
Tenggorokan Danu terasa tercekat mendengar semua penuturan bosnya itu. Tak membayangkan bila ia di PHK bagaimana marahnya Qiara bila ia tak diberi nafkah?
"Jadi gimana, Nu? saya tunggu jawaban kamu maksimal jam satu siang ini" suara snag bos dari sebrang sana mengagetkan Danu. Telefon ditutup
Dunia terasa gelap. Danu tak bisa membuat keputusan. Tapi jika harus memilih PHK rasanya tidak mungkin. Jika dipindah ke luar kota, ia tak tahu luar kota yang mana? jauh atau dekat dengan kota tempat tinggalnya sekarang. Rasanya tak sanggup jika ia harus berjuahan dari istrinya yang cantik itu serta ia tak sanggup berjuahan dengan anaknya yang lagi lucu-lucunya.
Danu melirik jam di dinding. Jarum jam telah menunjuk pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Tak ada waktu lagi untuk berpikir terlalu lama. Pun tak ada pilihan yang lebih baik lagi, maka terpaksa ia menerima tawaran untuk pindah ke luar kota.
Ia pun segera mengabari sang bos dan dengan berat hati ia menyampaikan pilihan bahwa ia siap di pindah ke kantor cabang luar kota. Makin tercekat tenggorokannya kala sang bos memerintahkan agar ia segera berkemas dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat esok lusa.
***
Jam menunjuk pukul dua belas malam, Qiara belum juga kembali kerumah. Danu sedang berbaring di kamar anaknya Fanya. Gadis itu meminta ditemani tidur. Sementara mbak Yanti sudah kembali kerumahnya dan Danu masih memohon agar mbak Yanti bersabar karena ia belum mendapat hak gajinya bulan ini.
Danu mencoba menelepon sang istri. Namun tak tersambung. Rupanya ponselnya mati.
"[Kamu dimana, yank? udah malam, kok belum pulang?]" Danu berkirim pesan pada Qiara. Danu tak tahu bahwa akhir-akhir ini Qiara juga sering pulang larut malam. Saat ia lembur dikantor Qiarapun tak pulang, namun Danu tak mengetahui hal itu.
"[Aku mau bicara hal penting, pulang dulu sayang, jangan marah lagi gaji yang berkurang]" kembali ia mengirim pesan singkat untuk istrinya, namun centang satu.
Karena sudah mengantuk, Danupun terlelap disamping buah hatinya. Danu terbangun dan matahari sudah tinggi. Ia melirik Fanya sudah tak ada disampingnya. Ia pun bergegas bangun. Rupanya Fanya sedang sarapan, ia duduk di high chairsnya, disampingnya ada mbak Yanti menemaninya. "Sudah datang dari tadi, Mbak?" sapa Danu.
"Iya"
Danu bergegas menuju kamarnya. Tampak wanita pujaannya itu masih terlelap dalam tidurnya. Mengenakan lingerie berwarna merah muda, Qia tampak tidur menyamping memeluk guling. Danu yang beberapa hari ini selalu pulang malam dan hampir dua pekan tak menyentuh istrinya, mendadak menjadi berhasrat. Ia segera berbaring disamping sang istri dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Sayang, maafkan aku?" bidiknya ditelinga wanita itu.
__ADS_1
"Bangun sudah jam sepuluh ini, ayo mandi" bisiknya Sekali lagi sambil mencium telinga istrinya itu.
Qiara bergeming, ia menepis tangan suaminya. "Jangan sentuh aku" elaknya.
Namun sepertinya Danu sedang berhasrat, ia makin mengencangkan pelukan ditubuh istrinya. Ia berusaha mencumbu sang istri dengan menyentuh area-area sensitif milik sang istri. Namun Qiara bangkit dari tidurnya dan ia segera masuk ke kamar mandi membuat Danu kecewa dan terpaksa harus menunda hajatnya.
"Berabe" pekik Qiara pelan. Semalem ia habis bersenang-senang dengan Irwan. Jangan sampai Danu menyentuhnya sementara ia belum membersihkan diri, ya walaupun saat itu Irwan menggunakan 'pengaman'.
Usai mandi, Qiara mengenakan hanya mengenakan baby doll rumahan tanpa memoles wajahnya dengan skincare. Kembali Danu memeluk istrinya dari belakang
"Sayang aku mau bicara" ucap Danu seraya menciumi leher belakang Qiara.
"Apaaaa?"
"Kantorku sedang mengalami krisis finansial, banyak karyawan yang udah di PHK. Aku diberi pilihan, jika aku bersedia dipindah keluar kota, maka aku tidak di PHK, jika aku tidak mau dipindah, ya aku di PHK. Kemarin bos memberi aku waktu satu jam untuk berpikir. Aku hubungi ponselmu untuk minta pendapat tapi ponselmu mati, sehingga aku memutuskan untuk memilih dipindah keluar kota, maafkan aku" Danu mengeratkan pelukannya lalu ia merebahkan kepalanya dipunggung belakang wanita itu.
"Kamu nggak apa-apa kita berjauhan untuk sementara waktu?" Danu mengelus pipi mulus istrinya. Qiara berpura-pura memasang wajah sedih.
"Besok malam aku sudah berangkat sayang" ucap Danu
"Kenapa harus mendadak?"
"Itu keputusan kantor, akupun maunya masih berlama-lama disini bareng kamu, tapi mau gimana lagi" Danu memeluk tubuh istrinya. Ia lalu menggendong tubuh wanita itu ke atas tempat tidur. "Sayang, aku mau. Jangan ditolak ya? besok malam aku berangkat. Karena lusa sudah harus bekerja ditempat yang baru" Ucapnya sambil mencium lembut bibir istrinya. Dan merekapun menyatu dalam hubungan suami istri yang halal.
***
Hari itu, Danu hara bekerja ke tempat barunya bekerja. Fanya melepas sang Papa dengan tangisan. Mbak Yanti membujuk dengan berbagai cara agar ponakannya berhenti menangisi sang Papa yang akan lama berasa diluar kota. Sementara Qiara hanya berpura-pura bersedih atas kepergian suaminya ke tempat dinasnya yang baru.
__ADS_1
"Jadi gimana, Qi. Gaji mbak bulan ini?" tanya Yanti pada adik iparnya
"Loh, Mas Danu belum ngasi mbak?"
"Belum tuh, katanya gaji dia udah dikasihkan kamu?"
"Iya memang, tapi kan gaji dia sekarang berkurang mbak. Buat kebutuhanku aja kurang. Makanya aku suruh mbak Yanti minta ke dia"
"Terus gimana, nyatanya Danu nggak ngasih juga. Mbak butuh uang Qi untuk bayar kontrakan"
"Ya udah besok deh mbak aku minta mas Danu lagi biar transfer"
"Eh, Mbak Yanti nggak usah kontrak rumah lagi mulai besok. Kontrakannya nggak usah diperpanjang. Tinggal disini aja sama mas Herman. Kan mas Danu udah nggak dirumah. Paling dia pulang ke rumah dua bulan atau tiga sekali" lanjut Qiara
"Iya tapi gaji mbak ya tetep harus diberikan donk, Qi"
"Iya jangan khawatir mbak, habis ini aku telepon Papanya Fanya"
Qiara segera ke kamar dan mengambil ponselnya. Tampak ia sedang berbincang dengan suami lewat sambungan telepon "Transfer yank, kamu kan ada saldo di rekening. Ini mbak Yanti nggak mau kerja lagi kalau gajinya nggak dibayar. Terus aku gimana kalau nggak ada mbak Yanti. Mana kamu sekarang harus kerja jauh" wanita itu merengek
"Ya udah ntar lagi aku transfer, langsung serahkan tunai ke mbak Yanti, ya?"
"Ok, tapi cepetan ya transfernya. lewat i-banking biar nggak lama. Aku tunggu, hati-hati ya sayang, I'll Miss you" Qiara menutup sambungan telepon
Tak lama ada notifikasi mobile banking diponsel Qiara. Transferan sejumlah uang. Namun ia tak segera menyerahkan uang tersebut kepada mbak Yanti.
Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Danu ke luar kota. Mbak Yanti belum juga menerima haknya. Bahkan pemilik kontrakan terus menagih uang sewa rumah kepada mbak Yanti. Lewat sambungan telefon Ibu pemilik rumah tak henti-hentinya meminta mbak Yanti agar segera membayar sewa rumah setahun sebelumnya. Beruntung Herman suaminya memiliki sejumlah uang yang cukup untuk membayar tagihan sewa rumah. Hasil ia ngojek, akhirnya terbayar hutang mereka. Walaupun kini mereka tak memiliki uang simpanan, bagi mbak Yanti tak masalah toh mereka kini tinggal di rumah Qiara.
__ADS_1
Bersambung