
Danu merasa senang melihat istrinya tersenyum bahagia. Ia berharap istrinya tak lagi tertekan dan bila sang istri bahagia lahir batin, ia berharap janin dalam kandungannya akan tumbuh sehat.
Usai kepulangan Orang tua dan Kakak-Kakaknya, tak lama keluarga besar mertuanya datang. Ada Mami mertuanya, Mas Zainal kakak pertama Qiara, Rahma datang bersama suami dan kedua anaknya, yang merupakan Kakak kedua Qiara. Mas Herman Kakak ketiga datang pula bersama istrinya, serta Kakak ke empat Qiara Mbak Ria. Rumah berubah menjadi gaduh dan ramai sejak kedatangan keluarga besar Qiara. Namun Qiara terlihat menikmati berkumpul dengan besarnya.
Sementara ia selalu mengeluh berisik bila keponakan Danu datang. Entahlah mungkin Qiara kangen dengan keluarga besarnya hingga ia tak merasa terganggu atas kebisingan yang dibuat oleh keponakan dari pihak keluarganya. Atau ia hanya sayang sama ponakan dari kakaknya saja? dan ia tidak menyukai keponakan dari pihak suaminya?
Malam sudah larut tapi Qiara masih sibuk bercengkrama dengan keluarga besarnya, menikmati aneka hidangan yang tadi dibawa oleh Rania dan orang tua Danu.
Tampak Qiara tengah bersenda gurau dengan Kakak-Kakaknya. Mereka sedang duduk lesehan di depan ruang TV. Sesekali mereka tampak berselfi ria disetiap sudut rumah.
"Nanti kalau udah lahiran kamu pake pembantu aja biar nggak capek ngerjain pekerjaan rumah tangga. Belum lagi harus ngurus baby" ujur Yanti istri Herman
"Iya benar itu apa kata Yanti, kamu kan emang nggak pernah ngerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu bangun siang, jadi nanti harus ada pembantu untuk membantu kamu" timpal Rahma, Kakak kedua Qiara
"Iyah aku mau bantu-bantu kerja dirumahmu Qi..aku juga dirumah nggak ada kerjaan, buat tambah-tambah belanja, ya gimana lagi Masmu kerjanya cuma driver ojol. Penghasilan tidak tetap, kadang dapat lumayan, kadang dapat dikit, mana motornya masih kredit. Jadi penghasilan dari ngojeknya habis buat bayar angsuran motor. Mau lah aku jadi pembantumu nanti" Yanti istri Herman berkeluh kesah.
"Sabar ya Mbak, pasti nanti aku butuh mbak. Tunggu si dedek lahir"
"Emang sekarang udah berapa bulan?" mbak Yanti lanjut bertanya
"Baru enam bulan, Mbak"
Jam sudah menunjuk pukul dua belas lewat dua puluh menit. Ketiga ponakan Qiara tampak sudah tertidur diatas karpet yang terhampar di depan Televisi.
"Nginep aja disini?besok pagi pulang" ucap Qiara pada Kakak-Kakaknya.
__ADS_1
"Mbak Rahma mau pulang Qi..besok kan ahrus kerja" ucap Kakak kedua Qiara yang memiliki dua anak itu.
Kehidupan Rahma bersama suaminya boleh dibilang lumayan bila dibandingkan dengan Kakak Qiara yang lain. Ia sudah memiliki rumah sendiri dengan cara KPR walau hanya rumah sederhana. Rahma bekerja sebagai kasir disuatu Mall di pusat kota Surabaya, sedangkan suaminya bekerja sebagai tenaga pendidik Sekolah Menengah Kejuruan. Mereka telah dikarunia dua orang anak.
"Qia anter pulang ya mbak?" entah kenapa pada keluarga Qiara bisa begitu ramah dan akrab. Dan anehnya lagi, iya tak lagi merasa lemah dan lemas akibat kehamilannya.
"Iya boleh Qi, soalnya anak-anak udah pada tidur"
Qiara berlalu ke kamar.
"Mas aku mau Mami dan Kakak-kakakku pulang dulu ya" Qiara menemui Danu yang lagi rebahan di kamar
"Kamu nggak capek sayang? apa aku aja yang nyetir?"
"Nggak usah Yank, kamu istirahat aja biar aku yang nyetir" Danu merasa bahagia melihat istrinya bersemangat seperti itu. Ia tak lagi terlihat lemas seperti saat tinggal dirumah orang tuanya. Benar memang istrinya mungkin tertekan harus tinggal bareng mertua, bukti setelah tinggal terpisah ia terlihat baik-baik saja.
Sementara Qiara yang pulang dini hari tentu saja belum bangun dari tidurnya saat sang suami berangkat kerja.
***
Jam di dinding menunjuk pukul sebelas siang, Nyonya rumah tampak menggeliat di tempat tidur barunya. Tangan meraba ke samping kiri dan kanan, namun tangannya tak menemukan apapun selain guling. Ia membuka mata dan tak mendapati sang suami. Qiara melirik jam di dinding, sudah jam sebelas siang rupanya, pasti sang suami sudah ada ditempat kerjanya. Ia kembali merebahkan badannya dikasur. Diraihnya ponsel cerdasnya yang tergeletak di atas nakas sampin tempat tidur.
"[Yank, udah berangkat kerja ya?]" ia kirim pesan wa untuk suaminya
Tak dibaca.
__ADS_1
Iapun mengirim pesan untuk para geng hang outnya. "[Guys, jangan lupa dateng kerumah baru aku jam satu siang ini ya?]" ia mengirim pesan broadcast untuk teman-temannya.
Sang Nyonya lalu bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi. Usai mandi ia segera menuju dapur karena perutnya terasa keroncongan. Namun tak ada sesuatu yang www bisa dimakan. Nasipun tak ada karena semalam, semua makanan ia berikan untuk keluarganya.
Iapun segera meraih ponselnya dan memesan makanan lewat online. Sambil menunggu pesanan makanannya datang ia berkeliling menatap rumahnya yang terlihat berantakan akibat acara tadi malam. Kalau harus membereskannya sendiri tentu akan sangat melelahkan, batinnya. Iapun teringat Kakak iparnya, istri Mas Herman, Mbak Yanti.
"Halo, Mbak? ke rumah baruku naik ojek ya? nanti aku ganti ongkosnya. Bantuin beresin rumah mbak, aku males" ucapnya dalam sebuah sambungan telepon.
Tak lama pesanan makanannya datang, steak daging Tenderloin dengan sayuran dan saos yang menggoda selera. Ia segera memakannya dengan lahap, perutnya terasa kenyang. Tak lama mbak Yanti datang dan segera membereskan rumahnya dengan cekatan.
"Mbak, sekalian masak ya? aku ngundang teman-temanku. Mbak Yanti kan pinter masih sih?"
"Ok, siap laksanakan"
"Masak ayam aja ya mbak? sama bikin es buah aja, aku tak belanja bahan-bahannya lewat online aja"
Tak butuh waktu lama semua makanan sudah terhidang dimeja makan berbentuk Sega empat itu. Mbak Yanti memang cekatan dalam urusan masak memasak. Ia terbiasa berjibaku dengan pekerjaan dapur dan pekerjaan rumah tangga yang lain.
"Penak e nasibmu Qi..duwe bojo sugeh. Baru tujuh bulan nikah sudah dikasih rumah apik koyok ngene" ucap mbak Yanti sambil merapikan makanan diatas meja makan
"Iyo Mbak..golek bojo ncen kudu sing sugeh. Cek iso ngerubah nasib" jawab Qiara sambil tangannya sibuk memainkan ponsel
Iapun jadi teringat saat dulu sebelum nikah ia sengaja mengajak Danu hingga larut malam berduaan ditaman kota, itu sengaja dilakukan karena ia sudah bekerjasama dengan kekuarganya dirumah untuk sengaja menjebak Danu, walau sebenarnya memang Danu tertarik pada kecantikannya, namun jika tidak menggunakan trik jitu malah mungkin pernikahan bisa terjadi secepat ini.
Bersambung
__ADS_1
Dukung author ya, jangan lupa like, pencet tanda ❤️ dan bantu votenya 🙏🙏