
Setelah mengambil beberapa barang yang mungkin berharga, aku terbang ke tempat yang mungkin ramai. Zaman dahulu wajar ketika ada keramaian, disana ada pedagang. Mirip dengan ada gula ada semut. Oleh karenanya aku mencari tempat yang memiliki lebih banyak orang dari pada pemukiman sebelumnya.
Sesampainya, aku dikejutkan oleh banyak bangunan aneh. Mereka sangat kotak dan tinggi-tinggi. Jauh berbeda dari bangunan peradaban sebelumnya. Aku sebenarnya sangat bersemangat dengan banyaknya hal baru.
“Sungguh, mereka jauh lebih berkembang, bukan? Tak sia-sia aku tidur selama 5000 tahun hanya untuk bisa menikmati hal baru.”
Ups, bukan waktunya terkagum-kagum sekarang. Aku harus mencari pedagang yang mau membeli beberapa barangku.
Tolah-toleh sebentar, aku mencari tempat yang cocok untuk mendarat.
Kemudian melalui celah dari atap dua gedung tinggi, aku mendarat di tempat sepi, di suatu gang sempit di pusat kota ini. Tempat ini sangat sempit dan diapit oleh dua dinding tinggi. Bau sampah di sudut-sudut gang sangat menyengat. Aku langsung berubah pikiran untuk kota ini. Di luar aku menilai tinggi, tapi ketika masuk lebih dalam ada banyak hal buruk tercemar.
Aku terburu-buru keluar, hidungku sangat sensitif dengan bau busuk.
Setelah mengambil ratusan langkah berlari, aku melihat cahaya mendekat dari depan. Begitu juga dengan meningkatnya frekuensi kebisingan seiring mendekatnya cahaya harapan itu.
“Yosh, sepertinya itu jalan keluar dari labirin busuk ini.”
Keluar dari gang adalah pemandangan kota yang jarang. Dimana-mana penuh sesak dengan orang yang berlalu lalang. Banyak manusia bergerak di jalanan, berpakaian dengan gaya yang belum kukenal, dan berbagai suara kebisingan keluar dan menyatu menjadi pencemaran. Ada juga besi aneh yang bisa bergerak melintasi tanah hitam mulus dengan sesuatu yang bundar berputar. Anehnya hanya tempat itulah yang tidak dipenuhi manusia, bahkan tidak ada manusia yang berdiri di sana. Kebanyakan manusia berjalan di pinggiran dengan santainya.
Banyak sekali hal-hal baru yang kulihat saat ini, di pemukiman sebelumnya bahkan tidak ada hal seperti itu. Ingin rasanya cepat-cepat mengenal pengetahuan umum dunia ini.
Memberanikan diri, aku keluar dan membaur dengan kerumunan. Berjalan tanpa gangguan.
Meski terasa aneh, aku senang bisa berjalan-jalan bebas seperti ini. Karena sebelumnya, sekali aku terlihat oleh orang lain, baik manusia maupun vampir atau iblis, aku mendapat berbagai reaksi. Dan semua reaksi itu, tidak ada yang baik untuk hatiku. Jadi aku tidak bisa jalan-jalan bebas tanpa penyamaran saat itu.
Tapi kali ini berbeda, aku bisa berjalan-jalan secara alami dengan kebebasan.
Sehingga rasanya aku berada di dunia sangat berbeda.
Aku berkeliling, melihat-lihat hal baru dengan mata penasaran, seperti anak yang baru datang ke tempat asing. Di samping kiri atau kanan jalan, ada banyak bangunan yang memiliki berbagai penampilan. Di depannya terlihat jelas papan nama yang menunjukkan bangunan apa itu. Karena aku sudah menguasai bahasa lokal, aku bisa membaca papan nama itu. Seperti toko buku, toko roti, restoran, cafe, hotel, dan lain-lain. Sepertinya hampir semua bangunan yang di pinggir jalan ini menjalankan bisnis tertentu.
“Aku bertanya-tanya, apakah ada bangunan untuk membeli barang ini.”
Aku tidak membawa banyak barang untuk dijual. Hanya beberapa perhiasan zaman dahulu, seperti gelang, kalung, cincin, atau aksesori rambut yang semuanya aku buat sendiri. Di setiap perhiasan, ada batu-batu berkilau yang terbuat dari bahan-bahan yang ada di bawah gunung itu. Aku membuatnya menyesuaikan perhiasan kerajaan-kerajaan zaman dahulu.
Aku sangat yakin ini terjual mahal saat itu. Tapi sekarang ketika zaman sudah berubah, apakah nilai harganya masih sama? Pakaian manusia juga ada peubahan. Yang dulunya berlapis-lapis bahkan berlapis besi, sekarang menjadi potongan kain sederhana yang masih menyisakan banyak ruang terbuka. Mungkin ini akibat zaman kedamaian.
Jadi aku belum yakin apakah nilai aksesori juga berubah.
“Lebih baik segera mencari sesuatu seperti pedagang yang mau membeli barang.”
Setelah melihat sekeliling aku tersadar kembali banyak hal yang tidak kuketahui akibat perubahan zaman. Aku bingung mau kemana.
Setelah bergulat dengan pikiran, kuputuskan untuk bertanya saja.
Melihat sekitar, aku mensurvei orang yang mungkin layak untuk ditanyai.
“Permisi, bolehkan saya bertanya sesuatu.”
Setelah dinominasi, aku bertanya pada lelaki berjas abu-abu dengan topi yang juga berwarna abu-abu, memiliki lidah topi kaku, tapi tubuh topinya lemas dan membulat. Dia sedang duduk di kursi panjang di pinggir jalan sambil membaca beberapa lembaran kertas, menutupi sebagian besar wajahnya.
__ADS_1
“Hm?”
Melirik tak peduli, aku merasa lelaki ini terganggu oleh kehadiranku. Tapi meski demikian wajahnya mengatakan, ‘cepat katakan saja apa yang ingin ditanyakan’, begitu.
“Aku baru disini, apakah paman tahu tempat untuk menjual barang. Aku butuh uang jadi aku ingin mengganti beberapa barangku menjadi uang. Jika boleh tahu dimana tempat yang bisa melakukan hal itu?”
“Apa yang ingin dijual olehmu?”
Masih tak peduli, paman menjawab tanpa melihat ke arahku.
“Ini”
“......”
Untuk beberapa alasan lelaki itu terdiam sejenak. Aku bertanya-tanya mengapa.
Kemudian setelah beberapa saat dia kembali seperti semula.
“Perhiasan seperti itu, jika kau ingin menjualnya. Pergilah ke toko sebelah sana. Warnanya merah dan di depan ada tulisannya [Kikuya Jewelry Shop].”
Lelaki itu menunjukkan toko itu lengkap dengan deskripsinya. Kebetulan letaknya tak terlalu jauh, jadi bisa terlihat saat dia menunjuknya dengan jari.
“Terima kasih”
“Hm...Juga sebagai peringatan, jangan sekali-kali menunjukkan lagi perhiasan berharga di tempat umum. Itu saja, pergilah! Kau mengganggu banyak waktuku.”
Mengatakan demikian, paman membungkus wajahnya kembali dengan lembaran-lembaran kertas itu dan menurunkan sedikit topinya.
Yah, wajar karena dari luar aku seperti gadis muda 14 tahunan. Itu benar, meski salah. Tapi ketika ada yang menanyakan usiaku, aku akan menjawabnya 15 tahun saja. Karena itu adalah usia yang ideal, bukan?
Tapi syukurlah perhiasan yang kubawa dibilang perhiasan berharga olehnya. Aku mengharapkan uang yang cukup untuk menopang kehidupanku.
Aku berjalan menuju toko yang ditunjuk. Di papan nama tertulis jelas [Kikuya Jewelry Shop]. Sesuai namanya, memang benar disana terpampang banyak perhiasan ditampilkan berjejer-jejer di dalam pelindung kaca. Ada juga kalung-kalung indah yang dipasangkan di leher patung humanoid. Dan ada catatan di setiap perhiasan yang menunjukkan beberapa informasi seperti nama dan harga.
Berjalan ke samping sedikit, aku masuk toko dari pintu masuk itu.
KRIINGG
Saat masuk aku disambut dengan bunyi lonceng.
Sepertinya untuk menyambut tamu.
Melangkah ke depan, aku menuju meja resepsionis. Disana aku disambut oleh wanita elegan.
Meski berpakaian sederhana, ia tampak rapi dan anggun. Ketika aku malihatnya, dia selalu tersenyum dan tampak percaya diri yang membuatnya terlihat profesional dan bisa diandalkan.
“Apakah ada yang bisa saya bantu nona muda.”
Mengatakan demikian, dia tetap mempertahankan sikap elegannya sambil tersenyum.
“Aku ingin menjual sesuatu seperti ini.”
__ADS_1
“Menjual ini, bukan? Baiklah mohon ditunggu sebentar.”
Kemudian setelah aku menyerahkan berbagai perhiasan milikku, resepsionis itu melangkah ke belakang, lalu melakukan banyak hal hanya untuk semua perhiasan yang aku bawa.
“Maaf menunggu, setelah diperiksa, meski desainnya sederhana, tapi kualitasnya tinggi. Jadi setelah beberapa pertimbangan, jumlah uang untuk semua perhiasan yang nona bawa sekitar 20 juta Yen. Apakah nona punya kartu kredit?”
‘Kartu kredit? Apa itu?’
Aku belum pernah mendengar ini, tapi karena mungkin ini hal umum dan juga aku tidak punya, maka bilang saja aku tak punya.
“Maaf, saya tidak punya.”
“Hm kalau begitu tunggu sebentar.”
Setelah beberapa saat resepsionis kembali dengan membawa 1 kotak hitam.
“Ini semua uang tunainya. Total 20 juta Yen.”
Jujur aku masih belum tahu nilai uang sampai saat ini. Aku ragu untuk menanyakannya karena bisa dianggap aneh. Tapi tanya saja daripada tersesat.
“Ngomong-ngomong, bolehkah saya bertanya sesuatu?”
“Ada apa? Tidak apa-apa jika itu dalam ranah saya.”
“Berapa biaya hidup rata-rata disini?”
“Kalau itu, rata-rata mungkin sebulan sekitar 500 ribu Yen. Jadi dengan uang anda, 20 juta Yen, anda bisa hidup kurang lebih 40 bulan.”
Itu cukup banyak.
Syukurlah perhiasan itu seberharga itu.
“Oh, iya. Tadi anda menyebutkan kartu kredit. Sebenarnya apa itu kartu kredit?”
“Eh, anda tidak tahu?”
“Maaf saya baru dalam hal-hal begituan.”
“Hm, gampangnya kartu kredit adalah alat pembayaran secara non tunai dengan menggunakan kartu yang diterbitkan oleh bank. Jadi tak perlu lagi bertransaksi dengan uang dan orang-orang jadi tak perlu repot-repot membawa banyak uang kemana-mana, cukup satu kartu kredit itu. Tetapi tentu saja, kartu kredit juga harus memiliki jumlah uang yang sesuai untuk melakukan transaksi jual-beli. Anda bisa membuat dan mengisi kartu kredit anda dengan uang anda di bank terdekat.”
“Begitu, terima kasih atas informasinya. Uhm, kalau boleh, bisakah saya bertanya tentang hal lainnya juga?”
Karena sudah terlanjur bertanya hal umum seperti itu, aku terobos saja sampai batas tertentu. Aku tidak ingin merepotkan dan dianggap aneh.
“Silakan, selama belum ada pelanggan lain, saya tidak keberatan.”
Dengan begini, aku selangkah masuk untuk menjadi orang berwawasan normal bagi dunia ini. Meski perjalanan itu juga masih panjang.
Tak masalah, mari mendaki gunung sedikit demi sedikit.
.....
__ADS_1