
Secepat kilat ia segera menghapus pesan dari teman-temannya. Dan juga memberi tahu mereka agar jangan membahas Irwan karena sang suami telah pulang. Begitupun pada Irwan ia segera membalas pesan "[Lagi ada suamiku tolong jangan chat dulu]"
Setelah dirasa aman, ia meletakkan ponselnya diatas meja di samping tempat tidur "Eh, yank. Kok baru pulang jam segini sih?" Qiara beranjak dari kasur dan mendapati wajah suaminya yang bermuka masam dan lesu.
"Kenapa mukamu asem banget sih?" Qiara lanjut bertanya
"Jangan ganggu aku, aku capek banget pengen langsung tidur" usai membuka baju kerjanya, Danu langsung merebahkan badannya diatas kasur. Ia tampak tak mempedulikan Qiara yang keheranan melihat wajahnya yang kusut.
"Kamu kenapa sih? pulang-pulang jutek nggak jelas?" protes Qiara
Danu tampak memiringkan badan membelakangi istrinya itu. Ia tak menjawab pertanyaan sang istri.
Ya sudah, kalau nggak mau jawab. Syukur aku bisa lanjut chattingan dengan Irwan. batin Qiara dalam hatinya. Iapun kembali meraih ponselnya yang tadinya letakkan diatas Nakas, kini ia asyik berbalas pesan singkat dengan Irwan. Awalnya Qiara merasa bersalah terhadap suaminya namun kini ia menikmati berbalas pesan dengan Irwan hingga larut malam.
Esoknya saat Qiara terbangun, sang suami sudah berangkat kerja. Qiarapun tak mempedulikan sikap suaminya semalam yang tiba-tiba menjadi pemarah. Tak biasanya sang suami berkata dengan nada tinggi padanya. Namun Qiara tak mau ambil peduli lagi dengan hal tersebut.
***
Hari-hari berlalu, Danu semakin sering pulang larut malam. Pun Qiara juga mengikuti jejak sang suami dengan selalu pulang hingga larut malam. Alhasil Fanya lebih banyak bersama mbak Yanti. Hingga pada suatu hari, saat akhir pekan Danu yang sedang libur kerja hanya rebahan di kamarnya. Jarum jam menunjuk pukul sepuluh pagi. Qiara tampak baru bangun dari tidurnya karena semalam ia pulang dini hari. Ia segera bergegas ke kamar mandi. Sementara Danu masih berbaring ditempat tidur. Usai mandi Qiara tampak sedang bersolek di depan cermin.
Hari ini hari sabtu, Qiara shift siang, masuk kerja jam dua siang hingga jam sepuluh malam. Usai memoles skincare di wajahnya, Qiara teringat sesuatu. Ya hari ini tanggal gajian sang suami. Iapun meminta gaji suaminya tersebut. Namun seperti hari-hari sebelumnya, Danu terlihat kusut dan tak bersemangat.
"Eh, Yank, udah gajian kan? cepet transfer ya? mbak Yanti udah nagih gajinya tuh. Waktunya beli token, bayar PDAM, WiFi, dan lain-lain" ucapnya seraya mengoleskan kembali lipstik matte cream di bibirnya
Danu tampak menarik nafas panjang. Ia segera
beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju lemari.
__ADS_1
Tampak ia membawa amplop kecil berwarna coklat lalu ia menyerahkan amplop itu kepada istrinya yang masih tak beranjak dari depan cermin
"Lah tumben cash? biasanya juga transfer ke rekening?" Qiara membalikkan badan menghadap suaminya
"Iya sayang, kantor lagi ada masalah, jadi untuk sementara gajiannya nggak ditransfer ke rekening. Tolong terima segini dulu ya?" wajah Danu tampak memelas
Qiara segera membuka amplop yang baru saja diberikan oleh suaminya itu "Lahhhh??kok cuma segini????Kalau cuma segini yang kamu berikan, mana cukup buat hidup sebulan?? apa-apaan ini? belum bayar mbak Yanti, susu Fanya, diapers dan lain lain" terdengar suara teriakan Qiara dengan tatapan mata yang nyalang penuh emosi
"Bukannya kamu lembur terus beberapa hari ini?harusnya kan dapat tambahan gaji??bukan malah justru berkurang gini!! nggak bisa gini donk! masak iya insentif nggak ada! uang lembur pun nggak ada!" masih terdengar suara Qiara memberondong pertanyaan untuk suaminya
"Sayang, sementara bisakah kamu bantu aku?pakai gajimu dulu untuk kepentingan rumah tangga kita, ya? aku janji setelah semuanya stabil, aku nggak akan pakai gajimu lagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita" terdengar Danu memohon pada istrinya itu
"Nggak bisa! gajiku adalah hakku pribadi yang hanya aku pakai untuk memenuhi kebutuhan pribadiku termasuk untuk aku bersenang-senang dengan teman-temanku!"
"Tolong mengerti keadaanku sayang, aku stres akhir-akhir ini. Kantorku mengalami kerugian. Boro-boro insentif, wong gaji karyawan pada dipangkas. Makanya beberapa hari ini Kami sering lembur. Itu karena kantor sedang ada masalah karena ada rekanan yang tidak melakukan pembayaran atas kontrak kerjasama tempo lalu"
Dalam hal ini perusahaan tempat Danu bekerja ditunjuk oleh startup OYE untuk membuat Iklan/pariwara dalam segala bentuk pesan promosi yang berupa benda seperti barang, jasa, produk jadi, dan ide.
Namun karena efek pandemi covid-19 membuat dunia pariwisata dan penginapan menjadi sepi, sehingga pihak startup OYE merugi dan itu berimbas pada ketidakmampuan mereka membayar perusahaan tempat Danu bekerja. Harusnya pihak startup membayar beberapa kontrak kerjasama yang bernilai Milyaran Rupiah. Hal itu membuat perusahaan tempat Danu bekerja mengalami pailit yang berimbas pada gaji serta insentif yang terima oleh karyawan menjadi sangat berkurang.
"Aku minta maaf atas keadaan ini, Yank? sekali lagi aku mohon, tolong ngertiin aku? Bukan cuma aku yang gajinya dikurangi dan insentif ditiadakan, tapi seluruh karyawan ditempat kerjaku mengalami hal yang sama"
"Pokoknya aku nggak mau tau! kamu bayar gaji mbak Yanti dan penuhi kebutuhan Fanya" setelah berucap demikian, Qiara berlalu dari hadapan Danu. Ia segera berganti pakaian kerja lalu berangkat tanpa pamit kepada suaminya itu.
Danu hanya mampu menarik nafas panjang. Ia terduduk ditepi ranjang dengan wajah tertunduk.
"Papaaaaaa....??" Gadis kecilnya berlari dan berhambur ke dalam peluknya.
__ADS_1
"Sayangnya Papa" Danu menggendong balita itu.
Tok..tok..
Terlihat Mbak Yanti mengetuk pintu kamarnya Yang sedang tidak ditutup itu.
"Iya, Mbak. Sebentar" Danu keluar kamar sambil menggendong buah hatinya.
"Dek Danu, maap nih, harusnya 'kan sudah kemarin Mbak gajian, boleh Mbak minta sekarang gaji buat Mbak? Mbak lagi butuh buat bayar kontrakan rumah. Tadi Qia bilang suruh minta sama dek Danu"
"Oh, gitu ya Mbak? Gajinya belum dikasih sama Qia ya? Ehmmm...sabar dulu ya mbak" pinta Danu
"Papaaa..Papaa...Anya mau mam disuapin cama Papa" rengek Fanya
"Nama adek bukan Anya, tapi Fanya" sambil menggendong gadis kecilnya itu, Danu berjalan menuju meja makan, ia mendudukkan Fanya diatas kursi bayi yang tingginya mencapai meja makan, sementara mbak Yanti mengikutinya dari belakang "Bentar ya mbak" ucap Danu kepada Mbak iparnya itu. "Bisa tolong siapkan makanan Fanya?" lanjut Danu
Tanpa bersuara mbak Yanti segera mengambil peralatan makan milik ponakannya itu. Lalu segera mengisinya dengan nasi putih dan sayur SOP daging yang tadi pagi dia masak.
Danu segera menyuapkan makanan tersebut pada Fanya.
Kringg...kringgggg...
Ponsel yang ia letakkan disaku bajunya berdering. "Mbak, tolong lanjutkan nyuapin Fanya, ya?" Danu meraih ponsel dari sakunya. Panggilan dari Pak Derry, bosnya dikantor.
"Iya, pak" Danu menempelkan ponsel itu ke telinganya
"Nu, barusan kami para direksi perusahaan sedang rapat, akan ada pengurangan karyawan mengingat kantor kita sedang mengalami masalah keuangan akibat pandemi ini, ada beberapa karyawan yang terpaksa kami cut, salah satu yang masuk yaitu kamu. Tapi saya berusaha mempertahankan kamu, Nu. Tapi kamu nanti kami pindah ke luar kota. Jadi kami memberi pilihan, kamu kena PHK atau tetep bekerja tapi dipindah ke kantor yang diluar kota?"
__ADS_1
Bersambung