ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG

ANAK KU SAYANG, ANAK KU MALANG
Meminta warisan


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar, Qiara duduk meringkuk dengan dagu bertopang pada lututnya. Ia menangis tersedu. Sementara bi Imah sedang membereskan makanan yang berantakan di lantai.


"Bagus saja diusir sama Bapak, memang keterlaluan banget jadi mantu, padahal bukan berasal dari orang kaya, tapi sok banget" batin bi Imah dalam hatinya. "Cuma modal cantik aja, kalau aku jadi Ibu sudah ku usir dia dari pertama kali datang" lanjutnya membatin dalam hati sambil tangannya sibuk memunguti pecahan piring dilantai


***


Hari sudah sore, jarum jam menunjuk angka empat lebih tiga puluh menit. Danu tampak sudah pulang, ia memarkir sepada motornya di garasi. Saat masuk ke rumah, sang Papa sudah menunggunya dan mengajaknya bicara. Merekapun duduk di sofa yang ada ruang tengah.


"Nu, kau sebaiknya belajar hidup mandiri bersama istrimu. Agar ia tau apa kewajibannya sebagai istri. Papa sudah jenuh liat perilaku istrimu itu!" tajam pak Suryo menatap anak bungsunya itu


"Memangnya ada apa, Pa? apa Qia melakukan kesalahan?"


"Masih bertanya ada apa! memang kamu nggak menyadari kesalahan istrimu itu?!"


"Ehmm...." Danu menunduk, ia tak melanjutkan kalimatnya.


"Bangun siang, tak ada interaksi sama penghuni rumah, punya mulut mingkem aja terus kayak orang bisu. Ngomong kalau ditanya, itupun jawab sekedarnya. Mau makan aja harus dianter ke kamar. Lagaknya jadi tuan putri"


"Paaa...." sela bu Suryo


"Dia kayak gitu karena lagi hamil, Pa" bela Danu


"Kau pikir cuma istrimu yang pernah hamil? Mamamu ini hamil tiga kali, nggak pernah tuh semanja istrimu. Bahkan sebelum kalian lahir, kami hidup susah tinggal dikontrakkan tapi saat hamil Mamamu tiap pagi bangun, masak, nyuci, beres-beres, nggak ada itu manja-manjaan macam istrimu itu"


"Pa..ketahuilah. Perempuan hamil itu memang berat, tubuh memang melemah tapi Mama kuat-kuatkan waktu itu karena memang tak ada siapa-siapa yang bisa membantu pekerjaan Mama saat itu" Lagi bu Suryo menyela pembicaraan suaminya.


"Nah kalau Mama bisa, kenapa dia tidak?dikuat-kuatkan juga, dipaksa badannya untuk gerak"


Danu segera berdiri menghindari perdebatan. Ia segera masuk ke kamar. Di kamar ia segera disambut Isak tangis sang istri yang tampak meringkuk diatas kasur dengan bersandar pada headboard.


Tangisnya makin pecah saat sang suami duduk disampingnya lalu memeluknya. "Apa yang terjadi? kenapa sampai Papa marah?" Danu mengusap lembut rambutnya.


"Hikss...hikss...Papa mengusir kita, hikss.."

__ADS_1


"Ceritakan apa yang terjadi?"


"Tadi bi Imah naruh nampan berisi makanan di kasur, aku nggak tau karena kepalaku masih pusing, jadi nampannya kena tendang dan makanannya tumpah semua dilantai, aku kaget dan hanya bisa bengong karena kepala maish pusing jadi aku lanjut rebahan. Eh, Papa masuk kamar dan langsung marah-marah, hikss..."


"Kita jangan tinggal disini lagi yank, aku tertekan disini, aku bingung harus berbuat apa, jujur aku canggung untuk berinteraksi dengan Mama dan Papa jadi aku selalu di kamar. Mau bantu masak aku juga nggak bisa masak, kan? lagian udah ada bi Imah di dapur, jadi aku bingung" lanjut Qiara sambil bersandar dibahu suaminya.


"Aku hamil anakmu Lo yank, masak hanya gara-gara numpahin makanan aku diusir sama Papa, apa karena aku orang miskin jadi Papa nggak suka sama aku? berbeda banget perlakuan Papa dengan Rania, Papa baik banget sama Rania sementara sama aku cuek sekali"


Danu hanya terdiam. Ia tak menjawab keluh kesah istrinya, ia hanya membelai rambut sang istri yang tengah bersandar di bahunya. Entahlah, sang Papa memang terlihat tak suka pada istrinya. Sementara selama ini ia melihat sikap Papanya selalu manis pada Kak Rania, istri abangnya. Bisa jadi benar perkiraan Qiara?karena Rania dari kalangan berada makanya Papa baik sama dia, sementara kepada istrinya...


Hueekkkkkkkkk...


Kembali istrnya itu merasakan mual. Wanita itu segera turun dari tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi. Danu menyusulnya, benar saja, istrinya itu memuntahkan segala isi perutnya. Danu mencoba memijat punggung istrinya. "Liat sendiri kan yank, aku tidak bersandiwara, aku memang merasa sangat lemah akibat kehaman ini, aku juga nggak mau hamil tapi gimana lagi? masak harus aku gugurin agar aku tidak merepotkan orang tuamu?" ratapnya


Danu terdiam. Ia merasa prihatin dengan istrinya. Toh benih yang ada di rahim sang istri adalah darah dagingnya. Baiklah, ia merasa memang harus melindungi istrinya karena sang istri telah bersusah payah mengandung janinnya.


Danu menuntun sang istri kembali ke tempat tidur.


Benar apa kata Qiara, Danu memang pernah bercerita bahwa ia sudah mendapat bagian rumah yang ada di daerah Rungkut. Sedang Alisa kakak keduanya mendapat jatah usaha minimarket, dan Mahesa kelak mendapat jatah rumah yang di tempati Mama Papanya ini.


"Kamu harus segera meminta apa yang menjadi hakmu yank, kita nikah memang baiknya nggak tinggal sama orang tua lagi, pokoknya aku mau tinggal dirumah yang memang sudah menjadi bagianmu" rengek Qiara


***


Adzan magrib berkumandang, Pak Suryo segera menuju masjid terdekat untuk menunaikan solat berjamaah. Usai melaksanakan sholat, ia tak segera pulang namun masih bercengkrama dengan Ustadz Hasan, marbot masjid.


"Assalamualaikum Ustadz" pak Suryo mengulurkan tangan pada Ustadz Hasan


"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarkatuh" Ustadz dengan jenggot lebat itu tersenyum ramah


"Tidak sibuk Ustadz?"


"Oh, tidak Pak. Ada apa pak Suryo? ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.

__ADS_1


"Ehm..begini Ustadz, saya mau sedikit bertanya tentang..Ee tentang rumah tangga anak-anak saya"


"Ooh, Monggo-monggo silahkan"


"Jadi begini, putra bungsu saya, Danu, kan baru lima bulan ini menikah Ustadz. Dia dan istri tinggal bersama kami dirumah" Pak Suryo menjeda kalimatnya


"Tapi istrinya itu kurang interaksi dengan kami, tidak pernah bicara duluan pada kami, tidak pernah keluar kamar kecuali untuk bekerja"


pak Ustadz terlihat menyimak dengan seksama.


"Dan menantu saya ini sekarang sudah hamil, dia makin menjadi saja"


"Maksudnya makin menjadi gimana, Pak?"


"Sejak hamil dia nggak pernah mau sekedar makan bersama kami, bahkan untuk makan saja, asisten rumah tangga kami harus mengantarkan ke kamarnya. Jadi rasanya, saya kok tak suka melihatnya. Kemarin ada insiden yang membuat saya emosi hingga saya tak sadar menyuruhnya untuk tidak tinggal dirumah kami lagi"


"Hmmmm...jadi dalam agama memang setelah menikah, sebaiknya pasangan suami istri itu tinggal terpisah dengan orang tua, dengan catatan mereka telah mandiri secara ekonomi. Karena pasti ada benturan bila tinggal bersama dalam satu rumah. Dan lagi, walaupun kita orang tuanya, kita tak berhak mencampuri urusan rumah tangga mereka selagi mereka masih berada dalam koridor agama"


Pak Suryo menyimak penjelasan Ustadz Hasan dengan seksama.


"Pak Suryo kan dari kalangan berada, kalau memang ada rumah kosong yang tak terpakai, bisa segera dihibahkan untuk putra pak Suryo yang bernama, siapa namanya putra bungsu pak Suryo?"


"Danu"


"Iya, pengusaha properti macam pak Suryo ini pastilah sudah menyiapkan rumah untuk masing-masing anaknya. Jadi sebaiknya dihibahkan aja sekarang"


"Tapi kakak-kakak Danu belum mendapat bagiannya, Ustadz. Mereka memiliki rumah dari hasil kerja keras mereka sendiri"


"Coba bicarakan dengan anak-anak Bapak yang lain, apakah mereka ikhlas jika jatah rumah untuk adiknya diserahkan sekarang? karena jika jatah untuk anak bungsu bapak itu diserahkan da itu namanya hibah, Pak. Jika suadara-saudaranya yang lain tidak berkeberatan, ya lebih baik lakukan saja agar Danu dan istrinya bisa hidup mandiri"


"Begitu ya, Ustadz? baik saya akan coba bicarakan dengan anak-anak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu Ustadz. Terimakasih atas waktunya"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2