ALLISYA L'D

ALLISYA L'D
DuaPuluh


__ADS_3

Arka sedang termenung memikirkan perkataan ayahnya saat tadi di ruangan "gimana ya kalo nanti gue yang malah suka sama Sasa? Apa dia bakal kecewa? Tapi kalo dia kecewa, kan dia juga yang ninggalin gue entah karena apa? Tapi ayah bilang dia ninggalin gue karena pengobatan ibunya. Dan bentar lagi dia bakal balik lagi kesini, kalo emang dia masih sayang sama gue kenapa dia ga ngabarin gue malah ngabarin Ayah?"


"AAAAAAAA GUEEEEEE BINGUNGGGGGG" teriak Arka frustasi, dia membayangkan wajah Sasa yang kecewa kepadanya. Karena mempermainkan perasaannya.


Flashback ruangan Adam


"Arka, kamu ga lupakan dengan pembicaraan kita waktu itu?" Tanya Adam 


"Arka ga akan pernah lupa"


"Lalu kenapa kamu pacaran?"tanya Adam lagi


"Taruhan"


"Apa maksudmu?" Tanya Adam dengan raut serius dan dingin 


"Ceritanya panjang yah"


"J.e.l.a.s.k.a.n" tekan Adam, Arka menjelaskan tentang taruhan itu kepada Adam dan mengalirlah cerita taruhan dirinya dengan sahabatnya.


Tangan Adam mengepal "Arka, kamu tau? Ayah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pria brengsek seperti ini"


Arka menunduk menyesalinya "maaf yah" Adam menghela nafasnya "sudahlah, semuanya sudah terjadi" ucap Adam, lalu keadaan hening melingkupi mereka


"Putuskan Sasa" titah Adam


"Tapi yah-"


"Arka, Ayah akui dari pertemuan pertama dengan Sasa ayah menyukainya dari sikap tenangnya. Tapi, Ayah tidak menyukai Sasa karena dia terlalu banyak rahasia, bisa jadi itu bisa membahayakan kamu ataupun keluarga kita. Dan lagi kamu tidak bisa bersamanya karena kita sudah mempunyai janji dengan sahabat Ayah, kamu pun sudah dekat dengannya" ucap Adam 


"Tapi, dia ninggalin Arka"


"Dia ga ninggalin kamu, dia pergi keluar negeri untuk mengobati Ibunya" Adam 


"Kalo dia ga ninggalin Arka, lalu kenapa dia ga pernah ngabarin Arka?"


"Dia takut kamu kecewa, karena dia pergi saat kamu lagi butuh dia" ucap Adam, Arka menghela nafasnya 


"Jadi?" Tanya Adam 


"Apa?"


"Kapan kamu memutuskannya?" Adam 


"Arka ga tau" lalu memalingkan mukanya 


"Jangan bilang kamu mulai suka sama Sasa?" tuduh Adam


"Ga"


"Ayah udah Kenal kamu sejak lahir Arka, dan ayah tau kamu bohong" Adam

__ADS_1


"Arka, lebih baik Kamu putuskan Sasa. Sekarang mungkin kamu suka sama Sasa tapi bagaimana dengan nanti? apa kamu juga akan cinta sama Sasa? Dan lagi bagaimana dengan perasaannya, jika dia tau kalo kamu mempermainkan hatinya. Mungkin, dia akan kecewa dan pergi ninggalin kamu" ucap Adam lagi, Arka diam kenapa gue ga rela kalo Sasa menjauh dari gue? Batin Arka.


"Nanti, Arka pikirin dulu Ayah"


"Jangan terlalu lama, takutnya nanti dia tau dari orang lain. Pasti Sasa semakin kecewa sama kamu" Adam 


"Iya yah, kalo gitu Arka keluar" ucap Arka lalu pamit pergi tapi perkataannya Ayahnya membuatnya terkejut


"Bulan depan dia kembali, dan sekolah ditempat mu" ucap Adam, Arka mematung badannya sedikit gemetar 


"Jika kamu ingin bertanya, tanyakan langsung padanya saat dia sudah disini. Keluarlah Ayah banyak pekerjaan" ucap Adam lagi, setelah itu Arka pergi


"Maafkan Ayah nak, Ayah tau kamu sudah menyayangi nya. Tapi, ini juga demi kebaikan kamu dan keluarga kita. Karena Daddy dia adalah seorang pengusaha yang berpengaruh dan juga... mafia" ucap Adam sambil menerawang, dulu Adam tidak sengaja mendengar pembicaraan Ayahnya dia. Kalo sebenarnya Ayahnya dia adalah seorang mafia dan untuk menjaga rahasianya dia menjodohkan Arka dengan anaknya, dan kebetulan Arka dan anaknya sedang dekat.


Flashback off


•••••••••


Keesokan harinya. Sinar matahari dari balik gorden kamar seorang gadis membuatnya terusik. Perlahan dia membuka matanya yang terasa sangat berat untuk terbuka, dia meregangkan otot ototnya.


"Hoammm, jam berapa sih" ucap gadis itu Sasa menguap sambil melihat jam "oh jam setengah enam, mandi dulu siap siap" sasa melangkah ke kamar mandi


Setelah selesai, Sasa turun kebawah menaiki lift. Saat sampai "MORNING MOMMY" sapa Sasa, lalu duduk 


"Morning too princess" balas keduanya 


"Anak mommy udah dewasa ya, udah bisa bangun pagi" ucap mom


"Loh Daddy tumben udah pulang? Biasanya satu minggu disana" Sasa menyindir 


"Maaf ya princess, ada masalah sama peke-"


"Pekerjaan? Lagian ga pulang juga gapapa" Sasa santai 


"Princess ga boleh gitu dong, Daddy pergi juga demi kita. Lebih baik kita makan aja ya? Ga baik ribut didepan makanan, nanti makanannya dipatok ayam" ucap mom, sedangkan Sasa mengerucutkan bibirnya, setelah itu mereka makan dengan hening.


Sasa berdiri "kamu diantar supir princess?" Tanya Dad


" engga Dad, Sasa dijemput pacar. Kalo begitu Sasa berangkat ya" pamit Sasa lalu mencium pipi kedua orangtuanya, sedangkan Thomas terdiam.


Saat sampai apartemen Sasa melihat sudah ada Arka disana "duh ko Kak Arka udah disana sih, Terus nanti Sasa kesannya gimana? Ketauan dong kalo Sasa ga tinggal di apartemen itu" ucap Sasa cemas, saat sedang memikirkan cara, Sasa tak sengaja melihat ada anak kecil yang sedang jualan, bajunya sangat lusuh dan Sasa merasa sangat prihatin.


"Ahaa Sasa punya ide" ucap sasa senang dan ada lampu di samping kiri kepalanya. Lalu Sasa menghampiri anak kecil itu


"Helo dek, kamu jualan apa? Tanya Sasa lembut


Anak kecil itu melihat kearah Sasa "Tio jualan cangcimen Kak, Tapi tisu juga ada. Kakak mau beli yang mana?" Tanya Tio dengan muka menggemaskan dan berharap.


Kenapa wajahnya familiar sekali batin Sasa "kenapa kamu jualan? Dan... kenapa ga sekolah?" Tanya Sasa 


"Tio ga punya biaya untuk sekolah Kak-" ucap Tio berhenti dengan muka bingung "nama Kakak Sasa"

__ADS_1


"Umur kamu berapa dek?" Tanya Sasa


"Umur Tio 9 tahun Kak Sasa, nanti bulan depan 10 tahun"


"Kenapa kamu yang jualan? Ayah Kamu Kemana?" Tanya Sasa lagi, Dari kejauhan Arka yang mendengar suara sasa pun menghampirinya dengan anak kecil itu. Tapi, Arka tidak melihat wajah anak kecil itu karena membelakanginya.


"Tio jualan buat berobat Nenek Kak, Tio juga ga tau Ayah Tio dimana. Tapi kata alm Ibu. Ayah Tio ga suka sama kehadiran Tio, jadi Tio dibuang deh" ucap Tio polos, Arka yang tidak sengaja mendengar nya merasa kasian.


"Sayang, aku udah nunggu kamu didepan apartemen dari tadi. Kamu ngapain sih yang?" Tanya Arka 


"Oh iya, bentar Kak Arka" ucap Sasa "Tio, ini ambil dan pakai yang semua kamu perlukan dan kamu juga bisa melanjutkan sekolah dengan ini" Sasa lagi, menyerahkan benda kecil berukuran segiempat.


"Ini apa Kak?" Tanya Tio sambil memperhatikan benda kecil itu


"Ini namanya kartu kredit kalo dicairkan bisa jadi uang, kalo Tio masih ga ngerti kasih aja ke Nenek Tio. Dan ini kartu identitas Kakak, kalo Tio butuh sesuatu telpon nomor ini atau datanglah ke alamat ini. Tapi ingat! Jangan kasih kartu ini ke siapapun, ngarti?" Jelas Sasa,


"Iya Kak, Tio ngerti. Tapi maaf Tio ga bisa nerima ini" ucap Tio menunduk, Sasa mengangkat alisnya bingung "kata nenek, Tio ga boleh nerima apapun dari orang asing, nanti diculik" Tio lagi polos


Sasa tersenyum "kamu tenang aja Kakak bukan orang jahat, dan uang ini bisa Tio gunakan untuk pengobatan Nenek Tio. Tio mau liat Nenek sembuh kan?" Tanya Sasa, Tio mengangguk semangat


"Kalo ingin Nenek Tio sembuh, maka Tio harus terima kartu ini" Sasa


"Kalo Tio terima kartu ini, nanti Nenek Tio bakal sembuh?" Tanya Tio dengan mata berkaca-kaca, sekarang gantian Sasa yang mengangguk. Lalu Tio langsung menubruk Sasa dengan pelukan


"Ma-makasih banyak Kak Sa-sasa, Tio ba-bakal balas kebai-kan Kak Sasa dan Ti-tio janji kalo nanti Tio u-dah besar bakal nikahin Ka-kakak"ucap Tio sambil menangis, sedangkan Sasa terkekeh lucu dengan kalimat terakhir Tio


Berani banget nih bocah peluk terus mau nikahin pacar gue didepan gue batin Arka kesal


"jangan nangis dong, laki laki itu harus kuat" ucap Sasa, Tio melepaskan pelukannya lalu mengangguk


Sasa mengusap kepala Tio "kalo begitu, Kakak pergi ke sekolah dulu ya"


"Iya Kak, sekali lagi terimakasih"


Setelah itu Arka dan Sasa pergi ke sekolah menaiki mobil, Sasa mengirim pesan kepada seseorang untuk mengikuti anak kecil tadi dan mencari tahunya. Sedangkan Arka terdiam terpaku karena kebaikan Sasa, ia semakin dibuat suka olehnya. Bayangkan dia memberikan kartu itu kepada orang yang baru dia kenal dan Arka yakin, isinya pasti bisa buat orang langsung menjadi kaya. Malaikat kecilku batin Arka


"Sayang kamu yakin, Ngasih kartu tadi ke anak kecil itu? Gimana kalo dia penipu" Arka


"Ga mungkin Kak Arka, lagian Sasa kasian sama dia. Masih kecil aja udah banting tulang cari cuan, harusnya dia sekolah belajar kaya anak yang lain. Sasa jadi kesel, Ayah macam apa sih yang ngebuang anak sama istrinya kaya gitu hewan aja masih sayang anaknya masa dia engga sih" ucap Sasa dengan emosi menggebu


"Kak Arka awas ya! Kalo nanti kita nikah terus punya anak, jangan buang Sasa sama anak kita ya" ucap Sasa lagi dengan muka mengancam, Arka yang gemes dengan Sasa pun meraup mukanya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan ia pakai untuk menyetir mobil. Arka tertawa terbahak bahak sedangkan Sasa cemberut.


"Sayang, kamu mikirnya jauh banget sih. Belum tentu loh kita bersama"ucap Arka tanpa sadar


"Jadi Kak Arka ga mau nikah sama sasa? Atau jangan jangan bentar lagi Kakak mau buang Sasa ya?" Tanya Sasa dengan lirih, Arka mengerem mendadak


"KAK ARKA IIHH JIDAT SASA SAKIT" teriak Sasa


"Aduh sayang maaf ya, aku ga sengaja sumpah. Lagian kamu juga ngomongnya ngawur banget" Arka


"Gapapa gimana? Sakit ini jidat sasa. Ko nyalahin Sasa sih, kan Sasa cuman tanya Kak Arka nya aja yang berlebihan" ucap Sasa kesal, Arka mengelus jidat Sasa

__ADS_1


"Maaf sa-" ucapan Arka terpotong oleh klakson mobil dibelakang, setelah itu mereka pergi menuju sekolah dan sampailah diparkiran.


__ADS_2