Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia

Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia
Rumor? Hantu?


__ADS_3

“Terima kasih banyak! Karena telah memberikan anakku kesempatan untuk bekerja pada Anda.”


Sambil membungkukkan badan, seorang paman tua dan kekar berdiri di depanku.


Aku berpikir, apakah seperti ini cara berterima kasih zaman sekarang?


Tapi ini juga yang membuatnya terlihat tulus atau benar-benar dari hati.


Tetap saja, ini membuatku merasa tidak pada tempatnya ketika ada seorang paman tua membungkukan badan untuk anak yang lebih kecil sepertiku.


“Sudah-sudah. Tolong angkat kepala Anda. Silakan duduk saja di kursi, sambil menunggu putri Anda menyiapkan teh.”


“.........Baiklah. Kalau begitu, sekali lagi terima kasih.”


“Tidak masalah. Disini Aki juga bekerja dengan baik. Dia seorang pekerja keras.”


“Syukurlah, dia memang selalu begitu. Kami hanya tinggal berdua, jadi dia selalu berusaha keras mengisi kekosongan rumah tangga kami akibat tak adanya sosok seorang ibu untuknya.”


“Yah, aku turut berduka cita untuk itu. Tapi dia memang benar-benar gadis yang dapat diandalkan.”


“Terima kasih. Untuk itulah aku datang kesini untuk memastikan apakah dia baik-baik saja. Aku khawatir karena meskipun dia pekerja keras, dia adalah anak yang penakut.”


“Yah memang, pertama kali bertemu, kesanku padanya adalah anak yang seperti itu. Tapi sepertinya dia tidak mengalami masalah lagi. Karena sepertinya sumber kecemasannya sudah hilang sekarang. Lagi pula apa yang perlu ditakutkan?”


“Benarkan. Itu memang layak dipertanyakan, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah seperti itu sejak dulu. Tapi sekarang ketika ada orang yang tinggal disini, dan putriku dipekerjakan disini, dia tak takut lagi. Putriku juga menjadi lebih sering mengunjungi ayahnya, karena jalan yang dilaluinya tidak menakutkan lagi. Aku berterima kasih juga untuk itu.”


“Aku jadi merasa aneh jika ada orang yang membicarakanku di belakang.”


Dari dapur, sosok yang dibicarakan akhirnya muncul. Dia membawa nampan berisi tiga cangkir teh dan sepiring biskuit buatannya.


Kemudian dengan sopan dia menyajikannya di meja.


Dia benar-benar profesional dalam melayani tamu maaupun pekerjaan rumah tangga. Perempuan idaman bagi semua laki-laki di dunia, mungkin.


Terakhir dia menyajikan untuk dirinya sendiri dan duduk di samping ayahnya.


Percakapan itu dimulai kembali olehnya.


“Yah, aku mengakui aku memang takut dengan hal-hal seperti itu. Tapi itu adalah hal yang wajar untuk anak perempuan, kan. Temanku, Karin, juga takut dengan hal seperti itu. Jadi jangan mengejekku. Hump.” Dia mengakhiri pidatonya dengan menggelembungkan pipinya.


Benar-benar imut, aku pikir. Ini pertama kalinya dia bersikap seperti itu di depanku.


“Mungkin perasaanku atau memang sikap Aki-chan berubah jika berada dengan ayahnya?”


“Haha, dia memang selalu seperti ini di rumah. Tapi itu yang membuatnya imut, bukan?”


“Ayah!!!!”


Hangat untuk menyaksikan keakraban dari sebuah keluarga.


Tapi dadaku mejadi sedikit sesak. Aneh, apakah ini yang namanya iri.


Mempunyai keluarga yang selalu bersama. Tertawa bersama, saling mengobrolkan hal-hal sepele. Entah mengapa hal seperti itu sedikit membuatku iri.


Aku tersenyum melihat hubungan ayah dan anak ini.


“Kalian benar-benar akrab ya. Aku iri.” Aku membisikkan suara yang bocor dari hati.


“Ehh?”


“Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya menghangatkan saja melihat keluarga bahagia seperti kalian ini.”


“Benar juga. Aki memang sudah memberitahuku sebagian besar. Apakah Alicia-san memang hidup sendirian disini? Bagaimana dengan orang tuamu?”

__ADS_1


“Ya~ah, aku memang tinggal disini sendiri. Tapi tidak apa-apa, orang tuaku baik-baik saja. Dia sekarang tinggal di luar negeri dan juga dia selalu mengirimkan uang. Jadi tak masalah. Tak perlu khawatir.” Akhirnya aku membuat plot sendiri, menyesuaikan dengan kesalahpahaman Aki yang dulu penasaran tentangku.


“Yah, aku memang khawatir dan juga sangat penasaran. Seorang gadis muda dan kaya hidup sendirian di sebuah desa dan malahan dia tinggal di rumah tua ini yang berada di dalam hutan yang terkenal angker oleh masyarakatnya. Banyak rumor yang bertaburan di sekitar sini akibat kemunculan Alicia di rumah ini.”


“Rumor...?” Aku bingung dan memiringkan kepalaku.


“Itu, lho Alicia-san. Kamu tiba-tiba datang dan tinggal di rumah tua yang seharusnya dianggap berhantu. Kemudian dengan entengnya berjalan-jalan dan mengubah rumah ini menjadi suatu tempat yang layak huni dengan mudah dan cepat, menghilangkan kesan horor sebelumnya. Padahal rumah ini benar-benar berhantu, lho. Dan kamu malah tinggal disini? Apakah kau tidak bertemu sesuatu yang aneh? Apakah kau tidak takut? Padahal aku masih takut, apalagi ketika kamu meninggalkanku bekerja sendirian disini tadi.”


“Hantu...? Apa itu?” Aku masih bingung meskipun sudah dijelaskan oleh Aki. Istilah ‘hantu’ benar-benar baru untukku.


“Kau tak tahu. Yah, gampangnya hantu adalah suatu keberadaan yang tak terlihat. Meskipun itu hanya mitos saja. Dan orang-orang yang mempercayainya takut padanya.”


“Ayah! Itu tidak hanya sekedar mitos. Aku benar-benar pernah mengalaminya. Setiap kali berjalan lewat sini. Aku sering mendengar hal-hal aneh, seperti piring pecah atau suara-suara lainnya.”


“Palingan juga itu hanya angin. Buktinya ayah yang selalu pulang pergi lewat sini tidak pernah merasa diganggu sama sekali. Untuk ular besar yang kau bicarakan sebelumnya, itu memang ular sawah. Itu tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Jadi ayah sudah tahu dan selalu menghindarinya. Hanya kecelakaan jika kau menyandungnya. Tapi ayah juga salah karena membiarkan ular berbahaya itu sendirian dan tak memberi tahu. Karena bagaimanapun juga ular itu sangat berguna dalam membasmi hama seperti tikus dan lain-lain. Jadi kami para petani sepakat hanya akan membiarkannya hidup bebas. Tapi tetap saja, maafkan ayah, kamu jadi terlibat bahaya.” Di bagian terakhir dia membungkukkan sedikit badannya sambil duduk. Sepertinya dia sangat menyesal membiarkan putri satu-satunya dalam bahaya.


“Y-yah, jika ayah sudah minta maaf, tidak apa-apa sih. Alicia-san juga ada disana waktu itu, jadi semuanya menjadi baik-baik saja.”


“Sekali lagi terima kasih Alicia-san. Sepertinya kamu sudah menjadi pahlawan putriku.”


Ketika aku ingin berkata sesuatu, Aki sudah memotongnya.


“Itu benar, tapi ini berbeda persoalan dengan hantu. Ular adalah makhluk hidup. Meski aku takut dengannya, itu berbeda dengan hantu! Jadi jangan samakan ular dengan hantu.”


“Oke-oke. Kau memang masih penakut seperti dulu, ya. Jadi jika kau mengakui hantu bukan makhluk hidup, untuk apa takut pada sesuatu yang tak hidup. Dia kan tidak bisa menggigit seperti ular." Ayahnya mengatakan poin pentingnya sekaligus. Menyebabkan dahi Aki berkerut.


"Ayahh........Kau benar-benar tidak tahu, ya......"


Dan kemudian adu mulut ganas terjadi.


Entah mengapa arah arus berubah dari percakapan hangat menjadi sebuah pertengkaran kata. Tetap saja, aku tetap tersenyum melihat adu mulut mereka. Karena itu juga merupakan bagian keakraban keluarga. Seperti pepatah yang aku buat sendiri, 'Pertengkaran adalah bagian dari kedekatan'.


Tanpa sungkan, aku memanfaatkan situasi ini untuk menyempatkan diri minum teh dan makan biskuit.


Hatiku meleleh dengan manisnya teh hangat dan kelembutan biskuit ini di mulut.


.....


Setelah beberapa menit berlalu.


“Maaf, sepertinya kami terlalu terbawa suasana.”


“Tak apa. Itu juga menunjukkan betapa akrabnya keluarga anda.”


“Itu sedikit memalukan. Aku akan mengisi ulang tehnya.” Aki kemudian mengisi kembali cangkir tehku yang sudah melewati setengah gelas.


“Yah, karena ini rumahku dan aku juga tak mempermasalahkannya. Itu baik-baik saja selama tak menjadi konflik fisik.”


“Ehem. Maaf tentang itu. Ngomong-ngomong, apakah Alicia benar-benar tidak takut hantu? Mungkin karena kamu belum tahu rumor di desa ini. Tapi sebagai sesama perempuan dengan putriku, apakah kamu tak takut setelah mendengar rumor itu? Juga yang lebih penting, apakah kamu tidak takut tinggal disini sendirian?"


“Tidak. Lagi pula aku tak tahu apa ‘hantu’ itu.”


“Begitu, ya. Aku hanya mengira kamu belum tahu rumornya. Ngomong-ngomong, boleh saya bertanya sesuatu?”


“Silakan....”


“Maaf jika ini tak sopan, tapi seperti yang kulihat dan kudengar, bukankah Alicia gadis kaya. Mengapa memilih tinggal di desa daripada di kota. Terlebih tinggal sendirian di rumah yang sebelumnya terkesan angker ini?"


“I, itu karena...” Aku bingung harus menjelaskannya atau tidak.


“Jika tidak ingin menjawab, tidak perlu dipaksakan. Saya hanya penasaran. Mohon maaf.”


“Ya, tidak apa-apa. Terima kasih.”

__ADS_1


“Soalnya aku khawatir, mungkin kamu merasa tidak nyaman menjadi buah bibir orang-orang sini. Apalagi memungkinkah rumor bisa keluar desa. Karena dulunya tempat ini terkenal angker. Banyak orang yang mengunjunginya. Tak heran jika banyak rumor aneh menyebar di sekitar Alicia.”


“itu benar. Aku malah akan mengurung diri selama beberapa hari, ketika banyak orang membicarakanku.” Aki menyambungnya.


“Oleh karena itu jika mau Alicia tinggal saja bersama kami, meski sempit rumah kami baik-baik saja. Malah lebih baik karena bisa menjadi teman Aki di rumah.”


“Tidak. Tidak apa-apa seperti ini. Ini adalah pilihanku sendiri. Jadi aku memutuskan tinggal disini saja.”


"Apakah kau tak merasa kesepian, tinggal disini sendirian?"


"Sedikit~sih. Tapi ini sudah menjadi keputusanku tinggal sendirian. Ada alasan dibaliknya juga."


Malah akan merepotkan karena identitasku masih mencurigakan. Meski Aki seperti terlihat kecewa dengan keputusan ini.


“Yah, baiklah kalau begitu. Kami juga tidak akan memaksa.”


Kemudian kami melihat jendela sudah menjadi lebih gelap, tanda matahari sudah kehilangan sinarnya.


“Karena sudah hampir malam, mungkin lebih baik makan malam disini. Karena Aki yang memasaknya juga.”


Aku menawarkan kepada paman yang merupakan ayahnya Aki. Lagi pula aku belum memberikan sambutannya.


“Memang,sih. Baiklah saya teriwa tawaran ini. Karena jika di rumah pun, Aki lah yang memasak untukku. Jadi ini bisa mengurangi pekerjaannya.”


Kami berjalan menuju ruang makan dan Aki menyiapkan makanannya sedangkan kami berdua duduk di kursi.


Sambil menunggu Aki selesai memasak. Aku memutuskan mengisi kekosongan.


“Oh, iya paman. Aku punya sesuatu untuk paman. Aku mendengar dari Aki, kalau paman bekerja sebagai petani. Jadi aku berpikir untuk memberikan ini daripada sia-sia.”


Aku menyerahkan bungkusan berisi biji-biji padi itu.


“Apa, apa ini?”


Paman sepertinya terkejut dengan pemberianku tiba-tiba.


“Itu benih padi. Aku tidak membutuhkannya, jadi kuberikan saja kepada paman.”


“Ini, ini benih padi? Apakah ini mahal? Saya tidak bisa menerima hal seperti itu. Mempekerjakan putriku juga sudah menjadi rasa syukur untukku.”


“Tidak apa-apa. Sudah kubilang karena aku tidak membutuhkannya, karena lagi pula aku tidak punya lahan. Aku pun tidak memiliki masalah uang. Jadi daripada dibuang sia-sia olehku. Lebih baik diurus oleh tangan yang ahli, bukan?”


“Tapi, memang benar....Jika,....Jika itu adalah apa,.. maka baiklah, terima kasih atas kebaikan anda. Aku jadi merasa hutangku padamu bertambah.”


“Jangan sungkan.”


“Terima kasih. Terima kasih.”


.....


“Apa yang terjadi,?”


Sementara ketika sambutanku benar-benar berhasil, Aki datang dan kebingungan melihat ayahnya menangis bahagia.


“Tidak apa-apa. Ayah hanya senang melihat Aki baik-baik saja bekerja disini. Alicia-san, tolong jaga Aki untukku.”


“Oke. Serahkan saja padaku.”


Suasana akhirnya kembali dan kami bertiga makan malam dengan pasangan ayah dan anak ini menjadi lebih banyak bicara. Meski tidak sopan jika makan sambil berbicara.


Aku tersenyum hangat untuk mereka.


Melihat mereka aku mendapat inspirasi untuk membuat pepatah lagi.

__ADS_1


'Hubungan yang baik akan memberikan suasana yang baik pula di sekitarnya.'


__ADS_2