
Setelah aku bangun dari tidur panjangku selama 5000 tahun. Ternyata dunia sudah banyak berubah.
Tak heran, 5000 tahun. Jika tak ada perubahan, maka akan aneh jadinya.
...
Keluar dari persembunyian aku menghirup udara segar setelah sekian lama dan melakukan beberapa peregangan akibat otot-otot yang kaku.
Tempat persembunyian adalah tempat aku tidur selama 5000 tahun. Tempatnya berada jauh di bawah gunung berapi, jadi dekat dan dikelilingi oleh magma. Aku mengatur tempat tidurku sedemikian rupa hingga tempat ini sangat aman. Dikelilingi oleh magma dan ada labirin besar terlebih dahulu yang harus dilewati untuk sampai di kamarku.
Panas? Pengap?
Tenang, aku vampir legendaris. Hal-hal sepele seperti itu tak akan bekerja untuk tubuhku.
Meski menyebut diri sendiri dengan ‘legendaris’ terasa sedikit memalukan, tapi tidak dapat disangkal bahwa aku adalah vampir tertua dan terkuat yang pernah ada.
Sombong? Tidak, ini adalah fakta.
Adapun masalah kelemahan vampir lainnya, seperti sinar matahari. Tak akan berbuat banyak juga untuk tubuhku. Lagipula tubuh ini sudah beradaptasi dengan berbagai hal, termasuk semua kelemahan vampir. Bahkan aku mendapat keabadian. Sebagai vampir, sudah wajar untuk berumur panjang, tapi tidak abadi. Apabila sudah mencapai masa tua yang sekiranya sekitar 200 tahun atau terbunuh sebelum masa tua. Vampir akan kehilangan hidupnya.
Tapi tidak berlaku untukku, bahkan jika aku dilukai sampai parah pun, semua luka akan beregenerasi dan sembuh dengan cepat dan otomatis. Jadi bisa dikatakan aku tak terkalahkan.
...
Setelah peregangan selesai, aku terbang dengan sayap kelelawar di bawah sinar matahari pagi. Sekarang masih pagi, jadi pemandangan di lereng gunung kebanyakan berkabut. Disini juga tak ada pemukiman. Pemukiman manusia terdekat masih jauh beberapa kilometer lagi dari sini.
Setelah mendekati pemukiman manusia, aku turun di hutan yang letaknya tak jauh dari pemukiman yang aku lihat sebelumnya.
Sesampainya disana aku perlu untuk segera membiasakan diri dengan lingkungan yang baru. Misalnya pengetahuan umum, bahasa, dan uang.
Pertama pengetahuan umum, aku bisa mencarinya melalui obrolan atau pergi mengunjungi perpustakaan jika ada. Tapi opsi obrolan segera dicoret, karena aku introvert dan akan aneh jika aku bertanya mengenai hal-hal yang umumnya diketahui. Jadi opsi pergi ke perpustakaan atau mencari sumber lain sangat disarankan. Tapi sayangnya banyak hal yang berubah, dan aku tak tahu lokasi perpustakaan, bahkan aku tidak tahu dimana aku saat ini.
Saat-saat seperti ini, aku berpikir andai saja aku punya asisten yang bersedia membantuku menjelaskan hal-hal umum disini.
Tapi itu tidak mungkin, dan aku juga punya masalah lain yang harus diurus saat menginjakkan kaki di dunia manusia.
Benar, itu adalah masalah kedua dan paling utama seharusnya. Bahasa.
Setelah aku memasuki pemukiman, aku diam-diam berjalan tanpa menunjukkan keberadaanku.
Bukannya aku introvert parah, tapi ini untuk observasi. Mencari data-data mengenai berbagai kosa kata, pengucapan, dan gaya bahasa. Sehingga aku bisa menganalisisnya dan menguasai bahasa mereka.
__ADS_1
Meski aku harus mengakuinya, aku tidak ingin bertemu atau bertatap muka dengan orang lain.
Tapi tetap saja, aku bukan introvert parah.
Dalam hal bahasa, pastinya sekarang bahasa sudah berubah. Tapi untungnya, dengan kecerdasan, kecepatan pemikiran, dan daya ingat vampir yang tinggi. Aku bisa menguasai bahasa asing hanya beberapa menit setelah aku mendengarkan berbagai percakapan dan menganalisisnya.
Ada juga teknik sihir yang mampu menerjemahkan dan membuatnya bisa berbicara dalam semua bahasa, seperti [Transliterate]. Teknik ini biasa digunakan orang-orang dari ras gelap sepertiku, untuk bisa berbicara dengan manusia, atau sebaliknya. Karena perbedaan bahasa antara kedua ras yang digunakan.
Tapi [Transliterate] menggunakan sihir sebagai katalis bahasa. Jadi penguasaan bahasa asing secara alami tidak diperoleh. Akibatnya, seseorang yang sebelumnya sangat mengandalkan [Transliterate] untuk berbicara atau menterjemahkan bahasa lain, tidak akan bisa bicara bahasa asing ataupun menterjemahkannya secara alami tanpa bantuan sihir.
Aku tidak butuh teknik sihir apapun untuk memahami bahasa asing. Karena hanya dengan kepalaku, itu sudah cukup untuk mempelajari bahasa asing dengan cepat. Dan dengan itu, kosa kata dan ilmu kebahasaan asing bisa terekam di otakku.
Setelah masalah bahasa selesai, masalah terakhir adalah masalah uang. Sebagai vampir yang akan berbaur dengan masyarakat manusia. Aku perlu uang dan mengetahui nilainya. Meski aku bisa hidup tanpa makan atau minum darah, tapi aku perlu uang untuk memuaskan hasrat. Bagaimanapun juga, aku ingin makan ketika aku ingin dan aku butuh rumah untuk tempat tinggal. Jadi keinginan untuk makan sesuatu dan kebutuhan selain non pangan pastinya diperlukan. Dan semua butuh uang.
Untung saja aku punya banyak perhiasan yang kusimpan sejak lama. Seperti aksesori dari berlian, emas, dan berbagai permata. Di bawah gunung juga banyak hal seperti itu, jadi itu akan sangat nyaman.
Ketika semua persiapan selesai, ayo pergi untuk mencari rumah yang dijual.
Tapi aku masih belum mengetahui akal sehat dunia modern ini. Lebih baik saat ini aku mencari saja tanah yang kosong, yang jauh dari manusia sampai aku berhasil memperoleh akal sehat dunia baru ini.
Tidak ada pilihan lain, huh. Tapi mau bagaimana lagi, bukan?
Ketika menelusuri hutan di dekat pemukiman desa tertentu, ada rumah kosong yang sedikit berantakan. Rumahnya masih kokoh dan layak huni, tetapi seperti sudah lama ditinggalkan, bagian dalamnya sangat berantakan. Jika dibersihkan pasti akan memakan waktu normal setengah hari.
Benar, masalah ini adalah keberadaan monster. Monster terlahir karena emosi negatif atau energi gelap yang kemudian terdegenerasi dan terintegrasi dengan energi sihir menjadi suatu kehidupan sihir. Sihir sendiri yaitu, energi yang selalu ada berdampingan dengan energi alam. Gampangnya energi sihir ada karena fenomena imajiner, sedangkan energi alam adalah energi dari fenomena alam yang bersifat fisik atau nyata. Kelahiran monster juga merupakan fenomena imajiner. Jadi itulah mengapa hanya pengguna sihir atau mereka yang sudah belajar sihir yang bisa melihat monster. Sedangkan mereka yang tidak bisa, akan menganggap fenomena aneh akibat ulah monster sebagai kecelakaan, kebetulan, atau juga keberadaan aneh yang disebut ‘Hantu’.
Tapi istilah ‘Hantu’ hanya berlaku untuk masyarakat dunia ini. Alicia yang masih kurang informasi tidak mengatahui istilah ‘Hantu’. Jadi untuk saat ini, Alicia hanya menggunakan istilah moster atau keberadaan asing yang tidak pada tempatnya
Meski kroco, monster ini tetap bisa menakuti orang-orang dengan kejadian abnormal di sekitar. Tapi karena ukurannya yang kecil dan lemah membuatnya tetap tidak membahayakan manusia. Ras gelap seperti vampir adalah hal alami tentang sihir, jadi mudah untuk melihatnya. Tapi untuk manusia, mereka harus melewati banyak proses untuk menjadi mahir dalam sihir. Oleh karena itu penggunanya sedikit, kebanyakan manusia zaman dahulu memilih pedang sebagai senjata mereka.
“Benar juga, ngomong-ngomong aku belum melihat pengguna sihir dan ras gelap. Bahkan keberadaannya tidak ada yang bisa aku rasakan di sekitar sini.”
Zaman dahulu, wajar jika ada banyak pengguna sihir dimana-mana, entah itu dari ras gelap maupun terang seperti manusia, aku bisa merasakan keberadaan mereka hingga berpuluh-puluh kilometer dengan persepsi sihirku . Tetapi kedua hal tersebut sekarang tak bisa kurasakan, bahkan setelah berkeliling ke banyak pemukiman.
“Ya, sudahlah. Keberadaan mereka juga tak terlalu penting bagiku. Aku hanya akan hidup seperti biasa.”
Benar, aku lupa menjelaskan, di dunia ini, tepatnya di zaman dahulu ada dua ras utama, mereka adalah ras gelap dan terang. Ras gelap terdiri dari vampir dan iblis, sedangkan ras terang adalah ras manusia. Dinamakan gelap karena ras gelap pada dasarnya lahir dari energi kegelapan dan mereka lebih aktif menjalani kehidupan di tempat gelap. Bahkan adanya cahaya bisa menjadi suatu kelemahan bagi mereka. Tapi bukan berarti semua lemah terhadap cahaya. Jika ras gelap yang sudah terbiasa dengan cahaya, mereka akan mendapat kekebalan terhadap cahaya atau energi terang.
Sedangkan ras terang lahir akibat pengaruh energi terang seperti cahaya matahari. Tanpa energi dari cahaya matahari, ras terang seperti manusia tidak akan bisa hidup damai dan mereka akan selalu menderita dalam ketakutan. Oleh karena itu, manusia selalu menghentikan aktivitasnya ketika cahaya menghilang.
Dalam hal penguasaan sihir, ras gelap lebih mudah dalam penguasaan sihir, terutama sihir kegelapan sebagai sihir karakteristik ras karena energi gelap dan energi sihir sama-sama berasal dari fenomena imajiner. Sedangkan ras terang seperti manusia, harus butuh banyak usaha untuk beradaptasi pada lingkungan yang keras hanya demi bisa menguasai sihir, setidaknya sihir cahaya, sihir ras mereka. Karena energi sihir sifatnya berkebalikan dengan energi terang yang merupakan fenomena fisik atau nyata.
__ADS_1
Sejak zaman dahulu kedua ras suka berkonflik, seperti perang yang tidak berguna dan membuang-buang waktu. Oleh karenanya aku selalu menjauhkan diri dari mereka.
Buang-buang waktu jika ikut campur masalah mereka. Lagipula jika aku bergabung, hanya karena aku tidak ingin dikucilkan. Itu akan menjadi pembantaian satu pihak. Itulah sebabnya aku ditakuti dan tidak ada yang mau mendekatiku. Oleh karenanya aku memutuskan mengurung diri dan tertidur lama, menunggu semua orang melupakanku dan hidup membaur dengan lingkungan baru. Hingga saat ini 5000 tahun akhirnya aku terbangun.
....
“Kroco-kroco ini sangat mengganggu. HILANGLAH!!!”
Dalam sekejap, semua hal-hal kecil yang menjijikkan, gelap, dan merusak akhirnya hilang, tak bersisa apa pun. Apa yang aku gunakan untuk menghilangkan mereka hanyalah sihir sederhana mirip cahaya, mungkin itu yang disebut sebagai [Purification].
Meski sebenarnya sihir cahaya seperti [Purification] bukanlah keahlian ras gelap seperti vampir atau iblis, tetapi sihir yang cenderung dikuasai oleh ras terang atau manusia. Kebanyakan pengguna sihir ini di zaman dulu bertempat di gereja-gereja. Mengabdikan diri atas nama Dewa, yang entah sebenarnya keberadaan Dewa ada atau tidak.
Lalu kenapa aku bisa menggunakan sihir cahaya?
Tentu karena aku belajar untuk bisa menggunakannya, kan?
Asalkan mau berusaha pasti hasil bisa didapatkan. Bukankah itu adalah hukum konkret yang sudah mendunia?
Pada dasarnya sumber sihir sama, yaitu dari energi sihir di alam ini. Manusia memang lebih cocok dengan sihir cahaya dan ras gelap seperti vampir dan iblis adalah sihir gelap. Tapi asalkan seseorang tahu konsep bagaimana sihir bekerja. Dengan memanfaatkan energi sihir kita bisa menyesuaikan penggunaan konversi sihir sesuai apa yang sudah dipelajari.
[Purification] yang baru aku gunakan adalah penggunaan unsur cahaya yang lebih kuat untuk meniadakan unsur gelap dari monster. Asalkan cahaya yang aku gunakan lebih besar untuk bisa menutupi semua unsur gelap monster, maka unsur gelap atau monster itu sendiri akan secara alami hilang. Ini sama seperti kita menyalakan lampu di suatu ruangan gelap. Semakin kuat intensitas cahaya, semakin baik itu mengusir unsur gelap. Sebaliknya juga sama, di zaman dahulu ras gelap dan terang saling berperang dengan mengadu kuatan mana antara cahaya yang dihasilkan oleh ras terang seperti manusia atau kegelapan yang ditimbulkan ras gelap seperti vampir dan iblis. Bukan berarti, hanya sihir gelap dan sihir cahaya yang ditunjukkan, hanya saja kedua sihir tersebutlah yang merupakan kelemahan dari masing-masing ras lawan.
Manusia takut pada kegelapan, sedangkan vampir dan iblis lemah terhadap cahaya. Itu adalah hukum alam yang tak bisa dibantah. Tapi bukannya itu absolut. Semakin lama di antara mereka membiasakan diri dengan lingkungan baru, meski menyakitkan. Asalkan mereka bertahan selama beberapa puluh tahun, kelemahan itu akan hilang sendirinya.
“Yah, itu tak penting saat ini. Sekarang jauh lebih penting, bagaimana aku bisa membersihkan semua rumah ini?”
Rumah ini sangat berantakan, berdebu, dan banyak sarang laba-laba di sekitar. Sangat malas untuk membersihkan semuanya.
“Untuk saat ini, lebih baik aku bersihkan dulu bagian kamar. Tempat utama untuk diriku sendiri.”
Dengan begitu, aku mencari sebuah ruangan dan mulai membersihkan bagian dalamnya dengan sabar.
Melihat ke dalam, itu penuh dengan barang-barang rusak. Tak tahan melihatnya, aku putuskan untuk menghancurkan mereka semua menjadi butir-butir debu dan membuangnya dengan sihir angin keluar jendela. Hingga akhirnya ruangan menjadi kosong sepenuhnya.
“Uhuk-uhuk, sangat berdebu. Huff.”
Meski hanya tindakan ekspresif, aku sangat risih dengan banyak debu yang berterbangan. Debu sangat bandel meski sudah aku arahkan dengan angin untuk keluar jendela. Karena pergerakan debu itu tak beraturan, sungguh merepotkan.
“Setelah ini, mungkin belanja bagus, berarti aku harus ke kota yang lebih besar dari pemukiman yang tampak seperti desa ini. Karena aku harus mencari seorang pedagang yang mau membeli barang-barangku. Di zaman sekarang, bagaimana pedagang beroperasi ya?”
Kemudian aku kembali ke gunung, tempat aku tidur untuk mengambil beberapa perhiasan yang kemungkinan bisa aku tukarkan menjadi uang banyak.
__ADS_1
*****