Anak Kucing Yang Dianiaya

Anak Kucing Yang Dianiaya
Gak Boleh


__ADS_3

" Wow... makan malam ini sangat enak, aku udah lama gak makan ini.". Liya menyantap daging panggang.


" Kalau mau beli sesuatu bilang aja sama aku, oh ya kau tidak mengganti nomor Hp-mu kan.". Raka menompang dagunya di tangannya.


" Enggak lah!".


" Setelah ini aku akan antar kau pulang, jangan bergadang ya.".


" Tenanglah aku bukan anak kecil lagi.". Liya mengangkat kedua alisnya.


" Ngomong-ngomong siapa pria tadi?". Raka kembali bertanya.


" Eh, kenapa kau mempertanyakannya?!". Liya tersenyum akting seperti biasa keahliannya.


" Dia bukan pacarmu kan?".


" Bukan! kalau dia pacarku dia bakal marah kalau aku makan bareng cowok lain.".


" Ah, benar juga ya, hahahaha!". Raka kembali dengan tawanya, kini dia sedang menatap Liya.


...?


...?


" Kenapa kau menatapku seperti itu?". Liya mengalihkan matanya ke arah lain sedangkan mulutnya mengunyah daging terakhir.


Raka hanya tersenyum jahil.


" U-udah ayo pulang, harinya udah mulai malem!". Liya keluar restoran dan berusaha menghapus wajah merahnya.

__ADS_1


Di tengah jalan dan sampai di rumah Liya dan Raka hanya saling diam hanya radio mobil yang memecahkan keheningan.


" Makasih ya, udah traktir aku hari ini?!". Liya mengajukan jempolnya.


" Iya, tidur yang nyenyak!". Raka kembali memutar mobilnya.


Di rumah Liya pusing apa yang harus dia kerjakan, benar-benar sangat sepi.


"Eh, malam ini seharusnya You Xi datang ke rumahku kan? tapi dia tidak ada, aku gak ada nomor HP-nya! Hah... aku bete sendiri, tidur aja lah!".


Liya masuk ke kamarnya dan tidur.


Tengah malam harinya sangat dingin, Liya bangun.


" Ehm.. Hangat sekali, tadi dingin sekarang hangat dan...? dan suara nafas?!".


Liya reflek bangun dan melihat jam disebelahnya.


" A-apa ini? tangan siapa ini?".Liya menoleh ke belakangnya dan...


Liya ingin teriak tapi mulutnya tertutup oleh tangan itu.


" O-orang ini bangun! gawat aku gak bisa gerak?!". Liya menutup matanya.


"Sstt....! Jangan berisik aku sedang tidur!". Orang itu menempelkan dahinya ke dahi Liya.


Liya membuka matanya, karena suara orang itu sangat Liya kenal.


" O-orang ini, si raja sial*n itu ternyata!!!".

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa diam, kau seperti cacing yang menggeliat.". Raja Zart mencium kening Liya dengan lembut.


" Ada apa dengan orang sinting ini, kenapa dia tiba-tiba berada disini. Si*al benar benar si*al aku sama sekali gak bisa gerak.".


Liya menggeliat untuk berusaha lepas darinya.


" Kau memang tidak bisa diam, dengar kalau kau tidak diam aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Contohnya seperti ini.". Zart mencium kuat tulang leher depan Liya.


" A-a, apa-apaan dia. Dia gak niat untuk melakukan 'itu' kan. Gak! gak mau!". Liya mendiamkan tumbuhnya.


Wajah Liya memerah sesaat. Namun Zart tidak menghentikan ciumannya. Dia memindahkan mulutnya ke arah lain dan mulai meraba-raba tubuh Liya.


" Ku mohon, hentikan. Aku gak mau!". Liya hanya bisa menutup matanya dan pasrah sambil berdoa.


Tangan Zart membuka mulut Liya yang ia tutup tadi, dan menciuminya.


"A-apa! ini adalah pemerkosaan, aku harus bicara!".


"Zart...! Hmm.....hhh.....ahh....! Ha...ha..! Ahm....!".


"Tidak, ciumannya terlalu kuat, aku mau pingsan.". Tenaga Liya telah habis, kini ia hanya bisa menikmatinya.


Tiba-tiba Zart melepas ciumannya dan membiarkan Liya bernafas


" Hah...haa...haa.....".


" Tidurlah, kau sudah mengantuk.".


Zart menucup mata Liya, sekejab Liya menutup matanya karena serangan mengantuk yang luar biasa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2