
Bel pulang sudah berbunyi, diparkiran hanya ada Sasa dan Dara sedangkan yang lainya sudah pulang duluan. Sasa sedang menunggu Arka sedangkan Dara entahlah mungkin menemani Sasa.
"Ra, aku kangen dia" ucap Sasa sendu
"Tunggu waktunya tepat" Dara
"Iya tapi kapan Ra? Emang kenapa sih dia harus sembunyi segala, apa dia ga su-" Sasa terpotong
"Jangan negatif thinking Sa, positif dulu aja. Dan satu lagi dia ga sembunyi"
"Gimana aku ga negatif thinking Ra, jangan lupa dulu dia pernah pura pura mati. Kalo aja aku ga selidiki mungkin sekarang aku taunya dia udah mati" ucap Sasa sinis
Dara tertawa "Sasa, meskipun Lo ga liat dia, gue yakin... dia merhatiin Lo dimana pun Lo berada dan dia akan datang kalo dia mau" ucap Dara "sekarang Lo cukup percaya aja sama dia, oke?" Katanya lagi
Sasa mendengus "nyebelin, Dasar curang. Apa kalo Sasa terluka dia bakal datang ya Ra? Kalo gitu berarti Sasa harus terluka dulu" ucap Sasa berbinar semangat dengan ide gilanya
Dara menggeplak kepala Sasa "bodoh, jangan gila ya!! Nanti gue yang repot"
Sasa cemberut "Iiss Dara sakit, nanti gue bilangin dia loh"
"Bodo amat, udah ah gue mau pulang. Tuh pacar Lo udah dateng" ucap Dara sambil menekan kata pacar lalu mengacak rambut Sasa dan pergi
"DARA! RAMBUT SASA JADI BERANTAKAN" teriak Sasa heboh, Arka dkk mendekat kearah Sasa
"Kenapa teriak Hem?" Ucap Arka lembut sambil memeluk Sasa
Sasa cemberut mengingatkannya lagi "tadi Dara ngacak ngacak rambut Sasa, nih liat jadi berantakan rambutnya. Emang Dara itu nyebelin sama kaya Kak Raka" ucap Sasa menunjuk rambutnya sendiri, sedangkan Raka melotot
"Perasaan gue diem aja deh, kenapa gue juga kena?"tanyanya pada diri sendiri
Rafael yang mendengar gumaman Raka "karena Lo pantes buat di hujat" ucapnya pedes, Raka hanya mendengus mendengarnya
Arka merapikan rambut Sasa "udah aku benerin rambutnya, sekarang kita pulang ya" ajak Arka, sasa hanya mengangguk. Setelah pamit kepada sahabat Arka, mereka menaiki motor lalu pergi
"Pacar, ko arahnya beda sih? Ini bukan jalan ke apartemen Sasa, Kita mau kemana?" Tanya Sasa bingung
"Ke rumah aku" ucapnya santai
"APA?" teriak sasa kencang sampai Arka mengerem mendadak, untung tempatnya sepi. Arka berhenti sebentar dan melihat Sasa
"Sayang jangan asal teriak dong, nanti kalo aku nabrak orang gimana? gara gara ngerem mendadak"
Sedangkan Sasa tidak mendengarkan Arka bicara, ia sibuk memegang jantungnya yang berdetak sangat kencang, Arka yang mengetahui itu mengeryitkan dahinya.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit? Atau tadi kamu kebentur sesuatu?" Tanya Arka beruntun sedangkan Sasa hanya diam "sayang ngomong dong, aku khawatir sama kamu"
"Jantung Sasa deg degan, mau ketemu camer" ucap Sasa polos, sedangkan Arka menghela nafas lega lalu terkekeh
"Kamu ini ada ada aja" ucap Arka lalu meraup muka sasa
"Sasa serius Kak Arka" ucap Sasa sambil melotot "lagian kenapa ga bilang dulu sih mau ke rumah Kak Arka? Kalo bilang kan nanti Sasa bisa dandan dulu. Ini udah kucel, dekil lagi, gimana dong Kak? Terus nanti kalo Sasa ga bisa jawab pertanyaan dari camer gimana Kak? Nanti kita ga direstui dong, terus nanti Sasa diusir" Ucap Sasa lagi dengan mata berkaca-kaca
Arka tertawa terbahak bahak "ya ampun sayang, mertua kamu ga gigit ko. Paling nanti kamu dibanting" ucap Arka menakuti Sasa
"HUWAAA SASA GA MAU KE RUMAH KAK ARKA, SASA TAKUT"
"Udah ga usah takut sayang, aku yakin Bunda pasti suka sama kamu. Secara kan kamu gemesin" ucap Arka mencubit kedua pipi Sasa
"Tapi, Sasa malu. Nanti aja ya ya ya" Sasa merengek
"Ga"
"Kak Arkaaa " ucap Sasa sambil menunjukkan puppy eyesnya, Arka memalingkan wajahnya "sekarang" tegas Arka
"Oke fine" ucap Sasa lirih
__ADS_1
"Oke sayang, kita berangkat" ucapnya, dan melajulah motor Arka sampai di mansion Arka yang mewah. Mereka turun, setelah itu melangkah masuk
Arka heran biasanya cewek kalo liat mansion mewah terpukau atau histeris. Tapi, kenapa Sasa tidak dan sama seperti dia. Sedangkan Sasa yang melihat mansion Arka yang mewah biasa saja, karena apa? Karena mansion Daddynya lebih besar dari ini
"Kamu ga kaget?" Tanya Arka
Sasa menggeleng "Emang harus yah?" Tanya balik Sasa
Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "ya engga juga sih, ya udahlah masuk yu" ajak Arka lalu mereka memasuki mansion
"BUNDA, ARKA PULANG" teriak Arka menggema
Sasa menutup telinganya dengan kedua tangannya lalu melotot kearah Arka "Kak Arka kalo mau teriak bilang dulu dong, jadikan Sasa bisa tutup telinga dulu. Kalo nanti Sasa budek gimana? Mau tanggung jawab hah!"
"Ya-"
"ARKA JANGAN TERIAK, INI BUKAN HUTAN"teriak seorang wanita paruh baya lalu menghampiri Arka dan Sasa
Sasa menggaruk hidungnya "maaf Tante, tadi juga Tante teriak" ucap Sasa polos, Arka terkekeh geli sedangkan Bunda melongo
"Oh iya Bunda, kenalin ini pacar Arka" ucap Arka menyadarkan Bunda
"Halo Tante, kenalin nama panjang aku Auristela Allisya ld. Panggilannya Sasa, menantu juga boleh" ucap Sasa menyengir lebar
Bunda terkekeh lucu "kenalin nama Tante Rosa, jangan panggil Tante dong Bunda aja"
"Kalo Sasa panggil nya camer, boleh ga?"
Bunda tersenyum "terserah kamu aja, tuh kan Bunda jadi lupa. Ayo masuk sayang" ajak Bunda lalu membawa Sasa kedalam
"Anaknya siapa, yang dibawa siapa" gumam Arka, lalu menyusul kedua wanita tersayangnya. Tersayang? Ya, mungkin Arka sudah menyayangi Sasa
"Duduk sayang, kamu mau minum apa Sasa?" Tanya Bunda
"apa aja camer" Bunda pun menyuruh bibi mengambilkan minum untuk Sasa, setelah itu mereka mengobrol
"AYAH PULANG" teriak pria paruh baya dari arah luar
Keluarga tukang teriak batin Sasa cekikikan sendiri, untuk yang lainnya tidak melihat dirinya tertawa, jika melihatnya mungkin Sasa dianggap gila.
"Loh dia siapa?" Tanya Ayah Arka sambil menunjuk dengan dagunya lalu duduk didekat Bunda
"Halo Om, kenalin aku Sasa-" ucap Sasa terpotong oleh Arka
"Pacar Arka" Ayah Arka terkejut lalu tersenyum
"Kenalin nama saya Adam, Ayahnya Arka" setelah itu datanglah bibi membawa minum dan cemilan
"Diminum Sa" Bunda Rosa
"Ah iya camer eh maksud Sasa Bun-Bunda" ucap Sasa gugup karena sedari tadi Ayahnya Arka terus melihat kearahnya, seperti sedang menilai dirinya.
Arka menjiwil hidung Sasa "dimakan cemilannya sayang jangan malu malu, biasanya juga malu maluin" Arka, Sasa langsung mencubit pinggang Arka
"Kalian satu sekolah?" Tanya Bunda
"Iya Bun, Sasa adek kelasnya Kak Arka " Sasa
"Adek kelas tapi ga sopan sama seniornya" cibir Arka
"Kak Arka jangan buka kedok Sasa didepan camer dong" gumam Sasa pelan. Tapi masih terdengar, membuat yang lain terkekeh
"Nama Kamu siapa?" Tanya Adam yang sedari tadi diem
"Sasa cam-eh om"
__ADS_1
"Maksud saya, nama panjang kamu" Adam
"Auristela Allisya ld, om"
"Apa singkatan LD?" Tanya Adam lagi, semuanya terdiam karena penasaran
Sasa tersenyum "maaf om, Sasa ga bisa ngasih tau. Karena itu privasi"
"Kenapa begitu?"
"Karena tidak semua orang tau tentang itu dan juga Sasa dilarang Daddy. Karena menyangkut keselamatan" ucap Sasa serius dan sangat tenang
"Oke, saya tidak akan bertanya lagi. Arka, Ayah tunggu di ruangan" ucap Adam lalu berlalu pergi
"Bunda, Sasa, aku keruangan Ayah dulu" pamit Arka, keduanya mengangguk
"Bun, kenapa Kak Arka dipanggil? Apa Sasa salah ngomong ya sama Om?" Ucap Sasa cemas
"Tenang sasa ga usah khawatir, mungkin mereka mau bicarain tentang bisnis. Oh iya, kamu kenal Arka udah lama?" Tanya Rosa mengalihkan pambicaraan
Sasa menggeleng " ga lama si Bun, baru satu bulan lebih kalo ga salah"
"Emang ya, ga ada yang bisa nolak pesona anak Bunda" ucap Rosa bangga, setelah itu mereka terus mengobrol sampai Arka datang
"Sa, kita pulang ya? Takut kesorean. Nanti dicariin mommy kamu" ajak Arka datar menahan emosi
"Oh iya Kak, Bun Sasa pulang dulu ya"
"Iya, sering sering kesini ya Sa" Rosa
Sasa pun hormat "siap Bunda, salam buat Om Adam ya Bun"
"Arka antar Sasa dulu ya Bun" Arka
"Iya, hati hati bawa motornya. Jagain mantu Bunda" ucap Rosa, setelah itu mereka pergi. Setelah beberapa menit mereka sampai di apartemen Sasa
"Kak Arka, tadi Om Adam bilang apa aja? Dia ga suka ya sama Sasa?"
"Hem? Engga ko, Ayah bilang kamu lucu"
"Bohong" Sasa
"Kita cuman bicarain bisnis aja Sa" ucapnya Sasa mengangguk "yaudah, aku pulang ya"
"Ga mau masuk dulu?" Tawar Sasa
"Engga usah deh, udah sore juga. Nanti aja kapan kapan, oh iya besok sekolah aku jemput. Kalo gitu aku pulang sayang" pamit Arka, saat ingin melaju suara Sasa menghentikannya
"Kak Arka" panggil Sasa, Arka menengok kearah Sasa
Cup
"Makasih, dan hati hati dijalan" ucap Sasa dengan pipi memerah
Ya Sasa mencium pipi Arka dan Arka mematung lalu Sasa berlari masuk ke apartemen dengan menutup pipinya
Arka memegang jantungnya yang berdetak kencang lalu terkekeh mengingat wajah Sasa yang merah merona karena malu "gue ga yakin bisa menang taruhan ini, dia lucu dan gue suka. Apalagi...pipinya merona kaya tadi gemesin" gumam Arka lalu tersenyum lebar, setelah itu Arka melajukan motornya ke suatu tempat
•••••
Sekarang Arka berada di rumah pohon, masih ingatkan waktu Arka bawa Sasa kesini dan terjadi hal kecil? (Para pembaca, ayo comment chapter berapa?)
Arka sedang termenung memikirkan perkataan ayahnya saat tadi di ruangan "gimana ya kalo nanti gue yang malah suka sama Sasa? Apa dia bakal kecewa? Tapi kalo dia kecewa, kan dia juga yang ninggalin gue entah karena apa? Tapi ayah bilang dia ninggalin gue karena pengobatan ibunya. Dan bentar lagi dia bakal balik lagi kesini, kalo emang dia masih sayang sama gue kenapa dia ga ngabarin gue malah ngabarin Ayah?"
"AAAAAAAA GUEEEEEE BINGUNGGGGGG" teriak Arka frustasi, dia membayangkan wajah Sasa yang kecewa kepadanya. Karena mempermainkan perasaannya.
__ADS_1