Anak Kucing Yang Dianiaya

Anak Kucing Yang Dianiaya
Kesepakatan


__ADS_3

Liya berada di sebuah taman yang pernah ia datangi bersama Lui, Zart secara tiba-tiba muncul di belakang dan memegang bahu Liya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?". Zart membalikkan tubuh Liya.


"Aku ingin tanya, apa yang Yang mulia katakan pada Lui dan Zart? mereka memanggil ku Mama?!".


"Oh benarkah! aku hanya mengatakan anak-anak yang baik.".


"Maksudnya?".


"Maksudnya adalah dari kemarin kau adalah ibu mereka, istri Yang Mulia Zart.".


Liya terdiam, ia masih mencerna perkataan Zart.


"Hah, mungkin kepalanya terbentur sesuatu.". pikir Liya.


Beberapa detik diam, Zart kembali berbicara.


"Tidak suka ya?".


"....". Liya hanya diam memegang tangannya.


Tiba-tiba Lui berlari mengejar angsa-angsa yang berada di kolam dan Cal mengejarnya. Tanpa sebab Liya senyum melihat mereka seperti itu, bersenang-senang tanpa ada penyiksaan.


"Sejak pertama ketemu Lui dia gak pernah tertawa seperti itu, entah kenapa rasanya adem. Lui benar-benar anak yang imut.". pikir Liya sambil senyum.


Zart kembali melirik Liya yang sedang melihat Lui dan Cal. Ia pun senyum.


"Yang Mulia Zart, aku ingin membuat kesepakatan.".


"Apa itu?".


"Aku boleh saja menjadi ibu dari anak-anak mu dan juga istri mu. Tapi aku mohon, jangan pernah menyiksa seseorang ataupun menghukum seseorang tanpa alasan.


" Tidak bisa! jika aku ingin hukum itu akan tetap menjadi hukuman, tidak ada yang berubah.".


"Kok ngeselin ya.". pikir Liya.

__ADS_1


Zart menumpangkan dagu di tangannya, sambil melihat Liya.


"Hhmm, boleh saja kalau aku tidak menyakiti Lui, asal kau mau tidur dengan ku.".


Liya beku dengan apa yang dikatakan Zart, lalu ia kembali berbicara sambil duduk di kursi taman.


"Yang mulia, anda seperti raja yang mesum.".


"Bisa di bilang begitu.".


"Anj*rt nih raja, otak dia udah muter beneran!".


pikir Liya.


"Gimana? mau apa tidak?". Zart


Liya masih diam dan mulai berpikir.


"Apa Yang mulia tidak kasihan melihat anak sendiri dipukuli?".


"Apa yang harus aku lakukan, raja ini gak pernah kasih kesepakatan sebelumnya. Walau kasih kesepakatan pun gak betul.". Pikir Liya.


"Bagaimana? Setuju?". Zart menggoyangkan kakinya.".


Liya melirik Zart.


"Baiklah, tapi Yang mulia harus tepati janji untuk tidak menyakiti Lui atau Cal.".


"Setuju.".


Liya jalan menjauh dari Zart, ia mendatangi Lui dan Cal yang sedang bermain di tepi kolam.


"Hei, kau mau kemana?".


Liya tidak menjawab, dia langsung pergi begitu saja.


"Hai Lui!". kata Liya.

__ADS_1


"Mama!".


Liya masih kaget mendengar Lui memanggil Mama.


"Boleh ikut main.".


"Tentu saja, ayo!". Lui menarik tangan Liya mendekati kolam.


Zart masih duduk di kursi taman itu sambil tersenyum melihat Liya dan kedua anaknya itu. Tak lama You Xi datang.


"Hai kak!".


"....". Zart tidak menjawab, ia hanya terus memandangi pemandangan di depannya.


"Kak, kau sudah mendapatkannya?". You Xi hanya melirik Zart yang tak berkata-kata.


"Padahal jika kau tidak tertarik dengannya aku bisa saja mengambilnya.".


Zart menatap You Xi dengan emosinya lalu memegang kera baju You Xi dan meninjunya.


"Aahhhk... ampun kak!".


Teriakan You Xi membuat perhatian Liya, Lui dan Cal, ke taman.


"Paman pasti membuat Papa emosi.". kata Cal.


"Paman sih nakal dibilangin jangan memancing amarah Papa.". kata Lui.


"Emang sebelum ada Mama, You Xi memang suka begitu?". tanya Liya.


"Iya.".


Liya masih melihat mereka bertengkar normalnya seperti kakak beradik yang yang sangat akur


"Awalnya aku pikir You Xi orangnya dingin, saat pertama kali aku jumpa You Xi seperti raja itu sikapnya dingin. Ternyata sikapnya gitu toh.". pikiran Liya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2