ALLISYA L'D

ALLISYA L'D
DelapanBelas


__ADS_3

Kring kring kring


Bel istirahat berbunyi, Sasa dkk bersiap menuju kantin. Tapi didepan pintu sudah ada pangeran yang ingin menjemput tuan putri, ya Arka dkk, Vina, dan Dara. Banyak pekikan histeris karena merasa iri dengan Sasa dkk yang bisa dekat dengan inti Decarlos.


"Eh ada pacar, mau jemput Sasa ya?" Tanya Sasa menggoda Arka.


"Hem, aku mau jemput kamu" balas Arka sambil mengelus rambut Sasa.


Mereka menuju kantin sambil mengobrol dan bercanda ria. Seperti, Gibran yang menggoda Vina dengan gombalan recehnya, Lio yang terus menjaili Dara, Rafael yang mengajak Vira mengobrol meskipun kaku, dan Lia yang terus mencari perhatian agar dilihat Daniel. Sedangkan Raka menekuk wajahnya.


"Berasa jadi gajah gue" gumam Raka, akhirnya mereka sampai di kantin dan duduk ditempat biasa inti Decarlos duduk. Mereka memesan makanan setelah beberapa saat makanan mereka datang dan mereka makan dengan tenang. Tapi tiba tiba.


Brak


"Ba*gsat"


"Kodok"


"Anjing"


"Eh ayam"


"Umi"


"Cium gue"


Itulah umpatan latah mereka, kecuali 5 orang makan dengan tenang. Tapi latah yang terakhir menyita perhatian mereka terutama Rafael, karena biasanya Vira tidak seperti itu.


"Ke-kenapa kalian ta-tatap aku kaya gitu?" tanya Vira terbata karena malu.


"Mau aku cium?" Tanya Lio menggoda Vira.


"Cium gue hahahaha" Lia.


"Sini sama gue aja, gue juga mau ko dicium" Raka.


"Hayo kakak ipar lagi mikirin apa nih? Mesum ya?" tuduh Gibran.


"Udah, kalian jangan godain kakak gue terus dong. Liat mukanya udah merah mau meledak. " ucap Vina menggoda, sambil membalas dendam karena Vira juga pernah menggodanya seperti ini.


Vira menutup mukanya dengan tangan "jangan godain aku, aku malu."


"Gemes banget" ucap Rafael, mereka melongo sedangkan Vira semakin menutupi wajahnya karena malu. Tanpa mereka sadari sekarang mereka menjadi pusat perhatian, karena ada seseorang yang menggebrak meja mereka tapi tidak dihiraukan.


"Woy gue disini ya!" sentak Nadien, ya Nadien yang menggebrak meja.


"Guys, kalian dengan sesuatu ga? Ko gue dengan ada yang ngomong, tapi tak nampak rupanya" Vina.


"Sama gue juga denger, apa jangan jangan.... monyet jadi jadian" Lia ikut ikutan.


"BILANG APA LO BARUSAN" teriak Gita, salah satu anteknya Nadien.


"Eh ada para monyet ternyata" Lio.


"Ih yang ko kamu gitu sih" ujar Tari anteknya Nadien bergelayut manja di lengan Lio.


"Yang yang pala Lo peang, ogah ya gue punya Kakak ipar kaya Lo. Mending Dira yang dingin daripada sama Lo gelanjotan terus kaya monyet." ucap Lia pedes, semuanya tertawa.


"Adek ipar mending diem aja ya" geram Tari berusaha baik.


Lia meludah "cih najis" Tari menggeram marah tangannya mengepal.


"Gue kesini ga ada urusan sama kalian, urusan gue sama dia." ucap Nadien sambil menunjuk Sasa yang tengah makan.


"Urusan Sasa urusan kita juga, karena Sasa sahabat kita" Vira  tegas.


"Lagian Lo ga ada kapok kapoknya ya"Vina.

__ADS_1


"Mending Lo pergi, sebelum dia marah" ucap Dara.


"Gue ga peduli" Nadien.


Akhirnya Sasa selesai makannya. "Kenapa sih rame banget, ganggu Sasa lagi makan aja. Jadi ga nafsu makan Sasa" ujar Sasa polos sambil mengelus perut ratanya, sedangkan semuanya melongo. Jelas piring Sasa bersih mengkilap, minumannya juga tinggal es batunya aja Sasa Sasa itu yang namanya ga nafsu makan batin mereka.


Sasa berdiri "oh ada Kak Nadien, jangan bilang Kakak yang ganggu Sasa?" Ucap Sasa menyipitkan matanya.


"Kalo iya kenapa? Takut Lo!! Mana bodyguard lo yang so itu" Nadien sinis.


Sasa mengangguk "iya Sasa takut, soalnya Kak Nadien dkk serem ngalahin hantu. Terus ngapain nanyain bodyguard Sasa, kangen ya? Oh atau mau di gebet juga, kasian.. ga laku?" ucap Sasa polos sambil tersenyum miring, yang lainnya tertawa sedangkan Nadien menggeram marah.


"DIAM LO SEMUA!! Sialan Lo" ucap Nadien marah lalu tangannya terangkat ingin menampar Sasa.


Sasa yang menyadari itu langsung mencekal tangan Nadien erat. "Tangan Kak Nadien bagus, lembut juga, apalagi kutek nya lucu. Tapi Sasa ga suka terlalu lembek" ucap Sasa lalu menghentak tangan Nadien kuat sampai berbunyi brukk, Nadien terjungkal kesamping  dan kepalanya terbentur meja keras sampai berdarah, Nadien meringis. Semuanya melongo ada juga yang merekam, itu perbuatan di polos? Mereka kagum dengan keberanian Sasa yang melawan Nadien dkk.


"Ah ga seru, terlalu lemah" ucap Sasa cemberut.


"LO!" teriak Dea, anteknya Nadien menunjuk Sasa.


"Apa?"tanyanya polos.


"LO APAIN NADIEN HA!!!" Dea.


Sasa menekuk wajahnya. "Sasa ga ngapa ngapain Kak Nadien ko, tangan Sasa aja yang nakal dorong Kak Nadien" ujar Sasa santai. 


Anteknya Nadien membantu Nadien berdiri lalu Nadien menatap Sasa marah "brengsek, gue mau tantang Lo."


"Tantang apa? Sini Sasa jabanin" ucap Sasa menggulung lengan bajunya.


"Kita dance" ucap Nadien sombong, semua yang ada di kantin terkejut termasuk Arka dkk dan Vira dkk tapi tidak dengan Dara. Jelas saja mereka terkejut, Nadien itu partner dance Raka. Jadi, bisa dibilang Raka raja dance maka Nadien ratu dance nya.


"Oh cuman dance? Sasa kira kita mau gelud" ucap Sasa terlampau santai, mereka kembali melongo cuman katanya.


"Gue anggap Lo setuju, kalo Lo menang gue ga akan ganggu Lo lagi. Tapi, kalo gue yang menang.. Lo harus putusin Arka dan pergi jauh darinya. Deal?" Ucap Nadien menyeringai.


"Sa, udah ga usah di ladenin" Vina khawatir.


Sasa tertawa terbahak bahak dan itu membuat semuanya heran. "kamu lakuin ini cuman karena cowok? Saking ga lakunya ya... kamu lakuin ini?" ucap Sasa meremehkan dan tersenyum miring, tapi hanya Nadien yang melihatnya.


Nadien mengepalkan tangannya "kenapa? Takut kalah dari gue? Jelas takut ya, secara gue itu ratu dance disekolah ini" ucapnya membanggakan diri "jadi, mau nyerah aja? Dan Arka jadi milik gue" ucapnya lagi.


"Gue bukan barang" ucap Arka dingin+datar. 


Sasa terkekeh "Kak Arka emang bukan barang. Tapi, Kak Arka itu penunggu hati Sasa" ucap Sasa menyengir lebar lalu menghadap ke Nadien.


"Jadi ayo kita dance. Kalo nanti Sasa yang menang Kak Nadien sama sahabat Kakak keliling lapangan bawa Pete sambil makan satu satu dan tanpa alas kaki. Deal?" Ucap Sasa sambil menyodorkan tangannya dan tersenyum.


"Udah Nad terima aja, lagian Lo ratu dance" Tari.


"Gue yakin dia ga bisa Nad" Dea.


"Nanti Arka, seutuhnya milik Lo" Gita.


"Oke deal, gue tunggu 3 hari lagi. Dan gue yakin gue yang menang" ucap Nadien PD tanpa membalas tangan Sasa, Nadien dkk pergi dari kantin dan mereka melanjutkan makannya.


Sedangkan Sasa yang tangannya diabaikan menggedikan bahunya acuh lalu pergi keluar kantin. "SA MAU KEMANA?" teriak Vina.


Sasa menengok " rooftop, mau ikut?"


"Ikut" serempak Dara dkk.


"Kita juga ikut" Arka dkk.


Sampailah mereka di rooftop. "Yang, berarti kita bolos dong" ucap Arka dan Sasa mengangguk "kalo kali pacar."


"Sa, Lo yakin nerima tantangan Nadien?" tanya Raka dan mereka memandang kearah Sasa.

__ADS_1


"Iya bener Sa, aku takut deh" Vira.


"Emang kenapa sih?" tanya Sasa kesal menggembungkan pipinya, secara tidak langsung mereka meremehkannya.


"Sasa, gue kasih tau ya Nadien itu partner dance gue, dia sering ngikutin lomba-lomba dan menang, mending Lo nyerah aja Sa" jelas Arka.


"Terus, aku harus relain kak Arka demi dia. Gitu maksud kalian?" Ucapnya membuat yang lainnya terdiam.


"Asal kalian tau, Sasa ga akan lepasin atau berbagi apapun yang udah jadi milik sasa, dan Sasa yakin Sasa bakal menang. Camkan itu" ucap Sasa serius, Arka terpaku menatap Sasa lama. Sebegitu cintanya Lo sama gue Sa, sampai harus rela ngelakuin ini. Gue emang cowok brengsek, sorry Sasa batin Arka dan mereka semua bingung dengan sikap Sasa yang berbeda seperti ada hal yang lain?


"Gue yakin Lo bisa" ucap Dara tersenyum miring.


"Tentu" ucap Sasa sombong, mereka pun sedikit percaya dan harus mensupport Sasa.


Sepertinya rencana balas dendam gue berhasil batin seseorang. Dan setelah itu suasana hening dengan pikiran masing-masing, hanya terdengar daun bergoyang tertiup angin.


"Oh iya, Lia tadi sudut bibir Lo kenapa?" Tanya Raka memecah keheningan.


Lia tersentak kaget sialan, tolol Lo Raka kenapa ingetin mereka batin Lia menjerit.


"Ah i-itu anu gue-"Lia terpotong.


"Anu lo kenapa Li, oh jangan jangan Lo udah jebol ya? Tapi Masa dibibir sih lukanya" ucap Gibran sontak Semuanya tertawa, sedangkan Lia menggeplak kepala Gibran kencang.


"Mesum Lo" ucap Lia nyolot.


"Sakit Lia, ya lagian salah sendiri ngomongnya ko anu gue anu gue. Gue juga kan jadi ambigu. " balas Gibran tak kalah nyolot.


"Gue juga belum selesai bicara, makanya gue bilang anu gibrannn."


"Ya harusnya Lo jangan bilang anu" Gibran. 


"Terserah gue lah mulut mulut gue, mau bilang anu lah apalah bukan urusan Lo."


"Tapi--" Gibran terpotong


"Udah dong dari tadi bilangnya anu terus, emang anu itu apaan sih?" Tanya Sasa polos sambil memiringkan kepalanya, semuanya melotot. Sasa menggaruk hidungnya ko mereka jadi gitu, emang Sasa salah ya? batin Sasa.


"Ekhem kenapa?" Tanya Dara mengalihkan topik.


"Ke-kenapa apanya?" Tanya balik Lia terbata.


"Kenapa gue ga tau, kalo Lo terluka"Dara.


"Betul itu, kenapa gue juga ga tau, siapa yang lukain Lo bilang sama gue" ucap Vina emosi.


Lia tersenyum. "Gue gapapa ga usah khawatir, dan ga ada yang lukain gue."


"Adelia, jelasin" perintah Lio dengan muka datar.


Lia memegang bahu Lio menenangkan kebetulan duduknya dekat. "Bang gue gapapa, tadi itu pas mau berangkat sekolah gue liat ibu ibu lagi di rampok. Karena jiwa kemanusiaan gue berontak gue bantuin ibu ibu itu dan akhirnya ya gini muka cantik gue ada tompelnya" jelas Lia.


"Tapi kenapa cuman dibibir?" tanya Raka dan Gibran.


"Oh maksud kalian, mau gue terluka parah gitu? Emang ya kalian itu seneng banget liat gue menderita, susah emang kalo jadi cantik banyak yang iri." ucap Lia mengibaskan rambutnya kebelakang.


"Astaga Lia, maksudnya itu biasanya kalo preman mukul sampai babak belur. Ya Lo masa cuman dibibir aja." Gibran sedangkan Raka mengangguk anggukkan kepalanya.


Lio melihat jari telunjuk dan jari tengah Lia berbelit seperti ini🤞 "lain kali kalo mau bohong itu tangannya benerin dulu, ketara banget bohongnya. Abang ga suka." ujar Lio dingin, sedangkan Lia semakin diam membisu.


Deg


"Abang ga maksa kamu buat cerita, tapi Abang tunggu kamu yang cerita" ucapnya lagi.


Lia menunduk. "Maaf, tapi Lia cuman minta satu sama Abang."


Lio mengusap kepala Lia lembut "apa Hem?" Tanya Lio.

__ADS_1


Lia mendongak ke arah Lio. "Jangan pernah berubah apapun yang terjadi." ucap Lia sambil tersenyum manis, semua mengernyitkan dahinya bingung termasuk Lio. Setelah itu Lia berdiri lalu pergi dari rooftop.


Sedangkan Sasa dan Daniel terus memperhatikan Lia sampai punggung Lia tidak terlihat lagi.


__ADS_2