ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG

ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG
Kesepakatan


__ADS_3

Sesampainya dirumah, pak Suryo segera menghubungi kedua anaknya, Mehesa dan Alisa. Mereka diminta agar segera kerumah orang tuanya itu.


"Memang ada apa, Pa,? kok kita disuruh kesana semua?" tanya Alisa putri kedua pak Suryo dalam sebuah sambungan telepon.


"Ya kesini saja, ada yang ingin Papa bicarakan tentang adikmu itu. Kakakmu Mahesa sedang dalam perjalanan kemari"


"Baik, Pa, Insya Allah Lisa segera kesana"


***


Tak lama anak-anak serta menantu pak Suryo telah tiba dirumahnya. Merekapun diminta duduk diruang keluarga. Disana sudah berkumpul pak Suryo beserta istrinya, Mahesa bersamanya istrinya, Rania. Sedangkan ketiga anak mereka tidak dibawa serta. Alisa putri kedua pak Suryo juga datang bersama suaminya, Ryan.


"Jadi Papa ngumpulkan kalian disini terkait adik kalian Danu" pak Suryo membuka pembicaraan sambil menatap anak dan menantunya satu persatu.


"Papa ingin mengajarinya istri Danu agar ia bisa hidup mandiri, jadi Papa berniat memberikan rumah yang Rungkut itu untuk adik kalian agar ditempati bersama istrinya, bagaimana? apa kalian tidak keberatan?" kembali pak Suryo menatap anak menantunya satu persatu.


"Ya tidak apa-apa, Pa. Memang sebaiknya setelah menikah lebih mereka tinggal terpisah aja biar tidak ada kesalahpahaman dengan orang tua" ujur Mahesa, anak tertua pak Suryo


"Alisa bagaimana?"


"Enak di istrinya donk, Pa? nempati rumah bagus tanpa tau rasanya bersusah-susah. Lisa nggak setuju, Pa. Baiknya ajari mereka ngontrak rumah sederhana dulu, agar mereka tau gimana rasanya berjuang. Ajari mereka hidup sederhana agar mau menyisihkan uang untuk membeli rumah" timpal Alisa anak kedua pak Suryo.


Pak Suryo dan Bu Suryo tampak diam. Dalam hati mereka membenarkan ucapan Alisa. Nanti Danu dan Qiara hanya tinggal menempati rumah tapi mereka tak tau gimana rasanya berjuang agar bisa membangun rumah dari keringat mereka sendiri.


"Arya setuju sama Lisa, Pa. Bukankah kami dulu juga harus ngontrak rumah sederhana dan berjuang dari hasil keringat sendiri untuk bisa memiliki rumah. Jadi mereka juga harus diperlakukan sama dengan kita" Arya suami Alisa menimpali


"Kalau menurut Rania gimana?" tanya pak Suryo pada istri Mahesa.

__ADS_1


"Kalau Rania sih terserah Mama dan Papa aja, Rania nurut. Toh itu rumah memang jatahnya Danu, jadi apa salahnya diberikan sekarang, karena saya liat, Qiara juga bukan tipe istri yang mau hidup sederhana"


"Justru itu kak Ran..., jangan biarkan Qiara merajalela dengan memberinya fasilitas enak. Ia sih aku bakal maklum seandainya dia berasal dari keluarga berada. Lah..udah dari keluarga kere, belagu lagi. Masih untung kita mau Nerima dia. Lagaknya itu lo, kesel aku liat. Nggak mau nyapa duluan, nggak mau bertegur sapa sama yang lebih tua" dengus Alisa.


"Hushhh Lisa..! jangan bicara begitu! nggak baik!" bu Suryo menatap tajam ke arah anak perempuannya.


"Mama masak nggak kesel sih, Ma, punya mantu kayak Qiara itu? modal cantik doank lagaknya kayak tuan putri. Tiap Alisa maen kesini mana mau dia keluar dari kamarnya. Dia nggak mau interaksi Ama kita!" Alisa tampak bersungut-sungut


"Ya namanya juga masih adaptasi sama kita. Ya kalau nuruti emosi, Mama ya kesel, tapi gimana lagi? itu pilihan Danu" Bu Suryo mencoba bersabar


"Jadi gimana? kembali ke pembahasan awal tentang jatah rumah untuk Danu?" ujur pak Suryo.


"Ya sudahlah, Pa. Kasikan aja lah. Nanti atau dikasikan sekarang kan sama aja sih" timpal Mahesa.


"Ya nggak sama lah, Kak. Biar mereka belajar hidup sederhana dan biar mereka mau berjuang mulai dari bawah. Kalau langsung dikasih rumah sekarang, enak mereka donk?mereka nggak tau gimana rasanya harus hidup berhemat, kerja ini itu demi bisa ngumpulin Rupiah agar bisa menabung untuk membeli rumah dari hasil keringat sendiri?" Alisa menatap Kakak lelakinya yang tengah menyeruput teh hangat yang baru di hidangkan bi Imah.


"Liat gelagat istrinya apa iya mau berjuang dari bawah? sementara Danu nggak bisa bersikap tegas ke istrinya? kalau kita paksa mereka untuk belajar hidup sederhana, bisa timbul konflik dalam rumah tangga mereka" ujur Mahesa sambil meletakkan gelasnya dimeja.


Pak Suryo belum mendapat kesepakatan dari anak-anaknya karena Alisa menolak usul untuk memberikan rumah pada Danu dan istrinya.


Hari sudah sore, tampak Danu telah pulang kerja. Iapun tampak menyalami kakak dan kakak iparnya satu persatu.


"Baru pulang, Nu?" tanya Arya suami Alisa.


"Iya, Mas"


"Gimana kerjaannya?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, lancar. Aku ke kamar dulu ya? Mau mandi"


Danupun berlalu ke kamar dan langsung disambut oleh sang istri dibalik pintu kamarnya. "Yank mereka pada ngapain berkumpul disini? pada ngomongin aku pastinya?" wanita itu tampak memicingkan matanya.


"Jangan suudzon, yank" Danu mengacak rambut kecoklatan milik sang istri.


"Jadi gimana, kamu udah ngomong tentang rumah jatah kamu itu?biar kita bisa pindah secepatnya. Aku makin nggak betah kalau pada ngumpul disini"


"Aku bingung gimana ngomongnya, yank. Aku mandi dulu ya? habis ini kita omongin lagi"


"Pokoknya kalau kita nggak dikasih rumah itu, aku mau pulang kerumah orangtuanku aja" ancam wanita itu


Danu hanya diam mendengar ancaman istrinya. Ia segera berlalu ke kamar mandi. Usai mandi ia segera menunaikan sholat ashar.


"Aku nggak maen-maen lo, yank! biarpun rumah orang tuaku nggak sebagus rumah ini, tapi aku lebih nyaman tinggal disana dari pada sini. Jadi kalau emang nanti kita nggak dikasi jatah rumah, aku lebih baik tinggal sama orang tua dan kakak-kakakku. Disana aku bisa hidup nyaman dan bebas, mau bangun siang nggak akan ada yang protes. Urusan masak udah di handle sama Mamiku, urusan beresin rumah semua Mami aku yang ngerjakan dan Mami nggak pernah tuh protes ke anaknya. Memang Mamiku yang terbaik" ujurnya dengan wajah memelas "sementara kalau tinggal disini aku tertekan" lanjut wanita itu.


Tok..tokk...


Tak lama pintu kamar mereka ada yang mengetuk. Danu segera segera membuka pintu kamarnya. Ada Kakaknya Alisa, dibalik pintu. "Ditunggu Papa, Nu di ruang keluarga"


"Sekarang, Kak?"


"Iyalah, masak tahun depan!"


Alisa berlalu, Danu hanya bisa menatap istrinya. Begitupun Qiara ia menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. "Yaudah sana, mungkin mau membicarakan warisan rumah itu, ingat ya, kalau rumah itu tidak dihibahkan pada kita, lebih baik aku pulang kerumah orang tuaku!" Qiara berbisik pelan pada suaminya lalu ia segera mendorong tubuh suaminya agar segera menyusul ke ruang keluarga.


Danu pun segera menyusul ke ruang keluarga. Iapun segera duduk di sofa jaguar mewah berwarna merah marun itu.

__ADS_1


"Jadi begini, Nu. Mama, Papa dan Kakak-kakakmu sudah sepakat agar kamu tidak tinggal bersama kita lagi disini. Ini dalam rangka untuk mendidik agar kamu dan istri bisa belajar hidup mandiri. Jadi kami akan mencarikan rumah kontrakan sederhana untuk kamu"


Bersambung


__ADS_2