
“Permisi...Apakah Alicia-san ada?”
“Hm, masuk saja. Tidak ada orang selain aku disini.”
Pagi hari, membangunkanku dari tidur cantikku adalah suara dari gadis yang baru-baru ini aku kenal. Gadis yang sebelumnya ketakutan ketika melihat seekor ular.
Dia berjanji akan datang lagi karena sepertinya kemarin sore dia terburu-buru.
Melihat keluar pintu sepertinya dia ragu-ragu untuk masuk.
“Masuklah, jangan berdiri saja disana...Huammm.....Aku akan menyiapkan teh terlebih dahulu.”
“Per-permisi...”
Masih mengantuk aku berangkat ke dapur, menyaipkan dua cangkir teh.
Membuat teh adalah keahlian khususku untuk menghabiskan waktu luang di zaman dulu. Untungnya aku masih memiliki bahan-bahan yang berkualitas tinggi dari tanaman zaman dulu yang aku simpan di [Storage] yang tidak memiliki aliran waktu, sehingga tetap sama kondisinya. Terlebih bahan ini terkenal karena efek sihirnya berfungsi sebagai penenang, baik dari aroma maupun rasa.
“Sip, sepertinya sudah pas.”
Aroma mengepul dari dua teh yang aku sajikan. Aroma yang begitu nikmat dan menenangkan membuatku merasa puas dengan keterampilan ini. Meski 5000 tahun berlalu, tanganku masih terampil membuat teh. Aku sangat bangga.
“Maaf menunggu, ini tehnya. Nikmati dan rilekskan diri anda. Jangan terlalu kaku.”
“Y-ya”
Melihat ke kursi kayu, tempat dia duduk dengan kakunya, sepertinya dia masih gugup akan sesuatu.
“Apakah ada ular lagi, wajahmu terlihat sedikit pucat.”
“Ti-tidak. Aku bukannya seperti itu... Ka-kalau begitu, Se-selamat makan”
GLEK GLEK GLEK
“Fuahh....” Melihat wajahnya, sepertinya dia sudah tenang kembali.
“Itu teh herbal yang aku buat, bisa meredakan kegelisahan menjadi ketenangan pikiran. Bagaimana sekarang?”
“Ini, ini nikmat sekali. Memang benar, semua kegugupanku jadi hilang. Terima kasih.”
“Sama-sama. Jadi ada urusan apa datang kesini.”
“Ah, benar. Sebenarnya aku hanya merasa kurang berterima kasih setelah anda menyelamatkan aku kemarin. Jadi aku datang untuk berterima kasih dengan benar kali ini. Ini, ini mohon terimalah.”
“Hm, apa ini?”
“Itu, itu kue yang aku buat sendiri. Memang bukan seberapa, tapi hanya itu yang bisa aku buat. Maafkan aku.?
“Eh, mengapa meminta maaf? Bukannya kau datang untuk berterima kasih.”
“I-itu memang benar, tapi...”
“Kalau begitu tidak apa-apa. Lagipula aku menolongmu bukan untuk meminta imbalan, tapi hanya bentuk belas kasihan.”
“Ah, belas kasihan ya. Terima kasih kalau begitu.”
“Apakah ada masalah? Sepertinya kau memiliki banyak masalah di pundakmu. Kau juga terlihat terburu-buru kemarin. Jika mau katakan saja padaku, setidaknya akan kudengar. Kalau bisa aku bantu, aku bantu.”
__ADS_1
“Te-terima kasih, tapi......” Dia terdiam sejenak.
“Aku hanya seorang penakut, pengecut, dan lemah. Jadi aku selalu ketakutan dan hanya bisa menerima bantuan. Aku ingin membalasnya tapi tidak mampu. Seperti hari ini, aku tidak bisa menghasilkan rasa terima kasih yang setimpal.”
Aku mendengarkan curhatannya sambil membuka bingkisan kue. Aku suka manisan, jadi aku berharap ini manis seperti harapanku.
“Tak apa, bukan. Lagipula mereka yang menolongmu tidak meminta imbalan.”
“Itu benar juga, tapi....”
Sepertinya dia belum yakin. Aku memasukkan kue kering itu ke mulutku.
“Ini, ini enak dan manis. Sangat sesuai dengan seleraku. Kau ternyata hebat dalam hal ini, bukan?”
“Eh, ah terima kasih?” Dia berterima kasih dengan nada bertanya.
“Kau sepertinya masih belum puas. Hm, aku punya satu solusi untukmu.”
“Apakah itu benar.”
“Bagaimana kalau kau bekerja untukku?”
“?”
“Kau lihat, kue yang kau buat ini enak dan sepertinya kau bisa memasak juga, kan?”
“Be-benar.”
“Kalau begitu, jika kau ingin berterima kasih dengan benar. Bekerjalah untukku. Tentu aku juga akan menggajimu, seperti kebanyakan orang.”
Aku tidak boleh melepaskan kesempatan ini begitu saja. Jika aku mendapatkan pelayan seperti dia, seperti pelayan kafe sebelumnya. Aku bisa memakan makanan enak setiap harinya. Tentu saja, bukan pekerjaan yang percuma, aku akan membayarnya dengan gaji yang sesuai seperti manusia biasa. Ini hanya umpan untuk menangkap bujukanku.
“Tidak, aku hanya ingin memakan masakanmu dan kue yang kau buat. Itu saja.”
“Apakah benar? Kenapa kau bertindak sejauh ini untukku.”
Sepertinya dia masih ragu-ragu.
“Sudah kubilang, aku hanya ingin memakan masakanmu. Jadi bekerjalah disini! Jika tidak kamu tidak perlu berkunjung lagi kesini!”
Mari sedikit mengancamnya.
Dia sedikit terguncang.
“Aku-aku akan bekerja. Aku akan bekerja di rumah ini. Jadi mohon bantuannya, Alicia-sama.”
“Panggil saja Alicia, kau bisa bekerja mulai besok.”
“Baik, Alicia-san."
“Oh, iya ngomong-ngomong aku lupa menanyakan namamu.”
“Ah, em kalau begitu namaku Shinohara Aki. Alicia-san bisa memanggilku Aki.”
“Kalau begitu mohon bantuannya besok Aki.”
“Baik Alicia-san.”
__ADS_1
Begitulah aku mendapatkan pelayan, tidak pekerja yang cakap.
Setelah itu, Aki kembali pulang ke rumah. Dia akan mulai bekerja besok. Jadi aku sepertinya harus mempersiapkan tempat kerjanya.
“Aku harus beres-beres rumah kalau begitu. Jika dilihat memang masih berantakan. Dan aku juga belum membeli mebel yang dibutuhkan.”
Ruangan rumah masih terlihat menyeramkan, mungkin itulah yang membuatnya gugup.
“Mari kita pergi buat cari perabotan. Ngomong-ngomong dimana tempat yang menjual perabotan rumah? Cari saja di kota, deh. Pasti ada. Atau jika tidak bisa bertanya seperti biasa.”
Karena aku belum memastikan titik transferku tidak ada orang, aku tidak bisa menggunakan [Teleportation]. Sebagai gantinya, seperti biasa aku hanya akan terbang sampai ke kota.
Ramai seperti biasa. Jalanan padat dengan hiruk pikuk aktivitas manusia.
Setelah mendapatkan informasi tempat penjualan mebel. Aku masuk ke dalam. Di dalam banyak barang-barang mewah dengan artistik seperti kerajaan-kerajaan. Di zaman dahulu hanya para bangsawan yang memiliki barang-barang mewah dengan nilai seni tinggi. Tapi sekarang sudah menjadi hal umum bahwa siapa saja layak memilikinya asalkan mampu membelinya, itu saja.
“Selamat datang”
Melenggang masuk aku disambut oleh karyawan toko.
“Aku ingin set perabotan rumah lengkap, seperti kursi, meja, lemari, dan lain-lain.”
“Kalau begitu, silakan isi daftar pesanan anda saja dan isikan alamat pelanggan sekalian. Nanti barang akan segera diantar ke rumah pelanggan.”
“Oke”
Tapi alamat, ya. Aku bertanya-tanya, apakah mereka sanggup mengantarnya ke rumah itu.
Lebih baik aku bawa sendiri, tapi aku akan kesulitan menyembunyikan penggunaan sihir penyimpanan.
Yah, mari ambil lokasi terdekat. Untung saja daerah itu tidak banyak manusia.
“Kalau begitu, bisa antarkan saja ke titik ini?”
Aku menunjuk pada satu titik di layar peta dari benda kotak, teknologi buatan manusia yang super canggih.
“Bisa saja, apakah anda yakin?”
“Baik-baik saja, aku punya banyak tenaga kerja. Malahan aku yang khawatir apakah kalian bisa mengantarnya sampai ke rumahku.”
Setelah berdiam sejenak mengamati peta dua dimensi, dia mengangguk setuju.
“Baiklah, kami akan segera mengantar pesanan anda ke lokasi yang sudah ditunjukkan. Tentang pembayarannya....”
Dengan begitu pembelian perabotan rumah selesai. Tinggal menunggu pengiriman, katanya paling lambat hari ini. Atau sekiranya tiba nanti sore.
Jadi masih ada sisa waktu di kota. Lebih baik pergi ke cafe seperti sebelumnya, menikmati kue-kue manis.
KRINGGG
“Selamat datang”
“Aku pesan Cake dan minumannya, tolong.....”
Hingga aku menghabiskan banyak waktu mengurus masalah perutku. Tahu-tahu sudah senja saja. Mungkin mebel sudah diantar, atau belum.
"Mari kita tilik saja."
__ADS_1
****