ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG

ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG
Bingikisan Dari Aisyah


__ADS_3

Qiara merasakan PD nya nyeri karena ASI nya yang mulai deras. Ia merasakan demam akibat ASI yang tak disalurkan pada bayinya.


Diapun hanya berbaring tidur di kamarnya. Sang Mami sedang menonton acara reality show di salah satu stasiun televisi.


Mbak Yanti lagi sibuk memandikan baby Fanya. Usai memandikan, ia membuat susu formula untuk sang bayi yang sedang menangis karena kehausan.


"Mi.. tolong gendong Fanya dulu ya, Yanti mau mencuci dot-dotnya yang kotor"


"Aduh gendong dulu lah Yan, kaki Mami lagi kesemutan ini" ucapnya santai dengan tatapan tak beralih dari layar televisi.


"Ya udah suruh Mamanya dulu yang gendong" ucap Yanti sambil ia berlalu menuju kamar Qiara.


"Eh..ehhhh..jangan. Sini siniii..biar Mami yang gendong Fanya" ucap sang Mertua sambil ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Yanti.


"Dari tadi kek!" Yanti membatin dalam hatinya.


Ia kemudian kembali ke dapur mencuci dot dan mensterilkannya, lanjut memasak, mencuci piring dan mencuci pakaian kotor dengan mesin cuci.


Herman, Sang suami yang sekarang juga tinggal dirumah itu hendak berangkat Ngojek, ia yang merupakan driver ojek online sudah siap dengan jaket hijau kebanggaannya. Helm dengan warna senada dengan jaket sudah nangkring diatas kepalanya.


"Sarapan dulu" Mas ucap Yanti pada suaminya


"Danu sudah sarapan?"


"Belum, dia belum keluar kamar dari tadi"


"Nggak enak mau sarapan kalau tuan rumahnya belum sarapan" ucap Herman


"Aku sarapan diluar aja, beli nasi kucing di tempat mangkal" lanjutnya


Tak lama Danu keluar dari kamarnya. Ia sudah rapi dengan seragam kerjanya.


"Mi...Qiara demam, tolong ditengok soalnya Danu mau berangkat kerja" Ucap Danu pada Mami mertuanya yang sedang duduk di sofa menggendong Baby Fanya.


"Eh, Mas Herman sudah siap berangkat kerja? sarapan bareng dulu yuk" Danu mengalihkan pandangannya pada Kakak ipar yang tengah bersiap berangkat "Sarapan udah siap kan mbak?" lanjutnya bertanya pada Mbak Yanti Yang sedang menata makanan di meja makan.


"Udah" Jawab mbak Yanti


"Ya udah ayok, Mas. Kita sarapan bareng"

__ADS_1


Dua pria itupun sarapan bersama. Sementara Yanti melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian di taman belakang rumah.


Usai sarapan dua lelaki itu pun bersiap untuk berangkat kerja.


"Mas, tolong belikan obat demam dulu untuk Qia ya? di Apotek depan. Ini uangnya. Kembalian buat bensin mas Herman aja" Danu menyerahkan selembar uang bergambar mantan presiden Republik Indonesia yang pertama.


***


Kring..kringgg..


Ponsel Danu berdering. Ia yang baru saja memarkir motornya dihalaman kantor segera mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya.


Panggilan dari sang Mama "Iya, Ma..hallo"


"Assalamualaikum" ucap sang Mama Dari sebrang sana.


"Eh, iya, Ma. Waalaikumsalam, ada apa, Ma?"


"Barusan Kakakmu Alisa telepon Mama, dia bilang istrimu nggak mau menyusui anak kalian?"


"Ya ampun, masak cuma hal begitu saja Kak Alisa ngadu sama Mama"


"Mama nggak jangan terlalu ngatur Qiara seperti ini. Kasian nanti dia nanti tertekan, Ma. Dia mau menyusui bayi atau tidak, itu haknya istri Danu, Ma"


"Danu......."


"Maaa...Danu ini suaminya. Danu nggak mau istri Danu mengalami Baby Blues, Ia bahkan masih nggak mau mengurus bayi kami, apalagi menyusui. Dari pada kenapa-napa kayak diberita-berita, Ibu baru melahirkan yang depresi membunuh anaknya sendiri, jadi Danu berusaha menuruti apa yang Qiara mau. Sampai dia bisa menerima kenyataan bahwa kini dia telah menjadi Ibu" sengit Danu


"Dia dengan sadar menikah dan tidak memakai kontrasepsi, harusnya tau konsekwensinya bahwa dia siap hamil dan siap menjadi ibu. Kamu hanya tinggal meminta istrimu agar ia mau menyusui anak kalian, bagaimana pun Air susu Ibu tetap yang terbaik untuk anak, dia kan nggak kerja jadi harusnya bisa full memberi ASI eksklusif untuk anak kalian"


"Udahlah, Ma. Nggak usah terlalu mengatur kami. Danu sudah terlambat ceklok gara-gara telefon dari Mama"


Tutttttt...tuttttt...


Danu memutus sambungan telefon


"Ada-ada saja yang dipermasalahkan, sekedar tidak memberi ASI aja jadi masalah besar, ahhh.." gumam Danu sambil memukulkan tangannya ke udara. Ia lalu segera turun dari motornya dan berlari kecil menaiki anak tangga di depan pintu kantor.


"Wahhhh...Hot Daddy kita nih, Selamat ya, sudah jadi Bapak-Bapak sekarang" Rea teman kantornya menyalami Danu saat ia hendak duduk dimeja kerjanya.

__ADS_1


"Thanks, bro"


Tak lama Aisyah datang menghampiri Danu dengan membawa sebuah bungkusan besar "Mas Danu, ini dari kita-kita untuk baby Mas Danu, semoga jadi anak Solehah, berbakti pada orang tua" Aisyah menyerahkan bingkisan itu pada Danu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Thanks ya" ucapnya menatap gadis berhijab dengan tatapan meneduhkan yang ada di depannya itu.


Manik mata hitam milik Danu beradu dengan tatapan Aisyah, gadis pemilik mata sayu itu tak sadar sedang menatap lekat pria yang telah beristri itu. Sekian detik mereka saling bertatapan. Saat Danu menerima bingkisan dari Aisyah, tangannya tak sengaja menyentuh tangan Aisyah.


"Astaghfirullah" Aisyah bergumam pelan saat menyadari tangan Danu menyentuh tangannya. Secepat kilat ia berbalik dan kembali ke Mejanya. Sementara di meja samping Aisyah, Friska teman kerja sekaligus teman Kost nya sedang mengamati tingkahnya. Ia memang sering melihat saat Aisyah diam-diam mencuri pandang pada Danu.


Saat istirahat siang tiba, Friska mengajak Aisyah untuk makan di kantin.


"Ca...lu suka Ama Danu ya?" to the point Friska bertanya pada Aisyah yang akrab disapa Ica itu.


"Ihh..apa sih kamu"


"Gue sering liat kalik, lu nyuri-nyuri pandang ke arah Danu"


"Nggak!"


"Ngaku deh, bahkan dari sebelum Danu nikah, gue tau lu ada rasa sama Danu"


"Apaan sih Lo"


"Pesanannya neng" pemilik warung meletakkan dua gelas es jeruk, semangkok rawon dan semangkok soto Madura di meja dua gadis yang tengah berdebat itu.


"Ntar di kosan kita buka-bukaan ya?" goda Friska


"Buka-bukaan baju?ogahhhhhh! Eike masih normal, hahaha" celutuk Aisyah. Dua gadis itupun tergelak


Usai makan siang, dua gadis itu menuju mushola kantor dan menunaikan sholat Dzuhur disana. Saat Aisyah dan Friska sudah selesai sholat dan hendak keluar dari mushola, dipintu masuk mereka berpapasan dengan Danu yang datang bersama beberapa rekan kerja pria lainnya.


Friska menyenggol lengan Aisyah. "Tuh.. tuh" godanya


"Lu jangan gila deh, Fris..!" ucap Aisyah saat sudah menjauh dari rombongan Danu dan kawan-kawannya.


"Lu nggak mau jadi pelakor, kan Ca?" Friska lagi-lagi menggoda temannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2