ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG

ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG
Positif?


__ADS_3

Ia segera berdiri dan membawa piringnya ke wastafel cucian piring. Lalu ia membuang sisa makanan dipiringnya ke tempat sampah. Perutnya tiba-tiba merasakan mual membayangkan nasi bubur Cilla yang berserakan dan nampak seperti kotoran itu.


Uekkkkkkk...


Qiara berusaha menutup mulutnya dan ia segara berlari ke arah kamar mandi yang ada di ruang keluarga. Benar saja ia memuntahkan segala makanan yang ada di dalam perutnya.


Semua yang ada di meja makan saling bertatapan satu dengan yang lain.


"Istrimu kenapa?" Pak Suryo bertanya pada Danu sambil memandang anak bungsunya itu.


Danu hanya diam mengangkat kedua bahunya tanda tam mengerti.


"Tadi sore baru pulang kerja maen banting-banting pintu, kenapa dia itu?" Pak Suryo sedikit meninggikan suaranya.


"Tadi sore itu salah Danu sih Pa, Qia marah sama Danu karena dia nelfon berkali-kali minta di jemput saat pulang kerja tapi Danu nggak tau kalau dia nelfon, Danu nggak pegang ponsel Karena lagi maen Ama anak-anak" ucap Danu sambil memandang ketiga ponakannya.


"Ya harusnya dia bisa bersikap lebih dewasa, kalau marah sama kamu, ya ngomongnya dikamar kalian berdua, jangan marah-marah di depan semua orang. Kan nggak sopan jadinya"


"Sudahlah, Pa. Biar Danu pelan-pelan menasehati istrinya. Mau gimana lagi, dia sudah jadi bagian dari keluarga kita. Harus kita terima baik dan buruknya" Bu Suryo mencoba meredam emosi suaminya.


"Ya nggak bisa gitu juga, Ma! harusnya dia pandai-pandai menyesuaikan diri. Jangan kita yang disuruh mengerti tapi dia enggan memperbaiki sikapnya. Itu namanya seenaknya sendiri"


"Namanya juga masih muda, Pa. Masih penganten baru, dia mungkin masih berusaha menyesuaikan diri dengan kita. Kan baru sebulanan ini tinggal disini. Sabar aja, Pa. Nanti Danu ajari istri agar pandai-pandai menjaga sikap ya?" Bu Suryo menepuk bahu anak bungsunya.


Danu hanya mengangguk.


"Tapi si Rania dulu nggak gitu tuh, bulan pertama nikah sama Mahesa kan masih tinggal sama kita, sikap Rania baik-baik aja tuh sama kita? ya kan Ran,?" setelah itu kalian ngontrak rumah sendiri dan justru Papa merasa kehilangan kalian saat kalian memutuskan untuk tidak tinggal disini" lanjut pak Suryo memandang Rania, menantu wanitanya itu.


"Jangan banding-bandingin sama Rania, Pa. Nanti Danu marah istrinya dibanding-bandingin?" ujur Rania dengan suara lembutnya "Ya mungkin karena faktor usia juga Pa,? Rania waktu nikah kan usia dua puluh lima tahun, Qiara kayaknya baru usia dua puluh tiga tahun, jadi wajar belum bisa bersikap bijaksana. Papa dan Mama yang sabar ya? kasihan juga mereka masih pengantin baru, jadi masih tahap adaptasi satu sama lain" Rania berusaha menenangkan Papa mertuanya yang terlihat tidak menyukai sikap Qiara.


"Iya, Pap, bener kata Rania. Qiara mungkin masih berusaha beradaptasi dengan keluarga kita" timbal istri pak Suryo.


Kembali terdengar suara 'uek' dari dalam kamar mandi ruang tengah.

__ADS_1


"Nu, mungkin istrimu hamil?" tanya Rania


"Hamil????" Danu bertanya dengan muka seolah tak percaya.


"Iya hamil, kenapa kaget? namanya wanita sudah menikah ya wajar hamil kan?"


"Iya tapi nggak secepat ini kan, Kak? Danu belum siap punya anak" ujar Danu yang telah selesai menghabiskan makanan dipiringnya.


"Ya kalo emang Qiara udah isi, Siap nggak siap ya kamu harus siap donk, Nu?


Danu masih nampak kebingungan.


"Sana tuh samperin istrimu di kamar mandi, pijetin lehernya, gih"


Danu segera beranjak dari duduknya, dengan tergesa ia berjalan menuju kamar mandi tempat istrinya muntah-muntah.


"Hmmmm..kalau beneran hamil bakalan makin banyak konflik nih" ucap pak Suryo sambil menghabiskan nasi dipiringnya. Mereka semua terlihat telah selesai menghabiskan makanan dipiring masing-masing.


"Kenapa gitu, Pap?" tanya Bu Suryo


"Enak kan, Pa, cucu Papa makin banyak, sekarang aja udah lima, kalau Danu punya anak, jadi setengah lusin deh cucu Papa" kelakar Rania.


"Entah kenapa dari awal Danu minta ijin nikah, feeling Papa sudah nggak enak. Liat aja sikapnya, baru beberapa bulan jadi mantu disini tapi nggak ada unggah-ungguhnya sama mertua"


"Sabar to Paaaaa...jangan berpikir yang tidak-tidak, Qiara itu pilihan Danu sendiri, dan Danu anak kita. Kita doakan saja yang terbaik untuk anak-anak kita" ucap bu Suryo


"Papa tidak suka sejak dia tinggal dirumah ini, bangun selalu siang, tidak pernah terlihat sholat. Dia juga nggak pernah bantu-bantu Mama di dapur kan? ngomong basa-basi kek sama kita, ini nggak pernah" pak Suryo masih terlihat emosi.


"Ssttttttt...." Bu Suryo menempelkan jari telunjuknya dibibir "Pelan-pelan ngomongnya nanti mereka dengar. Mungkin si Qiara itu masih malu sama kita, Pap, maklumlah usianya masih muda"


"Bukan karena usia, tapi karena pendidikannya rendah, etitudenya nggak ada. Keluarganya juga nggak jelas, jadilah dia mantu yang nggak ada adabnya"


"Huss Papa ini. Jangan menilai seseorang dari pendidikannya. Yang berpendidikan tinggi belum tentu etitudenya baik, jangan nilai orang dari materi, Pa, nggak baik"

__ADS_1


"Papa ini bukan nilai dari materi atau merendahkan pendidikannya. Andai saja dia bersikap baik dirumah ini ya Papa nggak mempermasalahkan asal usul keluarganya maupun pendidikannya, tapi liat sendiri sikapnya. Tadi hanya karena Cilla nyemburin makanannya dia ngeloyor pergi begitu saja, kan nggak sopan namanya!"


"Mungkin dia nggak bermaksud seperti itu, Pa, karena mual tadi, makanya dia buru-buru pergi mau ke kamar mandi?" timpal Rania. Wanita beranak tiga itu terlihat membereskan piring-piring kotor yang ada dimeja makan dan membawanya ke wastafel. Ia terlihat hendak mencuci piring-piring kotor tersebut namun datang bi Asih dan melarangnya "Biar bi Asih aja yang nyuci piringnya mbak, mbak Rania urus dek Cilla aja, tuh dia udah rewel minta nen” ucap bu Asih.


"Oke bi, makasih ya"


"Iya mbak, sama-sama"


Baby Cilla terdengar merengek. Ia sudah digendong oleh Kakeknya. "Ini Ran, kelonin dulu si Cilla" ucap Pak Suryo menyerahkan Baby Cilla pada Mamanya.


"Rania pamit ke kamar dulu ya, Pa..mau ngeloni Cilla"


Pak Suryo mengangguk. Tak lama terdengar suara adzan panggilan sholat Isya' "Kak Fatih sama Kak Arsya jangan lupa sholat isya dulu ya, berjamaah sama Kakek ya, Nak? Mama mau ngeloni adek dulu" Sambung Rania sebelum ia berlalu ke dalam kamar.


Tak lama Qiara dan Danu kembali ke kamar mereka. Qiara merasa badannya lemas sehabis memuntahkan isi di dalam perutnya.


"Kamu kenapa, yank?" Danu mengusap kening istrinya.


"Mual gara-gara jijik liat lepehan bubur si Cilla" ucap Qiara acuh.


"Ya namanya juga bayi, yank. Eh, kata Kak Rania jangan-jangan kamu hamil, yank?"


"Hamil??? hahhhhhh?"


"Iya hamil, apa kamu sudah datang bulan?"


"OMG..!!!! harusnya aku menstruasi awal bulan sih, ini udah tengah bulan ya? oh nooooo!!!!"


"Yank, jadi gimana? aku belum siap punya anak" wajah Danu terlihat murung.


"AKU LEBIH NGGAK SIAP LAGI. AKU BELUM INGIN PUNYA ANAK!"


Bersambung

__ADS_1


Gimana nih Qiara?belum siap punya anak tapi nggak pake alat kontrasepsi. Hmmm


__ADS_2