
"Mmmmm..eeee... baik" Qiara tergagap
"Kamu tegang banget, santai aja, yuk kita masuk" Irwan menarik tangan Qiara. Mereka kemudian berjalan beriringan menunggu di depan pintu masuk theater.
Irwan masih tak melepas pegangan tangannya
"Qi.." pria itu menatap dalam-dalam mata wanita yang telah lama dirindukannya itu.
"I-iya" Qiara masih merasa gugup
"Bolehkah bila aku merindukanmu?" ucap Irwan sambil memegang tangan Qiara. Mereka layaknya pasangan yang tengah memadu kasih.
Qiara tak mampu menjawab. Ia hanya menunduk menatap lantai. Wanita ini tak menyadari, bahwa ia telah mendurhakai suaminya. Tak mampu menjaga kehormatan saat ia jauh dari suami.
"Aku ingin kita seperti dulu lagi. Maukah kamu memaafkanku?" Irwan mencium jemari Qiara, membuat wanita itu melayang jauh. Ada debar-debar bahagia yang tak mampu ia jelaskan. Ada rasa yang tak biasa, yang tidak ia dapatkan dari Danu, suaminya.
"Tapi, aku..."
"Aku sekarang akan berusaha menyelesaikan kuliahku. Papaku meminta jika aku berhasil menyelesaikan kuliahku secepatnya, maka usaha travel milik Papa akan diserahkan padaku"
Lagi-lagi Qiara terdiam. Bukankah Irwan tau bahwa Qiara yang dulu tak sama lagi dengan Qiara yang sekarang? Qiara yang sekarang telah bersuami dan memiliki anak, tapi kenapa Irwan seolah tak peduli.
Ahh..Biarlah semua berjalan seperti adanya. Ia tetep berstatus sebagai istri Danu sekaligus sebagai seorang Ibu bagi anaknya. Namun tak salah juga bila ia sekedar bertemu seperti ini dengan Irwan. Toh tak ada yang terjadi?
Tak lama pintu theater pun dibuka. Irwan dan Qiara segera masuk ke dalam ruangan bercahaya temaram itu. Kursi pengunjung ternyata sepi. Maklum bukan akhir pekan sehingga banyak bangku yang kosong. Hanya ada beberapa puluh orang yang terlihat menonton, entah mungkin filmnya yang kurang populer. Saat film sudah mulai ditayangkan, Irwan mengajak Qiara untuk duduk di kursi belakang agar mereka leluasa untuk mengobrol. Sepanjang film tayang, mereka tak benar-benar mengikuti alur cerita. Mereka sibuk mengobrol sendiri.
"Qi..aku tau kamu telah bersuami, tapi aku nggak bisa menahan rindu untuk tidak bertemu denganmu. Aku masih mencintaimu" Irwan mengeratkan genggaman tangannya.
"Tiga tahun aku menunggu moment ini, berharap secepatnya bisa bertemu denganmu. Dan sekarang...kamu benar-benar ada di hadapanku" Irwan merengkuh tubuh Qiara ke dalam peluknya.
Benih-benih cinta yang telah hilang itu kini bersemi lagi dihati Qiara. Seperti remaja yang baru jatuh cinta. Hatinya diliputi bunga-bunga. Tak terasa dua jam telah berlalu, film telah selesai tanpa ia tahu apa isi ceritanya karena sepanjang acara, mereka sibuk bercerita sendiri. Sebelum beranjak dari tempat duduk mereka, dua insan itu saling memeluk. Dan merekapun berpisah di tempat parkir untuk kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Tepat pukul delapan malam, Qiara tiba dirumahnya. Rupanya Danu, sang suami belum pulang.
"Qi..kenapa nggak ngabari kalau nggak pulang?" protes mbak Yanti saat Qiara baru tiba dirumah
"Kelupaan mau ngabari mbak. Ada meeting mendadak"
"Lain kali beritahu mbak kalau kamu ada meeting lagi, kasian kakakmu tadi pulang ke kontrakan nggak ketemu orang"
"Ya udah mbak, kan tinggal suruh kemari aja mas Herman, istirahat disini, maka disini. Aku nggak pernah melarang"
"Masmu pikir mbak sudah pulang ke kontrakan. Karena udah jam lima sore, jadi dia langsung pulang ke kontrakan tadi, ternyata mbak belum pulang karena ponsel mbak lagi mati tadi. Kasian juga dia bolak balik, kan lumayan jauh dari kontrakan kami kesini"
"Ya udah lah mbak, cuma kek gitu aja nggak usah diributin. Ngomong-ngomong mas Danu belum pulang?"
"Belum, tadi sore sih Video Call-an sama Fanya"
"Fanya udah tidur ya Mbak? aku mau mandi dulu, mbak kalau capek nginep sini aja. Mas Herman suruh pulang kesini aja ntar habis ngojek. Biar besok Mbak nggak capek pagi-pagi harus kesini lagi" ujar Qiara seraya berlalu ke kamarnya. Tanpa dia menengok anaknya Yang sudah terlelap di kamar sebelah.
"[Gimana pertemuan tadi sama Irwan?ehem, ehem nggak?cerita donk, cerita donk???]" pesan dari Helena
"[Qi..ceritain donk gimana tadi sama Irwan?]" Tak kalah kepo, Merta pun ingin tau tentang pertemuan perdana Qiara dengan sang mantan.
"Qi..Mas Herman tidur sini ya?" suara mbak Yanti yang nongol dari pintu kamar yang lupa tidak ditutup oleh Qoara, mengalihkan perhatiannya yang sedang ingin membalas pesan dari teman-temannya.
"Iya sudah Mbak, kan aku sudah bilang kalian nginep di rumahku hari ini. Ntar aku lembur-lembur lagi, nginep sini aja lagi" ucapnya dengan mata tetap fokus pada ponselnya.
"Oh, Ok. Soalnya mas Herman lagi otw kemari"
"Tolong tutup pintunya, Mbak" perintah Qiara pada Kakak iparnya itu
Tak lama mbak Yanti berlalu sambil menutup pintu kamarnya. Qiara lalu kembali fokus pada ponselnya untuk membalas pesan dari dua temannya yang super kepo itu.
__ADS_1
"[Mau tau aja, apa mau tau banget?]"
"[Buruan ceritain donk, Qi. Kalian tadi ngapain aja?]"
"[Nonton lah, masak ngapain?]"
"[Gilak, masa nonton doank? lu jan jangan kek ABG yang lagi malu-malu kucing gitu ya, Qi?] cecar Helena dalam pesannya.
"[Jujur aku bingung nih, dia sepertinya masih sayang banget sama aku, tapi kan kamu tau, Hel. Aku Uda udah bersuami]"
"[Kenapa bingung? kamu masih ada rasa nggak sama Irwan? kalau nggak ada rasa, ya ngapain buang-buang waktu nemuin dia?]"
"[Ya jujur sih masih ada rasa, tapi dia juga masih mau lanjutin kuliahnya kan?]"
"[Terus ada yang salah kalau dia ngelanjutin kuliahnya?]"
"[Ya nggak salah, Hel. Maksud aku tuh, kan dia jadi nggak banyak duit kalau aku jalan Ama dia. Bisa-bisa ntar aku yang tekor traktirin dia kalau ketemuan, gitu loh]"
"[Kan dia bokapnya lumayan juga, Qi. Juragan Travel. Nggak usah khawatir. Dia anak satu-satunya pulak, sikat lah. Buat happy-happy]"
Tringgg...
tampak ada notif pesan selain dari Helena.
"[Sayang, kamu dah bobok? kau nggak bisa mejamin mata, keinget kamu]" pesan dari Irwan.
Krekkkk..
Terdengar pintu kamar terbuka. Qiara yang masih rebahan diatas kasur dan membelakanhi pintu masih fokus dengan ponselnya dan tak melihat siapa yang masuk "Ngapain lagi sih, Mbak? kan sudah ku bilang mas Herman nginep sini aja, mau nanya apalagi?" ketusnya
"Mbakkk..mbak..liat dulu siapa yang masuk baru ngomong"
__ADS_1
Qiara baru tersadar yang barusan masuk ke kamarnya itu adalah suami.