
Liya berjalan ditaman sambil menggendong Lui. " oh ya, Lui umur berapa?".
" 6 tahun!". Lui menjawab dengan senyum manisnya.
Lui sangat menyukai Liya, lalu Liya menurunkan Lui dekat air mancur.
" Lui, sangat senang ya sama kakak Liya?". Liya bertanya.
Lui menjawab. " iya! Lui senang banget!".
Liya mengajukan pertanyaan lagi.
" Lui? siapa nama ibumu?".
Dengan pertanyaan Liya, senyum Lui langsung memudar.
Lui menjawab. " Lui tidak memiliki ibu".
Liya kaget dengan apa yang dia dengar, tidak memiliki ibu.
" Kakak Cal juga tidak memiliki ibu, kakak dan Lui hanya miliki papa".
" apa maksudnya, Cal dan Lui sama-sama tidak memiliki ibu artinya mereka beda ibu?". pikir Liya.
"Oh maaf, aku tidak tahu!". Lalu Lui dan Liya saling menatap.
" Kakak Liya, kok bisa masuk kedunia kami?". Kaget Liya.
" Eh, apa maksudmu!, tunggu jangan-jangan kau!". Liya kaget sambil melotot.
Tiba-tiba dari belakang papa Lui datang. " Apa yang kalian lakukan disini, Lui?".
Lui menoleh kebelakang dan menatap ke Zart. Lui tampak takut sekali, lalu Zart menatap Liya dengan tatapan yang dingin.
" Eh dia ngeliatin aku ya?, tunggu aku gak boleh takut!, harus tegap Liya pasang wajah licikmu!". Liya menghembuskan nafasnya dan jalan ke arah Lui lalu menggendongnya.
" Selamat Siang Yang Mulia". Liya menundukkan kepalanya pada Zart dengan wajah datar dan polosnya.
__ADS_1
" Kembalikan Lui padaku, biar aku yang menggendongnya.". tanya Zart
Liya tersontak kaget, dan cegukan.
" Hek! ya ampun bodoh!, apaan sih cegukan ini! yang benar saja!". Liya tersipu malu, dia langsung menundukkan kepalanya.
" Pelayan! panggil Cal kesini.". teriak Zart
" Baik Yang Mulia". pelayan itu pergi memanggil Cal.
" Aku bilang kembalikan Lui! Kau tuli ya?!". Zart merampas Lui dari gendongan Liya.
" Aduh! kasar sekali sih". pikir Liya
" Yang Mulia, biar saya saja yang menggendong Lui.". kata Liya.
" Dia adalah putriku.". tanya Zart
Jawab Liya. " Ya, saya tahu, tapi saya sangat menyukai Lui hehehe.".
Zart menatap Liya dengan sinis.
" Papa memanggilku ya?". Cal datang bersama pelayan itu dengan wajah kekhawatiran.
" iya.". Zart menjawab dengan sinis.
" Sungguh kejam, pada anaknya sendiri sebenci itu! Seandainya aku ibunya aku pasti akan menjitak kepala Raja ini!".
Liya mengepalkan tangannya seakan ingin meninju wajah Zart.
" Apa kakak Liya mau jadi mamanya kakak Cal!". Liya kaget dengan perkataan Lui.
" Eh, apa maksudmu Lui?!". Liya, Zart dan Cal kaget apa yang dikatakan Lui sampai para prajurit mendengarnya.
" Iya, kakak Liya tadi berpikir begitu, kakak mau jadi mama untuk Lui sama kakak Cal?.". dengan senang dan polos Lui mengatakannya.
Zart bertanya. " Jadi mama untuk kalian?".
__ADS_1
" Iya! papa.
maaf, Lui hanya suka dengan kakak Liya".
" Eh nih anak ngomong apa? dia tahu apa yang aku pikirkan?".
Lui menjawab. " iya Lui tahu".
Dalam pikiran Liya. "astaga! . hebat sekali Lui, kalau begitu papanya harus bangga tapi sikapnya terlihat lebih, sungguh raja gila.!".
Lui menjawab pertanyaan dalam otak Liya.
" Kakak gak boleh seperti itu, nanti papa marah.".
Zart melirik Lui. "apa yang dia katakan?".
Liya tersontak rasa takut. " astaga Lui tolong jangan katakan, kamu masih kecil dan terlalu polos!".
Lui diam tidak menjawab pertanyaan Zart.
" katakan!?".
" Hahaha! kakak Liya bilang, papa sangat tampan, hebat, kakak Liya suka sama papa!".
Wajah Liya memerah karena perkataan Lui ke papanya. Liya merasa sangat tidak enak dengan suasananya.
" Ah, Cal ayo ikut dengan kami, dan yang mulia, bukankah yang mulia tadi mau ajak jalan-jalan ya?". Liya mengalihkan percakapan.
" Ayo, jangan jauh-jauh. berdekatlah dengan ku.". Zart menarik pinggang Liya.
Lalu Liya memegang tangan Cal. " ayo Cal.".
Cal menjawab. " iya.".
Mereka berjalan menuju telaga, telaga itu berada di hutan, dimana Liya jatuh sebelumnya.
" ini tempatnya ya?"....
__ADS_1
bersambung...