
“Hey, kau sudah dengar? Baru-baru ini kudengar ada penghuni misterius di rumah hantu itu.”
“Eh, rumah hantu pinggir sawah itu?”
“Tepat, aku belum pernah liat. Tapi, banyak ibu-ibu yang membicarakannya.”
“Seperti apa penghuni itu?”
“Hmm, aku dengar dia gadis muda dan cantik. Dari rumor, sepertinya dia terlihat seperti bukan orang sini. Orang asing atau turis, mungkin?”
“Tapi ini hanya sebuah desa, bukan tempat wisata. Seharusnya tak ada hal menarik di sekitar sini.”
“Memang, karena itulah aneh. Orang-orang banyak yang mengatakan dia kabur dari rumah.”
“Kabur dari rumah?”
“Iya, kata orang-orang yang melihatnya. Pakaiannya rapi dan bagus, jadi pasti anak orang kaya. Oleh sebab itu aneh, bukan? Jika gadis itu memutuskan tinggal di rumah hantu itu dan di desa ini yang kurang terkenal. Pasti dia kesini untuk bersembunyi.”
“Hmm, masuk akal. Tapi anehnya apakah dia berani tinggal di sana? Maksudku di rumah itu, kan?”
“Iya, aku juga bingung. Orang-orang sini bahkan takut memasuki rumah itu.”
“Apakah gadis itu tak tahu kalau rumah itu berhantu?”
“Hm, mungkin sih. Dia orang asing disini, jadi pasti dia asal masuk ketika menemukan rumah kosong yang layak untuk bersembunyi.”
“Hiii, aku jadi kasihan dengannya.”
Setelah sekolah usai, Karin dan Aki pulang bersama.
Hal ini sudah menjadi rutinitas mereka, karena selain rumah mereka berdekatan, mereka juga teman masa kecil. Dari TK hingga SMA mereka selalu bersama. Sekarang meski kelas berbeda, sekolah mereka sama. Di SMA Karin berada di kelas 11-A dan Aki di kelas 11-B.
Selain ketika jam belajar, mereka akan bergabung lagi ketika sudah masuk jam istirahat atau makan siang.
Sungguh mereka adalah apa yang disebut sebagai sahabat sejati.
“Oh, iya. Apakah kau sudah menemukan tempat untuk kerja paruh waktu, Aki? Dulu kau bilang ingin sekolah sambil bekerja, bukan?”
“Iya, tapi belum ada yang mau menerimaku.”
“Benar juga sih, disini jarang yang mau menerima siswa SMA sebagai pekerja mereka, apalagi perempuan.”
“Aku tahu itu sih, perempuan sama sekali tak diterima dengan pekerjaan fisik. Pekerjaan lainnya, ketika tak berhubungan dengan fisik syarat kualifikasinya adalah lulus SMA. Ribet sekali pengaturannya, huff.”
“Sudah-sudah, berarti itu tinggal menunggu satu tahun lagi agar kamu bisa bekerja. Lagipula ini adalah desa, tak banyak perusahaan-perusahaan komersial yang membutuhkan pegawai anak SMA. Kebanyakan pekerjaan yang bisa didapat disini hanya pekerjaan kasar, dan itu sama sekali tak cocok untukmu. Tinggal sabar dan menunggu saja.”
“Huh, memang benar sih, tapi aku harus segera menemukan pekerjaan untuk membiayai sekolahku. Tak ada artinya jika aku mendapat pekerjaan setelah aku lulus sekolah.”
“Benar juga sih. Yahhh, tenang saja. Aku juga ikut membantu, aku akan ikut mencarikan ide agar kamu bisa dapat pekerjaan paruh waktu.”
“Em, terima kasih Karin-chan.”
Setelah sampai rumah, mereka masuk ke rumahnya masing-masing dan melanjutkan kesibukan mereka sendiri-sendiri.
Saat Aki di rumah. Dia melihat kotak bekal makan siang di meja. Di sana tertulis ‘untuk ayah’.
“Ayah pasti lupa membawa bekalnya ke sawah.”
Aki selalu tinggal sendirian dengan ayahnya sejak kecil. Ibunya meninggal tak lama setelah melahirkan Aki. Jadi Aki hanya tahu wajah ibu dari foto peninggalan ayah. Oleh sebab itulah, Aki mengambil peran ibu rumah tangga sedangkan ayahnya bekerja sebagai petani di sawah desa. Tak salah jika dibilang mereka ini miskin. Untuk itulah Aki mencari pekerjaan paruh waktu semasa SMA. Tapi rencana itu tak semulus yang dikira.
“Sekarang sudah lewat jam dua siang, mungkin ayah sudah kelaparan. Aku harus segera mengantarkannya.”
Terburu-buru, tanpa ganti pakaian, Aki langsung pergi ke tempat ayahnya setelah meninggalkan tasnya. Lokasi sawah tak jauh dari rumahnya, tapi karena harus memutar sungai terlebih dahulu untuk bisa menyeberanginya. Perkiraan jarak menjadi 1 kilometer. Jadi butuh 15 menit untuk sampai di sana dengan berlari. Untuk sampai sana juga perlu untuk melewati rumah hantu yang dirumorkan itu. Tapi karena pikiran Aki sedang fokus mengantarkan bekal secepatnya, dia tak menyadari jika sudah melewatinya.
Ketika sampai sawah dia melihat-lihat sekeliling, mencari keberadaan ayahnya. Kemudian matanya berhenti ketika menemukan sosok kekar sedang duduk di bawah pohon kelapa di pinggiran sawah. Mengipasi dirinya dengan tudung untuk menghilangkan penat dan keringat. Aki yang tahu siapa itu segera menghampirinya.
“Ayahhh!!!”
__ADS_1
“Hmm? Ah, Aki ya. Ada apa kesini, panas-panas begini, lho.”
“Ayah lupa membawa bekal, kan? Karena itulah saya kesini. Ini bekalnya dan juga minumnya.”
“Ah, terima kasih Aki-chan. Kau memang putri terbaik.”
“Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugasku untuk merawat ayah. Ayah pasti lelah, kan.”
Melihat putrinya perhatian kepada satu-satunya orang tuanya. Sang ayah menunjukkan senyum bahagia terhadap kebaikan putrinya.
“....Kau sudah makan? Kau juga terlihat kelelahan.”
“Yah, karena aku tadi berlari untuk kesini. Mungkin aku akan istirahat sebentar disini.”
Kemudian, kedua pasangan ayah dan putrinya menghabiskan waktu dengan makan sambil mengobrol kesana-kesini. Hingga tanpa disadari dua jam telah berlalu.
“Ah, sudah jam segini? Kamu pulanglah dulu Aki, masih ada hal yang perlu ayah bereskan disini.”
“Ya, ayah juga jangan kelamaan. Nanti makan malam keburu dingin.”
“Siap.”
Dengan bercanda sosok ayah menjawab dengan tegas sambil meletakkan tangan di keningnya, tanda hormat.
“Dah, ayah.”
Tersenyum dengan ayahnya, Aki pergi meninggalkan ayahnya dengan lambaian tangan. Ayahnya pun membalas dengan lambaian juga.
Setelah menyebrangi sungai, di kanan kiri jalan hanya dipenuhi pohon. Membuat suasana menjadi lebih gelap.
“Ah, aku terlalu lama dengan ayah. Sampai lupa dengan hal itu.”
Itu yang dimaksud Aki tentunya rumah hantu. Semakin sore hari, semakin sepi orang yang mungkin berjalan lewat sini. Suasana mencekam sekarang melanda tubuh Aki, membuat punggungnya merinding.
“Kalau tahu begini, tadi harusnya pulang bareng ayah saja. Tapi sudah terlanjur jauh. Hii, mau bagaimana lagi, berlari saja. Semoga bisa cepat sampai rumah.”
Tanpa menoleh, Aki yang hampir memejamkan matanya karena takut, terus berlari melewati sebuah rumah tua yang dirumorkan berhantu itu.
Tapi, hal yang tak diduga terjadi.
Saat berlari, Aki berakhir memejamkan mata karena takut. Hingga tanpa melihat ke depan dia tersandung akan sesuatu.
BUKK
Sesuatu itu mengganjal kakinya begitu kuat sehingga Aki kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
“Adu~uhhh, sakit~”
Dengan siku dan lutut lecet dan berdarah, Aki hampir menangis karena kesakitan. Apalagi saat ini dia masih di depan rumah berhantu itu.
Tapi seperti jatuh tertimpa tangga dua kali, kemalangan Aki belum berakhir sampai situ.
SHHHSSS SHHHSSS
Kali ini adalah suara mendesis datang dari tempat Aki tersandung tadi.
Ketika Aki melihat ke arah sumber suara. Segera wajahnya pucat. Ekspresi yang tadinya kesakitan sekarang bercampur ketakutan menjadi suatu ekspresi yang tak terlukiskan.
“Hiiiiii. Ular, ular! Ayahhh~ tolooong aku~. Hiks.” Sambil menangis ketakutan, Aki yang masih terduduk di tanah, memaksa tubuh untuk mundur menjauhi moncong ular yang menjadi liar.
Dari penampilannya, ular itu sangat besar. Diameternya lebih besar dari paha kekar ayahnya dan panjangnya kemungkinan 8-10 meter. Kepalanya yang seperti sendok, berdiri menghadap Aki, siap mematoknya kapan saja.
Dengan penampilan ular seperti itu, dengan jarak kurang dari dua meter. Siapapun bakalan takut dengannya, termasuk Aki yang sejak awal sudah takut dengan ular, meski ular kecil sekalipun.
SRET SRET SRET
Tak ada kekuatan untuk berdiri, Aki hanya menyeret tubuhnya dengan gemetar. Wajah menangisnya sudah terdistorsi tak karuan. Di tempat seperti ini, jauh dari pemukiman desa, tak ada siapapun yang lewat. Meski berharap pertolongan pun, tak ada orang di sekitar Aki.
__ADS_1
Tanpa harapan lagi, Aki hanya menangis putus asa.
Hingga telinganya menangkap secercah harapan.
“Sudah tidak ada apa-apa sekarang. Jadi kamu bisa tenang.”
Dengan pandangan yang masih kabur, Aki mendengar suara nyaring dan lembut. Tak jelas siapa karena mata Aki saat ini tertutup air mata. Meski begitu, suara itu adalah sumber harapan baginya.
Bagaikan suara surga yang turun dari langit.
Pikiran seperti itu terkadang melintas di benak Aki, karena dari suara yang lembut dan nyaringnya memberikan perasaan aman dan keselamatan.
Tapi bagaimanapun juga, Aki masih bisa merasakan sakit di siku dan lututnya, jadi itu pasti bukan ilusi.
Segera Aki menghapus air matanya. Matanya yang masih merah akibat menangis deras membuatnya tak bisa melihat jelas untuk sementara.
“Kamu ~hug~ siapa?” Dengan cegukan Aki bertanya kepada sumber suara pemberi harapan. Yang masih belum terlihat jelas sosoknya.
“Hm, Namaku Alicia, aku hanya orang biasa yang sedang lewat.” Sambil berpikir sosok itu menjawab dengan jari telunjuk menempel di dagunya.
“Daripada itu apakah kamu sudah tenang? Kamu terlihat cukup kesakitan di beberapa bagian. Sini biar aku rawat lukanya.” Lanjutnya.
“Eh?”
Sambil mengatakan itu Alicia itu mendekatinya, lalu dengan penglihatan yang masih buram. Aki melihat cahaya terang muncul dari suatu tempat, seperti senter menyoroti matanya. Dengan refleks Aki menutup matanya karena silau cahaya.
Kemudian dengan perasaan aneh, Aki kembali tenang dan semua rasa sakitnya menghilang. Ketika Aki membuka matanya kembali, penglihatan juga sudah kembali normal. Sehingga sosok yang menjadi harapan sebelumnya, Alicia, kini menjadi jelas di matanya.
Tertegun, dia adalah sosok yang cantik nan imut. Usianya kurang lebih sama atau lebih muda dari Aki. Dengan rambut kelabu dan mata merah cerah, membuat penampilannya semakin cantik dan elegan. Sangat layak jika disebut malaikat.
Dia memakai dress hitam dengan renda-renda putih melingkarinya. Pakaian itu bukanlah pakaian yang biasa di sekitar sini. Tapi dengan pakaian itu ditambah senyum cantiknya membuat dirinya memancarkan aura keanggunan dari gadis bangsawan. Semua penampilan itu ditambah kulit pucatnya membuat dia terlihat seperti boneka hidup.
‘Indah sekali....’ Hanya kata itu yang bisa menggambarkan keindahannya.
“Apakah ada yang salah?”
Karena terpesona oleh sosoknya, Aki malah menatapnya terlalu lama.
“Ah, tidak. Maafkan saya. Anu, terima kasih sudah menyelamatkan saya.”
Setelah terkejut, Aki segera berdiri dan membungkuk untuk berterima kasih kepadanya.
“Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Daripada itu, karena hari sudah semakin gelap, mau istirahat dulu di rumahku atau mau langsung pulang?”
Seolah ada listrik yang menyengat otaknya, Aki langsung ingat sesuatu.
“Oh, iya. Makan malam.” Sentaknya.
“Maaf, tapi terima kasih tawarannya. Saya harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam untuk ayah saya, yang mungkin akan segera pulang.”
“Begitukah? Mau aku antarkan?”
“Tidak, tidak perlu. Lagipula rumah saya sudah dekat.”
“Ya sudah kalau begitu, yang penting hati-hati saat pulang.”
“Iya. Sekali lagi terima kasih telah menyelamatkan. Saya akan berkunjung lagi untuk berterima kasih dengan benar, besok. Saya permisi kalau begitu."
Dengan membungkukkan kepala sekali lagi, Aki segera meninggalkan Alicia dan pulang menuju rumahnya.
Sementara itu, Alicia masih menatap gadis itu dari kejauhan.
“Oh, ya. Aku belum menanyakan namanya. Yah, besok saja deh.”
Alicia bergumam, kemudian berbalik menuju rumahnya yang tua.
***
__ADS_1