
Tamu Undangan sudah mulai sepi, jam menunjuk pukul 21.30, pesta Resepsi di batasi hingga pukul 21.00, petugas catering sudah terlihat membereskan makanan, hanya tersisa anggota keluarga ke dua mempelai yang masih bertahan di gedung serba guna ini.
Acara di lanjutkan dengan sesi foto bersama keluarga besar kedua mempelai.
Usai pesta yang melelahkan, Qya dan Danu segera melepaskan baju pengantin mereka. Qya membersihkan makeup nya, begitupun Danu membersihkan dirinya lalu mereka segera beristirahat di kamar pengantin mereka yang sudah di hias sedemikian rupa dengan bunga mawar yang cantik dan berwarna warni.
Danu merebahkan diri di kasur ukuran king size di kamarnya. Sedari pagi tubuhnya terasa lelah, acara akad nikah di pagi hari, di lanjut acara resepsi siang khusus untuk tamu dari Papa dan Mamanya, sementara malam hari Resepsi khusus tamu dari teman-teman Danu dan Kakak-kakaknya.
Qya merebahkan diri di samping pria yang tadi pagi telah sah menjadi suaminya. Danu memandang wanita cantik di sebelahnya itu, wanita berambut merah kecoklatan yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Qya adik kelasnya saat SMA dulu, Namun begitu, mereka baru saling kenal akrab sejak 7 bulan yang lalu. Walaupun dulu mereka satu sekolah tapi Danu yang pendiam tidak pernah bertegur sapa dengan Qya, mereka hanya saling kenal nama dan wajah tapi tak pernah saling berbincang satu sama lain.
"Yank..." bisikan Qya di telinga Danu membuyarkan lamunannya.
Malam kian merangkak, wanita itu mendekat dan memeluk Danu. Sejatinya Danu masih merasa lelah, namun sepertinya istrinya ini ingin melakukan kewajiban pertama mereka sebagai suami istri.
Walau agak kikuk karena ini merupakan pengalaman pertama bagi Danu, namun ia berhasil juga memberikan nafkah batin pertama kali untuk istrinya. Agak heran, Danu melihat tak ada bercak darah di seprei usai mereka menuntuskan penyatuan. Konon menurut info yang dia tau, jika masih perawan maka wanita akan mengeluarkan darah di malam pertamanya. Tapi kenapa Qya tidak mengeluarkan darah?apa itu artinya...?? Ahh, Danu menepis perasaan nya, banyak faktor yang membuat wanita tak mengeluarkan darah di malam pertamanya, yang pasti ia harus yakin bahwa sang istri masih perawan saat menikah dengannya.
***
Hari pertama Qya dan Danu menjadi suami istri. Danu memboyong wanita itu ke rumah orang tuanya. Qya yang berasal dari keluarga yang sederhana, sedangkan Danu berasal dari keluarga yang kehidupan sosial ekonominya menengah ke atas, ya semoga saja Qya tidak canggung menjadi bagian dari keluarga Suryo Wibowo, orang tua Danu.
Hari itu, keluarga besar Danu sedang berkumpul di rumah orang tua mereka. Kakak pertama Danu Mahesa, serta kakak kedua Danu, Alisa tengah ada disana. Danu membangunkan Qyara yang masih tertidur lelap, jarum jam telah menunjuk pukul sepuluh pagi, Qyara buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berganti pakaian.
Ia segera mengekori suaminya, Danu untuk diperkenalkan kepada keluarga besar suaminya itu.
__ADS_1
"Qi..ini Kakak pertamaku, namanya kak Mahesa, dan wanita yang solehah ini istri Kak Mahe yang bernama Mbak Rania" ucap Danu menunjuk Kakaknya, sedang Qya bersalaman dengan iparnya yang bernama Rania itu.
"Dan ini Kakak keduaku yang paling cantik, juga solehah, dia Kak Alisa, ini suaminya bernama Mas Arya"
Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Sebuah ruangan yang luas, ya rumah keluarga Danu memang luas, sangat jauh bila di banding dengan rumah keluarga Qya yang hanya rumah petak terdiri dari dua kamar, sementara saudaranya berjumlah lima, sehingga ia tinggal di dalam kamar bertiga bersama Kakak dan Maminya, sedang dua Kakak lainnya telah menikah dan tinggal di rumah kontrakan.
Hari ini keluarga besar Danu sedang berkumpul di rumah orang tua mereka untuk menyambut hadirnya keluarga baru, yaitu Qyara yang kini telah menjadi bagian dari keluarga besar Suryo Wibowo.
"Nah kalau yang ini, namanya Bi Imah sama suaminya, Pak Malih. Bi Imah yang bantu-bantu Mamah di dapur, Pak Malih biasanya bersih-bersih taman dan kadang jadi sopir Papa kalau Papa lagi males nyetir"
Qyara hanya manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya, ia bersalaman dengan Bu Imah dan Pak Maling
"Selama ini Mamah selalu memasak sendiri untuk kebutuhan keluarga karena Papa dan kami tak pernah mau masakan orang lain selain Mama. Jadi Bi Imah hanya bertugas membantu Mama saja" lanjut Danu memperkenalkan kebiasaan keluarganya kepada sang istri.
"Udah kenalannya Ah..biar Qya nggak tegang, kita makan-makan aja dulu" sela Kak Alisa, Kakak kedua Danu.
Keluarga besar itupun duduk berkumpul di meja makan, mereka menikmati sarapan pagi hari ini, masakan lezat hasil karya Alisa dan Rania, istri Mahesa. Qya sebagai anggota keluarga baru tentu saja lebih banyak diam, ia masih canggung dan malu-malu.
Usai menikmati sarapan pagi yang agak kesiangan itu, mereka mengobrol santai bersama seluruh anggota keluarga. Alisa Kakak kedua Danu, tampak sangat Akrab dengan Rania, Rania adalah istri dari Mahesa, Kakak tertua Danu.
Tak lama, hari menjelang siang. Alisa dan suaminya pamit untuk kembali pulang ke rumah mereka. Ya, Kakak pertama Danu, Mahesa dan Kakak keduanya, Alisa sudah memiliki rumah sendiri-sendiri. Mereka memiliki rumah dari hasil kerja keras mereka, bukan rumah pemberian orang tua, mereka merupakan anak-anak yang mandiri, tidak bergantung pada orang tua, sekalipun orang tua mereka cukup berada tapi mereka tidak terlalu mengharap warisan dari orang tuanya.
Usai kepulangan Mahesa dan Alisa, suasana rumah kembali sepi, tak ada lagi suara bising keponakan Danu yang hampir saja membuat Qyara frustasi akibat kegaduhan yang mereka buat. Qyara yang masih merasakan lelah akibat acara pernikahannya, tak terlalu menyukai anak kecil hingga ia merasa terganggu dengan kehadiran keponakan Danu yang berjumlah lima orang itu.
"Syukurlah mereka cepat pulang" batin Qyara. Ia bisa kembali beristirahat di kamarnya, badannya masih terasa lelah akibat pesta kemarin.
__ADS_1
Jam masih menunjuk angka 11.20, Qyara memutuskan kembali berbaring di tempat tidur sembari bermain sosial media dari ponsel cerdasnya.
Ia suka sekali mengekspos kehidupannya di sosmed.
"[Qi..selamat ya atas pernikahannya, semoga langgeng sampe kakek-nenek, senangnya dapat suami cakep dan orang berada]" salah satu komen dari temannya saat ia mengupload foto pernikahannya di akun Instagram miliknya.
"[Gedung ituhhhhh, impian aku banget. Nanti kalau aku nikah pengen juga deh ngadain pesta disana, selamat ya cinnn..atas pesta pernikahannya yang wooww banget]" bertubi-tubi komen dari teman-temannya menanggapi postingan Qyara tentang acara resepsi pernikahannya.
Ia merasa bangga bisa menikah dengan Danu, pria tampan anak orang berada, pasti banyak teman-teman yang iri pada nasib baiknya.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
"Yank, masih pagi kok udah tidur aja?" Danu muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya kembali.
"Udah siang kok yank, lagian badanku masih pegel yank, namanya juga baru kelar pesta" ujurnya seraya tak beralih dari layar ponselnya.
"Lebih sayang ponsel dari pada suami ya?dari tadi ngeliatin ponselnya doank, suaminya dicuekin?" Danu duduk ditepi ranjang di samping wanita yang baru satu hari menjadi istrinya itu.
"Maap sayang, abis tadi kamunya diluar sih, kan aku bete sendirian di kamar" rajuknya
Qyara kemudian bergalayut manja di bahu suaminya itu, lalu mereka segera berguling di kasur yang empuk itu. Danu kembali heran, dia pernah membaca artikel, jika pertama kali wanita habis melakukan hubungan suami istri, biasanya ia merasakan sakit tapi kenapa Qyara baik-baik saja dari semalam ya? ia juga tidak mengeluh sakit sama sekali? Namun lagi-lagi ia menepis segala pikiran buruk tentang istrinya itu. Bagaimanapun Qyara adalah pilihannya sendiri.
Danu tersadar dari pikiran buruknya saat Qyara sudah tak mengenakan sehelai benangpun. Pengantin baru itu kembali menunaikan tugas mereka. Lagi-lagi Danu merasa janggal, istrinya ini seperti sudah sangat mahir sekali. Bahkan ia lebih agresif dibanding dirinya. Ah mungkin hanya naluri saja. Bukankah harusnya ia bersyukur memiliki seorang istri yang pinter di ranjang dan menggairahkan?
__ADS_1
Bersambung