
"Mbak wes nikah bertahun-tahun sama Masmu Qi..boro-boro punya rumah, motor butut aja masih kredit. Rumah bisanya ngontrak rumah petak" keluh mbak Yanti pada adik iparnya itu
"Sing sabar, Mbak. Mbak kerja disini sama aku, bantu-bantu aku dirumah. Nanti aku kasih gaji, bisa mbak tabung untuk masa depan" ucap Qiara
***
Tak lama teman-teman Qiara datang, teman kerja saat dia jd SPG. Teman nongkrong dan teman gila-gilaan, begitu kata mereka. Wanita-wanita cantik dengan wajah glowing dan berpenampilan modis itupun berkumpul dengan suka cita, mereka berkaraoke menggunakan sebuah aplikasi, bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira, membicarakan hal-hal yang tak penting sesekali tertawa terbahak-bahak. Piring bekas makanan tergeletak begitu saja dilantai. Gelas-gelas kotor bekas es buah juga nangkring diatas meja. Sampah-sampah bekas bungkusan snack berceceran dilantai. Mereka benar-benar menikmati jamuan Qiara dan menghabiskan waktu dengan sia-sia hingga jarum jam menunjuk pukul tiga sore, mereka pamit pulang.
Tinggallah mbak Yanti yang membereskan semuanya seorang diri. Sementara Qiara tampak kelelahan sehabis bernyanyi-nyanyi dengan teman-temannya. Dia tampak terlelap tidur diatas sofa berwarna merah marun yang ada di depan Televisi itu.
Tepat jam empat sore kondisi rumah sudah rapi kembali. Hidangan untuk makan malam sudah tersaji rapi dimeja makan. Qiara tampak terbangun dari tidurnya. "Eh sudah jam empat ya Mbak?" tanyanya pada mbak Yanti yang sedang duduk manis diatas karpet Yang ada di depan sofa tempatnya berbaring. Si Mbak tampak sedang menonton tayangan infotainment yang sedang menayangkan berita perselingkuhan seorang artis.
"He'em" Jawab Mbak Yanti sambil matanya tak beralih dari layar Televisi.
"Aku tak mandi sek ya Mbak, habis ini mas Danu dateng. Mbak kalau pulang gak apa-apa, kalau masih mau nonton TV juga Ndak apa-apa" ucap Qiara sambil berlalu ke kamarnya.
Usai mandi, Qiara sudah tampil cantik Dengan make-up natural dan daster cantiknya. Yah wanita ini memang pandai menjaga penampilan dan kecantikan fisiknya, hal inilah yang membuat suaminya bertekuk lutut padanya.
"Sudah beres semuanya, Mbak tak pulang dulu aja ya?" Mbak Yanti pun pamit pulang.
"Nanti langganan ojek aja mbak, untuk berangkat dan pulang. Biar aku yang bayar ojeknya tiap bulan" ucap Qiara.
Hari-haripun berlalu, mbak Yanti bekerja dirumah adik iparnya layaknya pembantu rumah tangga pada umumnya. Sementara saat mbak Yanti berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga, Qiara hanya duduk manis memainkan ponsel cerdasnya. Tak jarang dengan perut buncitnya ia berjoget-joget dan direkam dengan kamera ponselnya, dan meng-upload nya ke akun media sosialnya.
"Mbak, tolong ambilin aku jus dikulkas" perintahnya pada mbak Yanti padahal wanita itu sedang sibuk menyetrika pakaian.
Tinggal ambil minum sendiri aja, dari pada cuma joget-joget nggak jelas. Batin mbak Yanti dalam hatinya.
"Mbakkkk..? tolong ambilin minum" ulang Qiara kali ini dengan suara yang lebih keras
"Iya bentar" Mbak Yanti segera beranjak menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menuju ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambilkan orange jus pesanan Qiara yang walaupun adik dari suaminya tapi tak ada beda dengan juragannya.
"Huffffttt, kebangetan, kakak iparnya sendiri diperlakukan layaknya pembantu" Gerutu mbak Yanti. "Mentang-mentang sudah kaya. Kerjaan cuma makan, tidur, joget-joget di aplikasi Toktok, mbok ya ambil sendiri cuma mau minum aja" Mbak Yanti mengomel dalam hati sambil berjalan ke tampat dimana Qiara sedang asyik merekam adegan berjogetnya.
***
Kehamilan Qiara kini tengah memasuki usia sembilan bulan. Waktu melahirkan pun tiba. Qiara merasakan mules dan hari perkiraan lahir telah berlalu selama tiga hari. Danu yang tidak memiliki pengalaman apapun tentang proses persalinan merasa panik dan segera membawa sang istri ke rumah sakit. Sampai dirumah ia segera menghubungi mertua dan Kakak Qiara untuk memberi kabar bahwa Qiara sudah kontraksi dan sekarang sedang berada dirumah sakit. Namun Kakak-Kakak Qiara yang berjumlah empat itu tidak ada yang bisa datang karena sedang ada pekerjaan.
"[Kak Ran, bisa temani Danu di Rumah sakit Darmo? Qia mau lahiran ini, Danu sendirian. tolong beritahu Kak Mahe sama Mama Papa ya?]" Danu berkirim pesan pada Kakak Iparnya, Rania.
__ADS_1
"[Masya Allah, sudah kontraksi Qiara, Nu?]"
"[Udah bukaan berapa?]"
"[Ok, Kak Rania siap-siap kesana]"
Balasan chat dari Rania.
"[Danu nggak tau, Kak, bukaan itu apa?]" balasan Danu
"[Astaghfirullah Danu! kamu ini istri lagi hamil harusnya tau apa itu bukaan. Searching aja di google. Kakak nelepon Mama dulu. Banyak-banyak baca shalawat agar dimudahkan persalinan]" chat dari Rania
Semenjak pindah rumah dan hanya tinggal berdua bersama istrinya, Danu jadi jarang ibadah. Sholat subuh tak lagi ia kerjakan karena bangun kesiangan, sholat dhuhur dikantor hanya karena bareng-bareng dengan teman-teman, sementara sholat yang lain tak lagi ia kerjakan.
"Keluarga Nyonya Qiara?" suara perawat mengangetkan Danu.
"Iya, Mbak. Saya suaminya"
"Pak, ini kalau dilihat dari Hari Perkiraan lahir sebenarnya telah lewat. Tapi jangan khawatir, semua masih aman. Jumlah air ketuban, posisi bayi, tali pusat dan Ari-ari semuanya tidak asa masalah. Jadi kalau mau persalinan normal bisa nunggu kontraksinya dan bukaan. Kalau mau operasi Caesar juga tidak apa-apa" ucap perawat perpakaian serba putih itu.
"Jadi baiknya gimana, Mbak?"
"Kalau tidak operasi, apa bahaya mbak?"
"Tidak juga, Pak"
"Tapi kata istri saya memang hari perkiraan lahirnya telah lewat, apa tidak berbahaya pada janin?"
"Hari perkiraan lahir bisa meleset, Pak. Tergantung kapan hari terakhir menstruasi Ibu Qiara. Bisa jadi dia lupa kapan hari terakhir menstruasi, dan itu berpengaruh pada kapan hari perkiraan lahirnya. Jadi tidak selalu berbahaya bila sudah terlewat dari hari Perkiraan lahir. Namanya aja kan masih perkiraan, bisa maju bisa mundur. Selama kondisi kehamilan dan janin yang dikandungnya tidak ada masalah ya aman-aman saja" perawat tersebut menjelaskan panjang lebar.
"Yankkkkk?" terdengar rengekan Qiara yang terbaring diatas brankar Instalasi gawat darurat.
"Aku pengen operasi aja, yank. Aku takut kalau harus ngeden"
Melihat istrinya merengek seperti itu, Danupun segera mengiyakan untuk tindakan operasi.
"Iya sudah mbak, operasi saja"
"Baik, Pak. Silahkan ikuti saya. Bapak perlu menanda tangani persetujuan untuk tindakan operasi Caesar"
__ADS_1
Danu pun mengikuti mbak Perawat tersebut. Ia duduk dimeja dibagian administrasi, dan menandatangani beberapa lembar surat persetujuan untuk dilakukan tindakan operasi Sectio Caesar atau yang dikenal dengan Operasi SC.
Usai menandatangi surat tersebut, tak lama datang Kak Mahe dan istrinya serta Bu Suryo, Mama Danu. Pak Suryo tak terlihat ikut bersama mereka.
"Papa nggak ikut, Ma?" tanya Danu sambil sungkem kepada Mamanya.
"Biasalah, Papamu itu. Eh jadi gimana Qiara?"
"Iya, Nu. Gimana sudah bukaan berapa?" timpal Rania.
"Lagi persiapan untuk operasi SC, Ma, Kak" jawab Danu sambil bergantian menatap Kakak ipar dan Mamanya.
"Loh kenapa operasi?" Rania yang mengenakan gamis berbahan ceruty printing motif bunga-bunga itu bertanya pada Danu.
"Qia yang minta Kak, katanya takut mau ngeden"
"Walah ya sudah yang penting sehat semua" Jawab sang Mama
Tak lama Danu dipanggil oleh perawat. Bahwa operasi akan segera dilakukan. Perawat itu mendorong brankar tempat Qiara berbaring menuju ruang operasi.
"Qia semangat ya, Bismillahirrahmanirrahim" Kak Rania mengelus bahu Qiara dan ia ikut berjalan mendampingi Qiara menuju kamar operasi.
Suster berhenti disebuah ruangan bertuliskan "Hanya petugas yang boleh masuk"
"Tunggu disini ya, Pak" ucap perawat tersebut sebelum ia berlalu ke dalam ruangan steril untuk melakukan tindakan operasi.
***
Qiara berbaring diruang operasi dengan hati deg-degan. Punggungnya baru saja disuntik anestesi lokal tepat diarea tulang belakangnya. Dibagian perutnya dipasang kain pembatas, hingga ia tak dapat melihat area perut yang sedang dibedah itu. Namun ia bisa merasakan setiap tindakan yang dilakukan oleh Dokter karena hanya mendapat bius lokal. Selang tiga puluh menit kemudian, lahirlah putri cantik yang diberi nama Fanya Maheswari. Tangis bayi itu menggema di seluruh ruangan steril tanpa sudut tersebut "Selamat ya Ibu..putrinya sehat dan cantik" ucap seorang perawat yang memakai pakaian serba hijau, menggunakan penutup kepala dengan warna senada. Perawat itu menggendong Baby Lucia dan memperlihatkannya bayi itu kepada Ibunya.
Bayi mungil yang imut dan cantik seperti Ibunya, pun gen Bapaknya yang tampan menurun kepada si Bayi.
"IMD dulu ya, Bu?" Perawat tersebut berusaha merebahkan badan bayi yang baru beberapa menit yang lalu melihat dunia itu, di a
dada Ibunya. Dengan insting alami, terlihat mulut sang bayi mencari-mencari ASI-nya. Ia pun mendapatkan ASI nya, namun hisapan sang bayi tampak membuat sang Ibu tak nyaman. Qiara tampak menepis bibir mungil bayinya yang tengah menempel di dadanya itu "Suster maap saya belum siapa menyusui"
Bersambung
Jangan lupa dukung author ya..like ❤️ dan bantu vote
__ADS_1