ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG

ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG
Ngambek


__ADS_3

Aisyah, pengagum rahasia Danu, merasakan nyeri tak terperi di lubuk hatinya saat mendengar Danu bertelfon mesra dengan istrinya, memanggilnya dengan sebutan 'Yank', "Oh tuhan..kenapa bukan aku wanita yang dipanggil sayang oleh Danu" wanita berwajah kalem itu membatin dalam hatinya.


Namun ia segera mengucap istighfar, tak boleh mengagumi pria yang sudah beristri, ia tahu ini adalah sebuah dosa.


"Ayo..ayo..kita semua berkumpul di Aula, meeting akan di mulai" pria berbadan tambun itu, yang merupakan bos mereka muncul di balik pintu, ya dia adalah pak Derry, sang Owner perusahaan.


Semua bergegas menuju Aula yang terletak di lantai dua, tak terkecuali Danu. Pria itu pun segera bergegas menuju tempat meeting, ia yang sedang diminta menjemput dan mengantarkan sang istri ke tempat kerjanya, tapi mana mungkin, ia sedang bekerja jadi ia tak menghiraukan permintaan istrinya itu. Bagaimana bisa ia harus kembali ke rumah sementara ia sudah berada di kantor dan sedang ada meeting. Bukankah istrinya itu bisa membawa motor sendiri untuk berangkat kerja? tapi dia bilang takut kulitnya hitam jika harus berkendara dengan sepeda motor. Lebay sekali dia, pekik Danu dalam hatinya.


Mau bawa mobil, tapi mobil di bawa Mama untuk mengecek mini market miliknya. Ah, biarlah toh Qiara sudah dewasa, ia bisa memesan taksi online, kenapa harus manja sih. Danu menggerutu sendiri dalam hatinya.


Danu mengikuti jalannya meeting. Walau pikirannya sedikit tidak fokus karena ponselnya terus saja bergetar, istrinya masih saja menelfonnya dan ngotot ingin diantar Danu ke tempat kerjanya.


Pak Derry sang Boss itu sedang ingin memperluas usahanya, perusahaan jasa ekspedisi miliknya ingin membuka cabang baru di beberapa kota di Jawa Timur.


***


Qiara menggerutu, baru hitungan hari nikah, niat hati ingin bermanja dengan suami, apa daya suaminya bukan pria romantis seperti dalam film-film yang mau menuruti segala kemauan istri.


Tak terasa jam telah menunjuk pukul empat sore, waktunya Danu pulang ke rumah, ia yang baru bisa lepas dari segala pekerjaannya baru bisa memegang ponsel cerdasnya itu.


Lima puluh panggilan tak terjawab dan Lima puluhan pesan whatsApp dari istrinya.


Segala kalimat merajuk dan sumpah serapah dikirimkan oleh Qiara kepada Danu. Danu mencoba bersabar menghadapi sang istri.


"[Maaf sayang, tadi kan kamu bangun siang, jadi aku berangkat duluan, aku ada meeting sama bosku jadi nggak mungkin aku jemput kamu]" Danu membalas pesan istrinya.


"[Pulang jam berapa? aku udah mau pulang nih]" pesan Danu selanjutnya, namun centang satu.


Di pintu keluar kantornya, Danu berpapasan dengan Aisyah.


"Langsung pulang, Ca?" sapa Danu berbasa-basi pada perempuan yang terbiasa di panggilan Ica itu

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku duluan ya" ucapnya yang kemudian berjalan menuju tempat parkir, ia segera mengendarai motor matic miliknya dan hilang dari pandangan Danu.


"Perempuan mandiri, rajin solat lima waktu dan lemah lembut" batinnya dalam hatinya. Ahh, kenapa ia tak berani mendekati Aisyah sejak dulu? Danu yang pemalu serta Aisyah yang pendiam, membuat keduanya tak ada yang berani memulai proses pendekatan, walau sebenarnya mereka saling mengagumi dalam diam.


Danu segera berjalan menuju mobilnya, ia segera pulang, melewati jalanan kota Surabaya yang macet. Tepat jam setengah lima sore dia tiba di rumahnya.


"Baru pulang, Nu,?" sapa Kak Rania, saat Danu baru masuk di halaman rumah. Ka Rania adalah Kakak Iparnya yang tengah menggendong Baby Cilla, anak ketiganya yang baru berusia delapan bulan.


"Eh, ada kak Rania. Iya Kak, baru pulang nih. Kakak bareng Kak Mahe?"


"Nggak. Kakakmu lagi keluar kota Nu, kami di suruh nginep disini karena Bi Ijah yang biasa bantu-bantu di rumah sedang pulang kampung"


"Oh, gitu. Kemana Kak Mahe, Kak,?" Danu lanjut bertanya sambil menggendong Arsya, anak kedua Kakaknya yang berusia dua tahun.


"Ke Jakarta, lagi ngambil barang" Mahesa Kakak Danu merupakan pengusaha showroom mobil bekas, ia sedang mengambil beberapa unit mobil di Jakarta karena ada permintaan dari costumer.


"Eh, Arsya turun yuk, kasian om Danu baru pulang kerja sayang, om Danu capek" ucap Rania pada anak keduanya yang sedang bergelayut manja dalam gendongan Danu.


"Mau..mauuuuuuuuuuu.." Arsya antusias menjawab


"Oke, habis ini kita cus ke toko depan ya? Om mau mandi dan ganti baju dulu, Kak Fatih mana? di ajak juga kak Fatih ya?" ucap Danu menanyakan Fatih yamg merupakan Kakak Arsya. Bocah berusia lima tahun itu rupanya sedang bermain di taman belakang bersama Kakek dan Neneknya.


"Cak Fatih ndak ucah di ajak om, cama Arca aja beyi ekimnya (Kak Fatih nggak usah diajak Om, sama Arsya aja beli es krim nya)" ucap bocah yang masih cadel itu.


"Nggak boleh gitu Arsya, kalau dapat rejeki itu harus berbagi" ucap Rania, sang Mama.


"Tuh dengar apa kata Mama, harus berbagi ya sama Kak Fatih, ntar Kak Fatih dan Kak Arsya sma-sama dibeliin es kok sama om, kecuali adik Cilla nggak di beliin, karena dek Villanya masih kecil, belum boleh makan es. Ok jagoan? Om mandi dulu ya? Arsya tunggu disini"


"Oce, Om..!"


Danu segera berlalu ke kamarnya. Usai mandi dan berganti pakaian, ia segera mengajak kedua ponakannya, Arsya dan Fatih ke toko depan untuk membeli es krim kesukaan mereka.

__ADS_1


"Horeeee..ekim nya enakkkkk. Ma'aci om Danu, udah beliin kita ekim..nyam nyam..nyam" Bocah berusia dua tahun itu sibuk mengunyah es krim yang membuat mulutnya belepotan coklat"


"Sama-sama anak ganteng. Gimana enak nggak es krim nya?" tanya Danu pada ponakannya.


"Enak, om. Makasih ya Om" kali ini Kak Fatih yang menjawab.


Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Pak Suryo dan istri tengah bermain bersama Fatih, Arsya dan Cilla yang merupakan anak dari Mahesa, putra pertama. Sedang Rania, istri Mahesa tengah masak di dapur bersama Bi Imah untuk mempersiapkan makan malam.


Jam telah menunjuk pukul lima sore, Danu tengah menggendong Baby Cilla, mereka terkaget oleh suara pintu ruang tamu yang di dobrak dengan sangat keras.


Bruakkkkkkkk...


Spontan Pak Suryo, Bu Suryo serta semua yang sedang ada di ruang keluarga itu menoleh ke arah sumber suara. Muncul Qiara dari balik pintu dengan wajah merah padam menahan emosi.


Tanpa mengucap salam dan permisi, ia berlalu melewati mertua dan suaminya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Dengan muka cemberut ia berlalu ke kamar dan kembali terdengar suara pintu di banting.


Brakkkkkkkkk


Qiara membanting pintu kamarnya dengan keras.


"Astaghfirullahhal'adzim" Bu Suryo tampak mengusap dadanya sambil geleng-geleng kepala "Kenapa dia, Nu," Bu Suryo menatap anak bungsunya itu


"Entahlah, Ma" Danu tampak menggelengkan kepala tanda tak mengerti. Ia yang tengah menggendong Baby Cilla segera menyerahkan ponakannya itu pada Neneknya.


"Kenapa istrimu itu sama sekali tak punya adab seperti itu, Ya Allah sampe kaget Mama" ucap Bu Suryo sambil mengambil alih Baby Cilla


"Iya, Ma, maafkan istri Danu. Danu ke kamar dulu ya"


"Iya, kamu tanyalah kenapa dia bersikap seperti itu?"


"Baik, Ma"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2