
"Kontrak, Pa?" Danu menatap Papanya seolah tak percaya
"Iyah, ngontrak rumah sederhana agar istrimu tau gimana rasanya berjuang dari bawah"
"Tapi, Pa. Danu kan sudah punya bagian rumah? kenapa bukan itu saja yang diserahkan pada Danu?"
"Apa Kakak-kakakmu yang lain sudah dikasih bagiannya? belum! kenapa hanya kamu yang menuntut bagianmu!" pak Suryo menatap tajam ke arah anak bungsunya itu
"Dari pada Danu ngontrak, lebih baik Danu tinggal dirumah mertua saja!"
"Mau tinggal dimana kamu? rumah mereka aja nggak cukup untuk keluarga mereka, kamu bilang Qiara empat bersaudara? yang tinggal terpisah hanya satu orang, dan kamarnya hanya ada dua? apa cukup jika kamu tinggal disana? jangan ngaco kamu, Nu!"
"Lebih baik ngaco, daripada punya orang tua mampu tapi enggan memfasilitasi anaknya! buat apa banyak uang, punya banyak rumah tapi semuanya justru kosong tidak dimanfaatkan! dirobohkan aja sekalian!" Danu hendak beranjak dari duduknya.
"Duduk! mau kemana kamu? orang tua lagi bicara malah mau pergi! tidak sopan kamu!" bentak pak Suryo
Mahesa terlihat menarik tangan Danu agar ia tetap ditempat duduknya.
"Paaa..." Bu Suryo memegang bahu suaminya berusaha menenangkan agar sang suami tidak emosi.
Danu kembali duduk. Ia membuang pandangan agar tak beradu dengan tatapan sang Papa. Suasana diam, semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ya sudah, Pa. Berikan saja rumahnya untuk Danu. Itu memang sudah haknya dia" suara Mahesa memecah kebuntuan.
"Ya nggak bisa gitu donk Kak. Kita dulu awal nikah, nggak dikasih fasilitas apa-apa sama Papa, kita berusaha sendiri. Enak istri Danu donk" Alisa tak terima
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu juga meminta bagianmu, Mama serahkan sekarang minimarket itu"
"Maksud Lisa nggak begitu, Ma. Agar perlakuan sama, baiknya biarkan dulu Danu dan istrinya berjuang dari bawah, sama kayak kita dulu. Itu juga untuk kebaikan mereka. Agar mereka tidak terbiasa menikmati fasilitas orang tua, agar mereka tau rasanya hidup susah dan berjuang. Bukan Lisa iri, tapi kasian aja, takutnya nanti mereka jatuh, mereka nggak tau gimana caranya bangun, karena dari awal mereka tidak melewati proses dari bawah" panjang lebar Alisa menjelaskan.
Di dalam kamar, Qiara berusaha menguping pembicaraan keluarga suaminya itu. Ia gemas sekali dengan Kak Alisa. Ia yang merupakan Kakak kandung suaminya malah menghalang-halangi pemberian rumah tersebut. Tadinya ia mengira Rania yang akan menentang rencana tersebut. Namun sejauh ia menyimak rapat keluarga itu, Rania diam saja dan tak menolak rencana pemberian rumah untuk Danu.
"Begini saja, Mama nggak mau kalian berselisih paham kayak gini. Biarkan Danu mendapat rumah itu. Alisa akan mendapatkan bagian minimarket, dan rumah yang sekarang Mama tempati ini adalah milik Mahesa" Bu Suryo menatap anak-anaknya satu persatu.
"Nggak bisa gitu, Ma! Mama jangan manjain anak itu!" Alisa berdiri sambil menunjuk ke kamar Danu, anak yang dia maksud adalah Qiara. "Mama liat kan, dia aja nggak ada unggah-ungguhnya sama kita, apa dia tau keluar kamar bila kita Dateng? sekedar basa-basi nanya kabar? berkumpul ngobrol-ngobrol dengan kita nggak pernah, Ma!" Alisa terlihat sangat emosi.
"Lisa tahan emosimu!" Bu Suryo melotot ke arah Alisa. Hal itu membuat Alisa kembali duduk, terlebih saat sang suami menarik tangannya.
"Justru karena itu biarkan dia tinggal terpisah dengan kita" ucap sang Mama. "Biar kita nggak perlu lagi mikirin gimana sikap dia. Mama percaya sebenarnya dia itu hanya canggung. Dia pendiam dan pemalu jadi dia nggak tau gimana caranya berinteraksi dengan kita, dia bingung bagaimana harus memulai pembicaraan. Kalau kita yang ngajak bicara dia enak kok jawabnya. Mama yakin suatu saat dia akan bisa merubah sikapnya seiring waktu"
"Ya jelas aja kalau diajak bicara harus ngejawab, masak nggak jawab. Kebangetan itu sih kalau sampe nggak jawab, Ma!" Ketus Alisa.
"Ya sudah Alisa pulang, terserah Mamalah"
"Lisaaa! duduk!" perintah Arya pada istrinya saat Alisa berdiri hendak beranjak pergi, namun sang suami segera menarik tangannya.
"Sudah Lis, jangan dibawa emosi" ujar Mahesa menatap adik perempuannya itu. Nampak Rania menggeser posisi duduknya lalu dia berusaha menenangkan adik suaminya itu cara merangkul Alisa.
"Toh kita sudah tinggal terpisah, apapun nanti sikap Qiara, mau dia berubah atau tetep acuh pada kita, biarkan itu jadi tanggung jawab Danu untuk merubahnya. Danu nanti punya kewajiban untuk mendidik istrinya. Ya, Nu?" Mahesa menatap adik bungsunya itu. "Kau punya tugas berat untuk bisa mendidik istrimu, gimana pun kami kakak-kakakmu, sudah selayaknya istrimu bersikap baik sama kita, paling tidak berbicara pada kita, bertegur sapa terutama pada Mama dan Papa. Ajari dia gimana selayaknya menantu bersikap pada mertuanya. Mahesa menepuk pundak Danu
"Jadi sepakat rumah yang di Rungkut diserahkan untuk Danu?" tanya Bu Suryo
__ADS_1
"Terserahlah gimana baiknya" jawab pak Suryo ketus
"Iya, Ma. Mahesa tidak keberatan, gimana sayang?" Mahesa bertanya pada istrinya
"Aku setuju aja apapun keputusannya"
"Lisa, Arya, bagaimana?" Mahesa lanjut bertanya
Alisa hanya diam dengan wajah menahan kesal. "Iya, Mas. Kami juga setuju saja" jawab Arya
Qiara yang menguping dari dalam kamar akhirnya tersenyum bahagia. Ia segera mengabari keluarganya bahwa kini ia akan memiliki rumah sendiri. Keluarganya bisa bebas datang kapan saja, dan bisa bermalam kapanpun mereka mau, dirumah barunya nanti.
Tak sabar rasanya ia ingin segera pindah rumah. Rasa lemas akibat kehamilannya kini tak lagi terasa, berganti rasa bahagia dan bangga karena sebentar dia akan benar-benar menjadi nyonya dirumahnya sendiri.
***
Hari yang ditunggu-tunggu itupun telah tiba, rumah barunya telah dibersihkan dan siap dihuni. Barang-barang telah selesai dirapikan, rumah yang cukup luas untuk sebuah keluarga yang baru saja menikah.
Rumah satu lantai bercat abu tua dikombinasi warna abu muda dengan model minimalis itu, memiliki pagar yang tinggi, halaman rumah yang luas dilengkapi taman di bagian tengah dengan aneka tanaman hias serta terdapat pohon mangga dan jeruk, menambah asri suasana.
Terdapat tiga kamar dan dua kamar mandi, ada ruang tamu, ruang keluarga yang cukup luas, dapur yang bagus serta perabot yang sudah lengkap di dalamnya.
Qiara tak pernah bermimpi bisa memiliki rumah seperti ini. Sungguh dia kini akan menikmati hidupnya yang sempurna.
Usai menggelar acara syukuran di rumah barunya, Papa dan Mama mertua serta kakak iparnya telah kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Kini ia bisa bebas merdeka tinggal dirumahnya sendiri tanpa harus merasa sungkan dengan mertuanya itu. Ia bebas menikmati rumah barunya. Mau bangun siang Kek, mau masak kek, mau nggak masak kek, suka-suka aku, batinnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mmuachhhh" ia memberikan ciuman mesra di pipi suaminya.
Bersambung