
"Suster saya belum siap menyusui" Qiara menepis bayinya.
"Gapapa, Mbak..bayi baru lahir belum terlalu lapar, lambungnya masih sebesar kelereng aja. dia hanya butuh sedikit ASI. Besok atau nanti bisa dicoba lagi bila Ibunya sudah siap memberi ASI" ucap dokter.
***
Hari ketiga pasca operasi, Qiara beserta sang bayi diijinkan pulang ke rumah.
Keluarga besar Danu maupun Qiara bersuka cita menyambut kelahiran cucu keenam dari orang tua Danu itu. Pun keluarga Qiara juga menyambutnya dengan penuh bahagia, Baby Fanya merupakan cucu ke tiga dari orang Qiara.
Tak terasa baby Fanya telah berusia Lima hari, Pakde dan Budenya yang merupakan Kakak Danu, yaitu Mahesa berserta istrinya, Alisa bersama suaminya datang kerumah Danu untuk menengok ponakan mereka. Disana rupanya sudah ada Mami Qiara bersama mbak Yanti. Mbak Yanti yang memang bekerja disana diminta menginap dulu bersama suaminya dirumah ini untuk membantu Qiara merawat baby Fanya yang harus begadang tiap malam.
Saat rombongan Kakak Danu tiba di rumah tersebut, Mbak Yanti tengah menggendong Baby Fanya dan memberinya sebuah dot yang berisi susu formula
"Loh, Qi..kenapa pakai susu formula? kamu nggak nyoba menyusui bayimu?" Kak Rania bertanya.
"Harus ya menyusui!!! Kalau ada susu formula kenapa harus ribet!!!" ketus Qiara menatap Kakak Ipar suaminya itu.
Rania terdiam atas jawaban Qiara. Iya yang hendak mengambil alih baby Fanya dari gendongan mbak Yanti tergagap "Oh, mbak pikir kamu mau memberi ASI Qi..karena ASI itu merupaka makanan terba...."
"Ya terserah aku lah Mbak. Bayi bayi aku suka-suka aku!" Qiara memotong kalimat Rania
Suasana menjadi canggung. Alisa yang sedang duduk di sofa depan TV makin menunjukkan rasa tak suka pada Qiara.
"Yaudah nih, kado buat Fanya" ucapnya seraya berdiri dari duduknya dan menyerahkan bingkisan besar yang dibungkus kertas pink bermotif hello Kitty.
"Ayo Kak Ran, aku buru-buru ada janjian sama teman" Dustanya. Alisa tampak menarik tangan Rania. Rania bingung dan hanya mengikuti Alisa menuju pintu keluar "Kak Mahe, Mas Arya, ayo pulang, Papa nungguin kita" lanjut Alisa lagi sambil menoleh ke belakang melihat dua lelaki yang terlihat duduk di sofa ruang tamu.
Alisa dan Arya, suaminya serta Rania bersama Mahesa segera berlalu keluar dari rumah itu.
"Loh Kak, kok pada buru-buru amat? mau kemana?" Danu yang baru keluar dari kamarnya berusaha mengikuti Kakak-Kakaknya yang tengah berjalan ke arah pintu keluar
__ADS_1
"Pulang! ngapain disini, males sama mulut istrimu!" Jawab Alisa.
"Lisaaaa...jangan begitu. Yang sabar" ucap Rania lembut sambil mengedipkan mata pada Alisa, yang merupakan adik kedua suaminya.
"Ihhhh..ogah sabar sama kuntilanak itu! Bisa-bisanya kak Rania ngalah sama dia. Kalau aku yang digituin, udah ku gampar mulutnya!!!" ucap Alisa sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi baris kedua.
"Kakak pulang dulu ya, Nu. Jadilah suami siaga, bantuin istri mengurus anak. Ibu baru itu emang agak berat" Rania yang masih berdiri diteras menepuk bahu adik iparnya.
"Memangnya tadi Qiara ngomong apa, Kak?kenapa Kak Alisa marah?" Tanya Danu
"Ah gak ngomong apa-apa kok, lupakan saja. Maafin Kak Alisa ya?"
"Ayo Kak..buruan!!" seru Alisa dari dalam mobil sambil ia melongokkan kepalanya keluar jendela mobil.
"Kami pamit dulu ya, Nu" ucap Rania sekali lagi
Iapun segera menyusul Alisa ke dalam mobil. Sementara Arya duduk dibalik kemudi sedangkan Mahesa duduk disamping Arya di sap depan.
"Kan, malah aku yang sakit hati atas tanggapan kuntilanak itu! Aku udah nggak mau tadi kesini, Kak Rania pake ngajak-ngajak" cerocos Alisa. Tadi memang Rania dan suaminya datang kerumah Alisa dan mengajaknya untuk nengokin Baby Fanya.
"Lagaknya berasa anak sultan! nggak ngaca!" mobil melaju pelan melewati jembatan panjang jiwo yang agak macet.
"Hushhh..Lisa ngomong apaan sih? nggak boleh membeda-bedakan strata sosial. Kita sama dimata Allah, yang membedakan hanya iman dan takwa"
"Ya tauk! kalau dia baik sih aku nerima, lha ini?!" dua Ipar itu saling berdebat di kursi belakang. Sementara para suami di depan saling diam tak bersuara.
"Aku khawatir sama kelangsungan rumah tangga Danu, Kak" suara Alisa terdengar gamang
"Doakan yang baik-baik aja, semoga Danu bisa membimbing istrinya menjadi wanita Sholihah"
"Aku punya feeling nggak enak" samar Alisa bergumam
__ADS_1
***
oekkkk...oekkkk
Tangis baby Fanya terdengar melengking dikamar berukuran 4x5 meter tersebut. Jam dinding menunjuk angka 02.00 dini hari. Dua orang dewasa tampak terlelap diatas springbed king size, sedangkan disebelahnya ada box bayi yang tampak bergerak-gerak karena penghuninya sedang terbangun.
Danu mencoba membuka mata namun terasa berat. "Yankkkk..bangun yankk..Fanya nangis" dengan mata masih terpejam Danu mengguncang-guncang tubuh istrinya. Namun tak bergeming. Wanita cantik itu masih terlelap dalam mimpinya. Terpaksa Danu turun dari kasur dan berjalan terkantuk-kantuk menuju box bayi. Ia mencoba meraih sang baby untuk menggendongnya. Namun ternyata area pantatnya sudah basah oleh air kencing.
"Duhhhhh.." Danu mengusap kasar rambutnya. Sang bayi masih tetap menangis.
Danu meraih Diapers Yang ada dilemari bayi, ia mencoba mengganti popok anaknya namun karena tak biasa ia tak bisa memasang rekatan popok tersebut. Terpaksa ia keluar kamar dan mengentuk pintu kamar tempat mbak Yanti tidur. "Mbakkkk...Mbak Yan.."
Tampak mbak Yanti membuka pintu dengan kondisi mengantuk. "Kenapa, Nu?"
"Fanya bangun, Mbak. Nangis dia, popoknya basah minta diganti"
"Yaudah mbak kesana" merekapun berjalan menuju kamar utama tempat baby Fanya berada. Dengan cekatan mbak Yanti mengganti popok bayi dan membuatkan susu formula untuk ponakannya itu. Walaupun ia belum memiliki anak, namun naluri keibuan itu muncul dengan sendirinya.
"Mbak..gini aja, box bayi sama perlengkapannya ini dibawa ke kamar mbak aja, gimana? biar mbak nggak usa bolak balik kesini"
"Yaudah kalau gitu, mbak bangunin mas Herman dulu buat bantuin ngangkut barang-barang Fanya"
Dini hari itupun mereka membereskan box dan pakaian serta perlengkapan baby Fanya dan dipindah ke kamar mbak Yanti. Semalam suntuk mbak Yanti mengurus Baby Fanya seorang diri. Bangun untuk membuat susu formulasi serta mengganti popoknya. Sedang Mami mertuanya yang juga Mami Qiara tidur lelap dikamar sebelah.
"Buat apa dia disini kalau ternyata nggak bantu-bantu ngurus cucunya" gerutu mbak Yanti.
Apalah daya, dirinya memang sudah dipekerjakan untuk mengurus Fanya yang juga merupakan keponakannya. Namun yang membuatnya lelah, saat pagi tiba ia pun harus berjibaku dengan pekerja rumah tangga seperti memasak, mengepel, menyapu dan mencuci pakaian.
Bersambung
jangan lupa dukung author ya..like, komen dan
__ADS_1
bantu vote ya ❤️
Maap banyak typo🙏 sudah di edit ya. setting lokasi di kot Surabaya