
Sudah, satu minggu berlalu sejak aku mendapatkan Aki sebagai pelayan.
Sungguh, keberuntungan berada di pihakku, kan?
Sebenarnya, menjadikan Aki pelayan adalah sampingan, karena manfaat terbesar mendapatkan pelayan adalah aku secara otomatis mendapat kamus berjalan.
Tapi bukan berarti hal yang sampingan itu berada di samping. Malahan ini berada di rute bonus.
Bonus inilah yang bisa dikatakan sebagai tujuan kedua, mendapat makanan enak.
Dengan mendapat makanan enak. Sudah menjadi dua burung dengan satu batu. Malahan akhir-akhir ini bisa menjadi tiga burung, karena Aki secara sukarela membantu bersih-bersih rumah. Empat burung ketika Aki mau merawat rumput-rumput liar di halaman dan merapikannya. Mungkin saja bisa menjadi lima burung jika Aki mau membuatkan kebun bunga di halaman.
Tapi tidak perlu, aku benar-benar akan menjadi 'neet' jika aku terus-menerus dimanjakan.
Poin penting keberadaan Aki disini untuk menjadi kamus berjalan dalam kosa-kata akal sehat.
Aku masih awam dengan pengetahuan umum, jadi adanya Aki disini sangat membantu. Misalnya [Handphone] ini, bentuk kotak, kecil, dan bisa dipegang dengan tangan. Ketika aku menekan tombol di samping, layar tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang dipenuhi gambar berwarna. Ketika aku menyentuh ataupun menggeser layar dengan jari, gambar berubah. Katanya ini adalah benda untuk apa saja, seperti menghubungi orang lain, browsing, kirim pesan, memfoto atau merekam baik gambar maupun peristiwa, dan lain sebagainya. Sungguh teknologi yang maju.
Ini sangat bagus dan menarik, sebuah benda tanpa mengandalkan sihir, memiliki fungsi yang sama seperti beberapa teknik sihir yang dimuat dalam satu kotak kecil ini. Jika disamakan dengan teknik sihir, benda semacam ini memiliki kesamaan fungsi dengan teknik sihir tingkat tinggi, seperti [Telepathy], [Map Sense], [Remote Control], [Book of The World], dan lain-lain.
Sungguh, perkembangan manusia benar-benar manakjubkan.
Tapi banyak juga hal-hal yang kurang lengkap dalam kamus berjalanku ini. Tapi tak apa-apa, karena Aki juga manusia normal, dia tak tahu semua hal. Apalagi dengan kondisi ekonomi keluarganya, membuatnya sedikit kurang berwawasan tentang teknologi tinggi.
Meskipun demikian jika dibandingkan dengan diriku yang baru saja terjun ke dalam dunia modern, pengetahuan dia masih jauh lebih banyak dariku.
Dengan begitu, aku setidaknya bisa mendapatkan pengetahuan minimal yang diperlukan di dunia modern ini. Jadi tak perlu ada yang aku keluhkan.
“Oh, iya. Sepertinya ayahku akan datang nanti.”
Ada apa ini lamaran tiba-tiba?
“Eh, kenapa mendadak?”
“Apakah tidak boleh? Ayah mengatakannya juga tiba-tiba tadi saat berangkat kerja. Jadi kemungkinan nanti sore dia datang.”
Sekarang adalah hari Minggu, hari libur di sekolahnya Aki, jadi dia bisa datang berkunjung di pagi hari. Memberikan layanan cafe pagi.
“Bukannya tidak boleh sih. Hanya entah mengapa ada perasaan aneh menyelimuti diriku.”
Aku yang selalu sendirian dan dijauhi, tiba-tiba diberi proposal bahwa akan ada orang yang mau menemuiku. Entah mengapa seperti ada rasa yang tidak pada tempatnya.
“Apakah Alicia-san gugup? Tenang saja dia itu hanya ayahku. Jadi aku yakin tak ada masalah. Sepertinya dia hanya ingin mengucapkan terima kasih.”
Jadi begitu, apakah ini yang namanya kegugupan?
“...Terima kasih, untuk apa?”
“I,itu.....mungkin...karena, berterima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk bekerja disini. Mungkin.”
“Begitukah?.........Sepertinya tak ada masalah kalau begitu.”
Di hari yang panas ini dan juga saat musim panas ini, sepertinya wajar jika para petani bekerja di sawah menanam apa yang disebut sebagai padi. Dulu tanaman itu hanya dianggap seperti rumput liar, tetapi di zaman ini padi sudah dianggap makanan pokok oleh sebagian besar masyarakat.
Ayahnya pasti memiliki etos kerja yang tinggi sebagai manusia. Dia dengan rela terus berusaha keras dari pagi hingga sore demi putrinya ini. Aku jadi sedikit terharu dengan kisah perjuangannya.
Ayah dan anak sama-sama memiliki semangat kerja yang tinggi demi melewati hidup yang keras ini. Kisah hubungan ini sangat menyentuh perhatianku bahkan sejak zaman dulu. Ketika kasta sosial terbagi menjadi bangsawan dan rakyat jelata, hubungan sosial yang baik antara anggota keluarga biasa terjadi di kalangan rakyat jelata. Aku sering menjumpai hal semacam ini ketika dalam perjalanan. Bahkan ada yang mempunyai kisah tragis, dimana anak dari suatu keluarga miskin dua orang berjuang menjadi petualang demi mencari uang untuk membeli obat ibunya yang sakit-sakitan di rumah, meski dia hanya berusia tujuh tahun.
Tidak seperti zaman perdamaian ini, dulu banyak anak-anak yang terlantar dan banyak juga mengabaikannya dan mencemoohnya. Bahkan tak jarang yang mengusirnya atau membunuhnya karena dianggap seperti hama. Ketika hal ini terjadi di depan mataku, tentu aku tak bisa abai begitu saja. Karena aku juga punya hati nurani, terutama untuk anak-anak.
'Meskipun aku adalah vampir.'
Aku selalu saja tak bisa mengabaikan hal semacam ini, yang menggugah hati sanubari ku sebagai vampir yang punya hati.
Oleh karena itu, sebagai tuan rumah, mungkin akan lebih baik menyambut ayah Aki dengan baik kali ini. Baik ayahnya maupun putrinya yang sama-sama telah berjuang keras untuk hidup ini.
Meski bisa dibilang ini bukan rumahku sih, tapi tak apa. Lagi pula salah siapa menelantarkan rumah begitu saja di hutan, bukan?
Jadi daripada sia-sia, bukankah lebih baik aku ambil hak rumahnya.
Jadi ini sekarang adalah hak rumahku. Bisa dikatakan, kalimat sebelumnya tidaklah salah.
Baik aku ulangi.
__ADS_1
Sebagai tuan rumah, mungkin akan lebih baik menyambutnya dengan baik kali ini.
Kemudian, hal apa yang biasa dilakukan tuan rumah untuk menyambut tamu?
Hal yang aku ketahui hanya dari pengetahuan mengenai etika bangsawan menyambut tamu. Dan itu terlalu ribet dan formal. Tapi itu mungkin benar, atau mungkin juga kurang tepat.
“Hei, Aki. Bagaimana aku harus menyambut ayahmu nanti? Apakah ada referensi khusus.”
“Menyambut ayahku? Tidak perlu, kami hanya rakyat biasa. Jadi seperti biasa tak akan masalah.”
Seperti biasa ya.
Tapi akan bagus jika aku memberikan sambutan baik. Karena aku tuan rumah yang punya hati sanubari khusus.
“Aki, aku akan pergi sebentar.”
Dengan begitu, aku pergi keluar. Meninggalkan Aki yang masih sibuk mencuci peralatan masak.
.........
“Hmm, sesuatu untuk menyambut tamu. Lebih baik apa ya? Makanan? Minuman? Uang?”
“Mari cari saja referensinya di kota manusia.”
Dengan begitu aku terbang di bawah terik matahari menjelang siang.
Setelah tiba aku menuju sebuah cafe yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Karena aku pikir, lebih baik bertanya kepada orang yang berpengalaman menyambut tamu di zaman ini.
KRINGG
"Selamat Datang........"
Seperti sebelumnya, aku disambut dengan dering lonceng dan suara nyaring si pelayan toko.
Aku memesan manisan seperti biasa, dan ketika dia sedang melayani diriku, aku menyela waktu pelayan ini.
“Um, bolehkah saya bertanya sesuatu.”
“Terima kasih. Kalau begitu, aku ingin mendengar pendapat orang lain mengenai bagaimana cara menyambut tamu yang baik dan benar?”
"..."
Dia terdiam sejenak.
“Ummm, mungkin dengan memberikan hadiah khusus yang membuatnya senang?”
Sebenarnya pelayan ini hanya berpikir bahwa tamu tersebut adalah pacarnya. Karena mengingat wajah cantik Alicia.
“Hadiah ya...Hm, oke terima kasih kalau begitu.”
“Senang mendengarnya, semoga beruntung.”
Dia menambahkan klik 'OK' dengan isyarat jarinya di bagian terakhir.
Setelah itu, dia kembali ke posisinya dengan membawa anggapan salah.
“Enaknya, masa muda.” Atau begitulah setidaknya yang dia pikirkan.
Sedangkan Alicia masih berkutat dalam pikiran sambil mengunyah kelembutan dan kemanisan yang tiada tara.
"Munch-munch...Hmm.....Hmm....Hmmm."
***
“Tapi hadiah apa yang harus kuberikan? Hadiah khusus? Apakah itu hadiah buatan sendiri? Dan apa yang bisa membuat tamu senang.” Di langit yang terang, aku berguling-guling berharap ada suatu ide mengalir di otakku.
Aku belum pernah punya pengalaman seperti ini. Tidak ada seorang pun di zaman dulu yang mau mengunjungiku, kecuali satu orang. Tapi itu hanya pengganggu, jadi aku hanya mengabaikannya saja.
Tapi sekarang adalah orang sungguhan. Bukan karena keisengan ataupun sebagai pengganggu.
Jadi alangkah baiknya jika sambutan ini akan menjadi ketulusan.
“Mungkin buatan sendiri kalau begitu? Aku tidak tahu barang-barang zaman sekarang.”
__ADS_1
Meski sudah mendapatkan pengetahuan minimal, ini masih kurang untuk mencari referensi hadiah.
Aku berkutat selama dua jam, jenuh dalam pikiran.
“Kalau begini, buat sendiri saja hadiahnya.”
“Karena dia orang tua, mungkin obat anti penuaan? Tidak, ini melibatkan sihir. Akan aneh nanti jadinya.”
“Hmmm,Hmmmm. Sesuatu yang bisa kubuat hanya alat sihir. Tapi aku tidak ingin menunjukkan sihir. Kalau begitu...Hmm, mungkin aku akan membuat alat sihir, yang tidak menunjukkan adanya sihir...Tapi apa? Hmmm.hmmm.”
Karena ayah Aki adalah petani, mungkin lebih baik memberikan penyubur tanah abadi. Tapi akan ketahuan aneh dan mencurigakan seiring bertambahnya waktu. Dan bisa berakibat dengan hijaunya gulma yang menumpuk.
“Hmmm, sesuatu yang bermanfaat,...hmmm... sihir...tapi bukan sihir,.....bisa untuk jangka panjang, .....hmmmm.”
“Oh, iya. Benih tanaman.”
Seperti ada bola lampu menyala kuning di atas kepalaku. Sebuah ide datang seperti pencerahan untuk otak panasku.
Benih tanaman. Aku tak perlu menunjukkan sihir di depan umum, dan pastinya tidak ada tanda-tanda sihir dan tidak aneh. Karena yang aku buat hanya tanaman biasa tapi berkualitas unggul. Juga proses pembuatan hanya di awal-awal sehingga aku bisa menggunakan sihir tanpa menunjukkannya.
Membuat bibit hanyalah hal sederhana bagiku, aku bisa memodifikasinya menjadi bibit paling unggul di dunia.
Misalnya tanaman yang akan terus berbuah dan berkembang dengan cepat, tapi tidak pernah menua.
Tapi sayang, itu tak akan pernah aku lakukan.
Mengapa, kau tanya?
Hei, tentu saja sudah aku jelaskan di awal, bukan.
Sesuatu yang tidak akan mencolok.
Meski sihir bisa membuatnya sangat unggul, aku tetap tidak akan membuatnya melampui keluaran nalar manusia.
Normal, hanya tetap mempertahankan batas normal. Tapi unggul. Itulah sesuatu yang disebut ideal. Dan itu kemungkinan yang cocok sebagai hadiah.
Tapi jangan terlalu berharap tinggi. Atau nanti bisa terbentur langit-langit.
Mari kembali ke topik. Aku melenceng terlalu jauh kali ini.
Sekarang mari kita jelaskan bagaiamana aku akan membuat benih yang ideal.
Pertama mari kita lihat, tanaman apa yang biasa di tanam di sawahnya.
Aku lihat itu rumput liar, “Ehem”, bukan, ini yang disebut padi.
“Begitu, jadi seperti ini padi ya. Kecil-kecil tapi lembut. Dan akan mengenyangkan jika jumlahnya ribuan. Fumu.”
Dengan begitu, aku mengambil satu butir padi dan mengamati karakteristiknya.
Aku menggunakan [Growth and Development] sebagai sihir hijau sederhana sehingga menumbuhkan padi yang belum matang menjadi siap panen. Aku hanya menggunakannya pada satu tanaman padi saja dan di tempat tak ada orang.
Setelah itu, aku mencabut tanaman padi itu dan merontokkan butir-butir padi itu.
Mengumpulkannya di satu tempat, aku menggunakan teknik sihir tingkat tinggi yaitu yang disebut [Cultivation] sehingga aku bisa memodifikasi gen menuju perkembangan atau evolusi yang kuinginkan.
Dengan proses pemikiran yang dipercepat ditambah dengan pikiran paralel, aku berhasil menyelesaikan transformasi genetika dari ratusan biji padi dengan cepat.
Sifat-sifat yang didapatkan dari transformasi genetik padi ini adalah tahan banting, meski padi tidak akan dibanting. Maksudnya dia akan tahan dengan cuaca buruk, kekurangan air, perubahan panas atau dingin yang berlebihan, ataupun kebanjiran. Dengan ini, juga memberikan hasil yang maksimum setiap kali panen dengan kualitas yang bagus dan jumlah panen yang lebih besar 1,5 kali dari panen biasa. Masa perawatan juga dipersingkat sekitar 20% dari masa yang biasanya, jadi jika biasanya butuh lima bulan untuk panen, maka sekarang hanya butuh empat bulan dan seterusnya. Setidaknya inilah transformasi genetika padi yang kemungkinan masih normal dikalangan pasar dan tidak terlalu menonjol.
“Yup, ini mungkin bagus sebagai hadiah, bukan?”
Aku puas dengan karyaku ini dan memberikan nilai sempurna serta menjamin kualitas yang terbaik.
Mungkin.
Tapi aku merasa ini sudah sangat bagus, maka akan baik-baik saja nantinya.
"Pulanglah........."
Dengan begitu, aku kembali ke rumah dan menantikan salam hangat yang akan kusampaikan pada tamu pertamaku ini.
***
__ADS_1