
“Sepertinya, Eston telah tiba.”
Mengatakan demikian, sebuah pusaran gerbang dimensi muncul di tengah ruangan.
Keluar dari situ, sebuah paman besar berjas hitam dan berkulit gelap kehitaman dan kepala hitam, karena kulitnya, maksudnya dia tidak berambut, hanya terpapar kulit hitamnya.
Dari penampilan dan kekuatan sihirnya, jelas dia adalah iblis peringkat tinggi, sama seperti Asprinda sekarang.
“Saya datang Nyonya.”
“Ohh, kamu telah datang, tepat sekali.” Mengatakan demikian, Vignett dengan santai masih meminum segelas wine di tangannya.
“Benar, saya sudah membawa beberapa dokumen yang diperlukan.”
“Teri-ma kasih~” Mengucapkan sambil bersenandung licik, dia mengucapkan terima kasih.
Menerima dokumennya, Vignett menatap kembali ke arahku.
“Dia adalah pelayanku sejak dulu, namanya Eston.”
“Senang bertemu denganmu, Leluhur Vampir, Nona Alicia. Seperti yang terlihat saya adalah iblis yang telah melayani Tuan Vignett sejak lama. Mungkin anda sebelumnya belum mengenal saya, tapi saya sudah beberapa kali melihat Anda. Mulai sekarang mohon bantuannya juga, saya akan melakukan yang terbaik.”
Memperkenalkan dirinya dengan sopan, dia membungkuk penuh hormat.
“Eh, senang bertemu denganmu, tapi apa bantuan itu?”
Aku bingung dengan kesopanan paman ini tiba-tiba, biasanya iblis tidak akan sesopan ini kepadaku. Maksudnya hanya Asprinda yang selalu melayaniku dengan hormat, meski berlebihan layaknya seorang ibu menjaga anaknya. Tapi bagiku yang belum pernah melihatnya, ini sedikit canggung walaupun sepertinya dia sudah mengenalku.
“Seperti yang kau inginkan sebelumnya, kau sekarang membutuhkan identitas resmi, bukan?”
“Benar, jika bisa.”
“Tentu kami bisa. Dengan adanya Eston, dia bisa membuatkan identitas resmi untukmu, melalui posisinya.”
“Oh, benarkah. Terima kasih.”
“Tapi,....”
“Tapi?” Aku bingung dengan kata ‘Tapi’ yang tidak berlanjut ini, firasat mengatakan ini akan berakhir buruk.
“Tapi,.... dengan tubuhmu sekarang, kau akan dianggap sebagai anak kecil.”
“Lalu, apa masalahnya?”
“Aduh, kau tak tahu? Anak kecil tidak diizinkan untuk hidup dan tinggal sendiri. Yang artinya,... dia butuh orang tua atau wali, yang akan menjaganya. Jadi, tentunya ini juga berlaku untukmu, yang sekarang berpenampilan anak-anak. Apa kau sekarang paham?”
“Jadi itu artinya, apakah...”
“Ya, dengan adanya Eston, dia bisa menjadi walimu.”
“Eh, kenapa-“
“Apakah kalau begitu, kau ingin aku yang menjadi walimu, kalau begitu tak ap-“
“Untuk itu aku menolak. Hmm, bagaimana kalau Asprinda, saja?”
__ADS_1
“Tidak bisa. Sangat sulit untuk mendapatkan persetujuannya di usia kelihatannya. Malahan itu kemungkinan akan menjadi kecurigaan ketika melihat penampilan Asprinda yang masih di awal dewasa membawa anak kecil yang akan didaftarkan menjadi anak angkatnya. Tentu ini bisa saja menjadi sebuah kasus, bukan? Jadi Eston adalah orang yang tepat menurutku dan lagipula dokumen-dokumen yang diperlukan sudah mendaftarkan Eston sebagai walimu.”
Menjelaskan dengan detail untuk menarik benang keputusan, dia mengalahkanku jika memang sebegitunya.
“Hah, jadi begitukah.....”
Aku hanya bisa pasrah mendengarnya.
“Tenang saja, Eston adalah seorang Menteri Pertahanan di Inggris dan menjadi ketua dari dua persekutuan gadis penyihir di kedua kota besar yang ada di Inggris juga. Jadi dia bisa diandalkan. Lagipula ini akan sesuai dengan plot cerita yang kau susun, bukan? Seorang anak yang pindahan dari luar negeri sendirian, sedangkan orang tua atau walinya masih berada di luar negeri untuk bekerja.”
Dia benar-benar telah mengalahkanku, aku sudah tertembus. Itulah mengapa aku menganggap dia menyebalkan. Meskipun dia benar-benar bisa diandalkan. Hanya saja cara dia membantuku hanya untuk kesenangan hasratnya.
Tapi sebelum itu, aku masih melupakan satu hal.
“Oh, iya. Ngomong-ngomong dimana Inggris itu? Dan lagipula di negara mana aku sekarang. Aku tidak mempedulikan nama-nama tempat sebelumnya.”
“Apakah kau serius?” Vignett menatapku dengan heran. Dengan tatapannya dia jelas mengatakan, ‘apa saja yang kau lakukan selama ini’.
Yah, lagipula aku benar-benar tidak peduli nama tempatku tinggal atau peta dunia sebelumnya. Meski aku sudah membaca nama-nama yang seperti sebuah kota atau negara, tapi detail lokasinya atau peletakannya aku belum tahu.
“Asprinda, apakah kau mempunyai peta dunia saat ini.” Mau bagaimana lagi, aku bertanya saja kepada Asprinda yang bisa diandalkan.
“Ini, silakan Tuan.”
Dengan senang hati dia menunjukkan sebuah kotak kecil yang disebut ponsel cerdas, dia mengarahkan layarnya yang berisi peta negara-negara di dunia.
Aku tidak tahu jika ponsel cerdas ini memiliki fungsi seperti menampilkan peta. Sepertinya aku masih butuh lebih banyak membaca.
“Ini adalah Inggris, terletak di benua bernama Eropa. Kemudian, di sampingnya ada benua Asia, dan kita tinggal di sisi timur Benua Asia, lebih tepatnya di Negara Jepang. Dan sekarang kita ada di sebuah kota bernama Kota Tokyo.”
Melihat kembali peta sepertinya tidak banyak berubah, hanya beberapa bagian yang berubah seperti menyempitnya luas daratan.
“Apakah sudah selesai? Nenek loli nolep.”
Ketika aku masih mengotak-atik layar untuk melihat lebih detail untuk waktu yang sedikit lama. Sindiran datang dari orang yang tak mau menunggu.
“Oke, terima kasih Asprinda atas petanya.” Aku mengabaikan sindiran Vignett dan dengan tulus memberikan rasa terima kasihku kepada Asprinda.
“Tidak, aku ada hanya untuk tuanku. Jadi sudah menjadi kewajibanku untuk membantu tuan.”
“Dasar kau ini, lain kali perhatikan hal dasar dulu. Meski tidak berguna pada awalnya.....hehh... Oh iya, ngomong-ngomong dimana tempat yang sebelumnya kau gunakan untuk tidur memangnya. Aku bahkan tak bisa mendeteksimu.”
“Ah, itu tentu saja, karena aku juga harus sangat berhati-hati agar tidak ditemukan saat tidur jadi aku memasang penghalang dari penguntit, sepertimu. Dan aku memilih tempat tidurnya jauh di bawah tanah dari gunung itu, dekat dengan lapisan magma.”
Aku mengatakan lokasinya sambil menunjuk sebuah gunung yang terlihat melalui jendela kecil.
“Ah, Gunung Fuji, kah? Pantas saja. Yah, sudahlah, kau memnag pantas disebut penyendiri soalnya. Lebih penting lagi kau harus memutuskan tempatmu bersekolah sekarang.”
“Hah? Apa? Bersekolah....? Kenapa aku perlu melakukan hal repot seperti itu.”
Aku memprotes pernyataannya yang tiba-tiba menyuruhku memilih sekolah, lagipula mengapa aku perlu juga repot-repot untuk bersekolah.
“Tentu saja harus, bukan?”
“Dasar, aku hanya melihatmu sedang mempermainkanku.”
__ADS_1
“Itu, memang benar, tapi kesenangan itu hanya hasil sampingnya. Jika kau tidak percaya, Asprinda bisa kau jelaskan...!”
“Mohon maaf tuanku. Itu memang benar, seperti yang dikatakan master, di negara ini anak-anak diwajibkan untuk bersekolah. Itu sudah menjadi peraturan negara.”
“Uhh,... Jadi aku hanya bisa menyerah lagi, ya?”
“Tidak apa-apa Tuan, saya disini juga akan menemani anda pergi bersekolah, jadi tidak perlu dikhawatirkan.”
Bukan itu yang kukhawatirkan, tapi...
Melihat Asprinda mengatakan dengan yakin, tanpa berbohong sedikit pun. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sudahlah, tenangkan diriku. Ada berbagai hal positif yang didapatkan ketika menjadi siswa sekolah. Yaitu, aku mungkin dengan ini bisa lebih dekat menuju kehidupan kemanusiaan yang normal.
Dan terlebih lagi,...
“Apakah ada perpustakaan di sekolah?”
Benar, tujuanku saat ini yang harus dipenuhi terlebih dahulu adalah pengetahuan modern ini. Mengetahui dasar-dasar peraturan negara, agar setidaknya aku bisa membuat keputusan sendiri. Dan terlebih masih banyak pengetahuan yang belum terpenuhi di otakku.
“Tentu saja, bahkan dengan menjadi pelajar, anda bisa memasuki perpustakaan kota maupun negara dengan mudah.”
Begitukah, maka tidak apa-apa untuk saat ini mengikuti kegiatan sekolah, lagipula ini hanya beberapa tahun saja.
“Baiklah, aku setuju untuk sekolah saat ini, jika semua yang dikatakan sebelumnya benar.”
“Tentu saja, aku tak berbohong kepada teman baikku. Oke, sekarang dimana kau akan bersekolah, aku punya beberapa tempat rekomendasi yang cocok untukmu.” Mengatakan demikian, beberapa brosur lokasi sekolah disebar di atas meja.
“Kalau bisa yang dekat sini dan memiliki perpustakaan yang besar.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”
Sebuah pamflet sekolah ditunjukkan kepadaku secara langsung.
Tempat itu sepertinya masih di dekat sini, masih berada di dalam Kota Tokyo. Jadi dekat jika aku terbang atau menggunakan teleportasi. Dan katanya perpustakaannya cukup besar. Juga lokasinya dekat dengan banyak perpustakaan kota.
“Oh ya. Kau juga harus pindah.”
Pernyataan menyebalkan lagi tiba-tiba. Ini sudah ketiga kalinya.
“Apa lagi tiba-tiba.”
“Tenang saja, ini yang terakhir. Untuk detailnya, rumah yang kau tempati saat ini bukanlah rumah punyamu, setidaknya secara resmi. Itu milik negara, jadi kau bisa digusur kapan saja, ketika pemerintah bergerak. Tentunya kau sebagai manusia tidak boleh melawan balik mereka, bukan? Jadi aku sarankan untuk pindah saja, seperti tinggal di asrama sekolah atau di apartemen atau menyewa sebuah kamar, itu saja. Detail lebih lanjut, bisa bertanya ke pelayanmu.”
“Oke-oke. Itu saja, tak ada lagi?”
“Tenang saja, aku sudah mengatakan itu yang terakhir. Kepengurusan pindah sekolahmu akan diurus olehku dan Eston jadi tenang saja. Dan kamu akan mulai berangkat sekolah setelah liburan musim panas ini berakhir. Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan tanyakan saja ke pelayanmu, dia juga akan menemanimu sebagai pelayan, bukan?”
“Oke,...”
Huh, sepertinya ini akan menjadi perpisahanku dengan Aki. Aku akan memberitahunya sepulang dari sini.
“Sisanya aku serahkan kepadamu, Eston”
“Diterima, Nyonya.”
__ADS_1