
Arka yang terdiam memegang jantungnya lalu tersenyum tipis sangat tipis mobil Arka pun melesat menjauh dari apartemen sasa.
"Baru kali ini ada cewek kaya gitu sama gue, menarik." gumam Arka tersenyum miring.
Pagi hari
Hari ini hari ke tiga Sasa sekolah di LHS Sasa sudah siap lalu turun kebawah. "Selamat pagi Mom Dad" sapa Sasa.
"Tumben ga teriak princess" Mom.
"Lagi ga pengen Mom."
Seperti biasa mereka makan dengan tenang hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. "Sasa sudah selesai, Sasa berangkat Dad, Mom." pamit Sasa mencium pipi kedua orang tuanya.
"Hati hati princess." serempak lalu sasa melangkah keluar.
Sasa sudah sampai disekolah dan seperti biasa banyak yang membicarakan Sasa tapi Sasa bodo amat akhirnya Sasa sampai di kelas lalu duduk.
"Tumben ga teriak sa?" tanya Vira heran.
"Percis seperti Mom." Lia dan Vira mengernyitkan dahinya bingung. " maksudnya?"
"Tadi Sasa makan terus mom bilangnya sama kaya Vira" jelas Sasa.
"Oh" serempak.
"Oh iya Sa, gue lupa dari kemaren mau minta nomor hp Lo dong buat kita masukin grup."
"Nih 08xxxxxxxx."
"Oke thanks"
Setelah itu bell masuk berbunyi dan mereka melaksanakan *** setelah Berjam jam menguras otak akhirnya bel istirahat berbunyi.
"Tadi kata Vina kita langsung ke kantin aja, mereka udah di sana langsung mesenin pesanan kita." ucap Vira dan mereka mengangguk lalu melangkah ke kantin. Saat sampai kantin mereka menjadi pusat perhatian dan banyak yang membicarakan mereka.
"Mana mereka?" tanya Lia celingak-celinguk mencari sahabatnya.
"Itu tuh duduk sama cowok" Sasa.
"Ngapain sih mereka duduk sama mereka, cari gara gara aja. untung Nadien dkk belum pulang coba kalo udah." Vira.
"Nadien siapa? Terus kalo udah pulang emang kenapa?" Tanya Sasa bingung.
"Males adu bacot Sa, Nadien itu orangnya suka bully terus sok berkuasa lagi" jelas Lia, Sasa dkk sudah sampai di tempat inti Decarlos dan Sahabatnya duduk mereka mendudukkan bokongnya ke kursi, terdengarlah teriakan histeris.
"Kenapa ga laporin aja ke kepala sekolah?" lanjut Sasa karena penasaran.
__ADS_1
"Itu dia masalahnya, dia selalu bebas ga tau deh disogok pake apa" Lia.
"Tubuhnya kali" ceplos Vina.
"Sasa jadi penasaran sama yang namanya Nadien itu huwaa Sasa pengen ketemu." ucap Sasa semangat.
"Lo ga takut Dede gemoy?" tanya Gibran.
Sasa yang sudah biasa dipanggil seperti itu menengok lalu menggeleng. "engga, malah Sasa pengen gelud (berantem)" ucap Sasa cekikikan.
"Udah udah sekarang kita makan dulu" Vira.
Arka dkk dan Sasa dkk makan dengan tenang sambil bercanda sedangkan Sasa makan Dengan diam sudah tau bukan peraturannya. Bel masuk sudah berbunyi dan mereka masuk ke kelas masing masing Dikelas Sasa hari ini sedang free class.
Sasa berdiri. "mau kemana Sa?" tanya Vira
"Sasa mau ke perpus, mau ikut?" ajak nya Mereka menggeleng.
"Yaudah Sasa ke perpus dulu ya." ucap Sasa dan diangguki mereka lalu Sasa melangkah keluar.
Sasa sudah sampai di perpus. Dan sekarang Sasa sedang mencari buku yang menarik menurutnya saat Sasa mengangkat kepalanya ada buku novel yang menarik menurut Sasa judulnya 'INDIGO' awalnya Sasa sangat tidak percaya tentang hal mistis. tapi, karena seseorang yang dekat dengan Sasa memilikinya jadi ya Sasa sedikit percaya tentangnya.
Sasa ingin mengambil buku itu tapi tangannya tidak mungkin sampai, mau sampai lompat lompat pun Sasa tidak akan sampai karena buku itu berada paling atas.
"Rak buku kenapa kamu tinggi banget sih, sampai Sasa enggak nyampe padahal Sasa tinggi loh." karena tidak mendapatkan respon sasa menendang rak buku itu dengan kencang.
"Ah Aduhh, selain tinggi kamu itu keras, kaki Sasa sampai sakit, terus gimana dong Sasa ngambilnya? dasar nyebelin, nanti Sasa suruh Daddy buat buang kamu terus ganti sama yang baru, yang lebih pendek dari kamu biar bisa ngambilnya, kasian tau orang yang lebih pendek dari sasa." cerocos Sasa kesal.
•••••••••
Sedangkan ditempat lain seorang pria tampan sedang berjalan melewati perpus matanya tidak sengaja melihat seorang gadis mungil sedang melihat keatas rak buku, iapun penasaran lalu masuk ke perpus dan mendekat berdiri di dekat gadis mungil itu.
Ingin sekali ia tertawa melihat kelakuan gadis mungil itu tapi iya hanya terkekeh. "gadis gila." Bagaimana tidak, mana ada orang waras yang berbicara kepada benda mati sungguh dirinya menahan tawa sekarang.
Tapi, dirinya penasaran untuk apa gadis itu mengambil kursi yang rusak apa akan diperbaiki olehnya? impossible saat ia menengok kearah gadis itu mata ia melotot bagaimana tidak sudah tau kursi itu rusak tapi mengapa gadis itu malah menaikinya apa selain gila dia juga tidak waras batin pria itu lagi.
Kursi itu goyang dan ia terkejut gadis itu akan jatuh dia pun berlari untuk menangkapnya
BRUK
benar gadis itu sudah jatuh lebih tepatnya jatuh diatasnya (tubuhnya) gadis itu mengangkat kepalanya Sasa terkejut.
"Ka-kak Arka." ucap Sasa terbata mereka saling pandang cukup lama.
Ya benar yang memperhatikan sasa dari tadi dan yang menolong Sasa dia Arka Raffasya Lawrence ketua dari Geng Decarlos.
•••••••
__ADS_1
Sedangkan ditempat sasa ia kaget kursinya goyang Sasa tidak bisa menahan keseimbangan akhirnya ia terjatuh.
Bruk
Tapi yang Sasa heran, kenapa Sasa tidak merasa sakit sedikitpun? bukankah iya jatuh ke ubin, Sasa mengangkat kepalanya.
Deg
"Ka-kak Arka." ucap Sasa gugup karena terlalu dekat wajahnya sudah memerah.
"Bangun! badan lo berat." ucap Arka dingin, didalam hati Arka sungguh dirinya ingin tertawa melihat wajah memerah dan gugup gadis didepannya.
"Sasa ga berat tau." Dengan gerakan cepat Sasa bangkit tapi naas kepalanya malah kejedot.
"Ceroboh! Makanya pelan pelan." ucap Arka sambil mengusap kepala Sasa yang kejedot dan meniupnya, itu membuat keduanya dag dig dug.
"Ma-maka-kasih Kak Ar-arka " gugup Sasa salting.
Arka terkekeh, sejenak Sasa terpesona karena ketampanannya. "Oke,tapi ingat nama gue Arka bukan ararka. lain kali hati hati, udah tau itu benda rusak kenapa Lo naikin?"
"I-iya Kak, Sasa ga tau kalo kursinya rusak makanya Sasa naikin."
"Mau ngambil buku apa?"
"It-- eh mana yah bukunya? perasaan tadi disitu deh." ucap Sasa sambil menunjuk rak buku yang paling atas.
"Ini maksud Lo?" ucap Arka mengangkat buku yang Sasa incar, Sasa mengangguk anggukan kepalanya matanya berbinar menggemaskan seperti anjing yang jinak batin Arka terkekeh sendiri dengan pemikirannya.
"Makanya kalo tinggi itu keatas bukan kebawah, dasar pendek." Sasa mengerucutkan bibirnya dia juga tidak ingin seperti ini.
"Iiss kalo Sasa disuruh milih ya Sasa juga pilih tinggilah! tapi tinggi Sasa seukuran perempuan ko lagian yah orang orang bilang Sasa mungil bukan pendek." ujarnya sewot karena dia juga tidak ingin kalah.
"Itsokay, terserah Lo."
"Sekali lagi makasih ya Kak Arka, udah nolongin Sasa, Kak Arka arka baik deh." puji Sasa tersenyum manis.
Arka mengangkat alisnya lalu menyeringai. "Ga ada yang gratis" pudar sudah senyuman manis Sasa.
"Sasa tarik kata kata Sasa." gumam Sasa.
Arka tersenyum tipis. "Sebagai gantinya, hari Minggu nanti temenin gue ke suatu tempat." ujar Arka lalu melangkah pergi tapi ia menengok kebelakang.
"Tapi--"
"Gue ga suka penolakan! Dan buku ini.. jadi jaminannya gue kasih pas ketemu lo nanti. gue jemput di apartemen Lo." lalu Arka melangkah menjauh.
Sasa menghela nafas. "dasar nyebelin, tukang motong omongan orang Mulu, tukang paksa, buat apa coba Sasa perjuangin dapetin buku itu eh ujung ujung diambil dia, percuma dong." Sasa berjalan menghentak hentakan kakinya pergi ke kelas.
__ADS_1
Dan tanpa mereka sadari mereka sudah mulai akrab dan Arka sudah tidak dingin lagi kepada Sasa, dia sudah mulai mencair bahkan tadi Arka tertawa meskipun tidak keras.
...Dan disinilah kisah mereka dimulai: diperjuangkan, memperjuangkan atau melepaskan...