Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia

Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia
Perpustakaan 3


__ADS_3

“Apa buku yang sedang kau baca, Alicia?”


Setelah aku memilih buku bacaan dan duduk di meja yang sama dengan Aki dan Karin, untuk membacanya dengan hening. Karin memecah keheningan tersebut setelah beberapa saat.


“Oh, ini.......Menjelaskan prinsip pesawat terbang.”


Aku memberitahunya sambil mengangkat buku yang aku pegang untuk menunjukkan sampul depannya.


“Heeee, itu sesuatu yang cukup....berat, bukan?”


“Tidak, aku hanya penasaran bagaimana mereka dibuat.” Aku memang penasaran terutama detail yang membuatnya bisa terbang.


Ternyata itu sangat simpel, hanya mengotak-atik sedemikian rupa hingga gaya angkat bisa melebihi atau menyamai gaya tarikan gravitasi.


Hanya memanfaatkan gaya yang diberikan udara yang mengalir melalui sayap-sayapnya akibat perbedaan tekanan, ternyata bisa memberikan gaya angkat. Dan dengan menambah kecepatan, bisa menambah besar gayanya.


“Alicia, kau membaca yang seperti itu, dan kau malah mengatakan tidak butuh sekolah beberapa waktu yang lalu.” Aki yang mendengar percakapan bergabung, mengangkat kepalanya dari buku dan menatapku.


“Eh! Kau tidak bersekolah, Alicia?” Karin malah sepertinya terkejut dengan pengakuan ini.


“Yah, karena aku merasa tidak perlu. Jika aku ingin mencari tahu beberapa hal. Aku tinggal datang ke perpustakaan mencarinya.”


“Tapi, bukankah sekolah itu wajib.”


Apakah sekolah memang wajib? Jika Karin mengatakan seperti itu, mungkin memang benar. Tapi meski dikatakan wajib sekalipun, aku masih memiliki banyak masalah di sisiku, tahu.


Ingin sekali kukeluarkan kalimat itu, tapi untungnya berhasil aku tahan.


“Katakan lebih banyak, Karin. Dia sepertinya sangat keras kepala. Jadi bisakah kau menceramahinya dengan tegas?” Aki sekarang benar-benar masuk ke mode ibu, seperti menyuruh suaminya untuk memarahi anaknya yang nakal.


“Bagaimana pendapat orang tuamu. Apakah orang tuamu tahu.”


“Tidak ada masalah dengan orang tuaku. Aku hanya ingin hidup bebas.” Aku menjawab pertanyaan Karin dengan lugas.


“Aku masih penasaran bagaimana orang tuamu membiarkan putrinya berkeliaran bebas dan hidup di rumah tua itu daripada di kota atau tempat-tempat yang layak setidaknya, meski memiliki banyak uang di tangan.”


Yah, aku benar-benar tidak pernah memberitahukan kondisi keluargaku kepada Aki, terutama Karin. Wajar jika mereka penasaran.


“Untuk saat ini aku tidak akan berkomentar apapun. Mohon maaf, tolong jangan bicara lagi padaku.”


"Benar-benar. Tidak baik menyelam terlalu dalam pada masalah orang lain."


Hasebe-san yang entah muncul darimana datang membelaku, sambil melanjutkan langkahnya ke rak buku terdekat kami.


"......."


"......."


“I,itu benar......maafkan aku, Alicia.”


“Aku juga.”


“Tidak perlu dipikirkan.”


Sepertinya mereka sudah sadar bahwa ini akan menjadi topik yang dirasa menjadi topik sensitif untukku. Mereka dengan menyerah kembali ke buku bacaan mereka.


....


Setelah mungkin waktu sudah melewati satu jam. Karin menutup bukunya.


“Sepertinya sudah waktunya untukku pulang, sudah setengah enam. Adikku pasti juga sudah pulang.”


“Begitukah?”


“Ah, Karin memang mengatakan dia harus pulang untuk menjaga adiknya, bukan?” Aku sedikit ingat.


“Iya, Alicia. Maaf untuk waktu singkatnya. Tapi aku senang bisa belajar bersamamu. Sampai jumpa besok.”


“Tidak apa-apa. Senang juga bersamamu. Sampai jumpa.”


Semua salam yang aku lakukan, meski tak tahu artinya aku tetap mengatakannya. Karena seperti inilah manusia bekerja.


Untuk setidaknya.


“Oke. Aku pergi dulu ya, Aki. Bye-Bye.”


“Okay, Karin-chan juga hati-hati di jalan.”


Dengan begitu, Karin pergi keluar, menyisakan kami berdua disini.


“Apakah kita juga harus pulang?”


Alicia memberikan penawaran untukku. Menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


Memang benar kita sudah menghabiskan dua jam disini. Anak-anak lain juga sudah pergi, jadi sangat sepi disini.


Tapi masalahnya aku belum selesai baca.


“Jika kau mau lanjut baca. Kau bisa meminjamnya saja untuk dibawa pulang.”


Tawaran menarik. Sepertinya Aki bisa melihat menembusku. Atau itu memang terpampang jelas di wajahku?


Lupakan, saat ini frasanya sangat penting.


“Apakah boleh?” Aku bertanya memastikan.


“Mungkin?”


“Hmm, kenapa jadi ragu-ragu?”

__ADS_1


“Yah, aku tak pernah meminjam buku. Hanya dengar dari orang-orang kalau kau bisa meminjam buku di perpustakaan. Coba aku tanyakan pada Hasebe.”


....


Aku bangkit dan mengikuti Aki menuju tempat Hasebe duduk.


“Jika kau ingin meminjam, kau bisa gunakan kartu siswa jika kau seorang siswa. Jika orang luar bisa mengunakan kartu identitas manapun. Tapi hanya khusus orang yang tinggal di wilayah ini.”


“Begitu, katanya, Alicia. Kau bisa meminjamnya dengan hanya kartu identitas saja.”


Gawat.


Kartu identitas?


Apakah seperti kartu yang menunjukkan siapa diri Anda?


Aku tidak mempunyai hal-hal seperti itu.


Tidak punya pilihan lain selain menyerah sekarang.


“Tidak perlu. Aku akan kesini saja setiap sore untuk melanjutkan membaca.”


“Begitukah?” Aki sepertinya bingung dengan perubahan antusiasku tadi.


“Ah, perlu diingat. Perpustakaan tutup juga jika sekolah libur. Jadi maaf, tak bisa berkunjung.” Hasebe-san, menambahkan.


“Tidak apa-apa.”


Mau bagaimana lagi, jika seperti itu aku akan mengikuti aturan.


Tapi, aturan?


Vampir tidak memiliki aturan.


Jadi, apakah tidak apa-apa jika aku menyelinap masuk?


Tidak.


Aku sudah bertekad menjalani hidup layaknya manusia.


Tetapi sesekali tidak masalah, kan?


Lagi pula aku tidak merusak.


Hanya membacanya saja.


Oke, sekali ini saja, aku akan bertindak seperti vampir biasa.


Masalah pencahayaan juga ada solusinya.


Mataku. Maksudku mata vampir adalah mata khusus yang bisa melihat dalam kegelapan. Kami ras gelap, vampir dan iblis memiliki mata yang bisa melihat dalam kegelapan, karena kita juga esensi kegelapan. Jadi hidup dalam kegelapan adalah kehidupan biasa dari ras gelap.


Lagi pula sekarang tak ada penyihir tingkat tinggi, bukan?


Meski ada itu, apa namanya?


Emm, ah. Magical Girl, kan.


Meski ada Magical Girl. Mereka hanyalah penyihir yang levelnya paling tinggi hanyalah level menengah. Jika ada level yang lebih tinggi, itu pasti bosnya.


Melihat adanya peralatan sihir yang menerapkan sihir tingkat tinggi. Pasti hanya dia sajalah penyihir tingkat tinggi.


Meskipun ada penyihir tingkat tinggi. Aku tidak merasakannya dari sini. Jadi pasti jaraknya jauh. Dan aku tak perlu khawatir akan ketahuan disini.


Melacak lokasiku saja tak mudah. Karena untuk bisa melihatku yang berada dalam mode menghilang, dibutuhkan mata sihir yang spesifikasinya sangat tinggi. Dan setahuku hanya satu orang selama ini. Meski dia masih hidup pun. Aku tak merasakan hawa keberadaannya di wilayah ini.


Jadi jika selain dia, orang yang bisa melihatku pasti akan aku sambut dengan hangat.


Tapi sepertinya aku tak perlu khawatir tentang itu.


Fufu. Lagi pula ini zaman kedamaian. Zaman dimana tak ada pengetahuan sihir tingkat lanjut, keberadaan ras gelap murni yang menghilang, sekarang hanya ada ras campuran sejauh yang aku rasakan.


Jadi akan sangat aman aku pergi keluar jalan-jalan saat malam. Sudah lama aku tak keluar malam-malam, bukan.


“Alicia, Alicia? A-li-ci-a!!!!”


HYAAA


Sesuatu yang menyentuh bahuku tiba-tiba mengejutkanku.


“Alicia?”


“Y-ya?”


“Kau dipanggil dari tadi tak menjawab.”


Ups, aku hampir saja mengeluarkan pertahanan otomatis.


Aku terlalu larut dalam pikiran. Sampai-sampai lupa sekitar. Jika Aki yang menyentuhku terkena sihirku akibat pertahanan otomatis teraktifkan, dia bisa menjadi debu.


Meski aku bisa menyembuhkanya, itu tetap akan menimbulkan kepanikan.


“Maafkan aku. Aku terlalu banyak pikiran.”


“Tidak apa-apa. Apakah ada masalah. Kau membuat wajah aneh saat itu.”


“Tidak apa-apa. Itu bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”


“...Apakah begitu?” Aki tetap menunjukkan wajah khawatirnya.

__ADS_1


“Daripada itu, ayo segera pulang. Aku sudah sedikit lapar.”


Saat kami keluar dari sekolah, jumlah siswa sudah berkurang drastis. Beberapa masih ada disana, melakukan hal-hal aneh.


“Apa yang mereka lakukan disana? Mengapa mereka belum pada pulang?”


“Ah, mereka sedang ada aktivitas klub.”


“Klub?”


“Etto, klub adalah aktivitas yang biasa siswa ikuti setelah pulang sekolah. Ada banyak klub, masing-masing ada yang dari olahraga, kesenian, musik, dan lain-lain.”


“Lalu kegiatan apa itu?”


Apa yang aku lihat adalah beberapa anak yang terlihat melakukan beberapa gerakan memukul dengan tongkat yang ujungnya malah membulat.


“Itu, itu disebut tenis lapangan. Apakah Alicia tak tahu itu?”


Wajahnya menunjukkan bahwa itu adalah kegiatan yang pasti sudah dikenali oleh semua orang. Sangat aneh bagiku untuk tidak mengetahui itu.


“Y,yah karena aku tak pernah melihatnya? Karena aku jarang ke dunia luar.”


“Begitukah, aneh sekali melihat orang tak tahu tenis lapangan......Mungkinkah Alicia benar-benar kabur dari rumah karena alasan itu. Aku sepertinya bisa memahami arti dibalik keinginanmu yang mengatakan ingin hidup bebas.......Oke,....Tenang saja Alicia, Aki ini akan mendukungmu, sehingga kau bisa menjalani kehidupan sesuai keinginanmu.”


Sepertinya ini akan menjadi kesalahpahaman baru. Tapi biarlah.


“Te,terima kasih.”


Dengan kecanggungan itu, kami melangkah keluar gerbang dan pulang ke rumah.


Ngomong-ngomong, ini akan menjadi terlalu lama, bukan?


Jarak sekolah ke rumah bisa menjadi hampir dua kilometer. Akan lama jika berjalan kaki.


Ingin rasanya menggunakan teleportasi. Tapi itu akan melenceng dari jalan hidupku.


“Hei, Aki. Apakah tidak ada cara lain untuk sampai ke rumah dengan lebih cepat.”


Pasti ada alat transportasi seperti itu. Karena disini juga memiliki jalan untuk dilaluinya.


“Benar, juga. Aku dan Karin sudah terbiasa jalan kaki. Tapi jika untuk ke rumahmu, bisa meningkat dua kali lipat. Aku sendiri sih tak apa-apa. Tapi sepertinya tidak untuk, Alicia,ya.”


Kalau dipikir-pikir, Aki apakah selalu jalan kaki ke rumahku. Aku jadi sedikit tak enak untuknya terus berjalan kaki, bolak-balik ke rumah.


Dia benar-benar anak pekerja keras.


“Sebenarnya ada bus sekolah. Tapi masih harus menunggu setengah jam lagi sampai bus tiba di halte depan.”


Begitu, ya. Jika dipikir, jalan beraspal seperti ini tidak sampai ke rumah itu. Jadi setelah sampai di rumah Aki. Kita akan melanjutkan lagi dengan jalan kaki. Yang mungkin waktu perjalanan akan sama jika harus menunggu bus datang setengah jam lagi.


Mau bagaimana lagi.


“Hah. Jalan kaki saja tidak apa-apa.”


Aku harus penuh kesabaran berjalan kaki. Katanya sabar adalah cara menumbuhkan kesuksesan.


Jadi bagaimanapun, aku harus bisa berjalan sampai rumah. Sama seperti saat berangkat dengan penuh semangat.


Lagi pula, lama-lama nanti juga terbiasa dan vampir tak mengenal lelah. Hanya rasa malas saja.


Benar, sesuai perkataannya, sabar adalah cara menumbuhkan kesuksesan.


Jadi sedikit-demi sedikit aku berhasil sampai rumah.


Wajar jika aku tak merasa lelah, selain lelah mental.


Tapi Aki, sebagai manusia, benar-benar hebat. Dia tak menunjukkan kelelahan sama sekali.


“Kalau begitu, aku akan membuat makan malam. Silakan Alicia-san mandi terlebih dahulu.”


“Oke.”


Sudah menjadi rutinitas untuk mandi saat ini. Itu adalah hal biasa bagiku dan manusia untuk mandi. Meski kami, ras gelap tak perlu juga. Hanya saja mandi air hangat bisa memberikan kenikmatan pada tubuh.


Sebelumnya aku hanya mandi ketika aku merasa ingin mandi, sekarang menjadi dua kali sehari akibat bimbangan Aki. Tapi tak masalah, lagi pula aku juga menikmatinya.


Aktivitas biasa berlanjut sampai Aki selesai bekerja. Dia juga sepertinya sekalian membuatkan makanan untuk ayahnya disini.


Jadi tinggal dibungkus dan dibawa pulang.


Aku menyaksikan sosok Aki pergi saat langit sudah sepenuhnya memerah, berjalan di samping sosok kekar, yang diduga adalah ayahnya.


Aku akhir-akhir ini sedikit lupa jika Aki adalah anak penakut. Jadi sudah wajar jika dia pulang bersama ayahnya. Aku menduga mereka akan terus pulang bersama.


"Hm. Sungguh indah, bukan? Keakraban mereka selalu saja membuatku merasa iri."


"Huhhh. Sudahlah, daripada memikirkan bodoh seperti itu, lebih baik kembali ke rencana."


YAP


Kemudian setelah kedua sosok menghilang dalam balik hutan. Aku menutup pintu, menutup jendela, dan mematikan lampu.


Mengenakan gaun hitam seperti biasa. Aku pergi ke atap. Duduk di tepian cerobong asap. Menatap matahari lenyap, sambil menunggu malam yang senyap.


Hingga, muncullah suatu purnama, menandakan sudah tiba waktunya.


Sekarang, sudah waktunya untuk pesta, merayakan kembalinya sang penguasa, penguasa malam itulah namanya.


Tidak, maksudku kembali ke perpustakaan, melanjutkan membacanya.

__ADS_1


***


__ADS_2