
Siang itu, rumah sepi. Hanya ada mbak Yanti dan Fanya. Sementara Herman, suami mbak Yanti sudah berangkat untuk mengais rejeki. Begitu juga Qiara ia sedang tak di rumah karena sudah berangkat kerja.
"Ude..Anya mau eklim" suara cadel Fanya merengek meminta es krim. Mbak Yanti pun segera mengecek kulkas. Ternyata stok es krim di kulkas sudah habis
"Nanti ya, Nak. Mama Fanya beli kalau Mama sudah pulang kerja, stok dikulkas lagi habis, sayang" bujuk Yanti kepada ponakannya itu
"Anya au cekarang eklim nya (Fanya mau sekarang es kirmnya)" anak kecil itu merajuk.
Duh ni bocah nggak sabaran banget disuruh nunggu sampai Mamanya pulang. Batin Yanti dalam hatinya
"Udeeeee...huaaaa...eklim ude....huaaa..huaaaa"
Karena si bocah mulai menangis, Mbak Yanti pun bergegas menggendong bocah kecil itu dan ia segera keluar rumah menuju toko terdekat untuk membeli es krim. Ia hanya berjalan kaki karena toko yang dituju hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah mereka. Namun rupanya toko di dekat rumah mereka lagi tutup. Sementara Fanya terus merengek meminta es krim. Terpaksa Yanti berjalan kaki agak jauh untuk mencari minimarket terdekat. Karena ia tka bisa mengendarai sepeda motor. Di dekat lampu merah sana ada sebuah minimarket, dengan berjalan kaki mbak Yanti pun mencapai minimarket. Ia yang hanya mengenakan pakaian lusuh karena sedang beberes barusan, bergegas untuk kembali ke rumah.
Matahari sangat terik siang ini. Dengan menggunakan jarik, Yanti menggendong ponakannya. Rupanya Fanya mengantuk, ia tertidur dalam gendongan. Karena panas yang sangat terik, Yanti menutupi wajah ponakannya itu dengan kain jarik. Saat hendak menyebrang jalan, trafict light sedang berwarna hijau hingga kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas sangat ramai, iapun menunggu dibawah tiang traffic light, tiba-tiba ada beberapa pengendara mobil yang melemparkan uang receh ke arahnya, terkumpul uang receh nominal seribuan sebanyak enam biji. Mbak Yanti terkaget. Apa-apaan? dikira kita pengemis? batinnya dalam hati.
Lampu traffic light berganti merah. Ia segera memungut uang receh tersebut. Lumayan juga buat dimasukan kecelengan, batinnya lagi. Usai memungut uang tersebut ia segera menyebrang jalan dan berjalan kaki lewat trotoar menuju rumah adik iparnya.
Sampai dirumah, mbak Yanti segera menidurkan Fanya. Hufttt, dasar anak kecil. Nangis minta es krim, eh belum dimakan es kirm nya dia malah tidur. Gerutu mbak Yanti seorang diri. Iapun menaruh es kirm itu ke dalam freezer.
Hari-hari berlalu, Sejak Danu pindah kerja keluar kota, Qiara selalu pulang malam dengan alasan lembur. Gaji mbak Yanti pun belum diberikan oleh Qiara. Sementara pemilik rumah kontrakannya yang dulu terus menagih uang. sewa rumah tempo lalu.
***
__ADS_1
Pagi itu, Fanya kembali merengek meminta es krim kesukaannya. Lagi-lagi mbak Yanti terpaksa harus berjalan kaki menuju minimarket yang ada disebrang jalan. Saat hendak pulang, mereka harus menyebrang jalan dan melewati sebuah lampu merah. Mbak Yanti yang sedang menunggu lampu merah menyala, berdiri dipinggir jalan sembari menggendong ponakannya itu. Lagi-lagi ada memberinya uang lembaran dua ribuan.
'Apaan nih?' ia bertanya dalam hati. Namun seketika ia mencerna, mungkinkah orang-orang yang sedang lalu lalang dijalan raya ini menganggapnya seorang pengemis? dan karena mereka merasa kasihan, maka mereka memberi sejumlah uang? Ah, kenapa tidak dimanfaatkan saja kesempatan ini? pekik mbak Yanti dalam hati. Toh ia kepepet, gaji yang seharusnya menjadi haknya tidak diberikan oleh adik iparnya itu. Ya walaupun kini ia sudah tinggal dirumah Qiara, namun ia juga ada kebutuhan lain yang harus ia penuhi.
Ia memilih duduk dipinggir jalan, sambil menggendong Fanya yang ternyata tertidur lelap usai ia menghabiskan es krimnya. Tak sedikit pengguna jalan yang memberinya uang receh seribuan maupun uang kertas dua ribuan. Dengan menggunakan kain jarik yang ia pakai untuk menggendong Fanya, ia kumpulkan uang-uang tersebut.
Tak terasa hari sudah siang, matahari makin panas membakar kulit. Fanya tampak terbangun dari tidurnya. Mbak Yanti memutuskan untuk pulang dan memandikan Fanya karena keringat membanjiri tubuhnya.
Yanti kemudian menghitung jumlah uang receh yang dia dapat. Lumayan, seratus ribu lebih hanya dalam hitungan jam. Tak ada salahnya mulai besok ia mempersiapkan diri untuk memulai 'pekerjaan barunya' itu. Asal cukup untuk membayar uang kontrakan rumahnya tempo lalu, maka ia akan berhenti melakukan 'pekerjaan' ini. hanya itu niatnya.
Yanti kemudian menyiapkan properti untuk aksinya besok. Agar lebih dramatis seperti yang ia lihat diberita-berita di Televisi. Ia Menyiapkan topi agar panas matahari tak terlalu menyengat wajah. Tak lupa menyiapkan baju-baju yang tampak kusut agar lebih dramatis.
***
Qiara merasa gamang akan kehamilannya kali ini. Ia ragu apakah janin yang dikandungnya adalah darah daging Danu sang suami ataukah itu hasil hubungan gelapnya dengan Irwan, sang mantan pacar yang kini hadir kembali dalam hidupnya. Namun ia menutupi rapat affairnya dengan sang mantan, toh suaminya sedang jauh darinya.
Namun, bulan ini adalah jadwal Danu untuk pulang ke rumah. Tiga bulan sekali Ia pulang menemui anak dan istrinya. Tentu ia sangat bahagia mengetahui tentang kehamilan sang istri.
Waktu berlalu, Kehamilan Qiara telah memasuki bulan ke sembilan. Menjelang hari perkiraan lahir sang istri, Danu ijin kepada atasannya untuk menemani istrinya melahirkan. Dan, Bayi perempuan mungil itupun lahir ke dunia. Bagi Danu, apapun jenis kelamin anaknya, ia tetap mensyukuri asalkan sang bayi lahir tanpa kurang apapun.
Danu merasa lengkap sudah kebahagiaannya. Ia begitu mencintai sang istri yang kini telah memberinya dua orang putri yang cantik. Namun esok ia harus kembali ke Palembang, untuk bekerja lagi.
Kring..kring..
__ADS_1
Ponsel Danu berdering. Panggilan dari Pak Derry, atasannya.
"Halo, selamat siang Pak"
"Ia siang, Nu. Nu, besok kamu berangkat bareng Aisyah, ya. Disini ada pengurangan karyawan lagi. Jadi Aisyah kita pindah ke tempat kerjamu biar jadi Admin disana. Tiket sudah disediakan dari kantor, kamu bantu ia mencari kosan disana ya" panjang lebar sang bos menjelaskan kepada Danu lewat sambungan telefon.
"Oh, begitu? Tapi kenapa mendadak, Pak? sebelumnya tidak ada pemberitahuan kepada saya"
"Nggak mendadak. Sebenarnya sudah dari bulan lalu kami persiapkan Aisyah untuk dipindah ke Palembang, cuma kamu cuti mendadak. Dan mau memberi tahu dari kemarin pastinya kamu masih sibuk menyambut kelahiran putri keduamu. By the way selamat atas kelahiran putri keduamu ya, Nu. Semoga jadi anak berguna bagi Nusa dan bangsa"
"Aamiin, Terima kasih atas doanya, Pak"
Danu menutup sambungan teleponnya.
"Siapa, yank?" tanya Qiara yang baru seminggu melahirkan itu
"Pak Derry, sayang"
"Terus apanya yang mendadak?" selidik Qiara yang tadi mendengar pembicaraan sang suami.
"Ada temen yang juga dipindah ke tempatku, besok dia berangkat bareng aku"
Bersambung
__ADS_1