si petugas khusus pembersih monster yang datang.


“....Ternyata dikunci.”


Ketika aku mau membuka pintu perpustakaan dan menuju keluar. Aku lupa jika ada sistem kemananan di sekolah, penguncian pintu.


Aku sudah tahu bahwa ini hal wajar dari setiap bangunan untuk mengunci ruangan ketika dikosongkan. Tapi itu tidak akan menghentikanku.


Oleh sebab itu, bukan waktunya lagi menggunakan cara manual.


SPLASH


Dalam sekejap, aku sudah di balik pintu luar perpustakaan atau di lorong lantai kedua.


Meski dalam kegelapan, aku terus berjalan menelusuri lorong dengan santai dan melihat-lihat sekeliling.


Aku melihat ke dalam suatu ruangan, yang sepertinya adalah ruang kelas siswa. Aku sudah bisa memperkirakan ruang kelasnya Karin, karena tempat pertemuan sebelumnya. Dan untuk Aki, aku sudah diberitahu sebelumnya. Lokasinya sepertinya berdekatan dan dalam satu lorong. Dari ini juga aku bisa menebak, jika lorong lantai satu untuk kelas pertama, maka lorong lantai tiga untuk kelas ketiga.


Aku sudah pernah melewati lorong pertama, tapi belum mencapai lorong ketiga, jadi aku lebih memilih naik daripada turun tangga.


“Hm. Sama saja, bukan?”


Apa yang aku lihat, lorong lantai ketiga tak jauh berbeda daripada lorong lainya. Dibagi menjadi sisi kanan dan kiri, sisi kanan untuk kelas dan sisi kiri untuk ruangan lain, seperti laboratorium dan ruang yang cukup lebar, meski aku tak tahu apa gunanya.


Sampai ujung lorong tak ada hal yang menarik lainnya. Hanya saja, ada tangga lagi yang mengarah ke pintu di atas.


Karena sedikit penasaran, aku menaikinya.


Ketika sampai di depan pintu, rupanya terkunci juga, jadi aku tak punya pilihan lain.


SPLASH


Sekejap, aku sudah berada di sisi pintu lainnya.


Rupanya ini adalah bagian teratas dari sekolah ini, atap.


Karena atap mencakup seluruh alas bangunan, tempat ini sangat luas.


Di tengah atap ada bangunan kecil lagi, sepertinya tempat untuk mengurus air dan listrik gedung ini.


Aku sudah tahu apa isinya, jadi kurang tertarik.


Lebih penting, disini ada kanopi juga dan tempat duduk yang panjang. Tempat duduk ini yang dibawahi kanopi pelindung cahaya pasti sangat nyaman disinggahi siswa ketika jam istirahat siang.


Selain itu adalah tempat lapang.


Mengelilingi atap adalah pagar besi yang berhias hijau-kehijauan. Beberapa pot tanaman di letakkan di sisinya. Warna hijau inilah yang menyatu dengan cat hijau di pagar besi atap.


Dari sini juga bisa melihat pemandangan kota bawah dan pemandangan cantik bulan yang sudah bergeser posisinya menjauhi puncak.


Aku berjalan menuju tepi atap, menuju ke tempat yang mana terdapat reaksi sihir.


“Coba lihat dari sini, apakah bisa?”


Menuju ke tepi yang memiliki sudut pandang paling baik. Aku memperhatikan dimana arah reaksi sihir berasal. Melihat ke bawah ada sebuah gudang kebersihan, tempat peralatan bersih-bersih berada.


Letaknya berada di belakang sekolah dan di samping ruang parkiran.


Di sisi lain, juga ada tempat pembuangan sampah sementara.


Lokasi yang benar-benar cocok untuk sumber energi negatif, pembullyan.


Jika ada energi negatif pembentuk monster, itu pasti itu, karena di lingkungan sekolah.


Pembullyan, tak perlu dijelaskan lagi. Itu adalah teknik memanen energi negatif paling efisien. Asalkan korban menjadi dendam dan membenci pelaku dengan emosinya, energi negatif akan memancar dan mengumpul menjadi satu sebelum terintegrasi dengan energi sihir.

__ADS_1


Aku sudah sering melihat hal-hal seperti ini.


Melihat ke bawah, sepertinya itu monster laba-laba. Lebih tepatnya laba-laba yang dirasuki monster, sehingga mendapatkan energi negatif dan berevolusi. Menjadikan tubuh utama kedua dari monster itu.


Ini seperti kasus ular yang menyerang Aki sebelumnya, monster jenis ini adalah monster tipe perasuk. Kalau sekarang mungkin bisa disebut monster tipe hantu.


Melihat laba-laba kembali yang berada di atap gudang kebersihan, dia bertubuh gelap sempurna. Ukuran diameter tubuhnya berkisar 1 meter. Memiliki delapan mata merah dan berkaki delapan panjang.


Jika dibandingkan dengan tingkatan monster berlumpur sebelumnya dia lebih di bawahnya. Jadi tidak ada yang spesial dengannya. Monster tipe perasuk memang pada dasarnya monster yang lemah. Selain tubuhnya yang tak terlihat, dia hanya bisa mengandalkan kemampuan inangnya. Jadi tergantung kemampuan sang laba-laba tersebut, yang sekarang telah menjadi wadah perkembangannya. Kemudian juga tergantung level monster tersendiri. Itulah menentukan seberapa baik dia bisa mengembangkan tubuh inangnya, dengan kata lain evolusi.


Karena dia tak berakal, dia hanya memilih inang dari makhluk terdekat dan mempunyai mental yang rendah. Jadi pasti dia sangat lemah pada awalnya, karena hanya bisa merasuki serangga.


Tapi, bisa mengembangkan inangnya menjadi satu meter sudah cukup hebat.


Lihat saja, tubuh laba-laba saja awalnya kecil, sekitar 1 cm. Sekarang menjadi 1 meter, bukankah itu pencapaian yang hebat. Mengembangkan tubuhnya sendiri menjadi 100 kali lipat tubuh awalnya adalah sesuatu yang mengesankan.


Mungkin saja dia bukan monster yang baru lahir, tapi tipe yang sudah merasuki tubuh sejak lama. Karena jika baru-baru ini dia merasuki wadah, seharusnya jika laba-laba pasti masih berkisar 30 cm. Oleh karena itulah, aku hanya bisa menyimpulkan dia sudah sedikit lebih lama merasuki dan terus bersembunyi layaknya laba-laba biasa. Sebab itulah dia tak terdeteksi.


Sama seperti kasus ular sebelumnya, tipe perasuk bisa menutupi atau menyamarkan sihirnya dengan wadahnya, jadi akan terlihat seperti hewan buas biasa bagi penyihir biasa. Oleh karena itulah, mereka berdua bisa luput dari pengindraan sihir alami milikku. Selama masih level rendah, energi sihirnya masih kecil dan tertutupi oleh inangnya. Jadi perlu perhatian khusus untuk bisa mengidentifikasinya. Sulit bagi penyihir biasa, tapi tidak untukku seharusnya. Hanya saja, akhir-akhir ini aku sedang beradaptasi menjadi manusia normal. Jadi jarang-jarang menggunakan indra khusus hanya untuk menganalisa hanya satu serangga. Lagi pula tidak ada bahayanya.


Tapi sekarang berbeda, dia sepertinya baru saja berevolusi. Oleh karena itulah, tubuhnya mengembang menjadi 1 meter, energi sihirnya sudah meluap dari wadahnya sehingga energi gelap tersebut tidak lagi dapat tersembunyikan oleh wadahnya. Sebab itulah, indra alamiku merasa ada reaksi sihir di sekitar sini baru-baru ini.


Aku mau melenyapkannya, tapi ini bukan urusanku.


Bukan karena malas atau ketidakpedulian.


Ini hanya karena sudah ada orang yang dipilih untuk mengurusnya.


Tolong jangan berprasangka buruk terhadapku. Sungguh tidak sopan.


Benar, petugas khusus itu adalah gadis yang menyebut diri mereka ‘Magical Girl’.


Mereka sepertinya akan datang kesini sebentar lagi.


Melihat mereka akan datang ketika kemunculan reaksi sihir dari monster. Mereka pasti punya suatu alat pendeteksi sihir yang keluar dari monster pada level tertentu. Misalnya jika sudah mulai masuk ke level menengah, mereka akan datang.


Jadi monster yang di bawah level menengah, atau level yang tidak berbahaya, yaitu level rendah, mereka tak akan terdeteksi. Mungkin sebab itulah ada monster di rumahku sebelumnya yang aktif tanpa dilenyapkan sejak lama.


Dan jika bukan karena alat, mereka tidak akan bisa mendeteksi yang terlalu jauh. Penyihir rata-rata yang kurang terlatih tidak akan bisa mendeteksi reaksi sihir monster atau penyihir lainnya tanpa alat.


Jadi pasti ada alat sihir tersebut dalam organisasi mereka.


Sekarang aku sudah sedikit bisa menggambarkan mengenai organisasi mereka.


...


Dan dia datang seperti yang sudah kuduga. Tapi kali ini hanya satu, melihat reaksi sihirnya, dia masih lebih lemah daripada yang tiga gadis sebelumnya yang kulihat di kota. Tapi itu sudah sesuai dengan tingkatan monsternya juga. Jadi seimbang.


Dia berambut hitam dengan poni kuda. Memakai blus lengan panjang ungu dan celana panjang hitam. Semua serba kegelapan, termasuk sarung tangan, sepatu, dan tongkatnya yang berwarna hitam.


Hanya wajahnya sajalah yang terlihat mencerahkan.


Meski begitu, aku sudah mengenalnya baru-baru ini.


Jadi ketika melihat ke bawah, aku tak sengaja menyunggingkan lengkungan pada bibirku.


“Haha. Sudah kuduga. Jadi dia benar-benar menjadi bagian dari ‘Magical Girl’, ya. Karin.”


Sekarang aku sudah diyakinkan bahwa, para gadis yang menyebut dirinya ‘Magical Girl’ selalu muncul di balik permukaan.


Seperti biasa karena aku ingin menontonnya, aku juga masuk ke dunia cermin bersama mereka.


Melihat bagaimana akhirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2