Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia

Alicia Hanya Ingin Hidup Santai Sebagai Manusia
Perpustakaan 1


__ADS_3

“Hei, Aki. Apakah kau tahu tempat seperti perpustakaan?”


“Perpustakaan, kan. Hmm.....,Anda bisa naik kereta untuk pergi ke kota, dan disana nanti ada perpustakaan kota. Hanya di kota yang memiliki perpustakaan besar.”


“Apakah disini tidak ada?”


“Sayangnya, ini hanya sebuah desa kecil.”


“Begitu, kah....”


“Sebenarnya ada, sih....Meski hanya perpustakaan kecil dan sederhana. Buku yang disediakan juga tak sebanyak perpustakaan kota.”


“Dimana itu?”


“I,itu.........di sekolah.....ku”


“Sekolah......?”


“Iya...., di sekolahku ada fasilitas perpustakaannya juga.”


“Maka tidak apa-apa. Bisakah aku pergi kesana....?”


Akhir-akhir ini memang pengetahuanku akan dunia modern semakin meningkat. Aku juga sudah mendapatkan akal sehatnya. Ini semua berkat Aki sebagai kamus dunia modern mini.


Tapi sepertinya Aki sudah mencapai batas nalar.


Maksudnya banyak hal-hal yang belum aku ketahui yang tidak Aki ketahui juga. Aki sudah tak bisa menjawab pertanyaanku lagi.


Jadi aku berpikir, mungkin sudah saatnya pergi ke perpustakaan.


***


Kesiur angin dengan lembut menggoyangkan pepohonan. Membuat deru gesekan daun semakin meningkat. Akibatnya daun yang kalah gugur dan tanah dipenuhi oleh mayat daun yang kalah.


Di sisi lain, para serangga juga memberikan semangat kompetisi. Mereka berlomba-lomba mengeluarkan rengekan terkerasnya. Berpadu dengan deru angin, menciptakan alunan simponi hutan yang khas.


Meski sekarang adalah musim panas, aku baik-baik saja. Karena vampir tak terpengaruhi oleh suhu eksternal. Meski panas matahari sangat terik, aku tak akan terbakar menjadi abu.


Di bawah terik matahari, adalah hal umum jika manusia memakai pakaian tipis.


Karena beberapa sebab tak terduga, aku juga mengenakan pakaian santai saat keluar dari rumah.


Meski aku membeli banyak jenis pakaian dua minggu lalu. Aku selalu memakai pakaian biasaku yang hitam putih itu. Karena bagaimanapun aku sudah terbiasa seperti ini, jadi pakaian ini lebih nyaman ketimbang pakaian terkini dari zaman modern.


Jadi ini pertama kali aku mengenakan pakaian zaman sekarang.


Apa yang aku kenakan adalah pakaian santai yang cocok untuk musim panas. Aki yang memilihnya untukku.


Meski namanya musim panas, aku tak merasa panas seperti itu. Tapi bagaimanapun Aki tak mengetahui kebenaran itu. Jadi aku menanggapi perasaan khawatirnya.


“Bukankah, pakaian hitam seperti itu hanya akan membuatmu semakin panas di luar.”


Itulah yang dia katakan. Aku ingin mengetakan ‘tak masalah’, tapi itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman. Jadi aku ikuti sarannya.


Hari ini aku berencana pergi ke perpustakaan yang ada di sekolahnya Aki. Tapi karena orang luar tidak diperbolehkan masuk saat jam pelajaran siswa. Aku harus menunggu sampai jam sekolah usai.


“Sekolah, ya. Aku penasaran juga mengenai pendidikan di zaman modern. Mungkin banyak mata pelajaran yang baru jika dilihat dari banyaknya teknologi canggih ini. Dan pastinya ilmu sihir dihilangkan atau sudah tidak ada, karena sudah dilupakan dan hanya dijadikan cerita fiksi.”


Menutup pintu keluar, aku berjalan melewati halaman dan keluar dari hutan menuju ke jalanan utama.


Karena aku sudah mendapatkan pengetahuan minimal, aku akan pergi ke sekolah dengan cara normal. Selayaknya manusia biasa. Lagi pula hidup seperti manusia biasa sudah menjadi tujuanku dari awal.


Meski sedikit merepotkan, cemas, dan gugup. Aku tetap menjalaninya, agar aku terbiasa.


Aku sudah memutuskan untuk beradaptasi, jadi sedikit-demi sedikit, penggunaan sihir akan aku minimalisir.


“Tapi, mungkin terbang tidak apa-apa, kan.......? Tidak, ayolah aku sudah memutuskannya, kan. Yosh, bertingkahlah normal akuuu....!, Jangan pedulikan orang lain. Anggap mereka udara seperti biasa.”


Dengan tekad mantap, aku mengangkat kakiku menuju desa tempat Aki tinggal.


Aku memakai blus putih setengah lengan dengan rok biru yang dihiasi renda putih. Tentu Aki yang memilih pakaian ini. Bukan aku. Karena kalau aku pasti akan memakai pakaian seperti biasa, yang lebih nyaman.


“Tidak boleh. Lagipula kau akan mencolok memakai pakaian seperti itu.”


Begitulah yang dikatakannya saat itu. Ketika aku memikirkannya lagi ada yang aneh saat Aki mengurus pakaianku.


Mari kita lihat kilas baliknya.

__ADS_1


“Alicia-san nanti bisa datang ke sekolah setelah jam sekolah berakhir. Aku akan mengantarkan kamu ke perpustakaannya nantinya.''


“Oke. Mohon bantuannya nanti.”


“Hm. Nantikan saja.”


Kemudian dia menatapku dengan mata penasaran.


“Ngomong-ngomong, apakah Alicia akan tetap memakai pakaian seperti itu ke sekolah?”


“Memang. Apakah ada masalah?”


Dan dari situlah segalanya dimulai.


“Kau memiliki banyak stok pakaian di lemari. Tapi kau selalu memakai pakaian yang sama. Apa gunanya semua pakaian itu.”


“Ya~ah, aku hanya membelinya sebagai persediaan.”


Sebelumnya aku memang berniat membeli pakaian untuk meniru manusia. Tapi aku malah merasa ada yang aneh saat memakainya. Jadi aku melepasnya dan menyimpan semuanya di lemari.


“Oke, mulai sekarang aku juga akan mengurus pakaianmu. Akan sia-sia semua keimutan Alicia jika memakai pakaian yang sama sepanjang hari.”


“Tidak perlu repot-repot, aku memakai ini juga baik-baik saja.”


“Ti-dak-bo-leh. Ayo sini Alicia-sama.” Dengan senyuman aneh dia mengatakan seperti itu sambil menyuruhku duduk di kursi depan cermin.


“Aki-chan, wajahmu menjadi aneh, bukan?”


“Tidak ada yang aneh. Bisa mendandani Alicia-sama adalah hal terhormat untukku.”


“....dan kenapa kau memakai –sama lagi?”


“Itu karena aku adalah pelayan dan Alicia-sama adalah tuanku.”


“Tapi bukanka-....”


“Ayo sini. Aku sudah memilihkan pakaiannya. Kurasa ini akan cocok untuk Alicia-sama.”


Tak mendengar keluhanku. Aki terus memilah semua pakaian yang ada di lemari. Dan tanpa mempertimbangkan persetujuanku, dia sudah mendapatkan pakaian pilihannya.


“Sekarang, ayo biarkan aku melepas pakaian anda, Alicia-sama.”


“Tidak, anda tidak bisa memakainya sendiri Alicia-sama. Serahkan pekerjaan ini kepada pelayan. Bukankah itu tugas pelayan.”


“Benarkah...?”


Meski aku merasa terbodohi, aku tetap tak bisa menyangkalnya. Ini karena semua pakaian itu terlalu rumit dan aku tak bisa memakainya dengan benar saat ini. Karena itulah perasaan tak nyaman menyerangku saat aku memakai pakaian itu.


Jadi aku hanya bisa menyerah.


Aku juga tahu kalau pelayan bangsawan itu juga mengurus pakaian majikan perempuannya. Jadi aku tahu bahwa klaim Aki benar. Meskipun ini seharusnya memalukan bagi manusia, aku heran mengapa dia tak sedikit pun memiliki rasa malu atau rasa bersalah untuk dirinya saat ini.


Tapi mau bagaimana lagi, daripada malah salah nantinya. Untungnya hanya pakaian luarnya saja yang dilepas.


Dengan demikian aku membiarkan Aki melepas pakaianku dan mendandani diriku ini.


“Luar biasa. Kulitmu sungguh putih dan bersih Alicia-sama. Aku benar-benar iri. Apakah aku juga bisa mendapatkan kulit putih bersih seperti ini?”


“Sudahlah, tak perlu perhatikan hal lainnya. Jika kau rajin merawat diri sendiri, kau juga akan mendapatkan tubuh yang ideal sendiri, kan.”


Aku tak mau bilang bahwa ini karena vampir memang terlahir pucat, berlawanan dengan iblis yang terlahir dengan kulit gelap.


“Sudah selesai. Lihat, Alicia-san benar-benar imut, bukan.”


Setelah selesai mengurus pakaianku, Aki kembali menjadi seperti dirinya yang biasa. Meski aku heran dan merasa aneh tentang itu, aku segera mengabaikannya ketika aku melihat diriku di cermin besar.


Kulit putih, rambut kelabu, dan mata merah adalah karakteristik vampir seperti biasa. Tapi hal yang luar biasa adalah ketika semua unsur itu dipadukan dengan pakaianku yang selaras.


Aku seperti melihat diriku yang baru. Mungkin karena kontras warna pakaian sekarang dan sebelumnya sangat berkebalikan. Yang sebelumnya terkesan gelap, sekarang menjadi cerah berwarna. Blus putih setengah lengan ini seperti gaun hitam biasaku, tapi ini lebih ringan dan tipis, cocok untuk musim panas ini. Dan sekarang aku memakai rok, tidak seperti sebelumnya karena rok sudah bergabung dengan gaun hitam, jadi sekarang aku memakai rok terpisah. Rok yang aku kenakan sedikit panjang sampai melewati lutut dan berwarna biru muda dengan renda putih menghiasinya.


Inilah sosokku?


Aku bertanya-tanya, apakah ini benar-benar aku. Setelah sekian lama tak melihat diri sendiri dan tampil beda, rasanya benar-benar berbeda seperti diriku yang ada di dimensi lain. Tapi sosok yang indah di cermin itu adalah diriku, jadi aku harus menerimanya.


“Bagaimana? Terlihat cocok untuk Anda bukan? Kamu menjadi lebih imut Alicia-san.”


“Be-benarkah, terima kasih kalau begitu.”

__ADS_1


Jadi seperti itulah aku akhirnya. Aki jugalah yang merapikan rambutku menjadi kepang dan menghiasinya dengan pita merah muda di ujungnya. Benar-benar profesional, setidaknya dalam hal ini.


Begitulah aku menjadi diriku sekarang.


Aku dengan percaya diri memasuki daerah yang lebih ramai. Rumah dimana-mana sudah terlihat, tidak seperti yang ada di kota, ukuran mereka relatif lebih kecil. Dan kebanyakan tak berbentuk kotak, lebih seperti berbentuk segitiga. Bukan, setelah dilihat lagi, hanya bagian atasnya saja yang berbentuk segitiga.


Ketika aku melangkah di jalanan, orang-orang yang kulewati entah bagaimana terus memperhatikanku. Aku tetap mengabaikannya dan terus berjalan ke depan sambil membawa sobekan kertas kecil di tanganku. Itu hanya berisi peta menuju sekolah yang Aki buat untukku. Karena jaraknya cukup jauh, aku tak ingin membiarkan Aki jalan bolak-balik hanya untuk menjemputku, jadi aku memutuskan untuk menuju ke sekolahnya ketika jam pelajaran usai, dan Aki hanya perlu menunggu disana.


Tapi aku bingung, apakah aku berjalan dengan benar kali ini. Peta hanya menunjukkan garis-garis kasar jalan. Tak menunjukkan ciri spesifik jalan yang dilalui.


Entah bagaimana aku mungkin tersesat.


Aku terbiasa terbang ketika pergi berkeliling, karena visi akan lebih luas dari atas. Jadi karena aku berada di tanah sekarang, visiku menjadi terbatas.


Bingung, aku melihat-lihat sekitar. Jalan disini menjadi lebih sepi daripada jalan sebelumnya. Aku khawatir aku salah jalan. Jadi aku mencoba mencari seseorang yang mungkin bisa ditanyai.


Saat aku sedang menelusuri tempat ini, di samping kiri jalan ada sebuah rumah terbuka yang di depannya ada beberapa barang ditampilkan. Ada papan nama juga. Papan nama itu tertulis ‘Warung Jajanan’.


“Mungkin disana ada orang yang bisa aku tanyai.”


Untuk itulah aku memasukinya.


“Permisi....”


“Ah, selamat datang. Ara, kali ini aku kedatangan sosok yang imut ya. Adakah yang bisa saya bantu nona?”


Ketika aku masuk di dalam ada seorang wanita tua duduk di belakang meja. Dia mungkin sudah berusia sekitar 60-an.


“Etto, aku ingin ke sekolah ini, tapi aku tersesat dan kehilangan jalannya.”


“Ahh, sekolah itu kah? Tinggal jalan lurus ke depan, nanti ada tanjakan yang mengarah ke sekolah itu. Jalan ini juga jalan yang sering digunakan para siswa untuk pulang pergi. Jadi seharusnya jalan ini akan sedikit lebih ramai nanti. Kurasa sebentar lagi mereka akan berdatangan.”


Jadi aku sudah berada di jalan yang tepat ya.


Setidaknya aku bisa tenang karena itu berarti sekolah itu sudah dekat.


“Terima kasih.”


“Jangan dipikirkan. Nenek hanya senang membantu gadis imut sepertimu. Rasanya seperti melihat cucuku sendiri.”


Dengan melambaikan tangan pada nenek baik hati itu, aku berjalan keluar.


.......


“Hei-hei, kurasa aku perlu pergi membeli beberapa permen. Aku merasa lapar setelah seharian berpikir keras.”


“Kurasa kau benar. Saat kau mengatakannya, aku juga merasakan hal yang sama. Ayo pergi.”


Setelah melangkah keluar dari warung, dua orang gadis seumuran Aki lewat di depan warung nenek. Dia berhenti dan masuk setelah membicarakannya.


Seperti yang nenek katakan, dia seperti seorang siswa jika dilihat dari pakaiannya. Jadi kurasa jalan ini memang benar, jalan yang biasa dilewati siswa saat pulang maupun berangkat sekolah. Melihat lagi, dari arah yang sama dari kedua gadis sebelumnya. Terlihat lebih banyak orang dengan pakaian formal berjalan.


“Kurasa sudah benar, aku tinggal mengikuti jalan sebaliknya dari para siswa tersebut.”


Ketika bersemangat menemukan jalan, aku berlari ringan menuju ke sekolah. Mengabaikan tatapan dan percakapan dari para siswa yang dilewatinya.


Dengan diapit oleh dua barisan pepohonan yang rindang dengan suara serangga dan angin menyatu membentuk harmoni. Aku sampai di depan gerbang sekolah.


Aku melihat sosok akrab berdiri di gerbang tersebut.


“Ah, Alicia-san. Disini.”


Dia memanggil ketika melihatku. Aku pun berlari ke arahnya.


Meski sepertinya banyak anak-anak yang terhenti akibat kontak kami. Aku mengabaikannya dan terus menuju ke arahnya.


“Maaf terlambat, aku sedikit tersesat tadi.”


“Tidak apa-apa, lagi pula ini baru saja selesai.”


“Baiklah. Aku menjadi tak sabar dengan perpustakaan itu.” Mau bagaimana lagi, karena disana menunggu banyak ilmu pengetahuan baru yang belum kuketahui. Aku jadi lebih bersemangat.


“Ngomong-ngomong, aku merasa banyak tatapan datang ke arah sini.”


“Ah, itu mungkin karena aura kecantikan dan keimutan Alicia keluar. Tapi tak perlu dipikirkan, abaikan saja. Lebih penting, ayo aku antarkan menuju perpustakaan itu. Meski aku tak tahu apa yang membuatmu begitu antusias hanya untuk perpustakaan kecil kami.”


Dengan demikian, aku berjalan dipandu Aki menuju ke perpustakaan. Mengabaikan bisik-bisik dan tatapan siswa lainnya.

__ADS_1


***


__ADS_2