ALLISYA L'D

ALLISYA L'D
Sebelas


__ADS_3

"JAWAB GUE ATAU GUE SIRAM LO!" teriak Nadien lagi tapi Sasa tetap tenang makan dengan santai.


Karena Nadien sudah kesal diabaikan terus ia menyiram Sasa tapi sebelum itu terjadi ada seseorang yang menghalanginya dia memakai baju serba hitam.


Seseorang itu mencekal tangan Nadien erat dan menumpahkan jus itu ke Nadien, bisa dibilang sih senjata makan tuan.


"Jangan.Pernah.anda.menyentuh.nona.kami.jika.masih.ingin.hidup." ujar suara itu dingin dengan aura yang mencekam, semua yang di kantin terdiam membisu beda dengan Sasa yang terus makan dengan santai tanpa melihat situasi.


Nadien dkk syok terutama Nadien yang bajunya jadi basah ia sangat marah. "Si-siapa Lo hah!! " seru Nadien terbata dengan tubuh bergetar ternyata bukan hanya 1 tapi ada 3 orang yang berpakaian hitam.


"Kalian tidak perlu tau siapa kami!" sentak seseorang yang satunya lagi.


Meskipun Nadien sebenarnya takut tapi ia berusaha untuk berani. "oohh gue tau, dia simpanan kaliankan." sambil menunjuk dan meremehkan Sasa "ckckck ga nyangka gue luarnya aja polos tapi dal-- "


Plak


Sebelum Nadien menyelesaikan ucapannya dia sudah di tampar. "Jaga ucapan anda!" gertak seseorang itu menatap Nadien tajam, sahabat Nadien sudah mundur dari tadi karena takut.


"Akhirnya kenyang juga Sasa." ucap Sasa mengelus perutnya dan perhatian semuanya ke arah Sasa, merasa pasang mata melihatnya ia mendongak.


"Kalian ngapain pada berdiri? rame banget." ucap Sasa polos mereka melongo termasuk Dara dkk bahkan Arka dkk mendengar ucapan sasa jadi sedari tadi dia tidak tau batin mereka.


"Maaf nona, mereka berusaha untuk mengganggu makan anda" ucap bodyguard Sasa menunduk. Ya mereka adalah bodyguard Sasa kiriman dari Daddynya untuk mengawasi dan menjaga Sasa, mereka termasuk anggota Daddynya yang sudah handal.


"Kalian ada disini" sambil melirik bodyguardnya lalu melirik kearah cewek yang sudah gemetaran. "eum Sasa kayanya kenal deh sama orang ini, oohh iya Sasa Ingat! mereka Kak Nadien sama anteknya yang tukang bully itu, iyakan Vin?" ucapnya.


Vina yang masih syok pun mengangguk anggukkan kepalanya cepat. "a-ah i-iya."


Sasa berdiri dari duduknya. "kalian pergi aja, Sasa kenal mereka ko lagian kalo mereka macam macam Sasa bisa ngatasinnya atau engga, minta bantuan sahabat Sasa." ucap Sasa menyengir.


"Tapi nona, tuan akan memarahi kita" bodyguard.


"Tidak akan, Sasa jamin." saat bodyguard itu akan bersuara langsung dipotong oleh Sasa. "tidak.ada.penolakan.titik." tegas Sasa.


"Baik nona kalo begitu kami pamit undur diri." pamit bodyguard sasa sambil membungkuk dan Sasa hanya menganggukkan kepalanya, lalu mereka pergi dan suasana di kantin tidak mencekam lagi mereka menghela nafas lega, sedari tadi mereka menahan nafas. Baru gitu aja udah pada takut Gimana kalo bertemu dengan yang sebenarnya batin sasa.


Mata Sasa lalu beralih menatap Nadien dkk. " oohh ini ya yang namanya Kak Nadien? cantik sih, tapi lupakan! kenalin Kak Nadien aku Auristela Allisya L panggilnya terserah Kakak aja. Tapi kalo Kak Gibran sama Kak Raka panggil Sasa Dede gemoy, Kak Leo panggil Sasa si manis, gimana kalo Kak Nadien panggil Sasa imut aja atau princess?" ucap Sasa tersenyum memanasi Nadien sambil mengulurkan tangannya.


Nadien yang tadinya Takut jadi berani lagi dia mengibaskan rambutnya kebelakang tanpa mau membalas uluran tangan Sasa. " ke--"


"Ga usah ngenalin siapa Kakak, semua orang tau ko Kak Nadien dkk itu siapa? cewek tercantik yang cantiknya ga natural, suka godain cowok, sok berkuasa, terus tukang bully, apalagi ya, ah pokoknya itulah. Tapi kak Nadien dkk keren Lo terkenal banget.. sama keburukannya" ucap Sasa polos.


"Daebak keren" Raka.


"Cewek idaman gue" Lio.


"Beh hati gue berasa diiris" Gibran.

__ADS_1


"Menghanyutkan" serempak Rafael dan Vira dkk, sedangkan Arka, Daniel, dan Dara hanya tersenyum miring.


Nadien dkk yang tadinya tersenyum sombong perlahan senyumannya memudar dan digantikan dengan wajahnya yang memerah menahan malu dan emosi yang membara, karena tidak Ingin malu lagi mereka pergi tapi sebelum pergi Nadin berhenti dihadapan Sasa. "gue ga peduli Lo siapa, tapi gue akan bales semuanya." dan Sasa hanya membalas dengan senyuman manisnya. Tapi jika dilihat lebih intens bukan senyum manis lebih tepatnya senyum miring lalu Sasa kembali duduk.


"Sa, Lo seriusan ga denger mereka ngomong" Lia.


"Engga, kan Sasa pake ini" ucap Sasa polos sambil memperlihatkan headset bluetooth dan mereka melongo lagi lalu tertawa.


"Degem(dedegemoy), yang tadi itu siapa sih sumpah ya hawanya mencekam, merinding gue" Raka.


"Oh mereka bodyguard Sasa, buat ngejagain Sasa kan Mom Dad Sasa lagi keluar negeri makanya Sasa diawasi lewat mereka. Ckck Kak Raka kan anggota inti Decarlos yang terkenal kekejamannya masa sama mereka aja takut sih, Cemen!" Raka terdiam Dara dkk tertawa malu maluin batin Arka dkk kecuali Raka.


"Huhh Sasa jadi laper lagi."


"Dasar perut karet" Arka.


"Kak Arkaaaaa, ga liat apa tadi Sasa itu abis debat jadi Sasa butuh tenaga lagi."


"Ga ada waktu buat pesan makan lagi Sasa, bentar lagi bell masuk ayo ke kelas aja" ajak Lia.


Sasa dkk berdiri. " Kakak kakak kita duluan ya" pamit serempak Sasa dkk kecuali Dara setelah itu mereka pergi.


Pulang Sekolah


"Sa kamu pulang sama siapa?" tanya Vira.


"Oh yaudah gue sama Vira duluan ya." pamit Vina sedangkan Lia sudah pulang duluan, Sekarang hanya ada keheningan diantara Sasa dan Dara.


"Gimana kabar Lo?" tanya Dara lembut, berbeda sekali dengan biasanya.


"Baik, sangat baik." ujar Sasa santai. Dara tertawa mengejek, baru kali ini Dara tertawa meskipun ada ejekan di tawanya. " Sudah lama bukan kita tidak bertemu, apa mereka memperlakukan lo dengan baik?"


"Ya sudah lama, tidak terlalu buruk tapi ada sedikit secret, dan aku tau alasan kamu sekolah disini."


Dara tertawa lagi. "sudah kuduga, tapi kalo Lo sakit hati hubungin gue ya."


"Tidak akan pernah." Mereka saling pandang lalu tertawa bersama. "pulang sama siapa Lo" tanya Dara lagi.


"Supir mungkin?"


"Ga mau bareng gue? dan gue ga yakin itu supir beneran."


"Kamu nawarinya engga, yaudah Sasa ga mau."


Dara mengacak rambut Sasa. "gue balik" Sasa cemberut lalu tersenyum.


Setelah beberapa menit kemudian sasa melihat ke langit dan cuaca sedang mendung pertanda akan hujan dan benar saja sekarang hujannya sudah turun Sasa menunggu di halte, untungnya di halte tidak terlalu sepi karena Sasa masih terlalu baru di Indonesia jadi dia belum terbiasa. Jika tau mau hujan sasa lebih baik numpang pada Dara tadi.

__ADS_1


Ia lupa tadi saat berangkat, Sasa bilang ke supir tidak usah menjemput niatnya sih mau mampir ke toko sebentar eh engga jadi, mau nelpon Mang Ujang ia lupa bahwa hpnya lowbat dan dia ga bawa charger alhasil Sasa harus menunggu hujannya reda sambil menunggu taksi lewat.


Saat sedang asik melamun ia dikagetkan dengan suara motor dan seseorang yang menyetirnya meneduh duduk disebelahnya membuka helmnya Sasa menengok kesamping. " Kak Arka, ngapain? " Tanya Sasa. Ya dia Arka, tadi dia sedang latihan basket karena beberapa Minggu dari sekarang ada pertandingan turnamen basket saat Arka pulang hujan turun dan dia melihat di halte ada seseorang yang dia kenal sedang berteduh. " Bodoh! meneduh."


Sasa hanya membulatkan mulutnya sudah 1 jam mereka disana tapi hujan tak kunjung reda bahkan ada yang rela basah basahan menerjang hujan. Karena hujan udaranya jadi dingin dan itu menembus ke kulit Sasa karena Sasa tidak membawa switer jadi Sasa hanya menggosok gosokan tangan nya guna menghilangkan sedikit hawa dingin. Arka yang melihat muka Sasa mulai pucat dan tubuhnya menggigil menghela nafas kasian, akhirnya Arka membuka jaket kebanggaan Decarlos sebagai leader lalu melemparkannya ke wajah Sasa.


Sasa mengambilnya lalu memiringkan kepalanya bingung. "Pake!"


"Ha?"


"Lo kedinginan, pake!"


"Eumm tapi gratiskan?" ucapnya polos, ia tidak lupa yang di perpus saat Arka menolongnya dan dengan imbalannya Sasa menemaninya.


Arka terkekeh lalu meraup muka Sasa. "karena gue baik, khusus hari ini gratis buat lo." tersenyum tipis.


Sasa cemberut. "kebiasaan banget sih, tangan Kak Arka itu basah tau liat muka Sasa jadi basah." memang bener tadi Arka sempet cuci tangan pake air hujan jadi basah.


Sasa memakai jaketnya. "terima kasih jaketnya Kak, anget." Sasa tersenyum manis ia tidak bisa menolak karena jujur ia kedinginan dan ia tak enak ini jaket Decarlos.


"Kak Arka Sasa boleh pinjam handphone nya ga?" tanya Sasa ragu Arka menaikkan alisnya.


"Eh itu Sasa mau nelpon supir Sasa suruh jemput, soalnya handphone Sasa lowbat, boleh ya?"


Arka mengambil hpnya lalu menyerahkan ke Sasa dan Sasa mengambilnya dengan senang hati kenapa ia bisa lupa kenapa ga dari tadi aja dasar bodoh maki sasa pada dirinya.


Setelah Sasa menelpon mang Ujang ia mengembalikan hp Arka tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Kak Arka, Sasa penasaran yang kemarin kita ke rumah pohon, itu punya siapa? Terus ka Arka tau dari mana?"


"Punya gue."


"SERIUSAN!" teriak Sasa dan mereka diliatin banyak orang Sasa cuman cengengesan dan meminta maaf. " Ckck berisik!"


"Ma--"


Tin tin


Mang Ujang keluar dari mobil membawa payung untuk Nonanya. "permisi nona, mari."


"bentar Mang, Kak Arka jaketnya" ujar Sasa akan melepas jaketnya.


"Pake dulu aja, Lo masih kedinginan" santai Arka.


"Oke Sasa pinjem dulu ya kak, Kak Arka mau bareng?" tawar Sasa "Ga, duluan aja."


"Yaudah Sasa duluan ya kak." pamit Sasa tersenyum lebar lalu mang Ujang memayungi Sasa sampai masuk mobil.

__ADS_1


Sedangkan Arka dari tadi pandanganya tidak pernah lepas dari senyuman lebar Sasa sampai masuk mobil dan mobil itu menghilang dari pandangannya.


__ADS_2